Matahari siang sangat terik menyengat karena baru saja berada dipuncak kulminasinya. Namun sengatan panasnya sinar matahari tak menyurutkan langkah kaki seorang anak berseragam putih biru tua menuju rumahnya yang hanya berjarak 500 meter sepulang sekolah.
Sudah menjadi kebiasaannya semenjak sekolah dasar, anak itu kalau berjalan selalu tertunduk menekuri jalan. Yang ia lihat hanya ayunan kaki kiri dan kanannya yang seolah berlomba-lomba saling susul menyusul.
"Itu Guntur! Itu Guntur...!
"Sikaaaaaatttt...!!!"
"Ayo hajaaaarrrr...!"
"Ayooooo....!!!"
Dari kejauhan serombongan anak-anak yang juga berseragam SMP meneriaki dari atas sepeda motor sembari menggerung-gerungkan gas. Tetapi anak berseragàm SMP yang dipanggil Guntur itu terus saja berjalan menunduk menekuri jalanan tanpa menghiraukan teriakan-teriakan ancaman dari arah belakangnya.
Tiga sepeda motor masing-masing membonceng dua anak mengacung-ngacungkan sebatang kayu balok ditangan para pemboceng. Wajah-wajah mereka terlihat beringas, matanya nyalang melihat mangsanya didepan mata.
"Rasakan ini Guntur!" Teriak salah satu anak yang duduk di boncengan sambil mengayunkan balok kayu ditangannya ke kepala Guntur.
"Braaakkkkk!"
"Braaakkkkk!"
"Braaakkkkk!"
"Braaakkkkk!"
Tiga balok kayu menghantam dua kali di kepala dan dua kali di tengkuk Guntur. Balok-balok kayu itu seketika hancur bercerai-berai menyerpih ke berbagai arah.
Sontak saja Guntur terkejut bukan main, bukan karena merasakan hantaman-hantaman balok melainkan karena suara berisik. Guntur menghentikan langkahnya dan spontan menengok kearah samping kiri bersamaan tiga sepeda motor melintas pelan dengan suara raungan knalpot yang sengaja memainkan gasnya hingga memekakkan telinga. Tubuh Guntur masih tegak berdiri, harusnya hantaman empat balok kayu itu sudah cukup membuatnya tersungkur ambruk atau minimalnya mengucurkan darah ďi kepalanya.
Terkejutnya Guntur bukan saja karena suara bising namun juga karena melihat serpihan-serpihan kayu yang tiba-tiba melenting berjatuhan diatas sepatunya yang sedang mengayun langkah. Guntur pun menoleh mencari tahu darimana serpihan-serpihan kayu itu datang.
"Ciiiiiiitttt..."
"Ciiiiiiitttt..."
"Ciiiiiiitttt..."
Tiga sepeda motor langsung mengerem mendadak sebab orang yang mereka hantam barusan sama sekali tidak berpengaruh apalagi terluka. Akibat mengerem mendadak itu membuat dua anak yang berada di boncengannya masing-masing tubuhnya meluruk kedepan hingga mendorong anak yang pegang setir sampai dadanya membentur stang.
"Aaakhh!" Teriaknya kesakitan.
Enam anak SMP yang barusan menghajar Guntur melongo tidak percaya melihat Guntur nampak sehat wal afiat tidak terluka sedikit pun. Bukannya ciut nyali, enam anak itu malah dibuat penasaran. Jiwa brandal keenam anak itu memuncak dan secara serentak mengurung Guntur dan siap menghajarnya.
"Ada apa kalian?" Tanya Guntur heran.
Guntur belum menyadari sepenuhnya dirinya sedang dalam ancaman bahkan sudah dihantam tiga balok di kepala dan tubuhnya. Justru ia menatap keenam anak satu sekolahnya itu dengan tatapan bingung tak mengerti dengan situasi yang ada dihadapannya.
"Halllah, banyak bacot lu!" Seru salah satu anak.
Ayunan tangan menyasar muka Guntur secara tiba-tiba, lalu disusul ayunan dua tangan lainnya kearah perut. Guntur terkejut bukan main mendapat pukulan tiba-tiba seperti itu. Dia reflek mengangkat kedua tangannya bermaksud untuk melindungi kepalanya.
Diisaat bersamaan bergeraknya tangan Guntur keatas hendak menutup mukanya, keenam anak itu langsung berpentalan dan jatuh terpelanting keatas aspal jalan. Guntur yang sudah kadung menutup kepalanya hanya bisa pasrah menunggu pukulan-pukulan itu mendarat. Namun beberapa saat lamanya setelah ditunggu-tunggu datangnya pukulan-pukulan itu, ternyata tidak ada satupun pukulan yang menyentuh tubuhnya, kemudian perlahan-lahan ia pun membuka tangannya dengan raut wajah penuh kebingungan.
Wajah polosnya terperangah penuh keheranan melihat teman-teman sekolahnya itu sedang mengerang kesakitan bergeletakkan diatas aspal dengan beragam luka di lutut, tangan bahkan wajahnya.
Guntur melangkah bermaksud menolong tetapi baru saja satu kakinya melangkah, keenam anak-anak yang memukulinya itu sudah merasa ketakutan lebih dulu sehingga mereka berhamburan kabur meninggalkan sepeda motornya. Guntur hanya melongo saja tak mengerti dengan apa yang barusan terjadi.
"Kenapa ya...?"
Hanya pertanyaan itu yang terucap dari bibirnya. Kemudian Guntur pun tidak peduli lagi dengan barusan yang terjadi, ia meneruskan kembali langkahnya pulang.
Namun kejadian dikeroyok enam anak-anak teman sekolahnya dengan muka bengis yang membencinya itu hanya membekas sebagai rangkaian kisah memori masa lalunya yang menggambar kembali diingatannya.
......................
"Anak setan...."
"Anak setan...."
"Anak setan...."
"Anak setan...."
Sekitar 12 anak-anak mengolok-olok Guntur sahut menyahut dibelakangnya begitu keluar dari pintu kelas 2 Sekolah Dasar Negeri Nusa 2 usai pelajaran terakhir.
Guntur, bocah yang mendapat bully-an teman-teman satu kelasnya itu hanya tertunduk muram sambil terus berjalan cepat-cepat pulang. Kenapa hanya karena tompel hitam dan berbulu di tangan kirinya itu mereka memperolok-olok dengan menyebutnya anak setan?
Seribu luka dihatinya sekaligus seribu tanda tanya terus terngiang-ngiang di kepalanya. Lalu kenapa dirinya berbeda dengan teman-temannya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus membayangi Guntur setiap kali mendapat perlakuan kejam dari teman-teman sekolahnya.
Ting... tong...
Ting... tong...
Ting... tong...
Ting... tong...
Karmila lekas-lekas membuka pintu rumah dan seketika wajah cantiknya langsung muram melihat Guntur pulang sekolah dengan wajah nampak bersedih. Ibu mana yang tidak terenyuh melihat anaknya pulang sekolah selalu dengan menunjukkan gelagat tidak mengenakan yang dirasakan anaknya.
"Sayang, kamu diolok-olok lagi sama teman-temanmu di sekolah?" Tanya Karmila penuh kasih sayang.
"Iya Mah... Kenapa mereka seperti membenci karena aku punya ini Mah?!" Ucap bocah berusia 8 tahun itu sambil menunjukkan tompel hitam dan berambut halus di tangannya.
Karmila langsung memeluk Guntur dengan perasaan bercampur aduk antara sedih, marah, jengkel serta gemas ingin rasanya memberi pelajaran pada anak-anak yang mengolok-oloknya. Namun sekejap berikutnya wajah Karmila surut dari raut kesalnya dan berganti menunjukkan rasa bersalah, "Maafkan Mamah nak..." ucap Karmila dalam hati.
Tiiiin... tiiiin...!
Lamunan Guntur buyar seketika oleh suara klakson sebuah mobil dari arah depan. Ia nyaris tertabrak andai mobil itu tidak berhenti. Oops! Lebih tepatnya berhenti tidak di rem.
Guntur terkesiap kaget spontan mendongakkan kepalanya. Ia baru sadar kalau langkah kakinya agak sedikit ketengah jalan, buru-buru ia menepi. Mobil sedan didepannya mengeluarkan asap berasal dari roda belakang yang berputar ditempat dengan kencang namun tidak bisa melaju.
"Aneh! Kenapa mobil saya ini?! Padahal saya tidak menginjak rem tapi mobil tiba-tiba berhenti bahkan tidak bisa jalan."
Sopir itu penasaran, diinjaknya lagi pedal gas hingga nyaris mentok namun hanya raungan mesinnya saja yang kencang dan asap tebal dari gesekkan ban dan aspal pun langsung menyelimuti mobilnya.
Guntur mendekat ke jendela sebelah kiri mobil lalu mengetuk-ngetuknya. Beberapa saat kemudian jendela itu terbuka hingga asap pun berseliweran masuk kedalam mobil.
"Pak, jangan injak gasnya dulu. Lepaskan pedal gasnya lebih baik injak rem saja!" Seru Guntur dari balik pintu mobil.
Tidak lama kemudian raungan suara mesin mobil pun memelan, rupanya si sopir menuruti saran Guntur. Asap dari roda belakang pun sudah tidak keluar lagi seiring roda ban berhenti berputar.
"Sekarang injak pedal gasnya pelan-pelan Pak, jangan lupa hati-hati jangan ngebut!" ucap Guntur lalu meneruskan kembali mengayun kakinya melangkah pulang.
"Loh, kok ini normal? Tadi di gas mentok malah nggak bisa jalan..."
Si sopir lekas-lekas menghentikan mobilnya untuk melihat anak SMP yang tadi hanpir ditabraknya sekaligus memberikan saran anehnya. Tetapi dilihatnya dari kaca spion, Guntur sudah jauh berjalan dibelakang mobil.
"Benar-benar aneh! Padahal tinggal satu meteran lagi bocah itu tertabrak tapi mobil ini tiba-tiba langsung berhenti sendiri seperti tertahan. Bahkan tadi di gas sampe mentok pun tetap nggak bisa jalan. Ck, ck, ck..."
Sopir berpakaian ASN itu tidak henti-hentinya menggeleng-gelengkan kepala disepanjang jalan mengingat kejadian itu.
......................
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
Anggraeni Dina
seru juga ya
2023-07-08
1
fifid dwi ariani
ttus sehst
2023-04-10
0
Rafita Puspika
itu karna Karmila yg pernah berhubungan sama makhluk halus ya Thor jadinya anak nya kayak gitu...kayaknya ada yg ngrlindungin itu...BPK nya mungkin😂
2022-08-10
1