"Hoaaaammmm... Gun aku tidur duluan ya, ngantuk nih," ucap Kunto yang sedari tadi main PS sendirian karena Guntur tidak mau diajak main.
"Yups!" Ucap Guntur tanpa menoleh.
Kunto beranjak dari depan televisi lalu keluar dari kamar Guntur menuju ke kamarnya yang ada depan. Kunto beruntung banget mempunyai sahabat seperti Guntur. Jika tidak ada Guntur entah bagaimana nasibnya malam ini setelah diusir dari tempat kost-nya karena menunggak tiga bulan. Bisa jadi dia tidur di masjid seperti yang diutarakan pada Guntur sewaktu di kampus.
Kunto pun perlahan menutup pintu kamar Guntur dari luar. Namun ia masih berdiri didepan pintu tidak segera meneruskan langkah menuju kamarnya yang ada didepan bersebelahan dengan ruang tamu. Perasaannya tiba-tiba menjadi tak enak seperti ada sepasang mata yang sedang mengawasinya.
Ia mengedarkan pandangannya menyapu kesegala arah dalam temaramnya lampu yang tersorot dari lampu yang menyala di serambi dan taman dan sebagian lampu didalam rumah sudah dimatikan oleh mamah Karmila.
Dengan takut-takut Kunto berjalan selangkah demi selangkah sambil berpegangan pada tembok menuju kamarnya melewati ruang tamu. Sesekali Kunto menghentikan langkah ketika melihat dibalik kaca yang tertutup gorden putih nampak bayangan mèmbentuk siluet itu bergerak. Namun saat dicermati dalam-dalam ternyata hanyalah bayangan ranting pepohonan tertiup angin. Ia pun setengah berlari langsung memasuki kamarnya.
Tik...
Tik..
Tik...
Tik...
Tik...
Suara detikkan jarum panjang jam dinding memecah kesenyapan tengah malam didalam kamar Guntur setelah Kunto keluar dari kamarnya. Guntur masih terpekur khusuk membaca buku yang dibelinya dari tukang loak siang tadi.
Keinginan yang kuat untuk mempelajari tentang hal-hal gaib membuat Guntur seperti kesetanan melahap semua bacaan tentang dunia gaib. Seperti malam ini melalui buku usang itu ia ingin sekali mengetahui lebih banyak tentang dunia gaib beserta mahluknya karena dirinya merasa kalau yang selama ini yang melindunginya adalah mahluk tak kasat mata. Yang ingin dia pelajari bagaimana caranya dapat melihat dunia gaib atau minimalnya dapat berkomunikasi dengan mahluk gaib.
Didalam pikirannya ada empat hal yang selalu membayangi dan menjadi ganjalan hari-harinya untuk diungkap. Namun dari emoat hal itu yang pertama-tama ingin sekali diungkap Guntur adalah siapa sosok yang selama ini melindunginya.
"Apakah ada hubungannya dengan sosok didalam mimpi yang mengaku bapakku?!" Gumam Guntur.
Guntur mencoba memahami isi dari bab pertama di buku itu yang menerangkan dunia gaib. Ia mencerna kalimat demi kalimatnya hingga dibaca berulang-ulang sampai benar-benar dipahami dengan logikanya.
"Alam Gaib itu merupakan suatu alam yang berada di luar dimensi batas kemampuan akal fikiran manusia dan dihadapi manusia dengan sikap yang dijiwai rasa keramat, angker dan takut. Dan pastinya tidak terlihat oleh indra penglihatan, terkecuali manusia itu memiliki kemampuan menembus batas dimensinya."
Dari uraian panjang di bab ini hanya paragraf itu yang terus-menerus dibaca berulang-ulang sambil bergumam; "Dan pastinya tidak terlihat oleh indra penglihatan, terkecuali manusia itu memiliki kemampuan menembus batas dimensinya."
Kalimat terakhir ini sangat menarik perhatian Guntur. Ia ingin sekali dapat melihat alam gaib dan mahluknya bukan hanya sekedar merasakannya dengan naluri. Guntur segera membuka lembaran berikutnya dengan berharap ada keterangan cara-cara melihat atau bahkan memasuki dunia gaib.
Seketika wajah Guntur sumringah membaca sub judul lembaran berikutnya, "Tata Cara Memasuki Alam Gaib". Matanya nampak tak berkedip sedikit pun membacanya.
"Pada dasarnya setiap manusia mampu memasuki alam gaib. Sebab sejatinya manusia adalah roh yang menempati raga dan roh merupakan mahluk gaib. Roh tidak tidak memandang ras apa dan agama apa karena yang membedakannya adalah raga atau tubuhnya."
Guntur mengangguk-anggukkan kepalanya mencoba memahami dan mencerna dalam-dalam. Pengetahuan hal-hal gaib itu benar-benar baru diketahuinya sekarang. Penjelasan dari buku itu dapat diterima dengan akal pikirannya. Kemudian Guntur kembali melanjutkan membacanya, kali ini sangat perlahan karena sambil mencerna dan memahaminya.
Untuk dapat memasuki alam gaib, seseorang harus mempersiapkan dirinya secara matang lahir dan batinnya.
RAGA
Raga manusia adalah gerbang utama untuk memasuki alam gaib. Sebab raga memiliki fungsi sebagai wadah dari roh. Jika ingin memasuki dunia gaib manusia itu harus dalam kondisi sehat dan prima.
BATIN
Jiwa atau batin memiliki peranan yang paling penting dan merupakan kunci untuk membuka akses ke alam gaib. Manusia yang ingin memasuki alam gaib harus bisa mengosongkan pikiran tidak ada beban pikiran sedikit pun.
ROH
Manusia itu harus yakin dengan Rohnya sendiri bahwa akan baik-baik saja pada saat memasuki alam gaib. Sebab tidak sedikit manusia yang panik ketika memasuki alam gaib termasuk melihat mahluknya.
HALUSINASI
Jangan ada perasaan halusinasi yang menyatakan kalau dirinya sudah memasuki alam gaib. Sebab halusinasi itulah gangguan terbesar ketika ingin memasuki alam gaib. Akibatnya akan terjadi salah penafsiran jika halusinasi mencampuri urusan alam gaib.
Manakala semua itu sudah benar-benar dimiliki oleh manusia kemudian melakukan interaksi dengan memanggil mahluk gaib terdekat disekitarnya untuk memasuki raga. Ketika mahluk gaib masuk raga pada saat itu pula roh manusia berada di luar raga dan dapat melihat sekitar alam gaib.
Sampai disini Guntur terdiam, dia menyimpulkan ada empat unsur utama agar dapat memamsuki alam gaib atau melihat mahluk gaib, yakni raga, batin, roh dan interaksi. Dirinya harus bisa mengendalikan pikirannya agar tidak terjebak kedalam dunia halusinasi, pikirnya.
Kemudian Guntur kembali membalikkan lembaran sebelumnya dan kembali mengulang membaca kalimat terakhir hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Pada dasarnya setiap manusia mampu memasuki alam gaib. Sebab sejatinya manusia adalah roh yang menempati raga dan roh merupakan mahluk gaib. Roh tidak tidak memandang ras apa dan agama apa karena yang membedakannya adalah raga atau tubuhnya." Gumam Guntur.
"Aku harus menemui bapak penjual buku ini. Sepertinya beliau dapat melihat sesuatu yang tidak terlihat." pikir Guntur.
Guntur ingat betul dirinya tertegun pada saat bapak penjual buku loak itu memintanya untuk memperlihatkan tanda lahir di lengan kirinya. Dan yang membuat dirinya lebih terheran-heran ketika bapak itu melihat tanda lahirnya langsung menunjukkan ekspresi tercengang.
"Ya bapak itu nampaknya mengetahui arti tanda lahir ini. Dan aku memintanya untuk mengajari agar dapat memasuki alam gaib," gumam Guntur sambil mengelus-elus tompel hitam kelabu yang ditumbuhi rambut halus di tangan kirinya.
Tanpa terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 02.37 wib. Guntur menguap lebar-lebar merasakan lelah dan ngantuk, ia menyudahi membacanya lalu beranjak naik keatas kasurnya setelah menyimpan buku didalam tas kuliahnya agar besok bisa melanjutkan membacanya saat di kampus.
......................
🔴Tinggalkan Jejak dong...🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus sukses
2023-04-10
0
Yurnita Yurnita
awasssss kunto
2022-09-03
1
Eros Hariyadi
ninggalin jejak dadi makhluk kasar... Thor 💪👍👍👍
2022-08-02
1