makan malam berlangsung di sofa ruang tamu, Shindy bisa melihat bagaimana bahagia nya 4 orang kakak beradik itu. tak seperti keluarganya yang saling membunuh demi mendapatkan harta.
Shindy menyeka air matanya dengan cepat tapi sayang Dylan melihatnya walau sekilas, Dylan pura-pura nggak tau aja.
"enaknya...! ". pekik Kaisha dengan riang.
Nova tergelak, Keyzo sibuk minum air.
"sudah? sana kalian kembali ke kamar..! ". usir Dylan membuka kancing lengan kemejanya.
ketiga adik Dylan saling pandang satu sama lain, Dylan menatap datar Nova yang sudah pasti mengerti situasinya.
"oh.. iya.. iya.. Nova kembali kekamar deh..! ayo dek kita kekamar ". Nova berkata sambil bangkit menarik lengan Kaisha.
Keyzo juga ikut-ikutan karna tau kakaknya sedang ada urusan dengan Shindy.
"pergi!". lirikan Dylan ke para pelayan yang sejak tadi jadi patung tak bergerak.
tinggallah Dylan dan Shindy di ruangan sofa. Dylan melempar jas formal nya ke Shindy.
"ehh...! ". dengan sigap Shindy menangkapnya.
"ikut aku..! ". Dylan bangkit dan berjalan meninggalkan Shindy.
Shindy berlari kecil mengejar Dylan, ia juga ingin mengatakan keinginannya untuk membayar semuanya.
Dylan membawa Shindy ke kamarnya dan menyuruh shindy menunggu di balkon.
1 jam menunggu Dylan mandi akhirnya penantian Shindy berakhir.
"kenapa dia malah mandi selama itu? kalau begitu kenapa aku harus disuruh menunggu dikamarnya? kalau aku menunggu dikamarku kan nggak akan terasa lama ...! ".
batin Shindy menahan kesal.
"aku nggak ada pilihan selain membawamu kemari, aku ada urusan mendadak ! menunggumu bangun membuang waktuku.. ".
"maaf tuan..! ". ucap Shindy dengan rasa bersalah.
"kalau kau mau kembali katakan saja..! aku akan menyewakan taksi untukmu kembali ke sana". kata Dylan dengan santainya.
Shindy melebarkan matanya,
"taksi? ".
Dylan tak menjawab hanya menatap datar Shindy
"jangan bermimpi aku mengantarmu..! ". seringai tipis Dylan.
"bu.. bukan..! saya hanya membayangkan biaya taksi sangat mahal sampai ke kota saya..! ". bela Shindy dengan cepat takut membuat Dylan marah.
"karna ini sudah malam istirahat dikamarmu besok pagi kau harus keluar dari mansion ini..! ". Dylan berkata dengan santai seperti tak berperasaan.
"tu tu tuan...? (Dylan menoleh) boleh saya bicara..?".
tanya Shindy dengan serius.
Dylan memutar tubuhnya menghadap Shindy.
"bisakah anda beri saya pekerjaan..? saya ingin membayar semua hutang-hutang saya pada anda".
Dylan menaikkan alisnya sebelah.
"hutang? (shindy mengangguk-ngangguk) kapan kau berhutang padaku? ".
Shindy mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya pada Dylan, Dylan membuka itu lalu mengerutkan keningnya.
"apa ini? ". tanya Dylan tak mengerti.
"itu semua daftar uang anda yang keluar saat tak sengaja membawa saya ke kota J". jawab Shindy.
"lalu? kenapa kau kurang kerjaan mencatat ini? ". Dylan meremasnya dan membuangnya ke tong sampah didekatnya.
Shindy meremas ujung pakaiannya. "saya tidak suka berhutang budi tuan..! "
"ckk.. kau fikir aku sebaik itu..?" wajah dingin Dylan membuat tubuh shindy spontan saja gemetar.
"lalu apa tuan? saya bukan istri atau kekasih anda kenapa anda harus mengeluarkan uang untuk orang asing seperti saya. ?".
Dylan tertegun mendengarnya.
"iya juga.. kenapa aku baik padanya? ".
"sana keluar..! aku mau istirahat". usir Dylan.
Shindy tak berani berbicara lagi, ia segera menunduk sopan dan berlalu dari kamar Dylan dengan wajah yang sedikit pias.
di kamar Shindy menatap sekeliling.
"apa dia hanya mengasihaniku? nggak mungkin.. aku sama sekali nggak dekat dengan tuan Melviano lalu kenapa dia bisa begitu baik padaku? zaman sekarang mana ada orang yang rela mengeluarkan uangnya secara cuma-cuma? tapi dia malah tak peduli jumlah uang keluarnya karna ku.. "
.
.
ke esokan paginya Shindy bersih-bersih seperti seorang pelayan di mansion ini hingga para pelayan dibuat kocar-kacir membujuk Shindy tak boleh bekerja.
"kenapa mereka aneh sekali? ". batin Shindy kebingungan saat pelayan itu tampak ketakutan karna dirinya nekat bersih-bersih seperti pelayan.
Dylan tiba di belakang Shindy,
"maafkan kami nona..! kami permisi" ucap pelayan serentak lalu meninggalkan shindy yang tak sadar ada Dylan dibelakangnya
"hei.. tunggu.. aku harus bekerja! ". Shindy hendak berlari mengejar pelayan tapi suara Dylan menghentikan langkah kakinya.
"kau benar-benar mau bekerja? ". tanya Dylan dengan dingin
Shindy berbalik dan menundukkan wajah tak berani melihat Dylan.
"kalau begitu bekerja di luar jangan di mansion kami..! kau bukannya membantuku tapi menjerumuskanku".
"ke.. kenapa? saya hanya bekerja tuan. " tanya Shindy tak faham.
"jika mommy ku tau aku akan di ceramahi jika itu terjadi jangan harap aku menampungmu"
"lalu saya harus bagaimana tuan? saya juga butuh pekerjaan dan tempat tinggal".
Shindy dibuat bingung situasinya kini.
"ck.. merepotkan saja..! aku menyuruhmu kembali ke kotamu tapi kau sepertinya tak mau kembali kesana ya.? "
Shindy tak berani berbicara lagi hanya diam sambil menundukkan wajah
cukup lama hanya ada keheningan diantara mereka, Dylan menarik pergelangan tangan Shindy.
"t tuan...? ". Shindy ingin bertanya tapi segera ia urungkan melihat lirikan tajam dylan
"matanya biru dan aku baru menyadarinya..! ". batin Shindy merutuki sisi kebodohannya.
Dylan membawa Shindy ke luar mansion, shindy tak tenang di samping Dylan, rasa takut menghinggapinya karna ia takut dibuang dan dicampakkan.
"turun! ". perintah Dylan sambil membuka seatbeltnya.
Shindy dengan cepat turun karna takut Dylan makin marah, sepertinya shindy diberi tempat tinggal dilihat mereka berhenti di rumah megah.
Shindy berlari mengikuti Dylan yang berjalan tanpa hati menunggu Shindy.
Dylan membuka rumah pribadinya dengan sandi,
"ingat sandi nya..! 366927 ".
"366927!". shindy mengingat-ngingatnya dengan baik.
"rumahku kosong..! kau bisa tinggal disini tapi ingat hanya sebagai pembantu, aku tidak suka rumahku kotor. jika ada setitik debu potong gajimu ! aku sangat hafal letak benda di rumahku jika bergeser 1 inci saja habis lah gajimu".
Shindy berusaha mencerna semuanya.
"ba.. baik tuan"
"kamarmu disitu..!" Dylan menunjuk kamar yang terlihat.
"kau boleh bekerja di tempat lain tapi ingat rumahku harus selalu bersih ..!".
Shindy mengangguk-ngangguk mengerti.
"ini...! ". Dylan melempar kartu limitednya.
"beli perlengkapanmu sendiri dan beli perlengkapan kulkas buat masak..! catat semua pengeluaranmu seperti kertas tadi.. ".
shindy dibuat bingung dengan semua kebaikan Dylan terlebih dipercaya jadi pelayan pribadi rumah nya.
"anda percaya pada saya tuan? ". tanya Shindy takut-takut.
Dylan menatap dingin gadis didepannya.
"bukankah kau bayar hutang? gaji seorang pelayan di rumah kami sangat besar berkisar 10 kali lipat dari gaji pembantu pada umumnya tapi karna kau hanya sendiri di rumahku gajimu mencapai 20 kali lipat..! jangan menyia-nyiakan gaji itu jika kau memang mau bayar hutang"
"bukankah keuntungan bagiku punya pembersih rumah tanpa membayar? ". gumamnya pelan tapi Shindy mendengarnya sama sekali tak tersinggung.
ia lebih senang dijadikan pembantu dari pada penghangat ranjang. beruntung Dylan pria yang baik walau memiliki tutur kata yang pedas menusuk hati.
Shindy mengucapkan terimakasih saat Dylan berbalik meninggalkannya,
"di samping ada mobil kau bisa pakai itu untuk belanja kuncinya tergantung di laci lemari itu".
Shindy lagi-lagi mengucapkan terimakasih, dylan hanya acuh meninggalkan shindy sendirian di rumahnya.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Sandisalbiah
walau ketus setidaknya Dylan lebih baik dlm memeperlakukan Shindy di bandingkan perlakuan Pasha ke Kaira dulu..
2024-09-13
0
Alejandra
Semua berawal dari pembantu, mulai dari Kaira, Sindy, Maira, istri Arya, cuma istri Satria yang nggak jadi pembantu...
2023-06-30
1
Fina Ina
hummmm,Sultan di lawan.
2022-03-07
1