Dylan mengelilingi markasnya dan masuk hutan tempat pelatihan semua tentaranya..
"black..? kau lapar? carilah mangsamu.. "
setelah mengatakan itu Black langsung melompat menjauhi Dylan yang artinya ia mencari buruan yang bisa di makannya.. sejauh apapun Dylan pergi Black selalu bisa menemukannya karna indra penciumannya yang tajam.
Dylan duduk di dedaunan sambil mengenang masa kecilnya yang pernah berlatih ditempat ini..
Dylan sudah bergelar S2 di usia mudanya kini tapi tak mau menerima tugas dari daddy nya menjalankan perusahaan MattGroup, malah Dylan menyuruh Nova yang mengambil alih tugas itu padahal Dylan lah putra sulung Melviano tapi alasan Dylan cukup masuk akal karna Nova menguasai IT ..
Nova yang tak terima permintaan kakaknya itu, alhasil Pasha tetap menjalankan perusahaannya seperti biasa karna anak-anaknya belum mau memegang perusahaan walaupun sudah sepantasnya..
baik Nova maupun Dylan tak menginginkan kekuasaan, tapi kekuasaan yang menantinya tetaplah mutlak walau di tolak seribu kalipun beruntung Pasha mengerti akan penolakan anak-anaknya..
"kalau aku menjadi CEO perusahaan daddy aku hanya bertemu penjilat-penjilat menjijikkan..! apa perlu aku bumi hanguskan mereka ya..? " Dylan tiba-tiba menemukan ide brilian tapi hanya sesaat saja..
"tetap aja aku masih ingin bebas.. " gumamnya lagi tak peduli.
sejak dahulu Dylan selalu saja melakukan apapun yang membuatnya senang, bahkan waktu kecilnya sudah menghasilkan uang sendiri sampai sekarang pun begitu..
Dylan merebahkan tubuhnya di dedaunan kering sambil menatap langit yang sangat indah saat ini.
"ck.. Branz lagi...! kenapa aku harus bertemu psikopat itu.?".
tiba-tiba terlintas lagi ingatan dimana Dylan menolong Branz di hutan hingga sampai saat ini Branz begitu terobsesi mendapatkan matanya..
semua ingatan tentang hutan melintas seperti kaset di kepalanya.. Dylan tetap tak bergeming walau sesekali ia mendecih tak terima ingatan yang mau ia hilangkan harus melintas di otak jeniusnya.
"dasar psikopat sinting". decih Dylan dengan malas sambil memejamkan matanya.
Dylan memutar tubuhnya ke samping dan perlahan membuka matanya ia melihat Black berlari membawa daging kelinci.
Dylan duduk dan mengusap kepala Black dengan penuh kasih sayang..
"kau mau aku masakkan black? ". tanya Dylan seolah mengerti alasan kenapa peliharaannya membawa daging kelinci itu padanya..
Black mengibas-ngibasi ekornya sambil memainkan telinganya. walaupun Black hewan buas tapi ia sangat bersih suka makanan yang dimasak karna Dylan yang melatihnya sejak hewan itu kecil.
Dylan memasaknya dengan cepat seolah sudah terbiasa hidup di hutan, tanpa memakai bumbu ia memasak daging kelinci itu Black tetap suka yang penting dagingnya harus masak..
"apa kau benar-benar melihat perempuan itu black? apa hanya aku yang melihatnya? kau nggak melihatnya sama sekali? itu sebabnya kau tidak bergerak melukainya? iya kan? ".
dylan teringat gadis pantai itu sampai saat ini Dylan masih merasa gadis itu penunggu pantai tapi lucunya Dylan masih teringat padanya karna menurutnya tak ada hantu siang hari..
.
.
Dylan kembali ke markasnya dan ternyata prajuritnya masih menunggunya,, "kenapa kalian belum pergi juga..? "
mereka saling pandang satu sama lain. Dylan menghela nafas panjang melihat itu..
"pergilah..! aku baik-baik saja.. " usir Dylan dengan tenang.
para tentara bawahan Dylan pun berbaris rapi menghormati Dylan sebagai atasan mereka lalu berputar balik meninggalkan markas dengan langkah tegap.
Dylan menatap sekeliling lalu mengajak black kembali ke dalam mobil.
di dalam mobil ia dapat panggilan telfon dari nomor asing yang sudah Dylan tebak siapa pelakunya..
Dylan mengangkatnya dengan enggan.
"apa...? ". sambar Dylan dengan dingin seperti biasa.
"wow.. wow... Mata biruku...! kenapa kau sangat galak setiap aku menelfonmu hmm..?? ". tanya Branz dengan bersemangat.
"kalau kau hanya membual saja hentikan kegilaanmu...! aku harap kau bisa menyembuhkan penyakitmu itu...! dasar psikopat gila. " Dylan mematikan panggilannya secara sepihak.
Dylan menarik nafas berat, ia menganggap Branz sebagai temannya tapi penyakit gila Branz itu yang membuat mereka tak bisa akur malah saling bermusuhan satu sama lain.
Branz terobsesi akan mata biru Dylan yang sangat jernih seperti laut dan bisa melihat di malam hari bahkan ia menawarkan uang yang banyak untuk membeli matanya, Dylan tentu menolaknya habis-habisan hal itu membuat hubungan pertemanan mereka merenggang..
"huuh....!! sampai kapan kegilaan psikopat nya berlanjut..? mataku..? apa dia fikir mataku bisa dibeli? sejak kapan ada manusia yang menjual organ tubuhnya sendiri..? dasar sinting...! "
setelah puas melampiaskan kekesalannya Dylan akan kembali ke kotanya tapi tujuannya berubah malah pergi ke Vila tepi pantainya dimana gadis penunggu itu tiba-tiba ada di kawasannya..
Dylan mengirim pesan ke Kaira kalau dirinya menginap di markas,
"maaf mommy Dylan harus berbohong...!". gumam Dylan pelan sambil menjatuhkan tubuhnya di ranjang.
Dylan mematikan ponselnya seperti biasa supaya tak mengganggunya.
hari sudah mulai gelap dan Dylan tertidur di ranjangnya. ia berharap akan bertemu dengan gadis penunggu pantai ini..
.
.
ke esokan paginya Dylan berada di kandang Black ia mendecih pelan dengan kekonyolannya.
"kenapa aku harus menunggu gadis itu? apa aku masih bisa berpikir kalau gadis itu memang manusia? kalau aku tau dia memang penunggu pantai ini kenapa ada bayangannya..? dan juga mana ada hantu di siang hari ". Dylan mendumel sendiri.
Dylan mengoceh sendiri sampai terdengar olehnya suara gemericik air, ia sangat tau gemericik air itu bukan berasal dari ombak atau hujan tapi jelas itu jatuh dari tubuh seseorang.
Dylan segera bersembunyi dan menajamkan pendengarannya yang memang sudah tajam. ia melihat ke arah asal suara dengan perlahan dan melihat seorang perempuan baru keluar dari air tepi pantai dan gemeicik air itu turun dari tubuhnya.
Dylan mengerutkan keningnya,, "apa dia memang penunggu pantai ini? "
Dylan bukannya tertarik dengan tubuh gadis itu yang tercetak jelas tapi malah penasaran gadis itu manusia atau bukan.
Dylan menoleh ke Black yang seolah melihat gadis itu tapi tak melakukan apa-apa..
"black kau melihatnya..? ". bisik Dylan.
Black seolah terhipnotis saja dengan tubuh Gadis itu padahal black hewan malah Dylan yang manusia tak menikmati pemandangan itu..
"ck... aku baru tau kau hewan mesum..! ". decak kesal Dylan yang tau dari tatapan Black.
Dylan mengalihkan pandangannya lagi ke arah gadis itu..
"dia seperti manusia..! tapi kenapa bisa ada disini? apa dia nggak punya tempat tinggal sampai mandi di pantai..? ". gumam Dylan tak habis fikir.
gadis itu mengeringkan rambut panjangnya dengan tenang seolah di tempat ini hanya dirinya saja. ia sudah tau ada vila di ujung pantai tapi pernah ia kesana tak menemukan satu kehidupanpun seolah Vila itu kosong.
"aku kemana lagi ya..?". gumam gadis itu kebingungan.
"seberapa jauhpun aku pergi tetap saja akan kembali ke pantai ini..! ". gumamnya lagi.
"huuh...!! paman.. bibi.. andai aku bisa balas dendam sudah aku hancurkan kalian sejak dulu..!".
gadis itu di buang oleh paman dan bibinya sejak umur 11 tahun saat kedua orangtua nya meninggal dalam kecelakaan. dan pastinya ada hubungannya dengan paman dan bibinya supaya bisa menguasai harta kekayaan orangtua nya..
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Khoerun Nisa
hah fix nih otor tk mnjodohkn nya dgn ank hebat sya dn dewa yg punya kekuatan..
2025-02-13
0
Sandisalbiah
fix.. calon jodoh itu.. Dylan.. Black aja udah tunduk bahkan sebelum dia jd nyonya majikanya
2024-09-13
0
Truely Jm Manoppo
owhhh kasihan gadis itu semoga berjodoh dgn Dylan ... si Black aja paham dan kayak merestui gitu loh 😍😍😍😍😍
2024-07-11
0