Anom menjalani sidang atas kejahatannya membunuh anak kandungnya Rafi dan menelantarkan Marlia yang masih berrstatus istrinya. Saat sidang perdana, Ria dan kedua anaknya turut hadir untuk memberi suport kepada Anom. Meski pun Anom bisu, namun tak menghalangi jalannya sidang karena Anom masih bisa mendengar dan menjawab pertanyaan dengan cara menulisnya di selembar kertas.
Namun saat jaksa membacakan riwayat hidup Marlia, wanita yang diakui Anom sebagai kakaknya itu, Ria dan kedua anaknya pun terkejut. Marlia yang duduk di barisan kursi paling belakang nampak menundukkan wajahnya saat mendengar namanya disebut. Bagi Marlia, statusnya sebagai istri Anom tak lagi penting. Marlia hadir hanya demi Rafi, anak semata wayangnya yang dibunuh oleh Anom. Namun kedua anak Ria nampak tak
bisa menerima kenyataan jika mama mereka menikahi suami orang alias telah menjadi pelakor.
“ Apa, jadi Tante Marlia itu Istrinya Papa Ma...?!” tanya Intan tak percaya.
“ Mama ga tau Kak, Mama juga baru tau sekarang...,” sahut Ria dengan mata berkaca-kaca.
“ Jadi Papa itu Suami orang saat Mama menikahinya...,” kata Isha tak suka.
Wajah Ria nampak memucat mendengar komentar anak bungsunya. Karena tak sanggup menerima kenyataan jika ia telah dibohongi selama belasan tahun, Ria pun meninggalkan ruang sidang dengan membawa rasa malu. Ria bahkan mengabaikan panggilan kedua anaknya yang jauh tertinggal di belakang.
Setelah tiba di rumah, Ria langsung mengunci diri di kamar. Ia menangis dan memaki Anom yang telah menipunya selama ini.
“ Sia*an. Membusuk lah di penjara Anom. Kau telah menipuku selama belasan tahun. Membiarkanku tinggal serumah dengan maduku. Dasar baji**an...!” jerit Ria sambil mengeluarkan semua pakaian milik Anom yang tersimpan di lemari pakaian dan melemparnya ke lantai.
Intan dan Isha datang lalu mencoba menghibur sang mama. Keduanya terus mengetuk pintu agar Ria mau keluar dari kamar. Ria tak mempedulikan panggilan kedua anaknya dan terus menjerit histeris menumpahkan segala kekesalannya. Hingga saat suara sang mama tak terdengar lagi, Intan dan Isha pun panik dan meminta bantuan tetangga untuk mendobrak pintu kamar sang mama.
“ Mama...!” panggil Intan dan Isha saat melihat Ria terkapar pingsan di lantai kamar.
“ Sebaiknya Bu RT dibawa ke Rumah Sakit aja Mbak...,” saran warga.
“ Iya betul. Saya khawatir Bu RT ngamuk lagi nanti dan itu bahaya kalo ga cepat ditangani...,” sahut warga lainnya.
Intan dan Isha saling menatap sejenak lalu mengangguk pertanda setuju dengan saran warga tadi.
\=====
Setelah menjalani sidang yang panjang, vonis pun dijatuhkan. Anom harus menjalani hukuman tujuh belas tahun
penjara di Lembaga Pemasyarakatan Jakarta karena telah membunuh Rafi dan menyekap Marlia. Selain itu Anom pun harus menerima kenyataan jika dia tak bisa lagi bicara alias bisu.
“ Itu adalah teguran dari Allah karena dia terlalu banyak berbohong pada banyak orang terutama wanita-wanita yang telah ia nodai. Mengatakan jika dia akan bertanggung jawab dan menikahi mereka. Bahkan ia tak mau mengakui Marlia sebagai Istrinya di depan banyak orang selama belasan tahun...,” kata Fatur saat Heru bertanya padanya mengapa Anom mendadak bisu.
“ Harusnya dia talak saja Bu Marlia, bukan malah mengikatnya dengan status tapi mengabaikan haknya...,” sahut Heru kesal.
“ Itu karena dia serakah dan berharap warisan Papinya Bu Marlia jatuh ke tangannya. Tapi akibat keserakahannya
itu malah menuntunnya ke bui...,” kata Faiq sambil tersenyum sinis.
“ Jadi Bu Marlia bakal tinggal selamanya di panti sosial ini Her...?” tanya Fatur.
“ Kayanya sih gitu Om. Karena ga punya keluarga dan ga punya tempat tinggal, Bu Marlia bisa tinggal di sana sekalian bantuin petugas panti mengurus Anak-anak terlantar...,” sahut Heru.
“ Apa orangtuanya ga bisa dilacak Iq...?” tanya Fatur.
“ Sulit Om. Papinya Bu Marlia itu pergi gitu aja tanpa ninggalin pesan atau petunjuk apa pun. Keliatannya Beliau kecewa banget sama Bu Marlia dan memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Kalo ketemu juga Beliau ga bakal mau peduli karena baginya Bu Marlia bukan lagi Anaknya...,” sahut Faiq sambil menatap Marlia dan hantu Rafi.
Rupanya hantu Rafi tengah berpamitan pada sang mama. Sebelumnya Faiq, Fatur dan Heru sengaja mengantar
Marlia ke panti sosial bersama hantu Rafi. Saat itu wajah Marlia nampak basah bersimbah air mata. Berkali-kali Marlia memohon agar Faiq membantunya menahan hantu Rafi lebih lama lagi.
“ Mama ga mau sendirian, Rafi jangan pergi ya Sayang. Mas Faiq, tolong bantu Aku...,” kata Marlia di sela isak tangisnya.
“ Maaf Bu Marlia. Rafi bakal kesakitan kalo Ibu menahannya kaya gitu. Kalo Ibu sayang sama Rafi, ikhlaskan dia agar bisa pergi dengan tenang...,” sahut Faiq.
Marlia tersentak mendengar ucapan Faiq. Dengan berat hati ia melepaskan pelukannya pada Rafi, menciumi wajahnya sekali lagi lalu mengangguk dan tersenyum.
“ Pergi lah Nak, pergi lah Sayang. Terima kasih karena udah jadi Anak yang hebat untuk Mama...,” kata Marlia lirih.
“ Ok Mama, Lafi juga senang jadi Anak Mama. Jangan lupa senyum dan doain Lafi ya Ma. Lafi tunggu Mama di sana, daahh Mama...,” kata Rafi sambil melambaikan tangannya.
Marlia pun tersenyum sambil membalas lambaian tangan Rafi yang perlahan melayang ke atas menuju cahaya putih yang menjemputnya. Sesaat kemudian Marlia menoleh kearah Faiq.
“ Makasih ya Mas Faiq, maaf kalo permintaan Saya ga masuk akal tadi...,” kata Marlia malu.
“ Gapapa Bu, Saya maklum kok. Ibu mana yang mau pisah sama Anaknya dengan cara seperti ini...,” sahut Faiq.
“ Iya, Mas Faiq betul. Tapi Saya lega karena Rafi udah ga kesakitan lagi. Sekarang Saya hanya tinggal menunggu
maut menjemput Saya supaya Saya bisa ketemu lagi sama Rafi. Sambil menunggu waktu itu tiba, Saya bisa bantu mengurus Anak-anak terlantar di panti. Sekali lagi makasih ya Mas Faiq, Mas Heru dan Pak Fatur...,” kata Marlia sambil tersenyum.
“ Sama-sama Bu Marlia...,” sahut Faiq, Heru dan Fatur bersamaan.
Setelah mengucapkan terima kasihnya Marlia masuk ke dalam panti sosial dan disambut oleh pelukan hangat anak-anak terlantar yang ada di dalam panti. Wajah Marlia terlihat berbinar bahagia, demikian pula Faiq, Fatur dan Heru.
\=====
Siang itu Heru yang kebetulan melintas di depan sekolah Hanako pun mampir menjemput Hanako dan Efliya. Karena merasa lapar, Heru memutuskan mampir di sebuah rumah makan yang ada di tepi jalan raya. Rumah makan itu terlihat ramai karena mendekati jam makan siang.
“ Kita makan di sini ya Bun...,” kata Heru sambil menepikan mobil.
“ Ok Yah. Kita turun yuk Nak...,” ajak Efliya sambil menggamit tangan Hanako.
“ Mmm, Aku ga mau Bun. Aku di sini aja...,” sahut Hanako sambil menggelengkan kepalanya.
“ Emangnya kenapa, jangan bilang kalo di sini ada hantu ya Nak...,” kata Efliya asal.
“ Emang ada kok Bun...,” sahut Hanako cepat.
“ Masa sih. Tapi ini kan masih siang Nak, terang juga...,” kata Efliya gusar.
“ Tapi Aku emang liat hantu di sana Bun...,” sahut Hanako sambil menunjuk kearah bagian dalam rumah makan.
Mendengar ucapan Hanako membuat Heru dan Efliya saling menatap sejenak lalu mengurungkan niat mereka mampir di rumah makan itu. Mereka menduga jika Hanako melihat penampakan hantu yang sering digunakan sebagai penglaris dagangan di rumah makan semacam itu.
Tak ingin menanggung resiko, Heru pun memilih melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Walau terlihat santai, namun dalam benaknya dipenuhi pertanyaan tentang sosok hantu yang dilihat Hanako tadi.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 376 Episodes
Comments
Nurjanah Tamim
pasti tuh hantu lagi bikin bumbu pake iler nya..
hiek hoek.hoek....ngebayangin nya ge enek aku..apa lagi liat kali ya
2022-03-02
1
💎hart👑
👍👍👍👍🤗
2021-12-12
0
Anak Sulung
👍👍👍❤❤❤
2021-12-12
0