"Kun.. Kuntooo..!"
Guntur berlari-lari kecil menghampiri Kunto yang nampak duduk dengan wajah kusut di bangku taman kampus. Kunto menoleh kearah Guntur yang sedang menuju kearahnya melebarkan senyum tak bersemangat lalu kembali menundukkan kepala.
"Kun antar aku nyari buku yuk," ucap Guntur langsung duduk disebelahnya.
Kunto tidak merespon ajakan Guntur, ia masih tertunduk dengan wajah bermuram durja. Tersirat dari raut wajahnya sedang menyimpan beban batin yang teramat berat.
"Kun, kenapa?" Tanya Guntur heran dengan sikap Kunto yang tidak biasanya.
"Hmmm... aku diusir dari tempat kos Gun," ujar Kunto muram.
"Diusi? Kamu berkelahi dengan penghuni kos lainnya? Tanya Guntur.
Kunto tersenyum kecut sambil menggelengkan kepala, "Aku nunggak tiga bulan belum bayar uang kos Gun."
"Terus sekarang tidur dimana?"
"Nggak tau Gun, ya mungkin sementara waktu tidur di masjid dulu." Gumam Kunto.
"Sudah, jangan kamu pikirkan itu Kun. Gimana kalau kamu tinggal di rumahku saja?" tanya Guntur menawarkan.
Seketika Kunto ternganga tak percaya dengan yang barusan ia dengar, "Apa Gun?!"
"Iya kamu tinggal di rumahku. Ada dua kamar yang nggak ditempati, daripada kosong."Jawab Guntur.
"Mamahmu gimana, apa boleh Gun?!" tanya Kunto ragu.
"Ya pasti boleh lah, mamahku kan baik banget hehehe.." ujar Guntur.
"Beneran Gun nggak apa-apa?!"
"Ya elah, iya nggak apa-apa. Kalau nggak mau ya sudah..." ujar Guntur pura-pura hendak pergi meninggalkan Kunto.
"Mau, mau, mau.. Ayo Gun saya antar nyari bukunya, hehehe..." Sergah Kunto langsung berdiri merangkul Guntur.
......................
"Nyari buku apa sih, dari tadi kayaknya belum nemu juga." kata Kunto.
Sudah satu jam lebih Guntur mengobrak-abrik dari tumpukkan buku satu ke tumpukkan buku lain yang terhampar digelaran terpal biru dipinggir jalan. Lapak kaki lima yang didatangi Guntur dan Kunto itu paling favorit manakala mahasiswa-mahasiswi mencari buku-buku yang sudah tidak lagi terbit. Biasanya mereka mencari buku sebagai bahan membuat skripsi atau sekedar untuk bahan bacaan pengetahuan saja.
Di lapak buku loak itu selalu ramai dipadati peminatnya. Namun jika dibandingkan minat yang membeli dengan yang hanya sekedar numpang membaca paling banyak yang numpang baca saja.
"Anu, buku tentang mahluk gaib," bisik Guntur malu-malu ditelinga Kunto takut kedengaran orang sekitarnya.
"Lah itu sih banyak tuh. Kuntilanak, genderuwo, matinya tuyul. Mmm, yang itu tuh tuh suster ngesod," ujar Kunto menunjuk-nunjuk buku-buku yang berserakkan diantara tumpukkan buku-buku.
"Bukan novel Kun," ucap Guntur.
"Nyari buku apa mas?" Tiba-tiba bapak paruh baya penjual buku bertanya.
"A, a..anu pak, buku yang mengenai mahluk alam gaib." jawab Guntur malu-malu.
Bapak penjual buku itu beberapa saat memandangi wajah Guntur seperti ragu-ragu. Tetapi sedetik berikutnya ia langsung mengedarkan pandangannya menatap buku-buku disekitarnya. Nampaknya dia mengingat-ingat sebuah buku.
"O... sebentar mas," ujar bapak penjual buku seperti teringat sesuatu.
Terlihat bapak penjual itu mencari-cari buku ditumpukkan paling bawah sebelah kanan dekat lutut kakinya. Sesaat kemudian wajah datarnya tersenyum kecil mendapati buku yang dicari ketemu.
Buku yang dicarinya itu berada ditumpukkan diantara buku-buku yang sudah lama dan sepertinya tidak berniat dijajakan atau dipajang. Namun entah kenapa ia tergerak untuk menawarkannya pada Guntur.
Tidak berapa lama, ditangan bapak penjual buku sudah tergenggam sebuah buku yang nampak sudah usang dimakan waktu. Hal itu terlihat dari warna sampulnya yang sudah kusam dan menguning. Disudut-sudut buku juga terlihat sedikit dimakan rayap dan sobek.
"Ini mas," ucap bapak penjual buku sembari menyerahkan buku itu.
"RAHASIA MAHLUK GAIB"
Guntur membaca judul pada sampul buku itu bergumam. Kunto ikut penasaran melongokkan kepalanya agar bisa melihat dan membaca judulnya tapi Guntur menutup-nutupinya dengan telapak tangan.
"Buku apa sih Gun, liat, liat judulnya." Sergah Kunto memcoba merbut dari tangan Guntur. Guntur berkelit menjauhkan buku itu dari serobotan tangan Kunto.
"Jangan ah!" ujar Guntur.
"Lihat judulnya doang Gun," balas Kunto.
"Hussst pamali masih kecil!" hardik Guntur.
"Aku sudah balig ini Gun," ujar Kunto terus memaksa.
Bapak penjual buku melihat keduanya berebut buku raut wajahnya menjadi cemas.
"Hati-hati, nanti sobek. Itu buku langka!" kata bapak penjual buku menaikkan nada suaranya.
Beruntung Kunto akhirnya mengalah tidak lagi meneruskan usahanya merebut buku dari tangan Guntur. Didalam hati Guntur berucap syukur karena Kunto tidak lagi merebutnya.
Bapak penjual buku itu menatap Guntur dengan tajam, ada perasaan aneh didalam batinnya. Menurutnya pemuda tampan itu tidak sendirian karena dia merasakan ada kekuatan gaib terpancar melindungi tubuh pemuda itu.
Sementara itu Guntur tidak mengetahui kalau bapak penjual buku itu sedang menelisiknya. Matanya seperti terhipnotis terfokus pada buku yang diberikan bapak itu. Ada dorongan kuat dari dalam diri Guntur untuk membuka isi buku usang itu. Pertama-tama yang ia lihat adalah daftar isi bacaannya.
I. PENDAHULUAN
Guntur membaca tulisan kalimat demi kalimat yang ditulis tangan yang mungkin ditulis langsung oleh penulisnya. Ia merasa buku usang ini sangat spesial, berbeda dari semua buku-buku yang di pajang menumpuk.
Didalam rangkaian kalimat PENDAHILUAN itu pada bagian akhir terdapat tulisan seperti catatan pesan dan sebuah nama.
"Buku ini hanya ada dua" (Ki Wartaka)
Hati Guntur langsung tertarik dengan buku yang ada digengamannya. Lalu ia melanjutkan membuka lembaran berikutnya yang berisi daftar sub judul ada 101 bab.
Ia sekilas membaca bab satu disitu menerangkan kehidupan mahluk gaib. Hatinya semakin penasaran untuk terus membaca dan memahami setiap tulisan-tulisannya yang mengandung makna sangat dalam.
Guntur membuka lembar demi lembar isi buku itu. Semakin membaca walau sekilas semakn penasaran pula ingin menubtaskan membacanya. Hingga tanpa disadarinya ia sudah berjongkok membaca buku itu cukup lama.
"Udah yuk Gun capek nih jongkok dua jam, apa mau disini saja sampai malam?!" Sungut Kunto.
Sejenak Guntur terkesiap mendengar Kunto berkata itu. Barulah ia menyudahi meneruskan membaca bab-bab lainnya dan akan meneruskannya saat di rumah nanti.
"Berapa buku ini pak?" Tanya Guntur.
Bapak penjual buku itu lagi-lagi menelisik wajah Guntur seperti sedang melihat sisi kebatinannya.
"Buat mas mah cukup lima puluh ribu aja." ucapnya.
Tidak menawar lagi Guntur langsung merogoh saku celanyanya. Dalam genggamannya ada uang 50 ribuan satu dan recehan dua ribuan dua lembar.
"Ini pak, semua aja deh." ucap Guntur menyodorkan uang yang jumlahnya Rp54.000.
"Hatur nuhun mas. Tolong di jaga buku itu ya mas." ujar bapak penjual buku.
Buku itu memang terlihat sudah sangat usang nampak lembaran-lembarannya sudah kusam dan banyak bercak-bercak kuning disana-sini.
Namun sepertinya buku yang kini sudah menjadi nilik Guntur itu istimewa sekali. Bapak penjualnya saja sampai memberikan pesan untuk menjaganya dan nampaknya si penjual mengetahui betul tentang buku itu.
"Sebentar, sebentar Mas!" cegah bapak penjual buku.
Guntur yang sudah selangkah hendak pergi meninggalkan lapak buku bekas itupun menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
"Ada apa pak?!" Tanya Guntur dengan heran.
"Punten bisa kesini sebentar," pinta bapak penjual buku memberi isyarat kepada Gunur untuk mendekat disebelahnya.
Guntur pun melangkah mendekat menuruti permintaan bapak penjual buku dan berjongkok disebelah kirinya. Sementara Kunto tidak terlalu mempedulikannya, ia meneruskan langkahnya menuju parkiran motor dipinggir jalan yang tidak jauh dari lapak buku loak.
"Punten pisan ya mas, mas siapa namanya?" Tanya bapak penjual buku.
"Guntur pak, ada apa ya pak?" tanya Guntur semakin tidak mengerti.
"Punten mas Guntur, bukannya bapak tidak sopan ya tapi bapak mendapat bisikkan untuk memberikan buku itu pada mas Guntur. Untuk memastikan kalau mas Guntur adalah benar orangnya, boleh bapak lihat tangan kirinya?" ucap bapak penjual buku dengan hati-hati.
Guntur seketika tercengang mendengar permintaan bapa itu. Bapak penjual buku itu seperti mengetahui kalau ditangan kirinya terdapat tanda lahir padahal tangannya tertutupi jaket levis dan kaos lengan panjang.
Selama masuk kuliah tidak ada seorang pun yang mengetahui kalau dirinya memiliki tanda lahir yang tidak biasa karena semenjak itu ia selalu memakai pakaian lengan panjang terkecuali teman-teman waktu SMA, itu pun hanya dua orang saja yang kuliah di Universitas yang sama.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus sehat
2023-04-10
0
sani_chan
gak apaw kookkk
2022-03-30
1
NADIRAH
Thor kok..up nya lambat sih
2021-12-28
1