“Kalau aku bisa menyelamatkan orangtua ini, maka kau harus minta maaf padaku!”
“Tetapi jika aku tidak bisa menyelamatkannya, maka kau boleh menganggapku sebagai penipu dan memasukanku ke dalam penjara!” Ucap Qinli dengan tegas.
Bukannya membaik, keadaan semakin memanas. Acheng menggertak Qinli sambil menunjuk-nunjuk wajah Qinli.
“Memangnya kau siapa? Cepat pergi dari sini!” usirnya dengan sorot mata yang memancarkan amarah.
“Cukup! Tuan Qin, lebih baik kau tinggalkan tempat ini,” ucap Nona Liu mencoba mencairkan ketegangan yang terjadi.
Qinli mulai berbalik arah dan hendak pergi, tetapi sebelum pergi ia sempat berkata,” Baik, aku akan pergi.”
“Tapi aku berani jamin, kalian akan menyesal,” ucapnya sedikit mengancam.
Ia pun benar-benar melangkah keluar. Sayangnya di depan kamar ada Qingyin yang diam-diam mengikuti kepergiannya tadi.
“Apa kau puas? Sudah mempermalukan dirimu sendiri?” Sapanya dengan nada mengejek.
“Cepat pulang ke rumah, jangan membuat malu disini!”
Terdengar bunyi suara monitor di sebelah brankar pasien yang berbunyi dengan sangat keras.
BIIIPPPP!!
“Suara apa itu tadi?” tanya Qinli dalam hatinya.
Di dalam ruangan.
BIP ... BIPP ... BIPPP ....
Suara monitor itu terus berbunyi, sedang yang lainnya panik karena tiba-tiba pasien kejang-kejang.
“Ada apa dengan ayahku? Kenapa dia terus kejang-kejang,” ucap Azheng sangat panik.
Sedangkan dokter Miji sama halnya dengan Azheng, sama-sama panik dan tidak tau harus berbuat apa.
“I-ini ...”
Keringat dingin mengucur di kening dokter Miji.
“Cepat, bawa alat pacu jantung kesini!”
BIPPPP_____________
Suara lengkingan monitor itu berbunyi semakin nyaring ...
“Huh, aku juga bingung harus berbuat apa,” ucap dokter Miji dalam keputusasaannya.
“Aku turut berduka cita ...” ucapnya kemudian.
“A-apa ...!!”
“Barusan baik-baik saja, kenapa tiba-tiba ...” suara Azheng tercekat dalam tenggorokannya.
“Ayah, aku tidak bisa berbakti. Aku belum sempat membalas budi padamu.”
Azheng pun menangis tersedu-sedu di pinggir brankar. Dirinya benar-benar bersedih untuk apa yang terjadi barusan.
BRAKKK!!!
Pintu kamar rawat itu terbuka dengan tiba-tiba dan muncullah Qinli dari balik pintu.
“Minggir, pasien masih bisa diselamatkan!”
“Ka-kau ...” ucap Azheng terbata.
Qinli mulai mendekati pasien, salah satu tangannya mencengkeram baju pasien bagian dada. Satu tangan lainnya memusatkan energi baik yang ada pada dirinya sambil memfokuskan konsentrasinya.
“Sepuluh tahun yang lalu, ada orang hebat yang mengajariku ilmu tenaga dalam dan pengetahuan mengenai ilmu kedokteran.”
SYUT .... hanya suara angin terdengar lirih mengelilingi tubuh Qinli.
“Apa aku salah lihat, tubuh anak ini sepertinya memancarkan energi yang kuat,” gumam Azheng dengan sorot mata yang tak beralih dari Qinli.
Qinli mulai mengeluarkan jarum akupuntur miliknya dan mengarahkan pada tubuh pasien.
“Walaupun membuatku tidak bisa berbicara dalam sepuluh tahun, tapi jika hari ini bisa menggunakan ilmu ini untuk menyelamatkan satu orang, satu nyawa.”
“Sepuluh tahun kesabaran bukanlah apa-apa.”
Satu jarum terakhir sudah tertancap dengan sempurna di leher pasien. Sedangkan beberapa jarum lainnya sudah tertancap di atas dada pasien. Keajaiban ahirnya terjadi.
“Uhukkk ...” pasien terbatuk dan memancarkan cairan hitam dari mulutnya.
“Ayaah ...” ucap Azheng takjub.
“Paman ...”
“Huft ... ahirnya ...”
“Untung saja tepat pada waktunya,” ucap Qinli lega.
“Bagaimana mungkin ...” ucap dokter Miji dengan raut wajah pias.
“Huh ...” pasien ahirnya terduduk di dashboard brankar rumah sakit.
“Ayah, ahirnya ayah siuman juga,” ucap Azheng senang.
“Paman, untung saja paman sudah siuman, paman benar-benar membuatku takut,” seru Nona Liu yang ikut menimpali.
“Maaf telah membuat kalian khawatir,” ucap pasien itu sambil tersenyum ke arah putra dan keponakannya.
Qinli ahirnya tersenyum lalu melangkah pergi. Belum sempat ia keluar ruangan, Azheng sudah berlutut meminta maaf kepadanya.
“Tuan Qin!”
“Ah ...” ia menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya.
Ternyata Azheng masih dalam posisi berlutut.
“Tuan Qin, aku telah salah menilai kebaikanmu, dan barusan aku mempermalukanmu seperti itu, tetapi kau masih ...”
Qinli yang tidak tega membantu Azheng untuk berdiri.
“Pak Walikota Liu, aku taruhan denganmu untuk menyelamatkan orang, tolong Anda jangan keberatan!”
“Kondisi orangtua itu sudah stabil, kedepannya, harus menjaga kesehatannya agar cepat sembuh.”
Tiba-tiba Nona Liu sudah bergabung dengannya.
“Dokter hebat Qin, aku benar-benar minta maaf untuk masalah hari ini.”
“Selain itu, tolong beritau nomor rekening Anda, aku akan mentransfer uang satu milyar kepadamu,” ucap Nona Liu dengan bahagia.
“Tidak apa-apa, nomor rekening akan aku berikan padamu nanti,” ucap Qinli.
Setelah itu Qinli benar-benar keluar dari kamar pasien.
“Hebat sekali, Dokter Hebat Qin!” puji Qingyin memuji setengah mengejeknya.
Ternyata ia bersembunyi dibalik tembok sambil menunggu suaminya itu. Qinli terdiam sekaligus kaget karena ternyata istrinya masih menunggunya.
“Kebetulan hari ini kau beruntung, kedepannya jangan membuat masalah sesuka hatimu seperti ini lagi,” ucap Qingyin sambil bersedekap dada.
“Apa segitu buruknya kesan dia terhadapku,” ucap Qinli dengan wajah kecewa.
Sedangkan di sudut lain, ada Minghao yang sedari tadi terus mengawasi interaksi Qingyin pada suaminya.
Sungguh ia tidak rela melihat hal itu, bahkan ia pun mengumpat kesal, ”Dasar anak si-alan!”
Ahirnya malam itu, Qingyin pulang bersama suaminya. Di dalam rumah keluarga Chu ternyata ibu dan ayahnya sudah menunggu mereka.
“Qingyin sayang, masalah hari ini tidak membuatku takut, bukan?” ucap Hanying ketika melihat putrinya masuk rumah.
“Kau benar-benar membuatku takut setengah mati!”
“Ibu, sudah tidak apa-apa, masalah tadi sudah selesai,” ucap Qingyin mencoba menenangkan ibunya yang panik.
“Apa yang kau lakukan, berdiri diam disana, cepat kembali dan bereskan kamarmu!” titah Ibu Qingyin ketika melihat menantunya.
“Oh ...” jawab Qinli sedikit malas.
“Ibu, aku sedikit lelah, aku kembali ke kamar untuk istirahat dulu ya,” ucap Qingyin yang jengah akan situasi yang terjadi.
Beberapa waktu kemudian ...
Qinli telah selesai membersihkan rumah, ia pun kembali ke kamarnya.
“Qingyin, pekerjaan rumah sudah selesai aku kerjakan!” lapor Qinli pada istrinya.
“Hah ... glek ....!”
Matanya membola ketika melihat kemolekan tubuh Qingyin yang hanya memakai pakaian tipis dari sutra sedang meliak-liukan tubuhnya di atas ranjang.
Sehingga membuat lekukan-lekukan indah yang ada di tubuhnya tercetak sempurna. Oh, sungguh pemandangan yang membuat matanya kembali sehat, karena saat ini tersuguh secara gamblang di depan mata Qinli kemolekan tubuh istrinya.
“Huh ...” terdengar helaan nafas dari Qingyin.
“Dia sedang latihan yoga, ya,” gumam Qinli sambil berlalu menuju kamar mandi.
“Aku dengar dari Zhisan, dia bilang kau bertindak tidak senonoh di rumah?” tanya Qingyin sambil terus melakukan gerakan-gerakan yoga.
“Pagi ini, setelah aku menjemputnya pulang ke rumah, aku lupa mengunci pintu kamar ketika aku berganti pakaianku.”
“Gadis itu langsung mendorong pintu kamar dan melihatku,” ucap Qinli sambil menutup almari pakaian.
Ia memang barusaja merapikan pakaian. Tetapi ucapan Qingyin barusan membuatnya melirik ke arah istrinya itu.
“Hanya seperti itu?” tanya Qingyin dengan mata terpejam tetapi posenya dalam keadaan menggoda iman.
Sebagai lelaki normal tentu saja ada gelenyer aneh yang menyerang tubuhnya ketika melihat sebuah tombol yang bersembunyi dibalik dua gunung kembar milik istrinya yang hanya dilapisi kain tipis itu.
PLAK!!
Pipi Qinli sudah memerah kini, tetapi ia tetap berusaha untuk menjawab pertanyaan Qingyin.
"Iya hanya seperti itu.”
“Baiklah, aku paham dengan tempramen Zhisan, aku yakin kau juga tidak berani menindasnya,” ucap Qingyin masih dengan gaya yoganya.
“Selain itu, kedepannya kau jangan terlalu menyampuri urusan orang, hari ini kau bisa keluar dengan selamat, hanya karena kau beruntung,” tambahnya lagi ketika melihat suaminya hampir pergi.
Qinli hanya menjawabnya dengan santai, ”Oh ...”
“Oh iya, besok ada pesta keluarga, kau juga ikut ya.”
“Pesta keluarga, baiklah!”
“Huft, lelah sekali,” ucap Qingyin sambil terkapar.
BUGH!! Sebuah suara yang menandakan kalau Qingyin sudah lelah.
“Tapi hari ini ....”
“Aku berterimakasih padamu.”
“Eh ...”
“Qingyin berterimakasih kepadaku.”
Entah ada angin apa, tetapi ucapan barusan membuat hati Qinli menghangat.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
.
.
...Terimakasih sudah membaca karya ini, semoga suka kak, jangan lupa untuk selalu dukung karya ini ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 291 Episodes
Comments
Bedegong atuh ari mang aceng, malah percaya ka dokter micin
2024-07-31
1
Supriadi
mantap
2024-05-11
0
Putri Minwa
ceritanya keren banget
2024-01-15
1