Diruang tamu rumah Kunto, Guntur duduk gelisah matanya memandang sebagian ruang tengah karena terhalang tembok. Semenjak memasuki rumah, ia sudah merasakan adanya benturan energi besar dengan dirinya.
Kunto dengan senang hati mempersilahkan Guntur menengok Emaknya di kamar setelah Guntur memintanya. Guntur beranjak dari duduknya lalu melangkah mengikuti Kunto menuju kamar Emaknya yang menghadap ruang tengah.
Semakin mendekati kamar, semakin besar desiran hawa yang tak wajar itu terus-menerus menerpa tubuh Guntur. Namun tidak membuat ciut nyali, Guntur terus melangkah berusaha tidak menghiraukannya.
"Assalamualaikum, punten..." ucap Guntur memasuki kamar.
"Waalaikumsalam," jawab Neng dan bapaknya.
"Mangga... mangga..." sambung bapaknya Kunto.
"Pak ini Guntur yang nganterin Kunto," ucap Kunto memperkenalkan Guntur pada bapaknya.
"Ini Neng, adikku Gun..." sambung Kunto.
Guntur menyalami Neng dengan sedikit canggung yang sedari tadi menatap Guntur tidak berkedip. Kali ini debaran di dada Guntur berbeda rasanya dengan debaran akibat benturan energi tak kasat mata.
Neng memang cantik, kulitnya bersih kuning langsat khas orang Sunda. Rambutnya sepunggung dibiarkan tergerai, wajah alami tanpa makeup memiliki nilai kecantikannya tersendiri.
"Eeeeh, udah, udah Gun. Itu bapak udah ngulurin tangan buat salaman," celetuk Kunto melihat Guntur tertegun menatap Neng.
Guntur terkesiap mendengar celetukan Kunto, buru-buru melepaskan jabat tangannya dari tangan Neng sambil mesem-mesem malu.
"Abdi Guntur pak, gimana kondisi ibu pak?" Tanya Guntur sambil menyalami Pak Asep.
"Muhun, muhun... ya kondisinya seperti ini sejak pagi," kata Pak Asep.
"Punten awalnya gimana pak?" Tanya Guntur heran menatap si Emak yang terpejam tidak bergerak.
"Bapak temukan dibawah jemuran pakaian, kemungkinan mah Si Emak lagi ngejemur jatuh gitu," terang pak Asep.
Tiba-tiba Guntur terdiam tetapi dibawah kesadarannya sendiri tangannya bergerak menyingkap kain bercorak batik yang menutupi kaki Emak sebatas lututnya.
"Masya Allah!"
Semua yang ada didalam kamar membelalakan matanya melihat dua buah titik kebiruan sebesar bulatan kacang. Dikedua titik itu nampak masih mengeluarkan darah meleleh di betis Si Emak.
Lagi-lagi Guntur diluar kesadarannya sendiri segera menempelkan dua jempol tangan kanan dan kirinya pada dua titik yang membiru itu. Guntur sama sekali tidak menyadari dengan tindalkannya. Namun sangat membuat Pak Asep, Kunto dan Neng kembali membelalakkan matanya.
"Ya Allah...!"
"Astagfirullah al'adzim!"
"Masya Allah!"
Bapak dan dua putra putrinya itu berseru saling bersahutan melihat ada cairan merah kehitaman yang bercampur debgan darah keluar deras meleleh memenuhi telapak tangan guntur.
Meski diluar kesadarannya, tetapi Guntur tetap dapat melihat dan merasakan ada cairan yang keluar dari dua titik yang ditutupi dengan kedua jempolnya. Ia hanya merasa seperti ada kekuatan yang menyedot keluar melalui jempolnya.
Diantara kesadarannya dan alam bawah sadarnya, muncul suara yang sangat jelas dan dekat di telinga Guntur. Dan nampaknya hanya didengar oleh dirinya sendiri karena tidak ada reaksi apapun dari Pak Asep, Kunto dan Neng saat suara itu berkata.
"Itu akibat gigitan ular kobra. Sebelumnya dia tidak sengaja membuang air cucian ke semak-semak dan disitu ada anak ular Kobra sedang bermain. Matanya seketika tidak bisa melihat dan membuat bapaknya marah. Ular itu bukan ular biasa!
Suara itu hilang begitu saja setelah selesai memberitahukan kepada Guntur. Guntur masih menempelkan kedua jempolnya pada bekas gigitan ular Kobra dan cairan merah kehitam-hitaman yang tersedot meleleh ke telapak tangan Guntur lama-lama kian berkurang.
Beberapa saat kemudian masih diluar kesadarannya Guntur melepaskan dua jempolnya dari betis Si Emak seiring cairan merah kehitaman itu tidak lagi keluar.
Bersamaan itu kedua mata Si Emak perlahan-lahan terbuka. Mula-mula ia menatap langit-langit kamar lalu menengok kesisi kiri dilihatnya ada suaminya bersama dengan Kunto dan Neng yang berdiri disebelahnya. Kemudian Emak menoleh kesisi kanan, raut wajahnya langsung menyiratkan tanda tanya siapa pemuda yang turut berada di kamarnya.
"Alhamduliah..." ucap pak Asep, Kunto dan Neng bersamaan ketika si Emak menoleh kearahnya.
"Itu Guntur Mak, teman Kunto yang mengantarkan Kunto pulang," ucap Kunto melihat Emaknya kebingungan penuh tanda tanya ketika melihat Guntur.
"Mak..." ucap Guntur sembari meraih tangan Emak menyalaminya.
Emak tersenyum lembut menganggukkan kepalanya lalu menoleh kearah suami dan kedua anaknya.
"Sa, saya kenapa Pak?" tanya Emak terbata-bata tidak mengerti kenapa dirinya seperti orang sakit saja.
Pak Asep tersenyum sumringah melihat istrinya sudah kembali sadar, lalu berucap;
"Gimana keadaan Emak? Apa yang emak rasakan di badan emak?" Tanya pak Asep.
"Emak baik-baik saja kok. Memangnya emak sakit gitu?" Watak emak-emaknya mulai muncul tidak terima merasa dirinya diperlakukan seperti orang yang sedang sakit.
Semua yang ada di kamar itu dibuat tertawa melihat ekspresi dan ucapan si Emak yang merasa sehat dan baik-baik saja. Disusul Si Emak yang langsung bangun dari kasurnya lalu turun dan berdiri menghadap kearah mereka.
"Tuh, tuh lihat emak baik-baik saja kan?!" ucap Emak berlagak foto model membolak-balikkan badannya.
"Hahahahaha..."
"Hahahahaha..."
"Hahahahaha..."
"Hahahahaha..."
Pak Asep, Kunto, Neng dan Guntur, mereka semua tidak tega untuk menceritakannya sekarang dengan apa yang sebelumnya terjadi pada Emak. Cukup lama suasana ceria itu menghiasi kamar kecil dengan derai tawa bahagia.
"O, iya emak lupa tadi emak masak pepes ikan gurame. Kebetulan haji Dadang panen empangnya, ayo ayo kita makan dulu," sela Emak diantara derai tawa sambil berlalu keluar kamar.
Semuanya hanya memandangi kepergian emak berlalu dari dalam kamar. Barulah pak Asep, Kunto dan Neng berebut menanyakan apa yang terjadi sama Emak yang sedari tadi ditahannya.
"Ssssttt...! Gun, emak kenapa?" Tanya Kunto.
"Kenapa A?" timpal Neng.
"Iya, kenapa dengan emak Nak Guntur?" Pak Asep menimpali.
Di berondong pertanyaan seperti itu membuat Guntur kebingungan sendiri. Sebab apa yang dilakukannya tadi diluar kesadarannya namun tidak dengan pak Asep, Kunto dan Neng. Mereka menganggap Guntur telah menyembuhkan Emak.
Saat itulah Guntur teringat dengan bisikkan ditelinganya. Dan hanya itulah satu-satunya sumber jawaban yang diketahuinya. Tetapi Guntur nampak bimbang untuk mengatakannya, ia merasa tidak percaya diri menyampaikannya dan ia merasa ucapan yang didengar ditelinganya itu sangat tidak masuk akal. Logikanya lebih dominan berbicara karena yang akan disampaikannya itu diluar nalar dan logika sebagai seorang mahasiswa.
Selain itu Guntur pun tidak memiliki keahlian khusus mengenai hal-hal yang berbau gaib. Karena tidak ada lagi sebagai bahan jawaban yang disampaikannya akhirnya Guntur pun mengatakannya juga.
"Itu akibat gigitan ular kobra. Sebelumnya emak tidak sengaja membuang air cucian ke semak-semak dan disitu ada anak ular Kobra sedang bermain. Matanya seketika tidak bisa melihat dan membuat bapaknya marah. Ular itu bukan ular biasa!" ucap Guntur dengan lancar persis seperti suara yang membisikinya.
Pak Asep, Kunto dan Neng seketika tercengang mendengar penjelasan Guntur. Memang masuk diakal mereka sebab saat emak ditemukan sudah tergeletak dibawah jemuran. Kemungkinan emak digigit ular Kobra itu pada saat sedang menjemur cucian.
"Gun, sejak kapan kamu bisa seperti itu?!" Tanya Kunto menatap Guntur penuh keheranan.
"Hehehehe...."
Guntur hanya menjawabnya dengan tertawa kecil yang terlihat sangat menawan dimata Neng yang menatapnya tak berkedip.
"Sudah, sudah... Ayo kita makan dulu, mari nak Guntur.." ucap Pak Asep.
"Muhun, muhun.." sahut Guntur.
......................
🔴JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK NGOBROL DI KOMENTAR YA...
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus berkarya
2023-04-10
0
Eros Hariyadi
ceritanya mulai menarik dibaca neehhh 😄💪👍👍👍
2022-08-02
1
Ganuwa Gunawan
ikut makan aah..
pantes nya enak makan ama pepes ikan
2022-05-18
2