Usai bubaran kuliah Guntur berjalan tergesa-gesa menuju tempat parkir kampus diikuti Kunto. Ia ingin cepat-cepat menemui pak Suro untuk menanyakan ritual membuka mata batinnya semalam yang menurutnya telah gagal karena tidak kuat merasakan pusing di kepalanya.
"Ayo buru Kun!" seru Guntur.
"Ya elah Gun, pak Suro juga nggak akan pergi kemana-mana!" ujar Kunto mensejajarkan langkahnya.
"Soalnya gawat Kun, ini gawat!" kata Guntur setengah berlari ketika Kunto berhasil berjalan disebelahnya.
"Apanya yang gawat?!" Tanya Kunto tak mengerti.
Guntur terus saja melangkah setengah berlari hingga Kunto pun ikut mengimbanginya mengejar Guntur. Tidak berapa lama sampailah di parkiran sepeda motornya, akan tetapi ia menghentikan langkahnya secara mendadak membuat Kunto menabrak punggungbya.
"Aduh! Ada apalagi sih Gun!" Sungut Kunto.
"Kun, Kun... kamu disini aja biar aku yang ambil motornya," ucap Guntur.
"Ken..."
Kunto tidak meneruskan ucapannya bersamaan dengan matanya melihat ketempat sepeda motor Guntur di parkir. Wajahnya langsung pucat melihat sekumpulan seniornya dan diatas sepeda motor sport Guntur sedang diduduki oleh David yang dikelilingi oleh sembilan orang temannya.
"Wah, gawat nih Gun! Mau apa mereka?!" seru Kunto berbisik cemas.
"Udah kamu disini aja bila perlu kamu sembunyi tuh di pohon itu, cepat sana!" timpal Guntur menunjuk pohon mahoni disebelah kanan.
Tanpa bertanya lagi Kunto pun menuruti anjuran Guntur, ia lengsung berlari ke balik batang pohon Mahoni. Kunto hanya bisa memperhatikan langkah Guntur yang terus berjalan mendekati sepeda motornya yang sedang diduduki oleh David dengan perasaan cemas.
"Waduh kenapa saya nggak ikut Guntur saja. Kalau dia kenapa-kenapa gimana?" gumam Kunto.
"Masa saya tega melihat sahabat sendiri dianiaya dikeroyok didepan mata tidak membantunya!"
Pergulatan batin Kunto berkecamuk didalam batinnya antara rasa takut dengan rasa solideritasnya. Akhirnya Kunto memutuskan untuk membantu Guntur apapun resikonya. Lalu ia keluar dari persembunyiannya dan berlari menyusul Guntur 50 meter disepannya. Tetapi baru lima meter berlari, tiba-tiba berhenti ia terpaku melihat yang terjadi di parkiran sepeda motor itu.
Langkah Guntur sampai pada tempat sepeda motornya diparkir. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan serta ketakutan sedikit pun melihat 10 orang seniornya yang menunjukkan gelagat tidak baik.
"Punten A motornya," ucap Guntur pada David yang menduduki sepeda motornya dengan seenaknya.
"Oh ini motor lu, sok ambil aja," kata David tidak beranjak dari duduknya.
Guntur pun berusaha mendekat dan bermaksud memasukkan kunci konyok dari sisi kanan meskipun David masih menduduki sepeda motornya.
"Eits! Bayar dulu. Enak aja mau pergi begitu aja, iya nggak hahahaha...!" Ujar David.
"Bayar?! Sejak kapan?" Tanya Guntur tetap tenang.
"Sejak sekarang! Bayar, bayar!" hardik David sambil menepuk-nepuk bahu Guntur dengan kasar.
"Kalau aku nggak bayar gimana?" tanya Guntur sedikit menantang.
"Wah, wah cari masalah... Hajar!" seru David memerintahkan teman-temannya sambil beranjak dari duduknya memberikan ruang untuk menghajar Guntur.
Guntur hanya berdiri diam menatapnya saja di samping kanan sepeda motornya melihat kesembilan teman David merangsak hendak menghajarnya.
Dua tangan terkepal langsung mengayun dari depan mengarah ke wajah Guntur, disusul dua pukulan dari samping kanan dan kiri juga mengayun deras menyasar kepala.
Melihat itu dengan reflek Guntur mengangkat kedua tangannya dengan mata terpejam bermaksud untuk melindungi kepalanya. Namun pukulan-pukulan yang diperkirakan mendarat di kepalanya tidak kunjung dirasakannya. Hingga beberapa detik Guntur masih berlindung dikedua tangannya yang menutupi kepala.
Merasa tidak ada satupun pukulan yang dirasakannya, Guntur pun menurunkan tangannya dan melihat sekelilingnya. Dia melihat keaembilan mahasiswa senior itu dalam keadaan terjengkang mengitarinya. Dari mulut mereka keluar erangan kesakitan.
"Aduuuuuhhh..."
"Panaaaaaaasssa..."
"Sakiiiiit...."
"Ampuuuuunnn..."
Guntur tidak menghiraukan segala macam erangan itu, pandangannya diedarkan menatap satu demi satu kesembilan seniornya yang bergelimpangan. Lalu tatapannya berhenti pada David yang berdiri tiga langkah didepannya dengan wajah terperangah. Wajahnya pucat pasi ketakutan melihat teman-temannya terpental saat menghajar Guntur.
"Aku menghargai kalian sebagai senior tapi kalian malah semakin semena-mena. David, sini lu!" Seru Guntur tak dapat menahan ketenangannya lagi.
David masih diam terpaku tidak berani bergerak sedikitpun. Lututnya terlihat gemetaran saat Guntur memanggilnya.
"Lu tuli ya?! Sini lu!" Seru Guntur dengan menunjukkan wajah marahnya.
"A, aaa, a, ampuuun.." ucap David melirik memandang Guntur lalu secepatnya menunduk lagi.
David tidak berani menatap wajah Guntur lagi dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dari pandangan matanya wajah Guntur terlihat sangat menyeramkan. Wajah Guntur tiba-tiba berubah menjadi hitam legam berbulu lebat dengan dua taring tajam mencuat dari kedua sudut bibir.
Kali Guntur benar-benar tidak dapat mengendalikan amarahnya. Dia berniat hendak menghajar David saat melangkah mendekati David terdengar teriakkan memanggil namanya.
"Guntuuuur...!"
Guntur berhenti spontan menoleh kebelakang, dilihatnya Kunto sedang berlari kearahnya.
"Kun, sudah berapa uang yang dipalak si mahasiswa brandalan ini?!" Seru Guntur saat Kunto datang terengah-engah.
Sesaat Kunto merasa takut untuk mengatakannya namun melihat muka David yang pucat ketakutan membuat keberaniannya timbul.
"Waduh, nggak kehitungan Gun. Malah uang buat bayar kost dirampas David tuh!" Seru Kunto mengadu.
"Keterlaluan lu ya! Lu tau nggak dia sekarang diusir dari kost-annya karena nggak bisa bayar. Rupanya diambil lu, lu semua. Benar itu Vid?!" bentak Guntur.
"I, i, iya.." jawab David makin gemetaran hingga celana jeansnya terlihat basah.
"Sekarang juga lu kembalikan duit Kunto. Lu kumpulin duitnya dari temen-temen lu, cepat!" hardik Guntur.
David merogoh saku jeansnya dan juga mengambil iang didalam dompetnya. Lalu dengan langkah gemetar David memintai uang kepada sembilan temannya yang masih terkapar.
"Kun, berapa uang kost yang dirampas mereka?" Tanya Guntur.
"Satu juta sembilan ratus Gun, buat dua bulan bayar kost itu." Jawab Kunto.
David terlihat masih memunguti uang satu persatu dari kesembilan temannya. Beberpa saat kemudian ditangan David sudah terkumpul uang berbagai nominal, ada 10 ribuan, 20 ribuan hingga 100 ribuan.
"Hitung ada berapa?!" seru Guntur.
Dengan tangan gemetaran David menghitung uang hasil memungut dari teman-temannya itu.
"A, a, ada satu juta dua ratus," jawab David dengan tertunduk.
"Masih kurang tuh!" sergah Guntur.
"I, i, iya kurangannya besok," ucap David ketakutan.
"Kun ambil tuh uang lu," seru Guntur.
Kunto langsung mengambil uang yang diulurkan David dengan wajah sumringah.
"Udah Gun, nggak apa-apa saya iklaskan nggak perlu mereka memberikan kurangannya lagi." kata Kunto.
"Tuh kalian dengar sendiri terutam lu David, Kunto sudah mengiklaskan uangnya di rampas kalian. Tapi ingat, kalau besok-besok aku mendengar kalian berulah lagi, aku akan bikin cacat seumur hidup kalian!" Hardik Guntur.
"Ayo Kun, cabut jadi terlambat nih gara-gara berandalan itu." sambungnya.
Guntur dan Kunto langsung meninggalkan parkiran kampus diiringi tatapan nanar David dan kawan-kawannya.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus bahagis
2023-04-10
0
ſᑎ🎐ᵇᵃˢᵉ
Ternyata Visual Aa Guntur Sekeren ini yah 😂😂😂😂😂
2022-09-11
0
LANANG MBELING
Guntur sama papa kandungnya gimana???
2022-01-08
1