“Beberapa kolegaku sering bergosip tentang masalah Liuwan di depan pimpinan.”
“Dan pimpinan telah beberapa kali mencariku untuk membahas masalah ini, dan ingin aku mengundurkan diri!” ucap Qingyin sambil mendekap erat bantalnya.
“Fiuh ... tidak masalah kalau memang harus mengundurkan diri,” ucap Qinli.
“Tidak masalah?! Kalau aku dipecat, siapa yang akan mengurus keluarga ini!” gertak Qingyin sedikit marah.
“Terlebih lagi, untuk sekarang ini, tidak mudah untuk mencari perusahaan baru.”
TAP ... TAP ...
Qinli mulai mendekati Qingyin.
“... maksudku adalah...”
Qinli duduk dan menyesap minumannya.
“Apa kau masih ingat, sebelumnya aku pernah mengobati pasien? Waktu itu, yang aku obati adalah ayah walikota Liu.”
“Walikota Liu ...”
“Lalu aku menyembuhkan anaknya juga, dan dia mau membuka toko obat China untukku sebagai ucapan terimakasih.”
“Ditambah lagi, aku juga menghasilkan uang dari mengobati dan menyelamatkan orang. Pada saatnya, kalau kau bersedia, kau bisa membantuku mengelola toko obat China ini,” ucap Qinli sambil menaruh cangkirnya.
KLAK!!
“Jadi, kau tidak perlu begitu khawatir.”
“Membuka toko obat China? Dia cuma ingin menghiburku ‘kan?” batin Qingyin.
Qinli mulai meninggalkan Qingyin yang masih memikirkan perkataannya barusan. Ia pun mulai menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas.
TAP ... TAP ... TAP ...
“Dalam beberapa waktu ini, toko obat China akan segera dibuka, kau pikirkan dulu, kalau sudah memikirkannya beri tahu aku.”
“Qinli, terimakasih telah menghiburku. Jelas-jelas aku sudah sangat salah paham padamu, sebenarnya ... aku hanya ingin minta maaf padamu,” batin Qingyin sambil menatap Qinli yang semakin menghilang.
Keesokan harinya ...
TING TONG ...
“Qing yin ... aku sudah datang, cepat buka pintunya!”
“Hoam, kalau ditanya bertemu dengan siapa, aku pasti akan mendapatkan musibah, itu pasti dia,” gumam Qinli.
Ceklek ...
“Err ... Qinli ...”
Benar saja, Tan Zijin (teman masa kuliah Qinli dan Chu Qingyin, sekaligus sahabat Chu Qingyin) kini datang bertamu sepagi ini.
“Kenapa kamu bengong? Cepat persilahkan aku masuk!” gertaknya angkuh.
Qinli dengan muka bantalnya memandang malas sahabat istrinya itu, bahkan ia membiarkan dia berceloteh ria pagi itu.
DUK ... DUK ...
“Tidak tahu kenapa Chu Qingyin bisa menikah denganmu, benar-benar sangat memalukan! Bercita-cita mengejar sesuatu yang tidak layak kau dapatkan!”
Qinli pun mengingat kenangan buruk tentang Tan Zijin.
>>FLASH BACK ON
Setiap Tan Zijin datang, dia pasti selalu membuat ulah, di saat masa-masa kuliah, dia benar-benar membuatku sengsara. Pernah suatu ketika ia menaruh bubuk cabe pada celana yang aku jemur, lalu saat aku memakainya aku jadi guling-guling kepanasan.
>>FLASH BACK OFF
“Qingyin buruan, ayo kita pergi jalan-jalan!” serunya nyaring dari depan pintu.
Ahirnya beberapa waktu kemudian mereka bertiga segera pergi, dan yang menyopir adalah Qinli.
“Kita mau kemana hari ini?” tanya Qingyin di dalam mobil.
“Kau akan tahu setelah sampai di sana!”
CKIT .... Bunyi rem mobil.
“Sudah sampai...”
Mereka segera turun dari mobil. Di depan mereka sudah berdiri sebuah gedung pencakar langit, bertuliskan “GEDUNG PERKUMPULAN ROYAL" di depannya.
“Hanya orang kelas atas yang akan mendapatkan undangan lelang kota berkelas."
“Ini juga merupakan menara tertinggi di kota!” ucap Tan Zijin dengan bangga.
Mereka bertiga segera masuk ke gedung tersebut. Tetapi sebelumnya harus melewati sebuah pengawasan dari petugas jaga.
“Sopir yang dibelakang juga ikut datang bersama kami,” ucap Tan Zijin sembari menunjukan kartu akses masuknya pada penjaga tersebut.
Setelah kode masuk ditekan, pintu secara otomatis terbuka.
TING
“Yang paling seru disini adalah pelelangan judi batu giok.”
“Selamat datang,” seru para pelayan memberi hormat.
“Setelah lelang, batu tersebut akan djbuka di tempat, antara mendapatkan harga double atau kehilangan semua modal yang diinvestigasikan.”
“Batu kasar yang kelima dimenangkan oleh no. 3,” seru salah satu penjaga batu.
Tempat itu rupanya sangat ramai pengunjung. Banyak orang-orang kelas atas yang lalu lalang di dalam sana.
Tiba-tiba Tan Zijin mendekati Qinli dan berbisik, ”Hei, kau sudah datang kesini, kau seharusnya membeli batu giok juga untuk Qingyin.”
“Kalau Qingyin suka, aku pasti akan membelinya untuknya.”
Dari panggung utama mulai ramai.
...BARANG LELANG INI ADALAH BATU KASAR KULIT HIJAU ......
Di layar utama terlihat jelas batu yang akan dilelang. Hampir semua pengunjung berpusat disana untuk mengikuti lelang.
112 JUTA RUPIAH
225 JUTA RUPIAH
Teriak orang-orang yang melakukan penawaran.
“Wah, kelihatannya lumayan cepat buat penawaran!”
Tan Zijin dan Qingyin juga masuk dalam kerumunan tersebut.
“Qingyin, lihat batu ini ...” seru Tan Zijin
Sedangkan Qinli malah mengantuk, “Hoam...”
Tiba-tiba saja matanya terlihat tertarik pada sebuah batu diantara batu kasar lainnya. Batu itu begitu menarik meskipun berada diantara batu yang berada di sebuah kotak yang bertuliskan “AREA SISA MATERIAL.”
“Aura ini ternyata beresonasi dengan kekuatan yang ada di tubuhku,” seru Qinli sambil meletakkan tangannya di atas sebuah batu.
Sedangkan di podium utama masih berlangsung pelelangan batu giok tadi.
112 JUTA RUPIAH 1 KALI
112 JUTA RUPIAH 2 KALI
“564 JUTA RUPIAH !” ucap salah satu penawar.
“Qingyin, kau bilang saja mau batu ini, kita lihat apakah Qinli benar-benar membohongimu atau tidak!” ucap Tan Zijin mencoba mempengaruhi Qingyin.
“Kalau lelaki ini berani membohongimu, Hng ... hng .. aku akan-
“Membunuh Qinli,” ucap Tan Zijin dalam hati.
“Fiuh, tenang sedikit, Zijin.”
Lalu mereka mulai menengok ke sebelah kanan, dan ternyata Qinli tidak ada disana.
“Eh, kemana Qinli?”
Sedangkan di tempat lain.
“Bagaimana membeli batu kasar giok ini?” tanya Qinli.
“Ini adalah potongan batu kecil yang sudah disortir, satu potongnya dua ratus dua puluh lima ribu, biasanya orang-orang membelinya untuk dijadikan mainan.”
“Kebetulan aku punya uang kecil, dua potong ini, aku ...”
Merogoh ... “Aku beli...”
“Tolong potong satu potongan untukku sekarang,” pinta Qinli.
“Ternyata dia ke area sisa material,” teriak Tan Zijin dari arah belakang Qinli.
“Qingyin, aku berani simpulkan, Qinli ini adalah seorang pecundang! Seorang pembohong!”
“Masih berani bilang mau membuka toko obat China, dia pasti membohongimu.”
Sedangkan Qingyin diam tak bergeming.
“Qinli! Ternyata kau mengeluarkan ratusan yuan untuk membeli batu tidak bernilai ini untuk menipu Qing ...”
TERJUAL!
Teriak salah satu petugas stan jaga saat memotong batu yang dibeli Qinli.
FULL HIJAU! Teriaknya sekali lagi.
Hal itu sontak saja membuat perhatian sebagian pengunjung mengarah ke arah Qinli. Mereka mulai mendekati stan area sisa material untuk melihat batu yang dibeli Qinli.
“Ya ampun, ternyata giok full hijau jenis es!”
“Ini adalah yang terbaik dari yang terbaik!” ucap yang lainnya.
Sedangkan lainnya mengabadikannya dalam sebuah foto.
CEKLEK ... CEKLEK ...
“Ternyata batu ini dipotong di area sisa material?”
“Apa!!”
Lalu dari arah belakang muncul orang yang mau memborong batu-batu sisa material tadi.
“Aku mau semua ini!”
“Omong kosong! Aku duluan yang membayarnya!”
Hingga terjadilah perebutan disana.
“Jangan rebut batuku!” Seru yang lainnya.
Berbeda lagi dengan Qinli yang diperebutkan oleh para pemburu batu giok.
“Kakak tampan, batu ini kau jual padaku enam ratus tujuh puluh lima juta ya, akan ada hadiah kembali juga,” ucap salah satu wanita dari arah kanan Qinli.
Sedangkan dari sisi kanan, seorang bapak menawarnya dengan harga satu milyar.
“Aku tawar satu milyar, paman juga ada hadiah kembali.”
Dari arah belakang dan samping kanannya bahkan ada yang berani menawar dengan harga lebih mahal.
SATU KOMA DELAPAN MILYAR
DUA KOMA TIGA MILYAR
Sedangkan ayah Tan Zijin dari arah depan menawarnya dengan harga tertinggi.
“SEBELAS MILYAR!”
“Siapa itu?”
“Batu ini setidaknya bernilai sebelas milyar.”
"Ini adalah bos industri giok Yangcheng dipanggil Tuan Tan!”
Ia pun mulai mendekati Qinli.
“Bocah, bagaimana kalau kau menjual batu ini untukku sebesar lima juta yuan!”
Kini di depan Qinli sudah ada Ayah Tan Zijin, namanya Tuan Tan, seorang direktur perhiasan Tanji Yangcheng.
“Ini aku membelikannya untuk Qingyin, anda boleh tanya dia?” Ucap Qinli santai.
“Wah, aku juga pertama kali melihat barang berkualitas tinggi ini ayah, kau rela mengeluarkan uang banyak demi batu ini.”
Qingyin sempat terdiam, lalu ia pun mengambil keputusan.
“Giok bagus harus diberikan kepada orang mengerti giok, Paman Tan adalah Raja Giok Yangcheng, suatu kehormatan besar bagiku kalau Anda menyukainya,” ucap Qingyin.
“Ha ... Ha ... Ha ... Qingyin sangat pintar berbicara! Nanti aku akan meminta bendahara untuk memberikan chek untukmu!” ucap Tuan Tang.
“Selain itu, anak muda, bisakah kau membantuku melihat batu yang baru saja aku beli dari pelelangan?” ucap Tuan Tang sambil menyerahkan batu gioknya.
“Wah! warna hijaunya sangat kelihatan!” seru orang-orang dibelakang.
“Emm ... ini hanya batu giok biasa, tidak ada yang spesial,” ucap Qinli dengan raut wajah biasa.
“Qinli, barang lelang disini dipilih dengan sangat teliti. Ditambah lagi dia adalah Tuan Tan, bagaimana mungkin dia salah dalam menilai,” ucap Qingyin tidak terima.
BENAR
APA DIA BUTA?
BUTA!
(Ucap orang-orang dibelakang Qingyin)
“Ha ha ha, kita baru bisa tahu ada tidaknya giok di dalam batu ini dengan memotongnya,” ucap Tuan Tan kemudian menaruh batu gioknya pada salah satu petugas.
BOCAH INI PASTI SALAH MENILAI
Ahirnya Tan Zijin maju dan angkat bicara.
“Hng, pertama kali judi batu dan taruhan meningkat, karena kau beruntung hari ini.”
“Beraninya kau membuat pernyataan yang tidak bertanggung jawab pada batu yang disukai oleh ayahku, lihat saja bagaimana kau akan berdalih!”
“Warnanya hijau! Aduh, sayang sekali semuanya cacat, tidak bernilai satu sen pun.” Seru salah satu petugas.
“Ba-bagaimana mungkin? Ayah, kau dari dulu tidak pernah salah menilai!” Ucap Tan Zijin terperanjat.
“Puft, ha ha ha!! Ternyata aku salah lihat, Tanji kekurangan orang yang ahli (penilai) di bidang batu giok, kalau kau tertarik kau bisa mencobanya,” ucap Tuan Tan sambil menjabat tangan Qinli.
“Tuan Tan, aku ....” Qinli pun merasa tidak enak hati
“Kau tidak perlu terburu-buru menjawabnya, pertimbangkan dulu, tunggu kedatanganmu selanjutnya baru berikan aku jawabannya, hahahaha!”
Tuan Tan pun pergi meninggalkan Qinli bersama putrinya Tan Zijin.
“Ayah, apa kau benar-benar sudah salah menilai?”
“Ho ho ... coba tebak,-
SYUSHH ...
Qingyin dan Qinli ahirnya pulang ke rumah dengan menggunakan mobil. Di tengah perjalanannya Qingyin bertanya pada suaminya.
“Sejak kapan kau bisa judi batu?”
Tanpa melihat istrinya Qinli menyerahkan 2 lembar chek uang tadi pada Qingyin.
“Aku mempelajarinya dari buku, tidak sulit, kalau kau ingin belajar, aku bisa mengajarimu.”
PLAK!
Qingyin menolak pemberian Qinli dengan amarah.
“Qinli, apa dari dulu kau sudah membohongiku?”
“Apa?”
“Kenapa kau berpura-pura menjadi bisu, menjadi orang cacat?!”
Qinli terdiam.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 291 Episodes
Comments
Supriadi
lanjut
2024-05-11
0
JOE NATHAN ALFARYZy
next next next next
💛💛💛💛💛💛💛
2023-01-30
1
JOE NATHAN ALFARYZy
next next next next
💚💚💚💚💚💚💚
2023-01-30
1