Setelah memberi ultimatum pada sosok makhluk ghaib berwujud siluman buaya itu, Faiq pun terlihat tenang. Kini
ia bisa lebih fokus mengurus ketiga bocah istimewa itu dan mengawasi perkembangan mereka. Karena Faiq tak ingin interaksi dini antara ketiga bocah cilik itu dengan makhluk tak kasat mata justru bisa melukai ketiga anak itu.
Seperti hari ini Faiq dan keluarganya bersiap untuk kembali ke Jakarta. Saat sedang membantu istrinya berkemas, tiba-tiba tangisan Izar terdengar dan mengejutkannya. Faiq bergegas berlari keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi. Ia ingat telah menitipkan si kembar pada orangtuanya tadi. Namun Faiq nampak mematung di depan pintu
kamar saat melihat Izar tengah lelap di gendongan sang mama. Sedangkan Iyaz nampak sedang melihat ikan yang ada di kolam ikan bersama Erik.
“ Kenapa Bang...?” tanya Farah.
“ Gapapa Ma. Aku kirain Izar nangis tadi. Soalnya suaranya kedengeran sampe kamar...,” sahut Faiq.
“ Ga ada yang nangis kok. Kamu salah dengar kali. Izar bobo sama Mama nih, kalo Iyaz lagi main sama Papa di
samping...,” kata Farah santai.
“ Iya Ma. Kalo gitu Aku lanjutin berkemas dulu ya Ma...,” kata Faiq sambil membalikkan tubuhnya dan kembali ke
kamar.
Saat ia kembali ke kamar ternyata Shera telah selesai berkemas. Shera juga nampak bersiap untuk mandi. Shera
mengerutkan keningnya saat melihat Faiq yang gelisah.
“ Ada apa Yah, kok kaya orang bingung gitu...?” tanya Shera.
“ Gapapa, tapi Bunda tau kan kalo barusan Aku buru-buru keluar kamar...?” tanya Faiq.
“ Iya tau, terus kenapa emangnya...?” tanya Shera tak mengerti.
“ Itu karena Aku dengar tangisan Izar tadi. Tapi pas Aku keluar, Aku malah ngeliat Izar lagi tidur di gendongan
Mama sedangkan Iyaz main sama Papa. Kamu tau kan apa maksudku...?” tanya Faiq gusar.
“ Maksud Kamu, Kamu dengar suara tangisan yang mirip sama suaranya Izar...?” tanya Shera panik.
“ Iya Bun...,” sahut Faiq cepat.
“ Ya Allah, apa harus sekarang Yah. Kasian mereka...,” kata Shera dengan mata berkaca-kaca.
Fatur yang kebetulan melintas di depan kamar yang ditempati Faiq dan keluarga kecilnya itu pun nampak
menghentikan langkahnya. Ia mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh Faiq dan Shera.
“ Kita ga bisa menentang takdir Sher. Jalanin aja. Tapi Kamu ga perlu khawatir, insya Allah Om bakal bantuin Faiq...,” kata Fatur menenangkan Shera.
“ Om Fatur...,” panggil Faiq dan Shera bersamaan sambil menoleh kearah Fatur.
“ Jadi Om juga dengar suara itu kan...?” tanya Faiq.
“ Iya. Dan itu bukan suara Izar. Itu suara makhluk yang tempo hari diliat Anak-anak di pantai. Dia sengaja bersuara kaya gitu untuk menandai jika ia akan mengikuti Izar mulai hari ini...,” sahut Fatur.
“ Mengikuti, maksud Om kaya Dayang sama Aku gitu...?” tanya Faiq.
“ Betul Iq. Bukannya Dayang juga ga mau pergi meski pun Kamu berkali-kali berusaha mengusirnya...?” tanya Fatur
mengingatkan Faiq.
“ Iya sih Om. Tapi kalo penampakan Dayang kan ga serem. Beda sama makhluk yang nyerupain suaranya Izar...,” sahut Faiq.
“ Kamu benar Iq. Tapi Kita ga bisa nilai dia dari luarnya aja kan, mungkin makhluk itu punya sisi baik. Daripada cemas, ga ada salahnya Kamu selidiki dulu latar belakangnya ..,” kata Fatur sambil menepuk pundak Faiq.
“ Aku setuju Om. Aku ga mau kehadirannya malah bikin Izar ketakutan dan sakit nanti. Maklum lah, penampilannya itu bikin Anak kecil sawan kalo ngeliat dia...,” kata Faiq.
“ Ide yang bagus. Gapapa kok kalo Kamu mau nemuin dia dulu sebelum Kita balik ke Jakarta Iq. Jangan lupa kasih
tau dia kalo ada hal-hal yang sifatnya pribadi dan dia ga boleh ikut campur. Ya, kaya Kamu ngomongin sama si Dayang dulu...,” sahut Fatur.
“ Iya Om. Sayangnya Aku ga inget apa aja yang Aku omongin sama si Dayang dulu...,” gumam Faiq sambil tersenyum.
\=====
Sore itu terlihat Faiq sedang berdiri seorang diri di tepi pantai sambil menikmati sun set. Namun yang terjadi sesungguhnya tidak seperti yang terlihat. Sesungguhnya saat itu Faiq sedang berdiri berhadapan dengan makhluk ghaib yang memaksa ingin menjadi pendamping Izar. Makhluk yang berpenampilan menyeramkan itu terlihat santai saat berhadapan dengan Faiq.
“ Kenapa harus Anakku. Kamu tau dia masih terlalu kecil. Bukan, tapi masih bayi. Apa yang Kamu inginkan darinya...?” tanya Faiq.
“ Aku hanya ingin menjaganya...,” sahut makhluk itu.
“ Izar ga perlu Kamu untuk menjaganya. Kami sudah memiliki penjaga yang akan selalu stand by kapan pun dan
dimana pun...,” kata Faiq tegas.
“ Siapa dia...?” tanya makhluk itu penasaran.
“ Allah Swt...,” sahut Faiq cepat.
Makhluk itu terdiam. Ia sadar, akan sulit baginya untuk menjadi pendamping ghaib Izar. Bayi lucu yang telah memikat hatinya sejak pertama kali melihatnya. Karena ternyata Faiq begitu ketat menjaga Izar, Iyaz dan Hanako dari makhluk ghaib seperti dirinya.
“ Aku menyayanginya, apakah Kau tak bisa mengerti. Kau bisa mengijinkan Dayang ada di sisimu selama ini tapi
kenapa ga biarkan Aku berada di dekat Izar...?” tanya makhluk itu gusar.
“ Karena Kalian berbeda. Dayang bukan makhluk yang punya rekam jejak buruk selama ini. Tapi Kau, Kau pernah
menyesatkan manusia untuk melakukan pesugihan. Dan Aku ga mau Anakku didampingi makhluk halus sepertimu. Bagiku tak penting wujud luarmu, tapi apa yang Kau lakukan dulu bikin Aku ga bisa percaya...,” sahut Faiq tegas.
Makhluk itu tersentak mendengar ucapan Faiq. ia tak menyangka jika ayah dari calon tuannya itu telah mengetahui
jati dirinya yang asli. Sambil menunduk malu, makhluk itu pun pergi meninggalkan Faiq yang nampak tersenyum penuh kemenangan.
“ Aku ga akan biarkan siapa pun menganggu mereka. Ini hanya salah satu modus yang Kalian pake supaya Aku lengah dan Kalian bisa memanfaatkan mereka nanti. Keluar, Aku tau Kau di sana...!” kata Faiq lantang sambil menunjuk ke batu karang yang ada di tepi pantai.
Seolah malu karena sudah ketahuan ‘mengintip’, makhluk ghaib yang tak lain adalah buaya jadi-jadian itu pun pergi
dari tempat itu dengan meninggalkan suara tanpa wujud.
“ Aku hanya ingin tau, apakah sikapmu sama kerasnya seperti saat melarangku mendekati mereka...,” kata makhluk ghaib berwujud buaya itu.
Faiq tak menjawab, ia hanya menghela nafas panjang saat melihat kepergian makhluk itu. Setelahnya Faiq kembali ke villa untuk bergabung bersama keluarganya. Malam itu adalah malam terakhir mereka di villa itu, karena rencananya mereka akan kembali ke Jakarta besok pagi.
\=====
Mini bus yang disewa oleh Erik baru saja meninggalkan villa saat terdengar jeritan Hanako. Semua penumpang yang merupakan keluarga besar Erik pun terkejut dan menoleh kearah Hanako yang duduk si samping Efliya. Wajah Efliya nampak tegang, sedangkan Heru yang sedang berbincang dengan Erik pun dengan sigap menghampiri Hanako dan langsung menggendongnya.
“ Ssstt, ada apa Nak. Hanako kenapa...?” tanya Heru lembut.
“ Berhenti, berhenti. Mobilnya nabrak orang, kasian dia kesakitan Yah...,” sahut Hanako sambil menunjuk kearah jendela belakang mini bus yang terus melaju itu.
Semua menoleh kearah yang ditunjuk oleh Hanako. Namun saat mereka tak melihat apa yang dilihat Hanako, mereka pun maklum jika Hanako sedang melihat makhluk ghaib. Fatur pun langsung mendekati Hanako dan mengusap wajah gadis cilik itu. Ajaib. Hanako langsung menghentikan jeritannya. Bahkan Hanako menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah dan memejamkan matanya.
“ Alhamdulillah, akhirnya Hanako bisa tenang...,” kata Efliya yang diangguki Heru.
Sang supir yang juga mendengar ucapan Hanako pun terlihat panik. Ia nampak tak konsentrasi saat menyetir dan
sesekali menoleh ke belakang. Menyadari jika sang supir yang terpengaruh oleh jeritan Hanako tadi, Faiq pun mendekat dan berusaha menenangkannya.
“ Gapapa Pak, lanjut aja. Makhluk ghaib yang diliat sama keponakan Saya udah turun daritadi...,” kata Faiq
berbohong.
“ Alhamdulillah. Saya tenang sekarang Mas. Soalnya Saya khawatir terjadi kecelakaan di jalan kalo mobil Kita dinaikin makhluk halus...,” sahut sang supir.
“ Emangnya Bapak pernah punya pengalaman kaya gitu...?” tanya Faiq.
“ Iya Mas. Waktu itu Saya juga jemput rombongan pendaki dari Gunung Bromo. Ga tau gimana, mobil yang saya bawa terasa berat setelah lewat jalur yang diminta sama salah seorang pendaki, Saya lupa nama lokasinya. Pokoknya dia minta Kita mampir sebentar di rumah Neneknya, katanya sih mau pamit atau apa gitu. Setelah pulang dari rumah Neneknya Kita langsung masuk jalan raya menuju Jakarta. Tapi Saya bingung karena mobil terasa
berjalan lamban kaya keberatan beban gitu Mas. Padahal mini bus ga penuh saat itu, masih ada sepertiga bagian yang kosong. Akhirnya Kita kecelakaan karena mobil Kita ditabrak truk dari belakang. Kata supir truk, mobil yang Saya kemudikan itu emang udah oleng dan jalan zig zag sejak awal. Karena sang supir buru-buru, makanya dia nyalip laju mobil Saya tapi malah kecelakaan dan masuk jurang. Walau ga ada yang luka, tapi Saya tetap trauma kalo mengingatnya Mas...,” kata supir mini bus.
Faiq tersenyum lalu menyerahkan air dalam botol mineral yang telah ia bacakan ayat ruqyah sebelumnya. Sang supir menepikan mobilnya sejenak lalu meneguk air pemberian Faiq hingga berkurang setengahnya. Sisa air dituangkan ke telapak tangannya lalu ia basuhkan ke wajahnya.
“ Makasih ya Mas...,” kata supir mini bus.
“ Sama-sama Pak...,” sahut Faiq sambil tersenyum.
Setelahnya sang supir melanjutkan tugasnya. Sedangkan Faiq kembali ke kursinya untuk memastikan kedua anaknya baik-baik saja. Saat itu Iyaz ada bersama Shera, sedangkan Izar bersama Farah. Kedua batita itu nampak tertidur lelap dan tak terusik dengan jeritan Hanako tadi.
Faiq tahu jika makhluk yang ingin menjadi pendamping Izar masih mengikuti mereka. Makhluk itu berdiri tepat di
samping Izar yang tengah terlelap. Faiq dan Fatur terus berjaga dan mengawasi pergerakan makhluk itu. Karena lelah dan tak juga mendapat ijin dari Faiq, akhirnya makhluk itu menyerah. Ia menghilang saat mini bus memasuki wilayah Cirebon.
Setelah makhluk itu lenyap, Izar pun terbangun. Faiq mendekat dan mengulurkan tangannya untuk menggendong Izar lalu membawanya ke kursi yang ia duduki. Faiq mengusap kepala Izar sambil membacakan ayat Al Qur’an. Saat kepalanya diusap oleh sang ayah, Izar mendongakkan wajahnya lalu menatap kedua mata ayahnya dengan tatapan yang menenangkan. Faiq dan Izar saling menatap lalu tersenyum. Sungguh itu adalah interaksi yang manis antara ayah dan anak. Siapa pun yang melihatnya akan tahu jika ikatan batin diantara keduanya begitu kuat. Dalam hati Faiq bersyukur karena berhasil menyelamatkan anaknya dari iblis yang memaksa ingin menjadi pendamping ghaib Izar. Kemudian Faiq mempererat pelukannya sambil sesekali mengecup sayang kepala Izar yang nampak bersandar manja padanya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 376 Episodes
Comments
Dahlia Anwar
keren banget
2022-09-01
2
Irma Tjondroharto
keren thor... ngeri klo adq yg nempel gt... untung ayah faiq pinter lho jd gak kenapa2..
2022-07-17
0
Nurjanah Tamim
benar benar suami idaman..
2022-03-01
1