Setelah satu bulan berlalu baik Karen maupun Marvel tidak saling berkontak lagi. Memang sebelumnya mereka juga tidak pernah saling berkontak jadi pertemuan mereka di club waktu itu hanya mereka anggap angin lalu.
Marvel sendiri juga enggan untuk mencari kabar terlebih dahulu tentang Karen, terakhir yang malah ia dengar jika Karen berhenti dari pekerjaannya.
Dan pada hari ini setelah Marvel berpamitan kepada Jason dan Lala yang merupakan kekasih Jason, Marvel tengah mengemasi barang-barang miliknya yang berada di apartemen. Setelah memikirkan keputusan sulit, akhirnya Marvel lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya.
Perusahaan yang ia dirikan sudah tidak bisa ia handle lagi. Walaupun Jason dengan sukarela membantu Marvel tetapi laki-laki itu menolak dan lebih memilih pulang ke rumah keluarganya. Toh, ibu Marvel juga sudah sering menangis menantikan kepulangan anaknya dan hati Marvel juga selalu iba jika melihat ibunya menangis.
Sebenarnya bisa saja ibu Marvel datang ke kota untuk menemui putranya, apalagi di kota yang Marvel tinggali ada juga keluarga kakaknya yang tinggal tak jauh dari apartemen Marvel, namun Marvel yakin jika ego ayahnya lah yang melarang ibunya untuk menemui dirinya.
Sebagai anak yang patuh jadi Marvel memutuskan untuk pulang besok. Ia akan merencanakan nanti tujuannya setelah keluar dari perusahaan ketika ia sudah sampai di rumah. Sudah banyak barang-barang Marvel yang ia masukkan ke dalam kardus. Ada juga beberapa barang yang sengaja Marvel tinggal karena Marvel sendiri sudah tidak membutuhkannya.
Tak lama kemudian pintu apartemen Marvel diketuk. Rupanya ada tamu yang datang. Marvel pun segera berjalan untuk membuka pintu tersebut. Tampak Marco yang merupakan kakak Marvel datang untuk pertama kali ke apartemennya.
'' Udah mau pindah malah baru datang,'' ucap Marvel berbalik masuk ke dalam apartemennya. Marvel bahkan mengindahkan Marco yang masih berdiri di depan pintu.
Marco hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adik pertamanya. Yang dikatakan Marvel memang benar, jika Marco belum pernah datang mengunjungi apartemen adiknya.
'' Apa benar kamu akan pulang setelah ini?'' tanya Marco kepada Marvel.
'' Hm,'' jawab Marvel sembari memasukkan beberapa helai baju ke dalam koper yang besar.
'' Baiklah, hati-hati di jalan kalau begitu'' balas Marco.
'' Ck, ngapain capek-capek kesini kalau cuma mau bilang hati-hati. Lewat telepon juga bisa,'' ucap Marvel sembari mendengus sebal.
'' Hahahah. Aku kangen sama kamu. Masa kangen sama adek sendiri enggak boleh?'' balas Marco.
'' Najis,'' seru Marvel.
'' Sebelum pulang datang lah ke rumah. Keponakan mu rindu sama paman tertampannya, '' ucap Marco setelahnya.
'' Boleh, sekalian aku mau pinjam mainan Lego mereka,'' jawab Marvel.
'' Hah? Lego? Kamu mau main lego?'' heran Marco.
'' Iya. Anak-anak kamu pasti punya kan?''
'' Hampir semua jenis mainan mereka punya. Bahkan kamar mereka sendiri sudah penuh dengan lautan mainan. Jadi kamu suka main lego?'' tanya Marco.
'' Entahlah. Semenjak beberapa hari yang lalu aku sering suka mainan anak-anak. Ck, kemarin saja aku bahkan membeli boneka,'' ucap Marvel sembari menunjuk boneka beruang yang sudah siap mudik bersama Marvel.
'' Dasar adik aneh,'' balas Marco setelahnya
Marco masih asyik menemani adiknya berkemas. Tepat sore hari barang-barang Marvel siap untuk diangkut. Marco pun mengajak Marvel untuk mampir terlebih dahulu ke rumahnya.
'' Vel, ingat!! Di rumah jangan buat ulah terus. Kasihan ibu dia sudah tua,'' nasehat Marco ketika ia dan Marvel dalam satu mobil untuk pergi ke kediaman Marco.
'' Tergantung sikap si tua itu,'' balas Marvel.
'' Kamu sudah dewasa dan ayah sudah tua, tidak bisakah kalian berdamai. Rumah akan lebih hangat jika kalian memiliki hubungan yang baik,''
'' Lihat saja nanti,'' balas Marvel kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Seketika pandangan Marvel tertuju pada jalanan yang ia lewati. Benar yang dikatakan Marco jika hubungannya dengan sang ayah sudah lama renggang. Sama-sama memiliki ego tinggi sehingga membuat keduanya nampak sangat berjauhan padahal tinggal satu rumah.
Sesampainya di rumah kakaknya Marvel disambut hangat oleh istri dan anak-anak kakaknya. Marvel sedikit pangling ketika melihat keponakannya yang sudah bertambah besar.
'' Aishh, baru beberapa bulan paman tidak kesini kalian sudah sebesar ini. Pertumbuhan kalian cepat sekali hm,'' ucap Marvel kepada kedua keponakannya.
'' Tentu paman, kita kan suka makan sayur'' jawab keponakannya yang perempuan. Gadis kecil itu merupakan anak pertama dari pernikahan kakaknya. Keponakan pertama Marvel bernama Keyla Marissa Lawrence sedangkan adiknya yang laki-laki bernama Kevin Marcelino Lawrence.
'' Baiklah, kalian memang keponakan paman yang hebat. Oh ya bolehkah paman pinjam mainan Lego kalian? Kalian pasti punya lego kan?'' ucap Marvel.
'' Punya paman. Apa paman mau bermain bersama kami?'' sorak kedua keponakannya. Mereka tampak berantusias senang ketika Marvel setuju untuk bermain Lego bersama mereka.
'' Kok aneh? Kamu suka main lego kayak Keyla dan Kevin, Vel?'' tanya kakak ipar Marvel yang bernama Amanda.
'' Dia memang aneh sayang,'' sahut Marco merangkul istrinya di depan adiknya sendiri. Marvel pun hanya memutar bola matanya malas melihat wajah menyebalkan Marco ketika pamer kemesraan di depannya.
Marvel lebih memilih bergabung dengan keponakannya untuk bermain Lego. Biarlah kali ini sebelum ia pulang ke rumah, Marvel akan memuaskan keinginannya untuk bermain Lego. Marvel sendiri juga merasa aneh, ada keinginan yang sangat kuat ketika Marvel ingin memainkan mainan yang biasa disebut Lego itu.
'' Benar-benar mainan yang tidak cocok dengan umur ku,'' batin Marvel menatap kumpulan Lego yang ditata rapi di kamar keponakannya.
...****************...
Setelah puas bermain bersama keponakannya kemarin, hari ini Marvel resmi meninggalkan apartemen miliknya. Dengan mengendarai mobil pribadi yang ia punya, Marvel membelah jalanan menuju rumah keluarganya sendirian. Tanpa supir, Marvel sudah terbiasa mengendarai mobil hingga jarak jauh.
Sudah lama sekali Marvel tidak menginjakkan kaki di kota kelahirannya. Ada banyak perubahan yang ia lihat. Seingat Marvel terakhir kali di kotanya belum memiliki mall mewah tetapi yang sekarang Marvel lihat sudah ada dua mall yang baru Marvel temui . Kurang lebih perjalanan selama satu hari penuh berhasil Marvel lalui. Tentunya Marvel juga beristirahat di rest area guna menghindari ancaman kecelakaan. Marvel masih sayang nyawa jadi laki-laki itu berkendara cukup santai hari ini.
Tinggal beberapa meter lagi, rumah keluarga Marvel terlihat. Ia sudah menyiapkan hati jika ayahnya akan mengatakan dirinya yang tidak sukses di kota. Marvel sudah sangat kebal akan perlakuan ayahnya, sehingga tujuan ia sekarang pulang adalah hanya untuk menemui ibunya.
Sesampainya Marvel di halaman rumah keluarga Lawrence, ia sudah disambut hangat oleh ibunya bersama wajah datar ayah Marvel. Marvel sangat senang ketika melihat ibunya yang berlari terlebih dulu untuk memeluk putra keduanya.
'' Marvel, akhirnya kamu pulang juga. Ibu sangat khawatir sama kamu nak,'' ucap ibu Marvel seraya memeluk anaknya.
'' Baru ingat rumah. Benar-benar anak tidak tahu diri kamu Marvel,'' ucap ayahnya yang melihat ibu dan anak saling berpelukan.
'' Sudahlah yah. Anak baru pulang seharusnya disambut bukan disambat,'' balas ibu Marvel.
'' Jangan dengar kan ayahmu. Ayo masuk! Ibu sudah menyiapkan banyak makanan kesukaan kamu,'' ucap ibu Marvel kemudian menarik tangan Marvel untuk masuk ke dalam rumah.
'' Ah ibu bahkan tidak tahu apa kamu masih menyukai masakan ini. Kamu sudah meninggalkan rumah cukup lama dan ibu tidak tahu keseharian kamu disana. Kakak kamu si Marco juga sangat cuek terhadap adiknya. Benar-benar bukan keluarga impian,'' gerutu ibu Marvel yang baru saja menyuruh Marvel duduk di kursi makan.
Ayah Marvel dan Marvel sendiri hanya diam ketika ratu rumah mereka mulai menunjukkan senjata mengomelnya. Menjadi satu-satunya perempuan di keluarga Lawrence menjadikan ibu Marvel sebagai sosok yang ditakuti oleh keempat pria di rumah itu.
'' Ibu makin cantik sekarang. Apa ibu tidak punya pikiran untuk mencari suami baru? Setidaknya dengan wajah ibu yang cantik, ibu bisa mendapatkan pria tampan yang selama ini ibu idam-idamkan,'' ucap Marvel sembari melirik sekilas ayahnya.
'' Anak kurang ajar,'' dengus ayah Marvel.
'' Nanti dulu berantemnya. Sekarang mari kita makan. Ayah mau lauk apa biar ibu ambilkan?'' ucap ibu Marvel menengahi anak dan ayah yang jarang akur tersebut. Marvel hanya tersenyum melihat muka masam ayahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments