Suasana kamar Guntur sangat hening dan senyap sejak Kunto keluar dari kamar Guntur sekitar pukul 10 malam usai main game. Guntur masih nampak kusyuk membaca buku yang di belinya di lapak buku loak pak Suro. Sesekali kepalanya mendongak melihat jam dinding.
"Sebentar lagi," gumamnya.
Guntur makin penasaran dengan dunia gaib setelah ngobrol banyak dengan pak Suro siang tadi. Pak Suro sendiri memiliki ilmu kebatinan yang lumayan tinggi. Sebetulnya pak Suro mengetahui latar belakang Guntur hanya saja dia tidak mau membeberkannya meskipun Guntur sudah bertanya tentang sosok mahluk yang selama ini melindungi.
Kunto saja yang sudah tiga hari menumpang di rumah Guntur tidak mengetahui kalau Guntur memiliki tanda lahir yang tidak bias. Tetapi pak Suro pada siang tadi tidak banyak memberikan penjelasan mengenai tanda lahir Guntur yang diketahuinya ketika Guntur membeli bukunya. Padahal Guntur sempat menanyakannya.
"Kalau mengenai tanda lahir itu apa memiliki arti khusus pak? Lalu bagaimana pak Suro bisa tau?" Tanya Guntur.
Pak Suro menghela nafas panjang ada keraguan terpancar di raut wajahnya untuk menjawab pertanyaan Guntur. Sebetulnya pak Suro mempunyai jawaban itu namun ia berinisiatif untuk tetap merahasiakannya.
"Nanti kamu juga akan tau jawabannya Gun," jawab pak Suro.
Kunto dan Adi hanya melongo menatap Guntur dan pak Suro bergantian. Keduanya tidak mengerti dengan arah pembicaraan tersebut namun juga enggan mencampurinya untuk bertanya.
Tanpa terasa waktu yang ditunggu-tunggu Guntur tiba juga. Jarum jam menunjukkan pukul 24.00 wib, Guntur ĺekas-lekas memasuki kamar mandi untuk mengawali ritual membuka mata batin seperti yang diajarkan Pak Suro. Menurut pak Suro pertamatama ritual yang wajib dilakukan adalah pensucian diri dengan mandi yang disertai niat dan tujuan yang diucapkan didalam hati sebelum mengguyur tubuh.
Untungnya kamar mandinya berada didalam kamar, jika tidak pastilah akan menimbulkan prasangka yang bukan-bukan oleh mamah Karmila karena tidak biasanya Guntur tengah malam mandi.
Guntur terdiam sejenak sambil menundukkan kepalanya, hatinya sedang berbicara menyampaikan tujuannyanya pada Sang Maha Kuasa. Lalu satu gayung air pertama diguyurkan mulai dari ubun-ubunnya. Guyuran pertama berasa dingin sekali menusuk hingga ke tulang sumsum membuat Guntur menggigil-gigil hingga gigi-giginya bergemeretakkan.
"Brrrrrrrrhhhhggg..." suara kedinginan Guntur memenuhi kamar mandi.
Sore hari saja suhu di Kota Bandung sudah terasa dingin kalau mandi, apalagi mandi pada tengah malam sudah pasti serasa mandi dengan air es. Namun semua itu tidak menyurutkan tekad Guntur untuk melakukan ritual penyucian diri.
Meski menurut pak Suro penyucian diri dapat dilakukan diluar rumah atau ditempat-tempat yang dianggap kramat, akan tetapi Guntur lebih memilih melakukannya di rumah saja. Ada beberapa pertimbangan yang membuat dirinya enggan melakukan ritual mandi diluar apalagi ditempat kramat. Yang pertama karena malu, orang-orang yang melihatnya pasti akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan aneh dan yang kedua tidak ada waktu pergi ke tempat kramat.
Syarat pertama sudah dilakukan oleh Guntur. Kemudian ia mengenakan baju muslim putih, memakai sarung lengkap dengan kopyah rajut berwarna hitam. duduk bersila dengan posisi kaki kanan ditumpangkan pada ujung paha kiri yang ditekuk melipat dibawah paha kanannya. Kedua tangannya mengepal menghadap kebawah diletakkan diatas kedua ujung lututnya sesuai dengan petunjuk yang dikatakan oleh Pak Suro siang tadi.
Beruntung bagi Guntur karena pak Suro begitu percaya pada dirinya sehingga mau berbagi pèngetahuannya tentang dunia gaib. Bahkan atas anjurannya pula Guntur diajarkan cara-cara membuka mata batin. Dan tengah malam ini mulai menjalani ritual untuk membuka mata batinnya. Ia begitu antusias sekaligus penasaran ingin cepat-cepat dapat melihat alam gaib.
"Untuk membuka mata batin itu sebetulnya tidak terikat pada mantra, tirakat, atau doa-doa tertentu." Kata pak Suro mengawali penjabarannya ketika Guntur menyampaikan keinginannya.
Wajah Guntur langsung sumringah mendengar ucpan pak Suro itu. Sebelumnya ia sudah membayangkan akan beratnya melakoni ritual membuka mata batin bahkan sudah lemas duluan jika harus melakukannya dengan berpuasa. Akan tetapi ternyata berbanding terbalik dengan perkiraannya, dari ucapan pak Suro sepertinya sangat mudah dilakukan.
"Lalu bagaimana melakakukannya pak?!" Tanya Guntur tak sabar.
"Intinya cara membuka mata batin harus diawali dengan niat, keberanian dan herus memiliki mental yang kuat. Sebab, jika kamu sudah terbuka mata batinnya, kamu akan melihat dunia tanpa sekat atau penghalang yang membuatmu dapat melihat pemandangan dan penampakkan yang asing dan juga menyeramkan." Terang pak Suro.
Ucapan pak Suro itu masih tersimpan jelas diingatan Guntur. Namun jauh didasar hatinya ada sedikit keraguan apakah dirinya siap atau tidak ketika itu benar-benar dapat melihat alam gaib dan mahluknya
Kemudian, Guntur kembali mengucap niat dalam hati ingin membuka mata batin dengan fokus menyampaikan niat tersebut kepada Tuhan yang maha kuasa.
"Tarik nafas yang dalam lalu buang perlahan-lahan. Lakukan pernafasan itu sebanyak tiga sampai tujuh kali hingga benar-benar merasakan rileks. Apabila sudah rileks, kamu boleh bernafas seperti biasa." Ucap pak Suro.
"Selanjutnya pernafasan yang kedua kamu pejamkan mata dan fokus pada pernafasan seperti yang dilakukan pertama sampai kamu merasa tenang dan nyaman. Hilangkan segala pikiran dan bayang-bayang apapun dari kepala kamu. Kalau sudah mencapai tahap itu kamu akan melihat sebuah lorong hitam yang berputar-putar didalam kepalamu." terang pak Suro.
Semua ucapan-ucapan pak Suro tidak ada yang terlupakan satu kalimat pun. Guntur mengikuti semua tata caranya seperti yang dikatakan pak Suro sampai dengan tahap konsentrasi pada pernafasan yang kedua. Beberapa menit telah berlalu, didalam kamar yang gelap, Guntur terus berusaha fokus dengan memejamkan mata dan mengosongkan gambaran-gambaran halusinasi didalam isi kepalanya. Ia mengatur pernafasannya sesuai yang diajarkan pak Suro.
Dihirupnya udara dalam-dalam lalu ditahannya didalam perut beberapa saat kemudian dihembuskannya melalui hidung secara perlahan-lahan. Guntur melakukan teknik pernafasan perut itu berulang-ulang. Entah sudah berapa kali ia melakukannya hingga tubuhnya merasakan hangat dan ringan. Pikirannya menjadi tenang dan rileks.
Bulir-bulir kecil keringat mulai keluar dari pori-pori membuat dahi Guntur sedikit basah. Beberapa saat berikutnya didalam kepalanya diantara kedua mata, Guntur melihat sebuah lorong hitam seperti spiral yang bergulung-gulung. Ia terus memfokuskan pernafasannya lalu terlihat ada setitik cahaya putih ditengah-tengah gulungan kabut hitam.
"Ahhh, kepalaku jadi pusing." gumam Guntur dalam hati.
Guntur merasakan tubuhnya limbung bersamaan dengan merasakan pusing di kepalanya saat melihat gulungan-gulungan hitam berputar-putar diantara kedua matanya itu.
"Aku nggak kuat, aku nggak kuat, ahhhk!" Ucap Guntur.
Lalu tubuh Guntur tumbang kebelakang dari duduk bersilanya. Guntur baru teringat ucapan pak Suro itu dan menyudahi ritual membuka mata batin di malam pertamanya. Tetapi dirinya tidak berusaha bangkit untuk berpindah keatas kasur untuk tidur karena tubuhnya merasa lemas. Tanpa disadari Guntur langsung tertidur dilantai beralaskan sajadah.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus semangat
2023-04-10
0
Ganuwa Gunawan
aku mah g mau niruin tor..
takut klu liat yg serem serem
udah bagen mata batin k tutup ge aah.. dr pda ke buka.. bangsa nya pingsan mulu liat yg serem serem
2022-05-18
1
Ganuwa Gunawan
untung mandi malem nya ga pake kembang tujuh rupa tor..
coba kli pake kembang tujuh rupa..
udah kaya nyanyian caca handika yaaa
2022-05-18
1