Matahari pagi ini menyinari kota Bandung dengan cerah. Namun secerah-cerahnya kota Bandung tetap saja udara dingin terasa menusuk hingga masuk pori-pori Guntur dan Kunto yang sedang melaju diatas sepeda motor sportnya menuju kampus.
"Kun sepulang kuliah mampir dulu ke buku loak itu lagi ya," kata Guntur ditengah-tengah menunggu traffic light menyala hijau.
"Ngapain lagi sih Gun?!" seru Kunto dari boncengan.
"Ada perlu nih sama bapak penjual buku," balas Guntur.
Lumayan lama menunggu lampu merah berganti hijau. Persimpangan lampu merah depan gedung sate sangat padat merayap tidak pagi tidak malam selalu ramai. Dulu tahun 90-an sebelum dibangunnya jembatan layang Suropati situasi di persimpangan lampu merah gedung Sate itu justru tidak sepadat sekarang.
Dibangunnya flayover intensitas kendaraan malah menjadi semakin meningkat terutama dari utara arah menuju terminal Ci Caheum. Akibatnya dilokasi tersebut selalu saja padat merayap oleh kendaraan pribadi berbaur dengan angkot dari berbagai jurusan yang lalu lalang dari terminal Ci Caheum maupun yang menuju terminal Ci Caheum.
Setelah lampu hijau menyala Guntur melajukan sepeda motornya hati-hati karena berebutan dengan kendaraan lain yang seenaknya menyalip dari arah belakang.
15 menit kemudian Guntur yang membonceng Kunto sudah sampai di parkiran kampus. Keduanya bergegas berjalan beriringan menuju kelas dengan tergesa-gesa karena tinggal 10 menit lagi kelas Fisika dimulai.
Saat berjalan di lorong kampus Guntur dan Kunto akan melewati sekumpulan mahasiswa senior yang sedang duduk-duduk di buk depan kelas termasuk David beserta dua temannya yang pernah mengeroyok Guntur.
"Gun, jangan lewat sini lah!" sergah Kunto cemas.
"Kenapa emang Kun?" Tanya Guntur tidak mengerti.
"Mereka sering malak jatah preman alias japrem gitu," bisik Kunto karena jaraknya kian mendekat dengan para senior pimpinan David.
"Udah tenang aja Kun, cuekin aja..." ujar Guntur terus melangkah cuek.
Kunto sudah gemetaran saat akan lewat didepan David dan kawan-kawannya. Matanya sekilas melirik kearah David cs dengan perasaan dag-dig-dug pasti akan di palaknya. Satu... dua... ti...... ga, ternyata perkiraan Kunto salah, David dan kawan-kawannya justru langsung menundukkan wajahnya seperti malu manakala Guntur dan dirinya melewatinya.
"Gun, kok tumben para senior itu nggak minta japrem?" Tanya Kunto heran.
"Hehehehe..." Guntur hanya tertawa kecil menjawab pertanyaan Kunto.
Kunto hanya terbengong penuh tanda tanya pertanyaannya hanya dibalas tertawa kecil Guntur. Kunto memang tidak mengetahui penyebab David cs tidak berani memalaknya saat bersama Guntur.
Kriiiiing....
Kriiiiing....
Kriiiiing....
Kunto menghentikan langkahnya mendengar hape disaku celananya berdering, sementara Guntur terus saja melangkah menuju kelas yang tinggal beberapa meter lagi. Kunto segera merogoh saku celananya mengambil hape dan melihat sejenak layarnya.
"Emak?" gumam Kunto.
Hatinya mendadak berdebar-debar melihat panggilan telpon dari Emaknya. Segera ia menekan tombol jawab di hapenya.
"Halo assalamualaikum Mak," ucap Kunto.
"A, Aa secepatnya pulang dulu!" seru suara seorang gadis dari seberang telpon.
"Neng? Naha Neng? Aya naon jeng Emak?!" tanya Kunto panik.
"E, emm.. Emak sakit A," ucap Neng terbata-bata.
"Iya, iya Neng Aa pulang sekarang!" Seru Kunto langsung menutup telponnya.
Kunto bergegas lari menyusul Guntur yang sudah jauh didepannya sambil berteriak memanggilnya,
"Guuuun...! Guntuuur...!"
Guntur langsung menghentikan langkah dan spontan menoleh ke belakang. Kunto datang mendekat dengan nafas terengah-engah.
"Gun, aku nggak masuk kelas ya. Aku harus pulang sekarang, Emak sakit keras kayaknya." Kata Kunto bernada panik.
"Pulang? Naik apa?" Tanya Guntur spontan.
Guntur tahu kalau Kunto tidak mengantongi uang yang cukup buat ongkos pulang. Kunto sendiri kemarin bilang hanya punya uang buat makan dua hari.
Ditanya begitu Kunto langsung terdiam dengan wajah lemas. Kunto menyandarkan punggungnya pada tembok, ia baru sadar kalau dirinya tidak memiliki ongkos pulang.
"Sudah jangan muram begitu Kun. Ayo saya antar kamu Kun," ucap Guntur.
Wajah Kunto langsung terdongak tak percaya menatap wajah Guntur dalam-dalam dengan mulut menganga.
"Apa Gun?!"
"Iya aku antar kamu pulang," ujar Guntur.
Kunto langsung menubruk Guntur saking terharunya. Ia tidak dapat berkata-kata lagi selain ucapan terima kasih dengan suara lirih.
"Ayo Kun, buru...!"
Keduanya langsung balik badan tidak jadi masuk kelas hari ini. Guntur tak sampai hati membiarkan sahabatnya menderita dalam kepanikan dan kebingungan. Dia rela meninggalkan pelajaran Fisika yang paling ia gemari demi membantu Kunto.
......................
Guntur memacu sepeda motor sportnya meliuk-liuk diantara kepadatan lalu lintas disepanjang jalur Ci Caheum menuju desa Jati Asih Kabupaten Sumedang. Terik matahari yang sudah meninggi mencapai titik kulminasinya ketika Guntur yang membonceng Kunto sampai didepan rumah sederahan bercat putih dipadu dengan warna abu-abu tua pada jendela dan kusen-kusen pintunya. Kunto langsung turun dari boncengan Guntur dan berlari memasuki rumahnya.
"Assalamualaikum..!" Seru Kunto sambil membuka pintu.
"Waalaikumsalam..." sahut suara seorang gadis dan suara pria setengah baya.
Kunto bergegas menuju kamar Emaknya yang bersebelahan dengan ruang tamu. Gadis yang dipanggil Neng saat menelpon satu jam yang lalu muncul dari kamar Emak dan hampir saja bertabrakkan dengan Kunto yang datang tergesa.
"A, Emak A...." ucap Neng sembari mencium tangan Kunto.
"Bapak..." Kunto menyalami mencium tangan bapaknya yang duduk disamping ranjang dimana Emaknya berbaring.
"Emak tiba-tiba sakit Kun, padahal pagi tadi Emakmu baik-baik saja. Bahkan sempat mencuci baju, memasak dan menyapu," ucap bapak Kunto dengan suara berat tertahan.
Kunto memandangi wajah Emaknya yang terpejam tidak bergerak. Lalu meraih jemari tangan Emaknya dan menciumnya.
"Mak... Emak, ini Kunto pulang Mak..." ucap Kunto lirih di telinga Emaknya.
Namun Emaknya tak memberikan reaksi apa-apa, hanya pupil kelopak matanya yang nampak bergerak-gerak dalam terpejamnya.
"Kamu naik apa Kun kok cepat pisan sampai rumah. Padahal adikmu telpon satu jam-an yang lalu," ucap Bapaknya mengerutkan keningnya yang sudah keriput.
"Astagfirullah!" ucap Kunto menepak jidatnya.
"O, iya Kunto sama teman Pak. Namanya Guntur, dia baik pisan mau mengantarkan Kunto pulang." jawab Kunto.
"Loh, kamu nggak diajak masuk," ujar bapaknya.
Diteras depan Guntur duduk lesehan bersandar pada tiang rumah sambil memandangi suasana sekelilingnya yang menyuguhkan hamparan sawah yang mulai menguning. Dia hanya tersenyum saat ditinggalkan begitu saja oleh Kunto yang langsung berlari masuk ke rumah.
"Gun, maaf... maaf pisan ya, sampai lupa. Ayo masuk Gun," Kata Kunto muncul di pintu.
"Nggak apa-apa Kun. Gimana kondisi Emakmu?" ucap Guntur sembari beranjak dari duduk lesehannya dan melangkah masuk menyusul Kunto.
"Kata bapak, sakitnya mendadak gitu Gun. Padahal paginya beraktifitas seperti biasanya, mencuci, memasak dan menyapu." terang Kunto dengan wajah muram.
Guntur tiba-tiba terdiam tidak menanggapi penjelasan Kunto. Ia merasakan tubuhnya bergetar hebat ketika matanya menoleh ke ruang tengah. Guntur merasakan ada energi besar sekonyong-konyong bertolak belakang dengan kehadirannya.
Nalurinya mengatakan, kalau energi itu tidak suka dengan kehadirannya di rumah Kunto. Tiba-tiba Guntur merasakan ada hawa menerpa tubuhnya dengan desiran halus hingga membuatnya berdebar dan merinding.
Guntur bingung tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia pun hanya bisa diam dan terus menerus merasakan terpaan hawa tak wajar di tubuhnya.
"Andai saja aku bisa melihat..." Gumam Guntur tanpa sadar.
"Apa Gun?!" Tanya Kunto tiba-tiba saat mendengar gumaman Guntur yang duduk di kursi tamu didepannya.
"Boleh aku menengok Emakmu Kun?" Tanya Guntur yang tiba-tiba ingin sekali melihat ke dalam kamar itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🔴JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA🙏
÷÷÷÷÷LIKE, KOMEN, FAVORIT, VOTE DAN RATE÷÷÷÷÷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus bahagia
2023-04-10
0
ſᑎ🎐ᵇᵃˢᵉ
Sudah baca beberapa bab...
Keren Kak 👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
2022-09-11
0
khadijahnadirakaila
lnjut
2022-07-13
1