Nadia sudah menjalani sidang atas kesalahannya yang lalai menjaga Adi. Bagaimana pun Adi adalah anak tirinya dan sudah jadi tanggung jawabnya menjaga Adi. Ancaman hukuman lima belas tahun penjara membuat Nadia terpuruk apalagi dia melakukannya dengan sengaja hingga menyebabkan Adi meninggal dunia. Selain itu Nadia harus menerima sanksi sosial yang tak berkesudahan karena ulahnya itu.
Di dalam sel tahanan Nadia nampak menjaga jarak dengan tahanan wanita lainnya. Hal itu membuat ‘penghuni senior’ di sel tahanan itu tersinggung dan mulai menekan Nadia. Mereka tak segan menyuruh Nadia melakukan sesuatu yang membuat Nadia kesal. Nadia terpaksa menuruti semua perintah seniornya itu jika tak mau dipukuli.
Seperti malam ini Nadia baru saja selesai memijit para seniornya yang berjumlah empat orang itu hingga mereka
tertidur. Karena kelelahan Nadia pun bersandar di dinding sambil memejamkan matanya. Nadia mengusap perutnya yang terasa kram sejak sore tadi. Rasanya sangat sakit dan makin sakit saat ia diminta memijit empat wanita berbadan besar yang tinggal satu sel dengannya tadi.
Karena tak tahan dengan rasa sakit yang ia rasakan, Nadia pun menangis hingga menarik perhatian sipir penjara yang kebetulan melintas di depan sel tahanan.
“ Kenapa nangis, ingat Anak atau Suami...?” tanya sipir penjara dengan sinis.
“ Pe, perut Saya sakit Bu...,” sahut Nadia lirih sambil mendongakkan kepalanya.
Sipir penjara wanita yang bernama Suharti itu terkejut saat melihat wajah pucat Nadia. Bergegas ia membuka pintu
sel tahanan dan membantu Nadia keluar lalu membawanya ke klinik yang ada di dalam lingkungan penjara itu.
Saat di klinik Nadia terlihat shock mendengar analisa dokter hingga kembali menangis. Sang dokter menyatakan
jika kram di perut Nadia adalah pertanda dirinya mengalami gangguan dalam kehamilan.
“ Saya hamil dok...?” tanya Nadia dengan suara bergetar.
“ Betul. Dan keliatannya kehamilanmu bermasalah. Saya kurang tau apa masalahnya karena peralatan di sini
kurang lengkap. Saya akan buatkan surat rujukan supaya Kamu bisa menjalani pemeriksaan lanjutan di Rumah Sakit nanti...,” sahut sang dokter.
“ Berapa usia kehamilan Saya dok...?” tanya Nadia lagi.
“ Usianya hampir delapan minggu...,” sahut sang dokter.
“ Apa bayi ini bisa diaborsi dok...?” tanya Nadia hati-hati.
“ Kenapa harus diaborsi. Jangan bilang itu bukan Anak Suamimu tapi Anak selingkuhanmu...," kata sang dokter dengan sinis.
" Bukan gitu dok. Saya hanya ga mau Anak ini tumbuh dan besar di penjara nanti. Apalagi Saya dan Suami Saya sedang dalam proses cerai...," sahut Nadia salah tingkah.
" Apa pun itu Saya ga peduli. Hargai lah karunia yang Allah berikan untukmu. Jangan membuangnya hanya karena keegoisanmu. Di luar sana masih banyak pasangan Suami Istri yang menginginkan keturunan tapi tak juga diberikan oleh Allah. Mungkin Allah mengirimnya agar Kamu bisa menebus dosamu di masa lalu melalui bayi yang tak berdosa ini...,” sahut sang dokter dengan tegas.
Mendengar jawaban sang dokter membuat Nadia kesal. Ia mengepalkan tangannya karena gagal membuang bayinya. Nadia sangat membenci anak kecil. Itu lah salah satu sebabnya mengapa ia ‘menyingkirkan’ Adi.
Setelah meminum obat yang diberikan dokter, Nadia pun diperbolehkan tidur di klinik itu. Nadia memejamkan matanya yang mulai mengantuk akibat pengaruh obat. Tak lama kemudian Nadia pun terlelap.
Di dalam tidurnya Nadia merasakan ada sesuatu yang merayap di atas perutnya. Semula Nadia mengira itu hanya
mimpi. Namun sesuatu yang merayap itu mulai menepuk-nepuk perut Nadia. Bukan menepuk tapi memukul lebih tepatnya. Karena Nadia kembali merasakan sakit sekaligus perih di permukaan kulit perutnya. Nadia berusaha membuka matanya yang terasa lengket dan sulit terbuka akibat pengaruh obat yang diminumnya tadi.
Saat matanya berhasil terbuka, Nadia melihat sosok anak kecil sedang berjongkok di atas perutnya. Tubuhnya seukuran bayi namun wajahnya terlihat tua dan menyeramkan. Dengan kulit yang keriput, kepala besar, telinga yang mencuat ke atas. Nadia melihat jika jari tangan dan jari kaki bayi itu terlihat lebih panjang dari ukuran seharusnya. Dengan kuku runcingnya yang berwarna hitam sang bayi nampak tengah memukul dan mengoyak kulit perut Nadia seolah ingin mengambil sesuatu dari dalam sana.
“ Siapa Kau, per..., pergi...,” kata Nadia dengan suara bergetar hingga membuat makhluk itu menghentikan gerakannya lalu mendongakkan wajahnya menatap Nadia.
Makhluk itu nampak menyeringai memperlihatkan deretan gigi taringnya. Kemudian bayi siluman itu melompat cepat kearah Nadia dan memeluk kepalanya dengan erat. Nadia merasa sesak tak bisa bernafas saat sang bayi menutupi wajahnya dengan tubuh mungilnya itu.
“ Hhmmppft. Le.., lepaskan...!” jerit Nadia sambil bangun dari posisi tidurnya dan menyentak tubuh sang bayi dengan kasar lalu melemparnya ke lantai.
Terdengar suara berdebum yang sangat keras hingga mengejutkan dokter dan perawat di klinik itu. Mereka melongok kearah kamar rawat Nadia untuk memastikan benda apa yang menimbulkan suara asing tadi. Nadia menunjuk kearah bayi siluman yang terkapar di dekat pintu itu dengan tangan gemetar berharap sang dokter atau perawat akan membantunya. Namun dokter dan perawat nampak acuh seolah tak melihat apa pun. Bukan karena tak ingin membantu, tapi mereka memang tak melihat apa pun di sana. Sesaat kemudian mereka kembali ke tempat semula sambil melanjutkan perbincangan yang terhenti tadi.
Nadia nampak bingung dan ketakutan. Apalagi saat sang bayi bangkit dan melangkah kearahnya. Lalu sang bayi melompat kearah Nadia sambil tersenyum penuh makna. Nadia tak lagi bisa bersuara saat melihat ekor sang bayi terlihat bergerak liar di belakang tubuhnya.
“ Apa maumu...?” tanya Nadia dengan mata membelalak.
“ Aku mau dia, berikan padaku...,” sahut bayi siluman itu sambil menunjuk kerah perut Nadia dan mulai menggoresnya perlahan dengan ujung kukunya.
Nadia meringis saat merasakan goresan di perutnya. Ia menggelengkan kepalanya saat menyadari apa yang diinginkan oleh bayi siluman itu. Meski pun Nadia sempat menolak bayinya tadi, namun naluri keibuannya muncul saat bayi siluman itu berniat mencelakai janin dalam rahimnya itu.
“ Jangan...,” kata Nadia lirih dan mulai menangis.
“ Jangan ?. Bukan kah Kau tak meginginkannya. Berikan dia padaku...!” kata bayi siluman itu sambil mendekatkan wajahnya tepat di hadapan wajah Nadia hingga membuat Nadia terpana.
Sambil menatap kedua mata Nadia, jari tangan bayi siluman itu mulai membuat sayatan di permukaan perut Nadia dengan ujung kukunya. Berawal dari bawah dada lalu lurus ke bawah melewati pusar terus ke bawah dan berhenti tepat di atas area int*m Nadia. Bersamaan dengan itu darah nampak merembes keluar dari luka sayatan itu.
Nadia hanya bisa menangis saat merasakan perutnya terkoyak dan berdarah. Nadia nampak membelalakkan matanya saat tangan bayi siluman itu masuk ke dalam perutnya yang terkoyak tadi lalu menyentuh janinnya yang masih berupa gumpalan darah itu. Bayi jadi-jadian itu nampak tersenyum puas saat tangannya berhasil mencengkram janin Nadia lalu merenggutnya dengan kuat dan tanpa belas kasihan. Nadia menjerit sekuat-kuatnya
lalu jatuh pingsan.
Bayi siluman itu nampak tertawa puas di atas tubuh Nadia sambil menggenggam gumpalan janin Nadia yang berhasil direnggutnya tadi. Bayi siluman itu menoleh kearah pintu saat mendengar banyak langkah kaki yang mendekat kearahnya. Sesaat kemudian bayi siluman itu lenyap meninggalkan Nadia yang terkapar begitu saja.
Sedangkan sang dokter dan perawat berlari cepat mendatangi Nadia saat mendengar jeritan Nadia. Saat tiba di dalam kamar mereka melihat Nadia terkapar pingsan di atas tempat tidur dengan tubuh bersimbah darah.
“ Darah apa ini dok...?” tanya sang perawat kebingungan.
“ Saya ga tau Sus. Ga ada luka apa pun di tubuh pasien, tapi kenapa banyak darah di sini...,” sahut sang dokter sambil mengecek kondisi Nadia dengan teliti.
“ Jangan-jangan pasien ini keguguran dok...,” kata sang perawat.
“ Ga mungkin Sus. Ga ada darah di daerah int*mnya, malah area itu kering ga ada apa pun.Tapi gapapa, biarkan pasien istirahat dan tolong bersihkan darahnya ya Sus...,” kata sang dokter.
“ Baik dok...,” sahut sang perawat.
Lalu sang dokter pun meninggalkan ruangan rawat Nadia dengan kepala dipenuhi banyak pertanyaan.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 376 Episodes
Comments
Aya Vivemyangel
benerr seremm 😳
2022-06-16
3
Fitriya Kasmawati
serem,,,,😬😬😬
2021-12-19
1
Siti komalasari
asalnya bagaimana Thor?apa emang bayi siluman apa calon anak Arya yang jadi korban???kasihan Nadia ....ku selalu menunggu sambungan cerita nya thor
2021-12-19
1