"Soraya... hai Soraya..!"
Gadis berambut pendek berkulit sawo matang yang sedang berjalan di lorong kampus itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang dengan kening mengerut.
David terlihat melambaikan tangannya dibelakang Soraya berlari-lari kecil menyongsongnya.
"Mana upahnya Ya?" Tanya David sembari mengulurkan tangannya meminta.
"Emang tugasmu becus apa?!" Soraya mengibaskan tangannya.
"Aku sudah melakukan yang lu suruh, gimana sih?!" Wajah David mendadak memerah.
"Iya tapi hasilnya tidak seperti itu. Emang aku nggak liat apa? Kamu malah jatuh tersungkur sendiri padahal Guntur diam saja, itukan konyol memalukan!" Ungkap Soraya ketus.
Soraya meneruskan langkah tak menghiraukan David yang tertegun. Rasa gengsinya tidak terima dengan ucapan Soraya.
"Soraya, tunggu!" Seru David bergegas mengejar Soraya.
"Oke, oke, aku akan bikin bonyok mahasisawa misterius itu. Beri aku uang untuk membeli doping dulu," ujar David serius.
Soraya menoleh memperhatikan dalam-dalam menelisik wajah David. Nampaknya sangat sungguh-sungguh terpancar dari wajah David ingin menghajar Guntur. Dari rautnya tersirat dendam yang mendalam.
"Oke, nih aku kasih separuhnya. Sisanya kalau terbukti berhasil!" Kata Soraya menyeringai licik.
David menerima lima lembar seratus ribuan dengan senyum masam. Otak kriminalnya cepat bekerja memanfaatkan keadaan yang sedang bergejolak menggelora di dada Soraya.
"Kapan kamu akan eksekuainya?!" Tanya Soraya.
"Siang ini juga!" Seru David.
Dendam yang tidak beralasan berkembang biak di benak Soraya semenjak di bangku SMA hanya karena kekasihnya babak belur dan mengalami cacat permanen. Cowoknya mengadu kalau Guntur telah membuatnya seperti itu, padahal pada kejadian yang sesungguhnya itu akibat ulahnya sendiri. Bahkan Guntur tidak pernah menyentuh sedikit pun anggota tubuh cowoknya Soraya.
Matahari terasa terik menyengat mendekati puncaknya. Meski masih pukul 10.35 wib namun panasnya sinar matahari tidak mampu mengusir sejuknya udara kota Bandung.
Hilir mudik mahasiswa-mahasiswi dengan keperluannya masing-masing ramai berseliweran disepanjang lorong-lorong kampus. Guntur duduk sendirian ditempat favoritnya seperti hari kemarin dibawah pohon Akasia yang rindang dengan semilir sejuk angin layaknya hembusan AC di kamar rumahnya.
Guntur tampak begitu asyik membaca lembar demi lembar buku di tangannya. Entah mengapa ia begitu tertarik dengan buku bacaan berjudul SUPRANATURAL yang ditemukan tidak sengaja di perpustaan kampus kemarin.
Ia ingin sekali menggali pengetahuan lebih banyak tentang hal-hal yang berhubungan dengan mahluk tak kasat mata. Ada dorongan kuat ingin mengungkap siapa yang selama ini yang selalu melindunginya.
Pikirannya pun sempat dibuat memiliki prasangka buruk tentang Papahnya yang seperti enggan pulang ke rumah. Sekalinya pulang hanya sebentar untuk menunaikan kewajibannya sebagai suami memenuhi kebutuhan biologisnya lalu pergi lagi dalam beberapa hari dan tak pernah pulang-pulang.
Guntur menganggap kalau Papahnya seperti itu di guna-guna oleh seorang wanita agar membuat rumah tangganya hancur lalu merebut Papahnya seperti di sinetron-sinetron istri yang teraniaya.
Bruuukkk!
Tiba-tiba buku di tangan Guntur terpental keudara bersamaan dengan sekelebatan sepatu kats menyapu buku dari bawah keatas. Buku itu melayang sesaat lalu jatuh ke tanah membuat beberapa lembarnya berserakan lepas dari jilidnya.
Wajah Guntur terkesiap kaget menoleh ke pemilik kaki yang telah menendang buku yang sedang dibacanya. Tiga orang sudah berdiri mengerubungi Guntur dengan tangan terkepal siap membuat Guntur bonyok.
"David!" Seru Guntur spontan.
Namun Guntur tidak terprovokasi, ia masih berada diposisinya duduk dengan tenang. Namun raut wajahnya tergambar ketidak sukaannya dengan perbuatan David barusan.
"Hahahahaha..."
"Hahahahahah..."
"Hahahahahaha.."
David dan dua temannya tertawa mengejek reaksi muka Guntur yang terkejut. Dia sengaja mengajak dua temannya, Heru dan Iwan untuk melancarkan misi yang diberikan Soraya.
"Maaf, maaf Mr. misteriussss..!" Lontar Heru meledek.
"Hahahahahaha..."
"Hahahahahaha..."
David dan Iwan menimpali perkataan Heru dengan tertawa terbahak. Kali ini Guntur benar-benar merasa sudah terinjak-injak harga dirinya meski masih terlihat diam dengan tenang dalam duduknya, ia hanya menatap muka David dan dua temannya bergantian dengan perasaan muak.
"Apa masalah kalian?!" ucap Guntur menekan suaranya menahan ledakkan emosinya.
"Masalah? Ya masalahnya ada sama lu. Dibilangin jangan dekat-dekat Tiara, eee.. malah boncengan." balas David ketus menyeringai sinis.
Tentu saja yang diucapkan David itu hanyalah alibi yang dijadikan alasan untuk menghajar David.
"Tiara yang mengajak bukan aku!" ucap Guntur masih dengan suara tertahan.
Tubuh Guntur sampai bergetar menahan luapan emosinya yang sengaja diredamnya.
"Halllah! Alasan saja, hajar!" Seru David pada Heru dan Iwan.
Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang berada tidak jauh dengan Guntur langsung beringsut menjauh dengan ekspresi iba melihat Guntur. Mereka hanya melihatnya tanpa ada keinginan melerai karena takut dengan perangai David dan teman-temannya yang sudah terkenal kenakalannya, sembari berpikir pasti akan terjadi perkelahian yang tidak berimbang.
Heru dan Iwan bergegas bergerak maju selangkah dan melayangkan pukulan sekeras-kerasnya ke pipi sebelah kanan dan kiri Guntur. Bersamaan itu Guntur bangkit berdiri dari duduknya, namun ia tidak berusaha melakukan perlawanan dengan menangkis ataupun berusaha menghindar, ia hanya berdiri saja menatap Heru dan Iwan yang melayangkan tinjunya dari dua sisi.
Buuuggkkk..!
Buuuggkkk..!
Guntur melihat dengan jelas saat kepalan tangan Heru dan Iwan meluncur kearah mukanya. Dan berjarak 20 centi meter dua kepalan tangan itu seperti tertahan lalu sekejap berikutnya Heru dan Iwan terdorong jatuh dengan keras terjengkang kebelakang.
David tidak menyadari kalau jatuhnya Heru dan Iwan bukan dari balasan Guntur. Dalam pandangan matanya ia melihat kalau kedua temannya itu didorong oleh Guntur membuat emosinya kian memuncak.
David langsung saja merangsak melakukan tendangan ke perut Guntur sekuat-kuatnya. Lagi-lagi Guntur dapat melihat sepatu kats David tertahan 20 centi meter dari tubuhnya lalu sejurus kemudian sebuah hentakan keras menerpa kaki David hingga membuat tubuh David terangkat diatas tanah sekitar satu meter lalu jatuh terbanting menimpa Heru dan Iwan yang masih mengerang kesakitan memegangi pinggangnya.
"Aneh, ada apa dengan tubuh saya?!" ucap Guntur dalam hati.
Guntur hanya menatap wajah David, Heru dan Iwan dengan tertegun keheranan. Tetapi tatapan Guntur itu terlihat sangat menyeramkan di mata ketiga mahasiswa brandalan itu.
Guntur beranjak dari tempatnya berdiri berniat hendak memungut buku dan beberapa lembaran yang tercecer lepas dari jilid. Namun bergeraknya Guntur dikira akan membalas perbuatan ketiga mahasiswa itu. Ketiganya langsung bangkit dan berlari ketakutan.
"Guntuuuur...!"
Guntur yang sedang berjongkok memunguti lembaran buku itu menoleh kearah suara yang memanggilnya. Terlihat Tiara sedang berlari kearahnya.
"Kamu nggak apa-apa Gun?!" Tanya Tiara sangat mencemaskannya.
Tiara merasa menyesal terlambat datang namun ia masih sempat melihat dari kejauhan dalam larinya saat David menyerang Guntur dengan tendangannya. Akan tetapi Tiara tidak melihat dengan jelas, penyebab David jatuh terbanting.
"Nggak, aku nggak apa-apa Ra," jawab Guntur sambil memungut satu lembaran terakhir yang tergeletak.
"Kenapa sih David itu selalu mengganggumu Gun?"
"Mana aku tau Ra. Tiba-tiba mereka datang menuduhku mengajakmu naik motor boncengan kemarin," ujar Guntur polos.
"Ya ampun! Bener-bener tuh anak ya, ayo Gun laporin perbuatan mereka ke pihak kampus!" ujar Tiara emosi.
"Nggak usah Ra, lagian aku juga nggak apa-apa kok," sergah Guntur.
"Beneran kamu nggak apa-apa Gun?" Tiara mengusap-usap pundak Guntur.
Guntur menatap Gadis cantik khas orang Sunda berkulit kuning langsat itu dengan debaran halus di dadanya. Reaksi Tiara itu menunjukkan kasih sayang layaknya seorang kekasih.
"Ahhh..."
Tanpa sadar Guntur bergumam keras. Lalu sedetik berikutnya muncul perasaan tidak percaya dirinya kalau perasaan yang sedang dirasakannya saat ini tidak mungkin akan mendapat balasan dari gadis yang berdiri disampingnya.
Tiara pun seketika terlihat gugup ditatap Guntur dengan gumamannya yang terdengar di telinganya. Sikap yang sama ditunjukkan Tiara yang langsung terlihat kaku mendapat tatapan Guntur yang sedang tertegun melihatnya.
"Oh, maaf..." ujar Tiara buru-buru mengangkat tangannya yang menempel di pundak Guntur.
Guntur tersenyum kikuk seraya berkata pelan, "Nggak apa-apa Ra..."
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus ceria
2023-04-10
0
Roroazzahra
tadinya ku pikir tompelnya cuma sedikit tapiiiiiii ternyata setangan
next
2022-08-13
1
Gita
lanjut Thor 👍👍👍
2022-03-29
1