PART 20 MISTERI KOTAK BERWARNA COKELAT

"Dimana kotak cokelat itu?" tanyanya dengan suara membentak sambil menarik tangan kiriku dengan kuat.

Dengan menanyakan kotak coklat itu meyakinkanku bahwa Aguslah yang mengintip perbincangan waktu itu. Parto dengan sekuat tenaga mempertahankan posisiku dengan menarik tangan kananku, tapi tarikan ke arah kiri lebih kuat sehingga kini Agus sudah berhasil memegangi kedua tanganku.

"Tidak. Kotak itu akan kami berikan kepada polisi supaya pembunuh seperti kamu bisa mempertanggungjawabkan perbuatan dengan mendekam di penjara." Jawabku sambil berusaha menarik kedua tanganku dari pegangannya. Parto membantu menarik perutku.

"Itu kalau kamu masih bisa hidup hari ini, Bocah."

[Hep]

Secara mendadak kutendangkan kaki kananku mengarah ke selangkangannya. Sayangnya Agus dengan sigap menepis seranganku dengan menyepak kakiku ke arah samping sebelum tendanganku mengenai tubuhnya. Alhasil aku yang kehilangan keseimbangan dan terjatuh di depannya. Melihat posisiku yang lemah, Agus secara sigap melompat dan memiting leherku. Kali ini aku tak berani melawan takut Agus kalap karena bisa-bisa leherku ia patahkan dengan sekali gerakan. Aku hanya bersiaga kalau-kalau Agus benar-benar akan mematahkan leherku.

Parto berusaha membuka pitingan di leherku dengan memukul-mukul tangan dan kepala Agus tetapi Parto ketakutan sendiri ketika Agus pura-pura akan menangkapnya. Dari caranya memitingku, target utama Agus bukan Parto tapi aku.

Dalam kondisi seperti itu, kami tidak bisa berbuat banyak selain berdoa dan menunggu keajaiban terjadi. Berteriakpun sepertinya sulit hanya rumah Pak Suwarno yang dekat, tetapi kalau siang-siang begini biasanya mereka tidak ada di rumah.

"Hai. Lepaskan anak itu!" teriak seseorang dari arah barat.

Mendengar ada teriakan, Agus menoleh ke sumber suara, pitingannya sedikit melonggar. Menelisik dari suaranya sepertinya yang berteriak adalah Pak Hermanto, guru olah ragaku. Ada dua derap langkah orang berlari sedang menuju ke tempatku. Aku menemukan kekuatanku kembali. Kugigit lengan Agus yang sedang memitingku

"Arrrrghhh" teriak Agus saat tangannya kugigit dengan kuat. Akibat gigitanku pitingannya terlepas, aku dorong tubuh Agus hingga terjengkang ke belakang. Aku bangun dan melompat ke tempat Parto berdiri.

"Kalian nggak apa-apa?" tanya Pak Hermanto

"Nggak apa-apa, Pak."

"Kamu nggak apa-apa juga, To?" tanya Pak Burhan guru ekskul silatku.

"Alhamdulillah nggak apa-apa juga, Pak."

"Kemana larinya orang gila tadi, kok cepat sekali hilangnya?" tanya Pak Hermanto sambil mengintip-ngintip di semak-semak.

"Iya, Pak Her. Saya juga heran kok bisa secepat itu dia menghilang." Ujar Pak Burhan.

Aku dan Parto juga tak kalah heran, terakhir kali aku lihat Agus terjatuh kemudian Pak Hermanto dan Pak Burhan datang setelah itu aku tidak melihat pergerakan Agus sedikitpun.

"Oke, kalian sebaiknya segera pulang. Lain kali kalau ada orang asing harus lebih berhati-hati karena sekarang sedang rawan penculikan anak di mana-mana." Kata Pak Hermanto.

"Terimakasih, Pak Her. Terimakasih Pak Burhan." Kami berdua bersalaman dan berjalan pulang.

"Kami lihat dari sini, ya?"

"Iya, Pak."

Sambil berjalan pulang sesekali kami menoleh ke belakang, Pak Her dan Pak Burhan masih berada di belakang. Mereka sepertinya masih berusaha mencari kemana perginya Agus.

"Agus itu manusia apa hantu sich kok bisa secepat itu datang dan perginya?" kataku.

"Nah itu dia, Im. Aku juga heran, seberapa lama, sih pandangan kita beralih ke Pak Her dan Pak BH (Pak BH adalah julukan anak-anak untuk Pak Burhan, agak tabu, sih, tapi karena sudah sering digunakan jadinya enggak enak kalau enggak menggunakan nama itu. Cuma harus hati-hati jangan sampai orangnya tau saja)? Enggak sampek semenit, deh." Kata Parto dengan berapi-api.

"Tapi benar berarti, To. Arloji itu adalah alat bukti pembunuhan Lastri oleh Agus, buktinya dia memaksa kita menyerahkannya."

"Iya, Im. Kita harus segera lapor sama Bapak dan Mbah Nur perihal ini biar mereka segera menyerahkan arloji itu ke Polsek."

"Iya. Kasian Mbah Lastri selama ini dikira bunuh diri sama orang-orang."

"Kok Mbah Lastri, Im?"

"Lah iya, toh? Dia kan seusia dengan Nenekku, To?"

"Iya juga sih, tapi biasa manggil Lastri rasanya nggak enak diganti Mbah Lastri."

"Ya, dibiasakan lah, To! Kayak julukan kita ke Pak BH eh Pak Burhan. Masak mau manggil Pak BH terus. Dosa jariyah namanya itu." Aku berkata sambil masih tersenyum-senyum.

Entah mulai kapan julukan Pak BH itu beredar di kalangan anak-anak. Kalau kami berdua taunya mulai dari kelas 3. Awal mengetahuinya kami senyum-senyum sendiri lah, ya, kok bisa-bisanya teman-teman membuat julukan seperti itu. Tapi lama-lama kitapun 'ngikuti dan terbiasa menggunakan nama itu. Pernah hampir kelupaan, sih waktu latihan silat bareng di sekolah menyambut kejuaraan silat tingkat daerah. Waktu itu aku hampir memanggil beliau dengan nama Pak BH, untung cepat aku ralat ketika baru nyampek di huruf B. Kalau tidak, bisa dikoprol aku sama beliau. Anak-anak geli waktu itu, Pak BH eh Pak Burhan tidak menyadarinya.

"Lihat, Im! Tegalannya sudah dipatok-patok! Sepertinya Haji Arman sudah positif mewakafkan tanah ini untuk masjid."

"Alhamdulillah ya, To? Kampung kita akan segera punya masjid sendiri. Jadi kita tidak perlu jauh-jauh Jumatan di kampung sebelah. Semoga lekas selesai ya pembangunannya."

"Aamiiin......Konon bambu-bambu ini juga akan ditebangi semua untuk dibuat andang, tangga, dan pagar masjid sementara."

"Wah, iya tah? Mbah Lastri tinggal dimana, pas?"

"Hus! Lastri ... Eh Mbah Lastri ya hidup tenang di alam sana."

"Aamiiin..... Benar, To. Tentunya Mbah Lastri akan lebih senang kalau tempat yang terlanjur distigma negatif ini diubah menjadi lahan terbuka, biar tidak jadi dosa jariyah buat masyarakat kampung ini."

"Iya benar, Im"

"Pelan tapi pasti kampung kita akan kehilangan tempat-tempat angkernya ya, To?"

"Alhamdulillah, Im."

"Tapi......"

"Tapi apa, Im?"

"Entahlah. Feeling-ku enggak enak saja."

"Feeling tentang apa? Agus?"

"Bukan. Ah... sudahlah nggak usah dipikirkan."

"Oalah... Dasar cucune Agus."

[Plok]

"Aku pulang dulu, To." Aku segera berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Parto di jalan setelah berhasil menepok punggungnya. Pasti dia kesal karena aku sudah "Mbati (hasil)" sekarang dan berpikir untuk balas dendam nanti.

---------

Setelah salat Zuhur, aku melihat ibu sedang memasak di dapur. Aku ingin mengajak beliau mengobrol.

"Bapak kemana, Bu?"

"Masih belum datang, Le"

Ibu memang sering berubah-ubah kalau memanggilku kadang 'Im', kadang 'Le', kadang juga 'Nak'. Sesuai 'sikon' lah pokoknya.

"Oh ya, Le. Tadi pagi ibu-ibu heboh membicarakan tentang penculikan anak di tukang sayur, pas kamu mandi pagi."

"Oh, ya?"

"Bu Hendra cerita kalau ada anak SD di sekitar tempat suaminya bekerja hilang selama beberapa hari sepulang dari sekolahnya, tau-tau ditemukan sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Ada beberapa organ vitalnya yang hilang."

"Hiiii.... Itu beneran apa bohongan, Bu?"

"Benar, Le. Suami Bu Hendra itu orangnya jujur jadi nggak mungkin berbohong. Ada lagi cerita penculikan anak yang lain."

"Apa, Bu?"

"Tukang sayur cerita kalau di kota ada anak cewek sudah hilang selama lima tahun dicari kemana-mana nggak ketemu, pas keluarganya ada keperluan ke Jakarta tanpa sengaja bertemu anaknya sudah jadi pengamen di sana. Anaknya lupa dengan orang tuanya, penculiknya juga sudah kabur entah kemana."

"Kasihan ya, Bu?"

"Iya. Makanya kamu berhati-hati ya di manapun berada. Jangan mudah percaya sama orang asing."

"Iya, Bu. Sebenarnya tadi aku juga hampir diculik, Bu"

"Oh, ya?" Ibu berteriak. Tempe di atas wajan sampai terpental jatuh ke tanah.

"Iya Bu. Agus hampir menculikku, dia menyamar jadi orang gila. Untuk Pak Hermanto dan Pak BH menolongku."

"Siapa?"

"Pak Burhan."

"Duh, Nak. Untunglah kamu selamat. Ini nggak bisa dibiarkan, kita harus segera lapor polisi supaya Agus sialan itu segera tertangkap. Awas kamu Gus, sekali lagi kamu menyentuh anakku tak uyel-uyel kamu nanti."

Entah mengapa dalam keadaan serius seperti itu aku masih bisa tersenyum mendengar ibu mengatakan "uyel-uyel'. Entah apa arti 'uyel-uyel' itu.

"Asalamualaikum"

Suara bapak dari pintu dapur, pasti beliau baru pulang dari sawah setelah seharian bekerja.

"Waalaikumsalam"

"Ada apa ini kok seperti ada yang serius?"

"Bapak makan siang dulu nggih, trus mandi sholat. Nanti baru ngobrol bertiga."

"Iya, deh"

-----

Bapak sudah selesai salat Zuhur

"Sepertinya Bapak harus segera menyerahkan kotak cokelat itu ke polisi."

"Iya, Bu. Saya sudah janjian sama Pak Kyai Nur untuk berangkat ke Polsek siang ini."

"Anakmu dan Parto dibawa juga, ya!"

"Loh, buat apa membawa mereka? Biar mereka di rumah saja."

"Mereka tadi sepulang sekolah hampir diculik Agus."

"Apa?"

"Agus menyamar jadi orang gila. Anakmu ini sudah dipiting sama Agus katanya dia minta kotak coklat itu diserahkan kepadanya kalau tidak ingin dibunuh. Untung ada dua gurunya datang menolong."

"Benar, Le?"

Aku mengangguk.

"Agus sudah keterlaluan. Ini tidak bisa dibiarkan lagi."

[Tok tok tok]

"Asalamualaikum," suara Mbah Nur dari pintu depan.

"Waalaikumsalam"

"Monggo, silakan duduk Pak Kyai!"

"Bagaimana? Jadi?"

"Jadi, Pak Kyai. Sampean bawa sepeda sendiri, kan?"

"Iya. Saya bawa sendiri. Kenapa?"

"Anak-anak diajak soalnya."

"Loh, kok ngajak anak-anak?"

"Iya, mereka tadi hampir diculik Agus sepulang sekolah."

"Ya Allah....."

Kamipun menceritakan peristiwa tadi kepada Mbah Nur. Mbah Nur beberapa kali menggelengkan kepala mendengar cerita kami.

"Ya, wes. Habis ini kita jemput Parto sekaligus meminta izin sama orang tuanya!"

"Inggih."

"Oh, iya ... boleh saya melihat kotak tersebut?"

"Boleh, Pak Kyai."

Ibu mengambil kotak coklat dari dalam kamarnya dan menyodorkan kepada Mbah Nur.

"Mohon maaf, Kyai. Isinya jangan dipegang-pegang dulu, ya! Takut merusak barang bukti."

"Iya. Bismillahirrohmanirrohim ..."

Mbah Nur membuka kotak cokelat tersebut, tiba-tiba ia melotot.

"Astagfirullah! Ini jam tangan saya," teriaknya.

Giliran aku, Bapak, dan Ibu yang keheranan melihat reaksi Mbah Nur.

-Bersambung-

Terpopuler

Comments

Ahnafal Wafa Tsaqifa

Ahnafal Wafa Tsaqifa

lanjut terus

2022-12-28

0

Rena Nia

Rena Nia

loh kok nggone mbah nur thor?

2021-06-30

4

Athaya Winangun

Athaya Winangun

lah piye toh Kok dadi nggone Mbah Nur

2021-04-27

3

lihat semua
Episodes
1 PART 1 HANTU PENUNGGU POHON NANGKA
2 PART 2 KESAKSIAN LEK NISA
3 PART 3 RUMAH MBAH MI
4 PART 4 SERAMNYA RUMAH PAK SATAR
5 PART 5 DIKEJAR MAKHLUK HALUS
6 PART 6 HANTU KEPALA MENYERINGAI
7 PART 7 MBAH ARNI
8 PART 8 SANG PENARI
9 PART 9 KEMARAHAN KUNTILANAK
10 PART 10 ARWAH LASTRI
11 PART 11 TEROR LASTRI
12 PART 12 BERSEMBUNYI DARI LASTRI
13 PART 12A KETAKUTAN WARGA
14 PART 14 JIMAT DARI DUKUN
15 PART 15 MENCOBA JIMAT PENGUSIR ARWAH
16 PART 16 JIMAT PERUSAK SUKMA
17 PART 17 MISTERI KEMATIAN LASTRI
18 PART 18 TABIR DUNIA LAIN
19 PART 19 PRIA MISTERIUS
20 PART 20 MISTERI KOTAK BERWARNA COKELAT
21 PART 21 TEMAN KECIL
22 PART 22 DIBURU PEMBUNUH
23 PART 23 MENGEJAR PENCULIK
24 PART 24 HILANG DITELAN BUMI
25 PART 25 GEDUNG ANGKER
26 PART 26 GENDERUWO
27 PART 27 : PENCULIK BERDARAH DINGIN
28 PART 28 PRIA PSYCHOPAT
29 PART 29 DUEL MAUT
30 PART 30 AKHIR PETUALANGAN SANG BROMOCORAH
31 PART 31 SEBELAH KAMAR MAYAT
32 PART 32 RUMAH SAKIT BERHANTU
33 PART 33 TAK BETAH DI RUMAH SAKIT
34 PART 34 DIBUNTUTI ARWAH
35 PART 35 KEMBALI KE RUMAH
36 PART 36 KUNJUNGAN ANAK-ANAK KOTA
37 PART 37 SI INDIGO
38 PART 38 BAKTI SEORANG ANAK
39 PART 39 JURIG LALA
40 PART 40 KISAH SEDIH LALA
41 PART 41 MISTERI HILANGNYA QUR'AN
42 PART 42 POCONGNYA KELEWATAN
43 PART 43 NAFSU MERENGGUT KEBAHAGIAAN
44 PART 44 PRIA-PRIA PENGGODA
45 PART 45 : LEWAT TENGAH MALAM
46 PART 46 : DI BALIK KEKUATAN POCONG
47 PART 47 : DALAM PENGARUH ILMU PELET
48 PART 48 : AKHIRNYA BU MILA ...
49 PART 49 : MENYUSUN PUZZLE
50 PART 50 : TERKUAKNYA TABIR
51 PART 51 (END) : DUKUN SAKTI
52 EPILOG
53 PROLOG SEASON KEDUA
54 BAGIAN 1 : DIANTAR BAPAK
55 BAGIAN 2 : PERKENALAN DENGAN SESEORANG
56 BAGIAN 3 : GADIS MISTERIUS
57 BAGIAN 4 : SEBUAH TRAGEDI
58 BAGIAN 5 : PAK RENGGA
59 BAGIAN 6 : RUMAH PAK RENGGA
60 BAGIAN 7 : PULANG
61 BAGIAN 8 : KECEMASAN IBU
62 BAGIAN 9 : DIJENGUK TEMAN
63 BAGIAN 10 : SEBUAH RENCANA
64 BAGIAN 11 : PENYELIDIKAN AWAL
65 BAGIAN 12 : ABOUT MERY
66 BAGIAN 12A : KERIBUTAN
67 BAGIAN 14 : BU NANIK
68 BAGIAN 15 : DEMO EKSKUL
69 BAGIAN 16 : BERTEMU DEDEK GEMES
70 BAGIAN 17 : BIODATA
71 BAGIAN 18 : SEBUAH PERSAMAAN
72 BAGIAN 19 : KANTIN SEKOLAH
73 BAGIAN 20 : KASUS
74 BAGIAN 21 : MBAH IYEM
75 BAGIAN 22 : PENJELAJAHAN
76 BAGIAN 23 : TERSESAT
77 BAGIAN 24 : KAMPUNG KINTIR
78 BAGIAN 25 : PERJALANAN KE KUBURAN
79 BAGIAN 26 : SEBUAH FIRASAT
80 BAGIAN 27 : GELAGAPAN
81 BAGIAN 27 : NEGERI DI BALIK KUBURAN
82 BAGIAN 28 : PETANI
83 BAGIAN 29 : KEBUN KOPI
84 BAGIAN 30 : JANGAN MENOLEH
85 BAGIAN 31 : TERANCAM
86 BAGIAN 32 : MENGHILANG
87 BAGIAN 33 : KETINGGALAN
88 BAGIAN 34 : KI BARONG
89 BAGIAN 35 : SENDIRIAN
90 BAGIAN 36 : PENARI GHAIB
91 BAGIAN 37 : BERSEMBUNYI
92 BAGIAN 38 : SULITNYA MELARIKAN DIRI
93 BAGIAN 39 : KETAHUAN
94 BAGIAN 40 : SIAPA DIA?
95 BAGIAN 41 : TANDA LAHIR
96 BAGIAN 42 : TURNAMEN
97 BAGIAN 43 : PEREMPUAN ITU
98 BAGIAN 44 : TUMBAL
99 BAGIAN 45 : TENTANG AKU
100 BAGIAN 46 : GENDANG
101 BAGIAN 47 : TARI LAHBAKO
102 BAGIAN 48 : SERAGAM YANG BERBEDA
103 BAGIAN 49 : MARAH
104 BAGIAN 50 : ARTI PERSAHABATAN
105 BAGIAN 51 : RENCANA
106 BAGIAN 52 : RAHASIA
107 BAGIAN 53 : TAK SENGAJA
108 BAGIAN 54 : NASIB BURUK
109 BAGIAN 55 : WANITA HEBAT
110 BAGIAN 56 : TAK DIAKUI
111 BAGIAN 57 : PENUTUPAN MOS
112 BAGIAN 58 : ZONA BERBAHAYA
113 BAGIAN 59 : TANDA CINTA
114 BAGIAN 60 : PESURUH SEKOLAH
115 BAGIAN 61 : RUANGAN RAHASIA
116 BAGIAN 62 : MENCEKAM
117 BAGIAN 63 : KETAHUAN
118 BAGIAN 64 : MENGINTAI MISTERI
119 BAGIAN 65 : DIA
120 BAGIAN 66 : BU MEGA
121 BAGIAN 67 : INSIDEN DI KAMAR MANDI
122 BAGIAN 68 : DIANCAM
123 BAGIAN 69 : PARADOKS
124 BAGIAN 70 : MITA LESTARI
125 BAGIAN 71 : PENGANTIN
126 BAGIAN 72 : SEBUAH KENYATAAN
127 BAGIAN 73 : SI KECIL
128 BAGIAN 74 : SEBUAH AMANAT
129 BAGIAN 75 : AURA NEGATIF
130 BAGIAN 76 : FIRASAT
131 BAGIAN 77 : KEHILANGAN
132 BAGIAN 78 : KENANGAN
133 BAGIAN 79 : DIPANGGIL
134 BAGIAN 80 : SEBUAH KEINGINAN
135 BAGIAN 81 : EMOSI
136 BAGIAN 82 : BUKAN RAHASIA
137 BAGIAN 83 : BUKU GAMBAR
138 BAGIAN 84 : TUKANG INTIP
139 BAGIAN 85 : MASIH ADA
140 BAGIAN 86 : NENEK KELANA
141 BAGIAN 87 : DIKUBUR
142 BAGIAN 88 : SAMPAH ANEH
143 BAGIAN 89 : TERNYATA DIA
144 BAGIAN 90 : ANALISA FAJAR
145 BAGIAN 91 : NEKAT
146 BAGIAN 92 : RUANGAN RAHASIA
147 BAGIAN 93 : ALGOJO
148 BAGIAN 94 : DIKEJAR ARWAH
149 BAGIAN 95 : SEBUAH FAKTA
150 BAGIAN 96 : INTEROGASI
151 BAGIAN 97 : PENYELIDIKAN BAPAK
152 BAGIAN 98 : ANEH
153 BAGIAN 99 : MISTER-X
154 BAGIAN 100 : TERNYATA DIA
155 BAGIAN 101 (END) : GODAAN HARTA
156 EPILOG SEASON KEDUA
157 TERBIT NOVEL VERSI CETAK
158 PENGUMUMAN
159 PROGRAM GIVE AWAY
160 TERBIT NOVEL VERSI AUDIO
161 Q n A
162 KISAH TERBARU IMRAN
163 PENGUMUMAN GIVE AWAY
164 ABOUT EXTRA PART
165 EXTRA PART 1
166 EXTRA PART 2
167 EXTRA PART 3
168 EXTRA PART 4
169 ILUSTRASI PEMERAN
Episodes

Updated 169 Episodes

1
PART 1 HANTU PENUNGGU POHON NANGKA
2
PART 2 KESAKSIAN LEK NISA
3
PART 3 RUMAH MBAH MI
4
PART 4 SERAMNYA RUMAH PAK SATAR
5
PART 5 DIKEJAR MAKHLUK HALUS
6
PART 6 HANTU KEPALA MENYERINGAI
7
PART 7 MBAH ARNI
8
PART 8 SANG PENARI
9
PART 9 KEMARAHAN KUNTILANAK
10
PART 10 ARWAH LASTRI
11
PART 11 TEROR LASTRI
12
PART 12 BERSEMBUNYI DARI LASTRI
13
PART 12A KETAKUTAN WARGA
14
PART 14 JIMAT DARI DUKUN
15
PART 15 MENCOBA JIMAT PENGUSIR ARWAH
16
PART 16 JIMAT PERUSAK SUKMA
17
PART 17 MISTERI KEMATIAN LASTRI
18
PART 18 TABIR DUNIA LAIN
19
PART 19 PRIA MISTERIUS
20
PART 20 MISTERI KOTAK BERWARNA COKELAT
21
PART 21 TEMAN KECIL
22
PART 22 DIBURU PEMBUNUH
23
PART 23 MENGEJAR PENCULIK
24
PART 24 HILANG DITELAN BUMI
25
PART 25 GEDUNG ANGKER
26
PART 26 GENDERUWO
27
PART 27 : PENCULIK BERDARAH DINGIN
28
PART 28 PRIA PSYCHOPAT
29
PART 29 DUEL MAUT
30
PART 30 AKHIR PETUALANGAN SANG BROMOCORAH
31
PART 31 SEBELAH KAMAR MAYAT
32
PART 32 RUMAH SAKIT BERHANTU
33
PART 33 TAK BETAH DI RUMAH SAKIT
34
PART 34 DIBUNTUTI ARWAH
35
PART 35 KEMBALI KE RUMAH
36
PART 36 KUNJUNGAN ANAK-ANAK KOTA
37
PART 37 SI INDIGO
38
PART 38 BAKTI SEORANG ANAK
39
PART 39 JURIG LALA
40
PART 40 KISAH SEDIH LALA
41
PART 41 MISTERI HILANGNYA QUR'AN
42
PART 42 POCONGNYA KELEWATAN
43
PART 43 NAFSU MERENGGUT KEBAHAGIAAN
44
PART 44 PRIA-PRIA PENGGODA
45
PART 45 : LEWAT TENGAH MALAM
46
PART 46 : DI BALIK KEKUATAN POCONG
47
PART 47 : DALAM PENGARUH ILMU PELET
48
PART 48 : AKHIRNYA BU MILA ...
49
PART 49 : MENYUSUN PUZZLE
50
PART 50 : TERKUAKNYA TABIR
51
PART 51 (END) : DUKUN SAKTI
52
EPILOG
53
PROLOG SEASON KEDUA
54
BAGIAN 1 : DIANTAR BAPAK
55
BAGIAN 2 : PERKENALAN DENGAN SESEORANG
56
BAGIAN 3 : GADIS MISTERIUS
57
BAGIAN 4 : SEBUAH TRAGEDI
58
BAGIAN 5 : PAK RENGGA
59
BAGIAN 6 : RUMAH PAK RENGGA
60
BAGIAN 7 : PULANG
61
BAGIAN 8 : KECEMASAN IBU
62
BAGIAN 9 : DIJENGUK TEMAN
63
BAGIAN 10 : SEBUAH RENCANA
64
BAGIAN 11 : PENYELIDIKAN AWAL
65
BAGIAN 12 : ABOUT MERY
66
BAGIAN 12A : KERIBUTAN
67
BAGIAN 14 : BU NANIK
68
BAGIAN 15 : DEMO EKSKUL
69
BAGIAN 16 : BERTEMU DEDEK GEMES
70
BAGIAN 17 : BIODATA
71
BAGIAN 18 : SEBUAH PERSAMAAN
72
BAGIAN 19 : KANTIN SEKOLAH
73
BAGIAN 20 : KASUS
74
BAGIAN 21 : MBAH IYEM
75
BAGIAN 22 : PENJELAJAHAN
76
BAGIAN 23 : TERSESAT
77
BAGIAN 24 : KAMPUNG KINTIR
78
BAGIAN 25 : PERJALANAN KE KUBURAN
79
BAGIAN 26 : SEBUAH FIRASAT
80
BAGIAN 27 : GELAGAPAN
81
BAGIAN 27 : NEGERI DI BALIK KUBURAN
82
BAGIAN 28 : PETANI
83
BAGIAN 29 : KEBUN KOPI
84
BAGIAN 30 : JANGAN MENOLEH
85
BAGIAN 31 : TERANCAM
86
BAGIAN 32 : MENGHILANG
87
BAGIAN 33 : KETINGGALAN
88
BAGIAN 34 : KI BARONG
89
BAGIAN 35 : SENDIRIAN
90
BAGIAN 36 : PENARI GHAIB
91
BAGIAN 37 : BERSEMBUNYI
92
BAGIAN 38 : SULITNYA MELARIKAN DIRI
93
BAGIAN 39 : KETAHUAN
94
BAGIAN 40 : SIAPA DIA?
95
BAGIAN 41 : TANDA LAHIR
96
BAGIAN 42 : TURNAMEN
97
BAGIAN 43 : PEREMPUAN ITU
98
BAGIAN 44 : TUMBAL
99
BAGIAN 45 : TENTANG AKU
100
BAGIAN 46 : GENDANG
101
BAGIAN 47 : TARI LAHBAKO
102
BAGIAN 48 : SERAGAM YANG BERBEDA
103
BAGIAN 49 : MARAH
104
BAGIAN 50 : ARTI PERSAHABATAN
105
BAGIAN 51 : RENCANA
106
BAGIAN 52 : RAHASIA
107
BAGIAN 53 : TAK SENGAJA
108
BAGIAN 54 : NASIB BURUK
109
BAGIAN 55 : WANITA HEBAT
110
BAGIAN 56 : TAK DIAKUI
111
BAGIAN 57 : PENUTUPAN MOS
112
BAGIAN 58 : ZONA BERBAHAYA
113
BAGIAN 59 : TANDA CINTA
114
BAGIAN 60 : PESURUH SEKOLAH
115
BAGIAN 61 : RUANGAN RAHASIA
116
BAGIAN 62 : MENCEKAM
117
BAGIAN 63 : KETAHUAN
118
BAGIAN 64 : MENGINTAI MISTERI
119
BAGIAN 65 : DIA
120
BAGIAN 66 : BU MEGA
121
BAGIAN 67 : INSIDEN DI KAMAR MANDI
122
BAGIAN 68 : DIANCAM
123
BAGIAN 69 : PARADOKS
124
BAGIAN 70 : MITA LESTARI
125
BAGIAN 71 : PENGANTIN
126
BAGIAN 72 : SEBUAH KENYATAAN
127
BAGIAN 73 : SI KECIL
128
BAGIAN 74 : SEBUAH AMANAT
129
BAGIAN 75 : AURA NEGATIF
130
BAGIAN 76 : FIRASAT
131
BAGIAN 77 : KEHILANGAN
132
BAGIAN 78 : KENANGAN
133
BAGIAN 79 : DIPANGGIL
134
BAGIAN 80 : SEBUAH KEINGINAN
135
BAGIAN 81 : EMOSI
136
BAGIAN 82 : BUKAN RAHASIA
137
BAGIAN 83 : BUKU GAMBAR
138
BAGIAN 84 : TUKANG INTIP
139
BAGIAN 85 : MASIH ADA
140
BAGIAN 86 : NENEK KELANA
141
BAGIAN 87 : DIKUBUR
142
BAGIAN 88 : SAMPAH ANEH
143
BAGIAN 89 : TERNYATA DIA
144
BAGIAN 90 : ANALISA FAJAR
145
BAGIAN 91 : NEKAT
146
BAGIAN 92 : RUANGAN RAHASIA
147
BAGIAN 93 : ALGOJO
148
BAGIAN 94 : DIKEJAR ARWAH
149
BAGIAN 95 : SEBUAH FAKTA
150
BAGIAN 96 : INTEROGASI
151
BAGIAN 97 : PENYELIDIKAN BAPAK
152
BAGIAN 98 : ANEH
153
BAGIAN 99 : MISTER-X
154
BAGIAN 100 : TERNYATA DIA
155
BAGIAN 101 (END) : GODAAN HARTA
156
EPILOG SEASON KEDUA
157
TERBIT NOVEL VERSI CETAK
158
PENGUMUMAN
159
PROGRAM GIVE AWAY
160
TERBIT NOVEL VERSI AUDIO
161
Q n A
162
KISAH TERBARU IMRAN
163
PENGUMUMAN GIVE AWAY
164
ABOUT EXTRA PART
165
EXTRA PART 1
166
EXTRA PART 2
167
EXTRA PART 3
168
EXTRA PART 4
169
ILUSTRASI PEMERAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!