"ayo kita pergi...! ". ajak Dylan menarik tangan Shindy,
Shindy mengangkat gaunnya sambil menyamakan langkah kaki tuannya.
"maaf...! ". ucap Dylan pelan
Shindy melebarkan matanya dan melihat kearah Dylan. "t tuan bilang apa tadi? ".
"tak ada pengulangan". tolak Dylan dengan wajah datarnya.
Shindy tersenyum manis hingga terlihat jelas kecantikan Shindy, ia menutupi bibirnya yang tersenyum.
"kau...? ". Dylan menunjuk wajah Shindy dengan sedikit malu karna Shindy seperti menertawainya.
"maaf tuan..! saya baru menyadari anda punya sisi imutnya juga". jelas Shindy berusaha untuk menahan senyumnya.
Dylan mengabaikannya dan berjalan ke arah meja yang tertata banyak minuman, Ia hendak minum tapi tak sengaja Dylan mencium aroma jus jeruk yang ia pegang berbeda dari biasanya.
Shindy mengikutinya dan hendak meneguk jus yang sama tapi Dylan mencegahnya.
"ada apa tuan? saya haus.. ". Shindy memelas.
"minuman ini dicampur wine ". tutur Dylan.
Shindy terkejut lalu mengendus minumannya dengan serius dan tak menemukan bau apapun.
"tapi ini tidak bau tuan, bagaimana anda bisa tau? ". tanya Shindy serius.
Dylan mengambil minuman Shindy dan mengendusnya. "ini lebih pekat.. ".
Shindy di buat tak mengerti bagaimana bisa Dylan tau, padahal dirinya tak mencium bau apapun.
"sepertinya dia ingin semua yang ada disini mabuk". tebak Dylan.
"pak willy tadi tuan? ". tanya Shindy.
Dylan mengkode Bagus, yang dikode langsung mendekati Dylan lalu memberi hormat.
"siapkan penginapan di hotel ini, aku merasa harus menggunakan cara pintas". perintah Dylan.
"baik tuan". jawab bagus langsung izin meninggalkan Dylan dan Shindy.
Shindy dibuat kebingungan dengan situasinya,
"apa hanya aku yang merasa bodoh disini? ". batin Shindy tak mengerti.
"lalu bagaimana rencana kita tuan? ". tanya Shindy.
"setelah apa yang dia lakukan? kau masih mau melakukan nya? apa kau tidak trauma? ". tanya Dylan
Shindy tanpa sadar tersenyum, ia yakin dengan instingnya yang mengatakan Dylan orang baik hanya saja di tutupi dengan topeng datar dan dinginnya.
"saya akan melakukannya tuan! jadi anda harus berjanji melunaskan hutang saya 50% ".
Dylan mengangguk sebagai pertanda dirinya tak akan ingkar janji. Shindy ingin pergi tapi Dylan menahan tangannya hingga siempunya menoleh
"makanlah terlebih dahulu"
pinta Dylan
shindy mengerjab-ngerjabkan matanya saat Dylan memilihkannya makan malam yang bersih tanpa tercium bau apapun.
"apa tuan Melviano ini bisa mencium bau racun? atau gimana ya? kenapa indra penciumannya begitu tajam melebihi anj*ng ya..? ". batin Shindy dengan heran
setelah makan, Shindy bergegas mendekati Willy eh ralat berjalan melewati willy untuk memancingnya dan benar saja Willy memegang tangan Shindy.
Dylan memperhatikan Shindy dari jauh dan tersenyum tipis beberapa menit kemudian saat Shindy diberikan selembar kertas dari balik jas nya Willy.
"aku akan pastikan kau tak akan berhasil mencopy presentasi perusahaanku..! ". batin Dylan sudah mengclaim perusahaan mattgroup adalah miliknya.
Shindy terlihat serius membaca selembar kertas itu yang penuh dengan rencana presentasi, ia tak mengerti tapi tugasnya hanya mengingat apa yang ada dalam kertas itu.
"bagaimana? bagus kan? ". tanya Willy menyimpan kembali kertas pentingnya.
"kenapa dibawa-bawa terus tuan? ". tanya Shindy keheranan berlagak tak mengerti pentingnya isi kertas itu.
"kamu sangat menggemaskan cantik! aku jadi nggak sabar pengen memakanmu..! ". ucap willy keceplosan
Shindy terkejut mendengarnya.
"jadi dia benar-benar psikopat tubuh wanita..! pantas saja cara menatapnya menjijikkan sekali". teriak Shindy dalam hati.
"saya tidak menggemaskan tuan..! anda makan saja wanita lain". ucap Shindy dengan wajah datarnya meninggalkan Willy yang berusaha menjelaskan ucapannya tadi
Willy mengepalkan tangannya saat Shindy begitu marah mendengar ingin memakannya.
"berlagak sok bersih didepanku..! " seringai misteriusnya.
Willy mengira Shindy marah karna hal itu berbeda dengan Shindy yang memang mencari alasan untuk pergi dari Willy sebenarnya ia juga tak suka di anggap wanita seperti itu. ia benci pria yang suka bermain ranjang dan meremehkan perempuan lainnya.
Shindy berjalan terus berjalan hendak mendekati Dylan tapi suara perempuan tiba-tiba memanggil namanya membuatnya menghentikan langkah kakinya.
Shindy memutar kepalanya dan tertegun melihat Alexa berada dipesta ini juga.
"waah... jadi benar kau benar-benar Shindy ya? luar biasa bagaimana kau bisa bertambah cantik, apa skincare mu begitu mahal hingga bisa merawat tubuhmu untuk pekerjaanmu ya? ". sindir Alexa dengan meremehkan.
Shindy mengatur pernafasannya, kalau bukan karna tempat yang ramai ia sudah menjambak dan menampar Alexa melampiaskan rasa sakit hatinya selama ini, tapi ia bisa berpikir jernih mengingat kebaikan Dylan
"ingat shindy..! kau jangan menunjukkan ke bar-baranmu didepan umum, kau nggak boleh membuat tuan mu malu dan bermasalah karnamu". batin Shindy meregangkan jemari tangannya yang tadinya mengepal.
"kali ini kau jadi baby sugar siapa..? ". tanya Alexa meremehkan.
"kapan kau datang? " tanya Shindy dengan arogannya.
"aku? baru aja dan tak sengaja aku melihatmu menggoda tuan Willy". jawab Alexa dengan senyum mengejeknya
"hanya sebagai baby sugar berani bertingkah kau..! ". ejek Alexa
Shindy tersenyum miring
"jadi baby sugar sangat enak tanpa memikirkan bagaimana mencari uang masuk, uang itu datang dari daddy sugar ku". bisik Shindy seolah menyindir keuangan Alexa.
"memang siapa daddy sugarmu? ". tanya Alexa dengan jengkel
Shindy menyeringai.
"maaf tuan aku harus meminjammu". batin Shindy
"lihat kemana aku pergi". kata Shindy dengan angkuh.
Shindy membalik tubuhnya meninggalkan Alexa yang mengepalkan tangannya dengan marah.
matanya membulat sempurna saat Shindy mendekati sosok yang ia kagumi dan inginkan menjadi suaminya.
Shindy memutar kepalanya ke Alexa dan tersenyum manis seolah membanggakan diri bahwa dirinya berada disamping Dylan.
"tuan..? ". Shindy membalik tubuhnya ke Dylan.
"apa..? ". Tanya Dylan
"bisakah kita keluar? saya kedinginan ". ucap shindy mengusap bahunya yang terbuka.
Dylan melihat rekan-rekannya yang menahan senyum melihat shindy memelas seperti itu.
Dylan membuka jas nya dan memakaikannya ke tubuh Shindy terlihat begitu manis hingga Alexa menggeram marah melihat hal itu, Shindy pun dibuat terkejut dengan perlakuan Dylan tapi ia senang bisa membalas seperempat rasa sakit hatinya ke Alexa.
Dylan menarik kursi dibelakangnya ke belakang Shindy, dan memegang bahu shindy untuk duduk.
"tunggulah sekitar 20 menit saja! aku berbicara dengan mereka sebentar". Dylan berkata sambil menekan kepala Shindy lalu beralih ke rekan-rekannya yang melongoh menatapnya.
"apa..? ". tanya Dylan dengan malas.
"t.. tidak ada tuan". jawab mereka serentak menggeleng-geleng kepala.
Dylan melanjutkan pembicaraan bisnisnya, sementara Shindy menopang dagunya melihat wajah Alexa yang tampak begitu marah namun terlihat tak berdaya untuk sekedar mendekatinya menjambak rambutnya, menurutnya Alexa sangatlah emosian sama seperti kedua orangtuanya.
bagus menangkap tatapan Shindy, ia tau masalah Alexa dan Shindy karna ia sendiri yang mencari tau identitas Shindy yang bermasalah dengan keluarga Alexa.
"ternyata dia memanfaatkan tuan untuk balas dendam sepertinya tuan muda tau akan hal itu dan ikut bermain dengan rencana nona Shindy". batin Bagus melihat mata Alexa yang memerah penuh kebencian.
Bagus mengangguk-ngangguk membenarkan saat Alexa pergi dari acara pesta supaya balas dendam Shindy makin sempurna.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Sharon
Cucok👍👍👍
2024-10-03
0
Syahira Almaira Zain
AQ suka gayamu sindy...😃😃
2023-06-07
1
Ernadina 86
keren kamu Sin👍👍
2023-02-10
1