Tiga rahasia besar yang melingkupi segenap pikiran dan hati Guntur untuk diungkap. Banyak hal yang tidak dipahami yang selama ini terjadi pada dirinya, Papahnya dan Mamahnya.
Guntur merasa dirinya memiliki kekuatan gaib yang selalu melindunginya tetapi selama ini ia belum juga menemukan tanda-tanda yang menuntunnya untuk mengetahui kekuatan apa yang ada pada dirinya.
Jika benar ada mahluk tidak kasat mata yang menjadi pelindungnya tetapi kenapa selama ini tidak pernah menunjukkan jati dirinya pada Guntur. Kalau pun bukan mahluk tak kasat mata lalu siapa yang selalu melindunginya?
Papahnya, kenapa papahnya seperti tidak betah berlama-lama berada di rumah? Jika melihat dari gelagatnya sangat jelas kalau papahnya sangat mencintai mamahmya, lalu kenapa papahnya bisa bersikap tidak kerasan di rumah?
"Mah, kenapa sih papah seperti nggak kerasan tinggal di rumah?" Tanya Guntur pada mamah Karmila.
Pertanyaan itu belum lama Guntur lontarkan sepulang kuliah dan menceritakan kejadian diserang oleh tiga seniornya pada mamah Karmila.
"Papahmu bilang sedang banyak kerjaan di perusahaannya. Jadi nggak bisa berlama-lama di rumah,"
Jawaban Mamah Karmila membuat kening Guntur berkerut dalam. Guntur merasakan mamah Karmila seperti menyimpan rahasia besar didalam hatinya. Ada guratan rahasia yang berusaha disimpannya rapat-rapat.
"Lalu kenapa ya Mah, aku seperti ada yang melindungi setiap kali ada yang mencelakaiku. Seperti tadi siang di kampus aku dikeroyok tiga seniorku Mah tapi mereka pada berjatuhan sendiri saat menyerangku."
"Oh ya?! Tapi syukurlah kamu tidak kenapa-napa Gun,"
Hanya sebatas itu jawaban dari mama Karmila. Lagi lagi ada kabut misteri di sorot matanya yang menutupi jawaban yang sebenarnya. Ingin rasanya memaksa mamah Karmila untuk membuka tabir rahasia itu tapi Guntur enggan melakukannya. Dia sangat sayang sama mamahnya dan tidak ingin membuat mamahnya marah jika dirinya mendesaknya.
......................
Tiin..
Tiin..
Sabtu pagi itu mamah Karmila sedang menyirami bunga-bunga koleksinya yang bejejer indah di serambi depan rumah. Tubuh sintal berbalut kaos ketat dipadu celana pendek memperlihatkan kuning langsat kulitnya mendadak sumringah melihat mobil Pajero sport warna putih membunyikan klakson didepan gerbang.
Wajah cantik Karmila langsung bersemu ceria bergegas membuka pintu gerbang setinggi dua meter itu dengan senyum manisnya mengeser pagar besi itu. Dia hafal betul kalau suara klakson itu adalah mobil Aryo. Binar-binar matanya menyiratkan kerinduan yang teramat dalam.
Kepulangan suaminya yang tidak menentu tidak bisa diprediksikan hari dan jamnya memberinya nuansa seperti sebuah surpraise bagi Karmila. Dan akhir pekan ini menjadi hari yang paling bahagia dirasakan Karmila melihat Aryo pulang.
Tiiin..
Tiiin..
Aryo membunyikan klaksonnya dua kali sebagai pengganti ucapan terima kasihnya kepada Karmila yang sudah membukakan pintu gerbang.
"Maaas.." seru Karmila manja menatap mesra Aryo yang tersenyum tipis.
Setelah menutup kembali pintu gerbang, Karmila langsung berlari kecil menyongsong Aryo begitu turun dari mobilnya. Senyum Aryo mengembang penuh kerinduan. Aryo mengembangkan tangannya menyambut songsongan pelukkan Karmila yang berlari kearahnya.
"Aku kangeeeen banget Mas..." bisik Karmila manja ditelinga Aryo dalam pelukkannya.
"Mas juga sayang..." balas Aryo mengencangkan pelukannnya.
Dua menitan pasangan suami istri itu berpelukan di samping mobil Pajero sport yang diparkir didepan rumah. Keduanya saling menumpahkan kerinduan yang hampir berkarat.
Bruuugh!
Pelukkan keduanya langsung lepas tiba-tiba mendengar suara pintu rumah seperti ditutup dengan keras. Aryo dan Karmila terperangah melihat pintu yang besar itu tiba-tiba menutup dengan sendirinya.
"Guntur..?!" ucap Aryo menebak.
"Guntur nggak ada di rumah Mas, katanya dia ada kegiatan kampus berangkat jam setengah tujuh tadi," ujar Karmila dengan raut tertegun cemas.
Mata Aryo masih tertegun menatap pintu rumah yang menutup itu, wajahnya menyiratkan penuh tanda tanya besar. Kalau bukan Gintur, siapa yang menutup pintu dengan keras?
Aryo tidak berpikir jauh dan tidak terlintas dibenaknya sedikit pun meikirkan keganjilan tersebut. Otak realistisnya lebih mendominasi pikirannya daripada mencurigai hal lain yang diluar nalar karena Aryo tidak mempercayai hal-hal yang berhubungan dengan mahluk halus.
Tetapi lain halnya dengan ekspresi wajah Karmila, ia begitu terkejut dan menunjukkan wajah cemas seketika. Ada rasa kekhawatiran yang begitu dalam dari sorot matanya yang bulat indah itu. Dan kekhawatiran itu ia pendam rapat-rapat didalam hatinya.
"Mil, apa kamu nggak kepengen pindah dari rmah ini?"
Pertanyaan Aryo menyentakkan ketertegunan Karmila yang matanya masih menatap pintu besar rumahnya. Entah kenapa Karmila sepertinya tidak suka dengan pertanyaan Aryo yang seakan-akan menyuruhnya pindah dari rumah hadiah perkawinannya itu.
"Sayang Mas kalau pindah dari rumah ini. Rumah inikan hadiah perkawinan dari kamu Mas, aku kerasan kok Mas." Jawab Karmila.
Rasa sedih dan keberatan tergambar jelas di wajah Karmila yang masih cantik diusianya ke-38. Jelas sekali ada kabut rahasia yang melingkupi perasaannya dan rahasia itulah yang membuatnya sangat keberatan jika harus meninggalkan rumah itu.
Untungnya ekspresi cemasnya tidak terlihat oleh Aryo yang langsung menariknya mengajak Karmila masuk. Karmila pun terdorong dan bergelayut manja dilengan Aryo. Karmila mengerti kalau suaminya menginginkan sesuatu untuk mengobati dahaga libidonya yang sudah hampir sebulan tidak tersalurkan. Dan Karmila pun sesungguhnya merasakan dan menginginkan hal sama.
Aryo segera menekan handel pintu untuk masuk kedalam rumah. Akan tetapi tidak juga dapat dibuka, beberapa kali dihenttak-hentakkan handel itu tètap saja pintu itu tidak bisa dibukanya seolah terkunci dari dari dalam.
"Kok, nggak bisa dibuka Mil?!" tanya Aryo sedikit kesal.
"Masa..?!" ujar Karmila tidak percaya.
Karmila lalu menggeser tangan Aryo di handel pintu. Ia lalu menekannya pelan dan pintu besar itupun langsung terbuka. Raut wajah Aryo berubah heran melihat Karmila begitu mudahnya membuka pintu, padahal saat dirinya membukanya jelas-jelas tidak bisa seperti terkunci.
"Tuh bisa, Mas. Makanya jangan buru-buru, hikhikhik..." ujar Karmila sambil mengerlingkan matanya menggoda Aryo.
Ucapan menggoda Karmila hanyalah sebuah pengalihan semata agar Aryo tidak memikirkan keanehan itu lebih jauh.
Dan memang benar, keheranan Aryo tidak berpanjut malah keganjilan itu sudah dilupakannya jauh-jauh dari pikirannya. Aryo kembali memeluk Karmila lembut, keduanya kembali berpelukan dan menutup pintu itu dengan sekali sontekan tumit kaki Aryo. Keduanya saling berpagutan mesra menumpahkan seluruh rasa yang sudah lama mengendap terhalang jarak. Tapi tidak untuk Karmila, nampaknya hasratnya tidak sebesar dan semenggebu-gebu Aryo.
Praaang..!
Praaang...!
Sontak saja pelukkan sepasang suami istri saling melepaskan. Keduanya kembali terkejut kali ini dikagetkan oleh suara-suara barang pecah seperti sengaja dibanting.
"Apa di dapur ada orang?!" Aryo menatap Karmila keheranan sekaligus curiga.
"Nggak ada Mas, aku sendirian setelah Guntur pergi ke kampus." Ujar Karmila meyakinkan.
Aryo bergegas menuju sumber suara yang datangnya dari arah dapur. Benar saja di lantai dapur sudah berserakkan dua buah gelas yang pecah. Pecahaannya berserakkan keberbagai arah.
"Awas jangan kesini Mil, banyak pecahan belingnya!" seru Aryo sembari merentangkan tangannya menahan Karmila yang mengikutinya dibelakang.
Wajah Karmila terperangah namun sesaat kemudian kembali biasa saja. Dia merasa bukanlah kucing yang membuat gelas-gelas itu jatuh, sebab melihat dari serpihan pecahannya yang tercerai-berai jauh kemana-mana dengan bunyinya yang keras itu menunjukkan kalau gelas itu bukan jatuh biasa akan tetapi tepatnya gelas itu dibanting.
"Aneh..." Aryo hamya bergumam tetapi masih cukup terdengar oleh Karmila.
"Kucing atau tikus kali Mas," ujar Karmila.
Pikiran rasional Aryo kembali membungkam prasangka-prasangka buruknya di rumah itu. Lalu Aryo mengambil sapu dan yang tidak jauh dari tempatnya untuk membersihkan pecahan-pecahan beling itu hingga masuk sampai ke kolong-kolong kichen set dibawah.
Sepasang mata Karmila melirik kesana kemari dengan tatapan tajam mengitari sekitar dapur seperti mencari sesuatu. Wajahnya kembali menunjukkan kecemasan yang amat sangat ketika matanya melihat sekelabatan bayangan hitam dijendela dapur.
Nyaris saja Karmila berteriak andai mulutnya tidak segera dibungkamnya sendiri. Aryo sama sekali tidak mengetahuinya karena posisinya dibawah sedikit membungkuk menyapu kolong-kolong dapur.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus sukses
2023-04-10
0
Suherni 123
Aryo,,, istri mu itu selingkuh sama .......
2022-10-28
0
Kurnit Rahayu
bego z si Karmila orng mh pindah z rumhy
2022-08-05
3