MENCARI PETUNJUK

"Gun jadi nggak ke tempat buku loaknya?" Tanya Kunto berjalan menjejeri labgkah Guntur yang lebih duluan keluar ruang lab.

"Iya jadi, ayo!" seru Guntur bersemangat mempercepat langkahnya.

Keduanya berjalan beriringan dengan tergesa-gesa. Untuk mempersingkat jarak dan waktu menuju parkiran keduanya mengambil jalan memotong melalui lapangan dan taman meski terik matahari terasa menyengat.

"Guuun, Guntuuuur..." teriak seorang gadis dikejauhan.

Guntur menghentikan langkah diikuti Kunto spontan menoleh ke sumber suara. Di lorong kampus diseberang taman Tiara melambai-lambaikan tangannya mewakili ucapannya untuk menunggunya. Tiara langsung berlari menuju tempat Guntur dan Kunto berdiri.

"Ada apa Ra?" Songsong Guntur.

"Biasa, orderan. Anteriiiin..." ucap Tiara dengan mimik manja.

"Huuu, ada maunya tuh Gun. Manjay!" celetuk Kunto memanyunkan bibirnya kearah Tiara.

"Berisik lu! Sana, sana pulang duluan aja. Biar Guntur sama akoh," balas Tiara.

"Yeee, ngak bisa, nggak bisa. Masa aku pylang sendirian." sergah Kunto.

Kunto sedikit ketar-ketir juga manakala Tiara menyuruhnya pulang sendirian. Tiara belum tahu kalau Kunto tidak lagi ngekos tapi tinggal di rumah Guntur. Otak Kunto langsung menghitung resiko-resikonya kalau pulang sendirian.

Pertama, kalau dia pulang sendirian merasa nggak enak dengan mamah Karmila pasti berbuntut panjang akan ditanya macam-macam.

Kemana Gunturnya Kun?

Sama siapa perginya Kun?

Kemana Kun?

Sampai jam berapa Kun?

Keperluan apa sih Kun?

Banyak lagi deh introgasi-introgasi mamahnya Guntur kalau melihat Kunto pulangnya sendirian. Kunto tidak mau dengan ribet-ribet seperti itu.

Dan yang kedua, sebetulya ini yang paling memberatkannya. Kunto sedang mengirit-irit uang di kantongnya yang tinggal 80 ribu. Kalau pulang sendiri sudah pasti akan berkurang sia-sia, begitu pikirnya.

"Ayo Gun.." rajuk Tiara menarik-narik tangan Guntur.

"Eits! Pokoknya nggak bisa. Guntur pulang sama aku," sergah Kunto menarik tangan satunya Guntur

"Aduh!" seru Guntur.

Kedua tangan Guntur yang ditarik dari kedua sisi oleh Tiara dan Kunto membuatnya risih.

"Stop! Stop!" Please... stop!" cegah Guntur melepaskan tangannya dari cekalan Kunto tapi tidak dengan cekalan Tiara.

"Ra, maaf pisan. Aku sama Kunto mau ada keperluan mendesak. Jadi kali ini aku nggak bisa antarin kamu dulu ya..." ucap Guntur.

Tiara langsung cemberut permintaannya ditolak Guntur, "gara-gara elu tuh, dasar kriting!" sungut Tiara menunjuk muka Kunto.

"Hahahahaha.... yes! yes! yes!" seru Kunto berjingkrak-jingkrak merasa menang.

Tiara langsung balik badan dengan wajah kecewa. Guntur dan Kunto kembali melanjutkan langkahnya menuju parkiran.

......................

"Kun, kok nggak ada sih!" seru Guntur kepalanya menoleh kekiri sambil terus melajukan sepeda motornya.

"Nggak jualan kali Gun," balas Kunto.

Guntur yang membonceng Kunto sudah dua kali berputar melintasi tempat penjual buku loak, namun ia tidak menjumpainya. Penuh dengan penasaran pada putaran yang ketiga Guntur menghentikan sepeda motor sportnya tepat dimana tiga hari yang lalu ia membeli buku. Tempat itu memang kosong tidak ada orang-orang berjongkok mengerumuni sambil membaca buku.

Guntur lantas memarkirkan sepeda motornya di tepi jalan lalu turun diikuti Kunto menghampiri seorang anak yang sedang duduk dibawah pohon. Dipangkuannya nampak setumpuk koran yang masih banyak.

"A korannya A?!" seru anak itu menawarkan melihat dua prang pemuda menuju kearahnya yang tak lain Guntur dan Kunto.

"Koran PR dek," kata Guntur.

Padahal dirinya tidak berniat membeli koran namun karena kasihan melihat tumpukkan koran dipangkuan anak itu masih banyak, Guntur pun membelinya.

"O iya Dek, kalau yang jualan buku loak disini kemana ya?" Tanya Guntur sambil ikut berjongkok dihadapan anak penjual koran menyodorkan uang 20 ribuan.

"Oh Pak Suro? Sudah dari kemarin beliau nggak dagang, A." jawab anak penjual koran.

"Ini A kembaliannya." sambungnya.

"Ambil aja kembaliannya Dek," ujar Guntur.

"Hatur nuhun pisan ya A," ucap anak penjual koran Girang berkaca-kaca haru sembari menciumi uang pemberian Guntur.

Dari pagi hingga pukul 11 siang, korannya baru kejual 7 exemplar. Akibatnya anak itu harus menahan laparnya karena belum cukup untuk membeli makanan menimbang dari keuntungannya.

Guntur tergugah hatinya melihat ekspresi wajah anak penjual koran itu saat dirinya berkata 'ambil saja kembaliannya.' Sepertinya anak itu sangat membutuhkannya.

"Dek, kamu belum makan ya?" tanya Guntur menyentuh punggung tangan anak itu.

"Iya A, korannya belum laku banyak." jawabnya.

Guntur celingukkan kekanan dan kekiri, "Disana ada warung makan tuh, ayo kesana Dek. Aa juga belum makan nih,"

Guntur mengajak anak penjual koran itu menuju ke warung makan yang tidak jauh.

"Kun, lu bawa motor nih ke warung makan disana tuh." kata Guntur menunjuk sebuah warung makan.

Guntur dan anak penjual koran beranjak melangkah menuju warung makan. Sementara Kunto menaiki sepeda motor mendahului keduanya. Sepanjang melangkah Guntur banyak ngobrol menanyakan tentang bapak penjual buku loak kepada anak itu.

"Kalau A Guntur mau ketemu Pak Suro, bisa saya antar A," ucap anak penjual koran.

"Beneran Di?" kata Guntur sumringah.

Keduanya langsung akrab saja setelah sebelumnya saling mengenalkan namanya. Anak itu tidak lagi canggung dengan Guntur yang sangat baik terhadap dirinya dan sudah bercerita banyak tentang bapak penjual buku loak. Sepertinya anak itu mengetahui betul dengan bapak penjual buku loak lebih tepatnya sangat mengenal dekat.

Guntur pun semakin antusias ingin segera menemui bapak penjual buku loak manakala Adi mengatakan bersedia akan mengantarkan menemuinya.

Tidak lama kemudian sampailah Guntur dan Adi di warung makan, terlihat sudah ada Guntur yang duduk menungguinya.

......................

Terik matahari tepat diatas kepala Guntur, Adi dan Kunto diatas sepeda motornya. Sepeda motor sport itu terpaksa dinaiki bertiga melintasi jalan-jalan tikus untuk menghindari polisi hingga sampailah memasuki sebuah gang di daerah Taman Sari mengikuti petunjuk dari Adi.

"Stop, stop A!" seru Adi menepuk-nepuk pundak Guntur. Sekitar 100 meter dari mulut gang, Guntur menghentikan sepeda motornya.

"Udah turun A, itu rumahnya." kata Adi.

Kunto turun dari boncengan disusul Adi dan berdiri menunggu Guntur menyetandarkan sepeda motornya. Guntur dan Kunto melangkah mengikuti Adi yang berjalan di depannya menuju sebuah rumah sederhana bercat putih.

Tok..

Tok..

Tok..

"Assalamualaikum, Paaak, bapaaak.." ucapa Adi.

"Waalaikumsalam, masuk Di nggak dikunci, uhuk, uhuk, uhuk." sahut suara dari dalam terdengar berat dan serak disertai batuk.

Adi membuka pintu dan melangkah masuk disusul Guntur dan Kunto. Didalam rumah sangat sepi, suara sahutan Pak Suro yang dikira berada di ruang tamu ternyata tidak ada.

"Paaaak, bapaak..." Adi sedikit berseru setelah tidak menemukannya di ruang tamu.

"Uhuk, uhuk, bapak di kamar Di..." sahut suara berat tertahan terdengar dari dalam kamar.

Adi bergegas melangkah menuju kamar dibalik ruang tamu. Pintu kamar tampak terbuka memperlihatkan Pak Suro sedang terbaring di kasurnya.

"Bapak sudah minun obat?" tanya Adi sembari duduk ditepi ranjang.

"Belum Di, bapak belum makan, uhuk, uhuk," ucap Pak Suro.

"Ini Adi bawa makanan dibelikan Aa Guntur pak,"

Guntur dan Kunto terenyuh mendengar percakapan Adi dan Pak Suro. Melihat kondisinya nampaknya Pak Suro sedang sakit. Guntur melangkah mendekat ke sisi ranjang dibelakang Adi.

Raut Pak Suro sedikit terkejut melihat kehadiran Guntur. Ia menatap wajah Guntur sejenak lalu tersenyum, "Mas yang..."

"Iya Pak, saya yang membeli buku tiga hari yang lalu." ucap Guntur memotong ucapan Pak Suro.

"Sebentar saya tinggal dulu A, mau ambil sendok dan piring, punten..." sela Adi sangat sopan bernjak lewat didepan Guntur dan Kunto.

"Bapak sak..." ucapan Guntur mendadak terhenti karena tiba-tiba alam bawah sadarnya menguasai pikirannya.

Guntur menggerakkan tangan kanannya tanpa sadar lalu menempelkan telapaknya ke dada Pak Suro. Pak Suro melihatnya penuh tanda tanya namun membiarkan saja Guntur meletakkan telapak tangannya, ia hanya menunggu apa yang akan dilakukan oleh Guntur.

Beberapa saat kemudian wajah Pak Suro perlahan-lahan terlihat menyegar. Wajahnya yang semula pucat pasi seperti tak teraliri darah kini sudah kembali normal. Pak Suro tercengang sambil menatap wajah Guntur karena ia merasakan tubuhnya segar kembali. Rasa sesak nafas dan batuk-batuknya tidak lagi dirasakan.

"Alhamdulillah... saya sudah sembuh!" seru Pak Suro meraba-raba dadanya yang sebelumnya sesak.

Bersamaan itu Adi yang masuk sambil membawa piring dan sensok tercengang melihat Pak Suro berseru senang.

"Beneran, bapak sembuh pak?" Tanya Adi penuh keheranan.

Guntur sedikit tersentak seperti terjaga dari kantuk ketika alam bawah sadarnya hilang berganti dengan kesadarannya sendiri saat terdengar suara Adi. Ia hanya menatap Pak Suro yang sedang tersenyum sumringah dengan perasaan tak mengerti.

"Iya Di, berkat Mas Guntur..." ucap Pak Suro.

Kemudian Pak Suro beranjak dari tidurnya dan beringsut ketepi ranjang menurunkan kakinya menjuntai.

"Hatur nuhun Mas Guntur," ucap Pak Suro tersenyum menganggukkan kepalanya pada Guntur.

Guntur semakin kebingungan dengan suasana yang dihadapinya. "Disembuhkan aku? Kapan aku menyembuhkannya?" gumam Guntur dalam hati.

"Jangan, jangan seperti kejadian pada Emaknya Kunto." sambungnya dalam hati.

Guntur pun lantas balas tersenyum dan membalas anggukkan kepala kembali. Dirinya masih belum memahami sepenuhnya apa yang sudah dilakukannya kalau dirinya bisa menyembuhkan orang sakit.

"Kok Mas Guntur bisa sampai ke rumah bapak?" Tanya Pak Suro memecah lamunan Guntur.

"Iya Pak, saya tadi ke tempat bapak jualan tapi bapak nggak ada. Kebetulan ketemu Adi," ucap Guntur.

"Ayo kita ngobrolnya di ruang tamu saja,. Di buatin minum buat Mas Guntur sama Mas...." ucap Pak Suro terhenti memandang Kunto.

"Saya Kunto pak, temannya Guntur yang waktu itu sama Guntur." sela Kunto.

"O ya ya..." ujar Pak Suro.

"Bapak beneran sembuh?" Sela Adi masih tidak percaya.

"Beneran Di, bapak bener-bener nggak merasakan sesak nafas dan batuk lagi. Tubuh bapak juga rasanya ènakan sudah nggak lemas lagi." ujar Pak Suro.

Semuanya melangkah keluar kamar menuju ruang tamu untuk melanjutkan obrolannya.

......................

Terpopuler

Comments

fifid dwi ariani

fifid dwi ariani

trus sukses

2023-04-10

0

Ganuwa Gunawan

Ganuwa Gunawan

tor sukur alhamdulilah guntur baik ga jahat.. plagi bisa menyembuh kn penyakit.. wlupun bpk nya mahluk gaib..

2022-05-18

1

Ganuwa Gunawan

Ganuwa Gunawan

yg nunggu bukan guntur tor..
tpi s kunto.. kn tdi guntur yg nyuruh kunto bw motor k warung nasi

2022-05-18

1

lihat semua
Episodes
1 BAYANG-BAYANG TERKUTUK
2 ANEH
3 MENCARI JAWABAN
4 KEKUATAN TERSEMBUNYI
5 MISTERI
6 DENDAM
7 RAHASIA
8 TANTANGAN
9 SADARKAN
10 ALAM GAIB
11 KEMAMPUAN TERSEMBUNYI #1
12 KEMAMPUAN TERSEMBUNYI #2
13 OBSESI
14 MENCARI PETUNJUK
15 SATU PERISTIWA
16 MEMBUKA MATA BATIN
17 TROUBLE
18 KARENA GUNTUR
19 DIA MUNCUL
20 PAPAH ARYO
21 TERCENGANG
22 BAGAI PETIR TAK BERHUJAN
23 MALAM TERKUTUK
24 MALAM KE-1
25 TAPAK KAKI ANEH
26 MENCARI JEJAK 1
27 MENCARI JEJAK 2
28 MENCARI JEJAK 3
29 BANGUNAN MISTERIUS
30 BANGUNAN DIBALIK POHON
31 HARTA BERTUAN
32 REINKARNASI ARYO #1
33 REINKARNASI ARYO #2
34 KARBALA
35 PERINGATAN
36 PENGAKUAN KARBALA
37 NIAT GUNTUR
38 JAWABAN PAK SURO
39 RENCANA JAHAT
40 KARBALA BERULAH
41 KEJAMNYA KARBALA
42 BOS JOMBLO PUNYA RENCANA
43 DEBAR-DEBAR HALUS
44 KARENA ANCAMAN
45 DURI PENGHALANG #1
46 DURI PENGHALANG #2
47 DURI PENGHALANG #3
48 OTAK PEMBUNUHAN
49 TANDA TANYA
50 TEBANG POHON
51 MISTERI BERINGIN
52 PENASARAN
53 MUSUH DALAM SELIMUT
54 ASAL USUL KARBALA
55 REALITA
56 TENTANG KARBALA
57 ANCAMAN MENGINTAI
58 INSIDEN
59 DUA SISI BERBEDA
60 DILUAR NALAR
61 TAK HABIS PIKIR
62 DIBURU
63 MISTERI
64 TERJEBAK
65 SERGAP
66 MISTERI GUNTUR
67 GEGER GUNTUR
68 EMPATI
69 TEKA-TEKI GUNTUR
70 SISI LAIN
71 TRANSISI
72 SISI LAIN KARBALA
73 KEANEHAN TERUNGKAP 1
74 KEANEHAN TERUNGKAP 2
75 KUNTO HILANG
76 PANIK
77 PENCARIAN
78 KUNTO BERADA
79 UPAYA PARANORMAL
80 WUJUD KARBALA
81 KUNTO DITEMUKAN
82 PERMINTAAN GUNTUR
83 BENDA DARI ALAM LAIN
84 ALAM LAIN
85 KEJUTAN
86 SIKAP KARMILA
87 CURIGA
88 WANITA BERGAUN MERAH
89 DILEMA
90 KATA PAK SURO
91 PERMINTAAN WANITA BERGAUN MERAH
92 DIMENSI WANITA BERGAUN MERAH
93 JUAL RUMAH
94 ILUSI
95 ILUSI 2
96 KOK BISA BEGITU
97 TAKLUK
98 RUMAH BARU DAN LAMA
99 RUMAH TAHFIZ
100 PERISTIWA MENGIKAT
101 GUNTUR CURIGA
102 BUNTU
103 FIRASAT
104 MENGHILANGNYA SANTRI
105 UCAPAN
106 TAK ADA PETUNJUK
107 TAK TAHU DIMANA
108 KONEKSIFITAS
109 TERGUNCANG
110 TUNTUTAN
111 SIASAT
112 PENYEBAB KARMILA KESAKITAN
113 JANGAN DI TEBANG!
114 TEROR MASA LALU
115 DEPRESI
116 TERGIUR
117 KENA BATUNYA
118 PILIHAN BERAT
119 TRAGEDI PUTRI
120 TRAGEDI PUTRI 2
121 TRAGEDI PUTRI 3
122 TRAGEDI PUTRI 4
123 UPAYA TERAKHIR
124 DILUAR NALAR
125 NASIB PUTRI
126 EGO DAN DAMPAK
127 TANDA BAHAYA
128 REZEKI ATAU PETAKA
129 KELEMAHAN KARBALA
130 MULAI MENEBANG
131 PROSESI MENEBANG
132 KESALAHAN
133 DAN AKHIRNYA
134 DUA SISI
135 SAMA PERSIS
136 NIAT TERSEMBUNYI
137 RASA TERPENDAM
138 SIASAT TERSEMBUNYI
139 KECURIGAAN KI WAYAN
140 WAKTU YANG TEPAT
141 KEANEHAN
142 PERLAWANAN
143 DUGAAN
144 KENAPA KI ?
145 PERINGATAN
146 DEPRESI
147 KEJADIAN di RS
148 KEJADIAN di RS 2
149 TAMPARAN KERAS
150 AJAK PAK SURO
151 PEMBUKTIAN
152 ANCAMAN
153 2 ORANG TERKAPAR
154 DISKUSI
155 DISKUSI 2
156 TEGANG
157 COBA-COBA
158 MENOLAK
159 PERINGATAN ke- 1
160 KONEKSI
161 PERINGATAN 2
162 BARU SADAR
163 KORBAN
164 HASIL OTOPSI
165 STORY USTAD SOFYAN
166 SUARA ANEH
167 NASIB KUNTO
168 NASIB KUNTO 2
169 KONDISI KUNTO
170 BENAK GUNTUR
171 REAKSI KUNTO
172 REAKSI KUNTO 2
173 KATA PAK SURO
174 KATA PAK SURO 2
175 JIWA KUNTO
176 JIWA KUNTO 2
177 PENGHAKIMAN
178 RENCANA PAK SURO
179 RENCANA PAK SURO 2
180 REAKSI TAK TERDUGA
181 KEMAMPUAN TAK SEBANDING
182 BERTEMU GUNTUR
183 RENCANA JAHAT
184 HERAN DAN MEMBINGUNGKAN
185 DIMANA KUNTO?
186 LENYAP
Episodes

Updated 186 Episodes

1
BAYANG-BAYANG TERKUTUK
2
ANEH
3
MENCARI JAWABAN
4
KEKUATAN TERSEMBUNYI
5
MISTERI
6
DENDAM
7
RAHASIA
8
TANTANGAN
9
SADARKAN
10
ALAM GAIB
11
KEMAMPUAN TERSEMBUNYI #1
12
KEMAMPUAN TERSEMBUNYI #2
13
OBSESI
14
MENCARI PETUNJUK
15
SATU PERISTIWA
16
MEMBUKA MATA BATIN
17
TROUBLE
18
KARENA GUNTUR
19
DIA MUNCUL
20
PAPAH ARYO
21
TERCENGANG
22
BAGAI PETIR TAK BERHUJAN
23
MALAM TERKUTUK
24
MALAM KE-1
25
TAPAK KAKI ANEH
26
MENCARI JEJAK 1
27
MENCARI JEJAK 2
28
MENCARI JEJAK 3
29
BANGUNAN MISTERIUS
30
BANGUNAN DIBALIK POHON
31
HARTA BERTUAN
32
REINKARNASI ARYO #1
33
REINKARNASI ARYO #2
34
KARBALA
35
PERINGATAN
36
PENGAKUAN KARBALA
37
NIAT GUNTUR
38
JAWABAN PAK SURO
39
RENCANA JAHAT
40
KARBALA BERULAH
41
KEJAMNYA KARBALA
42
BOS JOMBLO PUNYA RENCANA
43
DEBAR-DEBAR HALUS
44
KARENA ANCAMAN
45
DURI PENGHALANG #1
46
DURI PENGHALANG #2
47
DURI PENGHALANG #3
48
OTAK PEMBUNUHAN
49
TANDA TANYA
50
TEBANG POHON
51
MISTERI BERINGIN
52
PENASARAN
53
MUSUH DALAM SELIMUT
54
ASAL USUL KARBALA
55
REALITA
56
TENTANG KARBALA
57
ANCAMAN MENGINTAI
58
INSIDEN
59
DUA SISI BERBEDA
60
DILUAR NALAR
61
TAK HABIS PIKIR
62
DIBURU
63
MISTERI
64
TERJEBAK
65
SERGAP
66
MISTERI GUNTUR
67
GEGER GUNTUR
68
EMPATI
69
TEKA-TEKI GUNTUR
70
SISI LAIN
71
TRANSISI
72
SISI LAIN KARBALA
73
KEANEHAN TERUNGKAP 1
74
KEANEHAN TERUNGKAP 2
75
KUNTO HILANG
76
PANIK
77
PENCARIAN
78
KUNTO BERADA
79
UPAYA PARANORMAL
80
WUJUD KARBALA
81
KUNTO DITEMUKAN
82
PERMINTAAN GUNTUR
83
BENDA DARI ALAM LAIN
84
ALAM LAIN
85
KEJUTAN
86
SIKAP KARMILA
87
CURIGA
88
WANITA BERGAUN MERAH
89
DILEMA
90
KATA PAK SURO
91
PERMINTAAN WANITA BERGAUN MERAH
92
DIMENSI WANITA BERGAUN MERAH
93
JUAL RUMAH
94
ILUSI
95
ILUSI 2
96
KOK BISA BEGITU
97
TAKLUK
98
RUMAH BARU DAN LAMA
99
RUMAH TAHFIZ
100
PERISTIWA MENGIKAT
101
GUNTUR CURIGA
102
BUNTU
103
FIRASAT
104
MENGHILANGNYA SANTRI
105
UCAPAN
106
TAK ADA PETUNJUK
107
TAK TAHU DIMANA
108
KONEKSIFITAS
109
TERGUNCANG
110
TUNTUTAN
111
SIASAT
112
PENYEBAB KARMILA KESAKITAN
113
JANGAN DI TEBANG!
114
TEROR MASA LALU
115
DEPRESI
116
TERGIUR
117
KENA BATUNYA
118
PILIHAN BERAT
119
TRAGEDI PUTRI
120
TRAGEDI PUTRI 2
121
TRAGEDI PUTRI 3
122
TRAGEDI PUTRI 4
123
UPAYA TERAKHIR
124
DILUAR NALAR
125
NASIB PUTRI
126
EGO DAN DAMPAK
127
TANDA BAHAYA
128
REZEKI ATAU PETAKA
129
KELEMAHAN KARBALA
130
MULAI MENEBANG
131
PROSESI MENEBANG
132
KESALAHAN
133
DAN AKHIRNYA
134
DUA SISI
135
SAMA PERSIS
136
NIAT TERSEMBUNYI
137
RASA TERPENDAM
138
SIASAT TERSEMBUNYI
139
KECURIGAAN KI WAYAN
140
WAKTU YANG TEPAT
141
KEANEHAN
142
PERLAWANAN
143
DUGAAN
144
KENAPA KI ?
145
PERINGATAN
146
DEPRESI
147
KEJADIAN di RS
148
KEJADIAN di RS 2
149
TAMPARAN KERAS
150
AJAK PAK SURO
151
PEMBUKTIAN
152
ANCAMAN
153
2 ORANG TERKAPAR
154
DISKUSI
155
DISKUSI 2
156
TEGANG
157
COBA-COBA
158
MENOLAK
159
PERINGATAN ke- 1
160
KONEKSI
161
PERINGATAN 2
162
BARU SADAR
163
KORBAN
164
HASIL OTOPSI
165
STORY USTAD SOFYAN
166
SUARA ANEH
167
NASIB KUNTO
168
NASIB KUNTO 2
169
KONDISI KUNTO
170
BENAK GUNTUR
171
REAKSI KUNTO
172
REAKSI KUNTO 2
173
KATA PAK SURO
174
KATA PAK SURO 2
175
JIWA KUNTO
176
JIWA KUNTO 2
177
PENGHAKIMAN
178
RENCANA PAK SURO
179
RENCANA PAK SURO 2
180
REAKSI TAK TERDUGA
181
KEMAMPUAN TAK SEBANDING
182
BERTEMU GUNTUR
183
RENCANA JAHAT
184
HERAN DAN MEMBINGUNGKAN
185
DIMANA KUNTO?
186
LENYAP

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!