"Gun jadi nggak ke tempat buku loaknya?" Tanya Kunto berjalan menjejeri labgkah Guntur yang lebih duluan keluar ruang lab.
"Iya jadi, ayo!" seru Guntur bersemangat mempercepat langkahnya.
Keduanya berjalan beriringan dengan tergesa-gesa. Untuk mempersingkat jarak dan waktu menuju parkiran keduanya mengambil jalan memotong melalui lapangan dan taman meski terik matahari terasa menyengat.
"Guuun, Guntuuuur..." teriak seorang gadis dikejauhan.
Guntur menghentikan langkah diikuti Kunto spontan menoleh ke sumber suara. Di lorong kampus diseberang taman Tiara melambai-lambaikan tangannya mewakili ucapannya untuk menunggunya. Tiara langsung berlari menuju tempat Guntur dan Kunto berdiri.
"Ada apa Ra?" Songsong Guntur.
"Biasa, orderan. Anteriiiin..." ucap Tiara dengan mimik manja.
"Huuu, ada maunya tuh Gun. Manjay!" celetuk Kunto memanyunkan bibirnya kearah Tiara.
"Berisik lu! Sana, sana pulang duluan aja. Biar Guntur sama akoh," balas Tiara.
"Yeee, ngak bisa, nggak bisa. Masa aku pylang sendirian." sergah Kunto.
Kunto sedikit ketar-ketir juga manakala Tiara menyuruhnya pulang sendirian. Tiara belum tahu kalau Kunto tidak lagi ngekos tapi tinggal di rumah Guntur. Otak Kunto langsung menghitung resiko-resikonya kalau pulang sendirian.
Pertama, kalau dia pulang sendirian merasa nggak enak dengan mamah Karmila pasti berbuntut panjang akan ditanya macam-macam.
Kemana Gunturnya Kun?
Sama siapa perginya Kun?
Kemana Kun?
Sampai jam berapa Kun?
Keperluan apa sih Kun?
Banyak lagi deh introgasi-introgasi mamahnya Guntur kalau melihat Kunto pulangnya sendirian. Kunto tidak mau dengan ribet-ribet seperti itu.
Dan yang kedua, sebetulya ini yang paling memberatkannya. Kunto sedang mengirit-irit uang di kantongnya yang tinggal 80 ribu. Kalau pulang sendiri sudah pasti akan berkurang sia-sia, begitu pikirnya.
"Ayo Gun.." rajuk Tiara menarik-narik tangan Guntur.
"Eits! Pokoknya nggak bisa. Guntur pulang sama aku," sergah Kunto menarik tangan satunya Guntur
"Aduh!" seru Guntur.
Kedua tangan Guntur yang ditarik dari kedua sisi oleh Tiara dan Kunto membuatnya risih.
"Stop! Stop!" Please... stop!" cegah Guntur melepaskan tangannya dari cekalan Kunto tapi tidak dengan cekalan Tiara.
"Ra, maaf pisan. Aku sama Kunto mau ada keperluan mendesak. Jadi kali ini aku nggak bisa antarin kamu dulu ya..." ucap Guntur.
Tiara langsung cemberut permintaannya ditolak Guntur, "gara-gara elu tuh, dasar kriting!" sungut Tiara menunjuk muka Kunto.
"Hahahahaha.... yes! yes! yes!" seru Kunto berjingkrak-jingkrak merasa menang.
Tiara langsung balik badan dengan wajah kecewa. Guntur dan Kunto kembali melanjutkan langkahnya menuju parkiran.
......................
"Kun, kok nggak ada sih!" seru Guntur kepalanya menoleh kekiri sambil terus melajukan sepeda motornya.
"Nggak jualan kali Gun," balas Kunto.
Guntur yang membonceng Kunto sudah dua kali berputar melintasi tempat penjual buku loak, namun ia tidak menjumpainya. Penuh dengan penasaran pada putaran yang ketiga Guntur menghentikan sepeda motor sportnya tepat dimana tiga hari yang lalu ia membeli buku. Tempat itu memang kosong tidak ada orang-orang berjongkok mengerumuni sambil membaca buku.
Guntur lantas memarkirkan sepeda motornya di tepi jalan lalu turun diikuti Kunto menghampiri seorang anak yang sedang duduk dibawah pohon. Dipangkuannya nampak setumpuk koran yang masih banyak.
"A korannya A?!" seru anak itu menawarkan melihat dua prang pemuda menuju kearahnya yang tak lain Guntur dan Kunto.
"Koran PR dek," kata Guntur.
Padahal dirinya tidak berniat membeli koran namun karena kasihan melihat tumpukkan koran dipangkuan anak itu masih banyak, Guntur pun membelinya.
"O iya Dek, kalau yang jualan buku loak disini kemana ya?" Tanya Guntur sambil ikut berjongkok dihadapan anak penjual koran menyodorkan uang 20 ribuan.
"Oh Pak Suro? Sudah dari kemarin beliau nggak dagang, A." jawab anak penjual koran.
"Ini A kembaliannya." sambungnya.
"Ambil aja kembaliannya Dek," ujar Guntur.
"Hatur nuhun pisan ya A," ucap anak penjual koran Girang berkaca-kaca haru sembari menciumi uang pemberian Guntur.
Dari pagi hingga pukul 11 siang, korannya baru kejual 7 exemplar. Akibatnya anak itu harus menahan laparnya karena belum cukup untuk membeli makanan menimbang dari keuntungannya.
Guntur tergugah hatinya melihat ekspresi wajah anak penjual koran itu saat dirinya berkata 'ambil saja kembaliannya.' Sepertinya anak itu sangat membutuhkannya.
"Dek, kamu belum makan ya?" tanya Guntur menyentuh punggung tangan anak itu.
"Iya A, korannya belum laku banyak." jawabnya.
Guntur celingukkan kekanan dan kekiri, "Disana ada warung makan tuh, ayo kesana Dek. Aa juga belum makan nih,"
Guntur mengajak anak penjual koran itu menuju ke warung makan yang tidak jauh.
"Kun, lu bawa motor nih ke warung makan disana tuh." kata Guntur menunjuk sebuah warung makan.
Guntur dan anak penjual koran beranjak melangkah menuju warung makan. Sementara Kunto menaiki sepeda motor mendahului keduanya. Sepanjang melangkah Guntur banyak ngobrol menanyakan tentang bapak penjual buku loak kepada anak itu.
"Kalau A Guntur mau ketemu Pak Suro, bisa saya antar A," ucap anak penjual koran.
"Beneran Di?" kata Guntur sumringah.
Keduanya langsung akrab saja setelah sebelumnya saling mengenalkan namanya. Anak itu tidak lagi canggung dengan Guntur yang sangat baik terhadap dirinya dan sudah bercerita banyak tentang bapak penjual buku loak. Sepertinya anak itu mengetahui betul dengan bapak penjual buku loak lebih tepatnya sangat mengenal dekat.
Guntur pun semakin antusias ingin segera menemui bapak penjual buku loak manakala Adi mengatakan bersedia akan mengantarkan menemuinya.
Tidak lama kemudian sampailah Guntur dan Adi di warung makan, terlihat sudah ada Guntur yang duduk menungguinya.
......................
Terik matahari tepat diatas kepala Guntur, Adi dan Kunto diatas sepeda motornya. Sepeda motor sport itu terpaksa dinaiki bertiga melintasi jalan-jalan tikus untuk menghindari polisi hingga sampailah memasuki sebuah gang di daerah Taman Sari mengikuti petunjuk dari Adi.
"Stop, stop A!" seru Adi menepuk-nepuk pundak Guntur. Sekitar 100 meter dari mulut gang, Guntur menghentikan sepeda motornya.
"Udah turun A, itu rumahnya." kata Adi.
Kunto turun dari boncengan disusul Adi dan berdiri menunggu Guntur menyetandarkan sepeda motornya. Guntur dan Kunto melangkah mengikuti Adi yang berjalan di depannya menuju sebuah rumah sederhana bercat putih.
Tok..
Tok..
Tok..
"Assalamualaikum, Paaak, bapaaak.." ucapa Adi.
"Waalaikumsalam, masuk Di nggak dikunci, uhuk, uhuk, uhuk." sahut suara dari dalam terdengar berat dan serak disertai batuk.
Adi membuka pintu dan melangkah masuk disusul Guntur dan Kunto. Didalam rumah sangat sepi, suara sahutan Pak Suro yang dikira berada di ruang tamu ternyata tidak ada.
"Paaaak, bapaak..." Adi sedikit berseru setelah tidak menemukannya di ruang tamu.
"Uhuk, uhuk, bapak di kamar Di..." sahut suara berat tertahan terdengar dari dalam kamar.
Adi bergegas melangkah menuju kamar dibalik ruang tamu. Pintu kamar tampak terbuka memperlihatkan Pak Suro sedang terbaring di kasurnya.
"Bapak sudah minun obat?" tanya Adi sembari duduk ditepi ranjang.
"Belum Di, bapak belum makan, uhuk, uhuk," ucap Pak Suro.
"Ini Adi bawa makanan dibelikan Aa Guntur pak,"
Guntur dan Kunto terenyuh mendengar percakapan Adi dan Pak Suro. Melihat kondisinya nampaknya Pak Suro sedang sakit. Guntur melangkah mendekat ke sisi ranjang dibelakang Adi.
Raut Pak Suro sedikit terkejut melihat kehadiran Guntur. Ia menatap wajah Guntur sejenak lalu tersenyum, "Mas yang..."
"Iya Pak, saya yang membeli buku tiga hari yang lalu." ucap Guntur memotong ucapan Pak Suro.
"Sebentar saya tinggal dulu A, mau ambil sendok dan piring, punten..." sela Adi sangat sopan bernjak lewat didepan Guntur dan Kunto.
"Bapak sak..." ucapan Guntur mendadak terhenti karena tiba-tiba alam bawah sadarnya menguasai pikirannya.
Guntur menggerakkan tangan kanannya tanpa sadar lalu menempelkan telapaknya ke dada Pak Suro. Pak Suro melihatnya penuh tanda tanya namun membiarkan saja Guntur meletakkan telapak tangannya, ia hanya menunggu apa yang akan dilakukan oleh Guntur.
Beberapa saat kemudian wajah Pak Suro perlahan-lahan terlihat menyegar. Wajahnya yang semula pucat pasi seperti tak teraliri darah kini sudah kembali normal. Pak Suro tercengang sambil menatap wajah Guntur karena ia merasakan tubuhnya segar kembali. Rasa sesak nafas dan batuk-batuknya tidak lagi dirasakan.
"Alhamdulillah... saya sudah sembuh!" seru Pak Suro meraba-raba dadanya yang sebelumnya sesak.
Bersamaan itu Adi yang masuk sambil membawa piring dan sensok tercengang melihat Pak Suro berseru senang.
"Beneran, bapak sembuh pak?" Tanya Adi penuh keheranan.
Guntur sedikit tersentak seperti terjaga dari kantuk ketika alam bawah sadarnya hilang berganti dengan kesadarannya sendiri saat terdengar suara Adi. Ia hanya menatap Pak Suro yang sedang tersenyum sumringah dengan perasaan tak mengerti.
"Iya Di, berkat Mas Guntur..." ucap Pak Suro.
Kemudian Pak Suro beranjak dari tidurnya dan beringsut ketepi ranjang menurunkan kakinya menjuntai.
"Hatur nuhun Mas Guntur," ucap Pak Suro tersenyum menganggukkan kepalanya pada Guntur.
Guntur semakin kebingungan dengan suasana yang dihadapinya. "Disembuhkan aku? Kapan aku menyembuhkannya?" gumam Guntur dalam hati.
"Jangan, jangan seperti kejadian pada Emaknya Kunto." sambungnya dalam hati.
Guntur pun lantas balas tersenyum dan membalas anggukkan kepala kembali. Dirinya masih belum memahami sepenuhnya apa yang sudah dilakukannya kalau dirinya bisa menyembuhkan orang sakit.
"Kok Mas Guntur bisa sampai ke rumah bapak?" Tanya Pak Suro memecah lamunan Guntur.
"Iya Pak, saya tadi ke tempat bapak jualan tapi bapak nggak ada. Kebetulan ketemu Adi," ucap Guntur.
"Ayo kita ngobrolnya di ruang tamu saja,. Di buatin minum buat Mas Guntur sama Mas...." ucap Pak Suro terhenti memandang Kunto.
"Saya Kunto pak, temannya Guntur yang waktu itu sama Guntur." sela Kunto.
"O ya ya..." ujar Pak Suro.
"Bapak beneran sembuh?" Sela Adi masih tidak percaya.
"Beneran Di, bapak bener-bener nggak merasakan sesak nafas dan batuk lagi. Tubuh bapak juga rasanya ènakan sudah nggak lemas lagi." ujar Pak Suro.
Semuanya melangkah keluar kamar menuju ruang tamu untuk melanjutkan obrolannya.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus sukses
2023-04-10
0
Ganuwa Gunawan
tor sukur alhamdulilah guntur baik ga jahat.. plagi bisa menyembuh kn penyakit.. wlupun bpk nya mahluk gaib..
2022-05-18
1
Ganuwa Gunawan
yg nunggu bukan guntur tor..
tpi s kunto.. kn tdi guntur yg nyuruh kunto bw motor k warung nasi
2022-05-18
1