Malam itu Arya terlihat gelisah. Ia memiliki firasat jika sesuatu yang buruk akan terjadi karena sejak tadi ia selalu menjatuhkan benda apa pun yang dipegangnya. Setelah meletakkan barang yang dijatuhkannya tadi ke tempat
semula, kemudian Arya menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur sambil memejamkan mata.
“ Ya Allah ada apa ini. Kok rasanya kaya dejavu ya. Perasaan ini sama persis kaya waktu menjelang kematiannya
Andini...,” gumam Arya yang teringat almarhumah istri pertamanya yang merupakan ibu kandung Adi.
Kemudian Arya meraih ponselnya dan mendial nomor Nadia. Arya bermaksud menanyakan kabar Nadia dan Adi. Saat itu Arya sedang menjalankan tugasnya di luar kota. Sudah dua minggu Arya ada di tempat itu dan rencananya dia akan kembali ke Jakarta dalam waktu dekat.
“ Kenapa ga aktif terus sih. Ada apa ya...,” gumam Arya sambil melempar ponselnya ke atas tempat tidur dengan
kesal.
Sudah dua hari ini Nadia tak bisa dihubungi dan itu membuat Arya kesal. Arya ingat pembicaraan terakhirnya dengan Nadia adalah saat Nadia minta ijin padanya untuk mengikuti acara di lingkungan tempat mereka tinggal. Nadia mengatakan jika akan ada rekreasi bersama warga. Arya mengijinkan Nadia pergi asal mengajak Adi. Sempat terjadi perdebatan antara Arya dan Nadia. Nampaknya Nadia memilih mematuhi permintaan suaminya itu
walau dengan perasaan kesal.
“ Ck, masa gara-gara disuruh ngajak Adi jalan-jalan dia malah ngambek sih...,” gerutu Arya sambil mengacak
rambutnya karena mengira Nadia sedang ngambek.
Karena lelah akhirnya Arya pun tertidur lelap. Arya nampak gelisah dalam tidurnya karena ia bermimpi buruk. Dalam tidurnya Arya melihat almarhumah Andini sedang berjalan di sebuah taman bunga yang cantik. Arya pun bahagia karena melihat Andini kembali sehat dan bisa berjalan lagi.
“ Kamu sudah sembuh Andini, syukur lah Aku senang melihatnya...,” kata Arya sambil tersenyum.
Andini tak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum seolah mengiyakan pernyataan Arya
tadi. Sesaat kemudian Arya melihat Adi berlari kecil kearah mereka. Arya merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Adi ke dalam pelukannya. Namun sayangnya Adi mengabaikannya dan memilih menghambur kearah Andini lalu memeluknya dengan erat. Andini pun membalas pelukan Adi dan menggendongnya. Kebahagiaan nampak jelas di wajah Andini karena bisa menggendong anaknya lagi. Andini pun menciumi wajah Adi dengan sayang.
“ Adi ga kangen sama Papa ya, kok ga mau digendong sama Papa...?” tanya Arya pura-pura ngambek.
Adi tertawa mendengar pertanyaan Arya kemudian memajukan tubuhnya untuk mencium pipi Arya.
“ Aku kangen sama Papa, Aku juga sayang sama Papa. Tapi sekarang Aku mau ikut Mama dulu ya. Daaah... Papa...,” kata Adi sambil melambaikan tangannya dalam gendongan Andini.
Perlahan tubuh Andini dan Adi menjauh dan makin menjauh lalu lenyap begitu saja meninggalkan Arya seorang
diri. Arya memanggil nama Adi berulang kali namun tak ada sahutan, hanya gema suaranya yang ia dengar dan membuat bulu kuduknya meremang. Kemudian Arya berlari ke sana kemari mencari anaknya hingga ia terbangun dengan tubuh dan wajah basah dengan keringat.
“ Adi...!” panggil Arya sambil membuka matanya.
Sepi tak ada sahutan. Arya mengusap wajahnya yang berkeringat itu dengan telapak tangannya sambil berusaha
menggapai botol berisi air mineral yang ia letakkan di dekat kepalanya. Kemudian Arya meneguk air minum itu perlahan.
“ Mimpi aneh. Apa maksudnya ya...?” tanya Arya sambil melirik kearah gorden jendela kamar yang nampak bergerak ke kanan dan ke kiri.
Arya menatap lekat gorden jendela kamar yang bergerak makin cepat seolah ada tangan kecil yang coba membuka
gorden itu. Karena penasaran Arya mendekat kearah jendela dan menyibak gorden jendela itu. Arya terkejut saat mendapati tangan kecil tanpa tubuh di balik gorden. Tangan kecil dengan kulit kering mengelupas seperti kekurangan darah itu menghilang dengan cepat saat Arya menjerit tertahan saking terkejutnya.
“ Apaan sih, masa mendadak ada tangan hantu. Udah lebih dari seminggu di sini ga ada apa-apa kok menjelang
pulang malah dikasih liat yang aneh-aneh...,” gerutu Arya sambil merapikan gorden jendela dan berniat menutupnya.
Namun di luar jendela Arya melihat sekelebat bayangan anak kecil laki-laki yang berlari ke sana kemari. Semula
Arya ingin mengabaikannya tapi saat melihat kemeja yang dipakai anak kecil itu mirip dengan kemeja miliknya, Arya pun teringat anaknya. Almarhumah Andini memang menyiapkan pakaian Arya dan Adi dengan motif dan warna yang sama untuk menandakan jika mereka adalah ayah dan anak. Dan Arya kembali menggumamkan nama anaknya untuk kesekian kalinya saat melihat bayangan anak kecil itu melintas lagi di depan jendela kamarnya.
“ Adi...?” gumam Arya sambil menajamkan penglihatannya.
Seolah mendengar panggilan Arya, anak kecil itu berhenti berlari dengan posisi membelakangi Arya. Perlahan anak
kecil itu menolehkan kepalanya kearah Arya yang sedikit tak nyaman karena melihat kepala itu berputar 180 derajat sedangkan tubuhnya tetap menghadap kearah depan.
Arya nampak shock saat melihat wajah anak kecil itu. Selain pucat, kulit wajah anak itu terlihat kering dan mengelupas dengan bola mata yang putih. Senyumnya mengembang memperlihatkan deretan gigi putihnya. Jika diperhatikan dengan seksama wajah anak itu mirip dengan anaknya Adi.
Arya menjerit tertahan hingga terbangun dari posisi tidurnya. Rupanya Arya baru saja mengalami mimpi di dalam
mimpi. Arya menatap ke penjuru ruangan dan berhenti di gorden jendela kamar. Bergegas Arya menghampiri jendela dan menyibak gorden dengan kasar. Tak ada apa pun di luar sana. Hanya ada pepohonan dan langit malam yang menghitam. Perlahan Arya menutup gorden jendela kamar lalu kembali berbaring di atas tempat tidur. Bisa dipastikan Arya tak bisa lagi memejamkan matanya karena teringat dengan dua mimpinya yang seakan membawa pesan untuknya.
\=====
Sedangkan di Jakarta terlihat Nadia tengah menari gembira di salah satu pesta yang digelar di sebuah apartemen mewah. Nadia nampak bahagia karena tak lagi direpotkan dengan rengekan Adi. Sejak Adi dinyatakan hilang, Nadia merasa beban hidupnya hilang seketika.
Nadia bukan tak tahu jika Adi tertinggal di pulau. Nadia berpura-pura sibuk bicara dengan warga saat kapal mulai meninggalkan pulau dan Nadia tetap seperti itu hingga masuk ke dalam bus. Nadia pura-pura tersadar saat tiba di rumah dan asisten rumah tangganya menanyakan keberadaan Adi.
“ Lho Adinya mana Bu, kok ga keliatan...?” tanya asisten rumah tangga bernama Hani sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Adi.
“ Bukannya Adi udah sampe rumah, kan waktu bis sampe Anak-anak langsung lari pulang ke rumahnya masing-masing tadi...,” sahut Nadia asal.
“ Tapi Adi belum pulang Bu...,” kata Hani panik.
“ Jangan bercanda ya Han, Saya capek nih...!” kata Nadia marah.
“ Saya ga bercanda Bu, tapi Adi emang belum sampe rumah kok...,” sahut Hani hampir menangis.
Mendengar jawaban Hani membuat Nadia bergegas keluar menemui panitya rombongan yang masih berkumpul di kantor sekretariat RW.
“ Kok balik lagi Bu Nadia, ada yang ketinggalan ya...?” tanya ketua RW.
“ Iya Pak. Anak Saya Adi ga ada di rumah...,” sahut Nadia.
“ Maksudnya gimana ya Bu...?” tanya ketua Rw tak mengerti.
“ Kayanya Adi ketinggalan di pulau itu Pak...,” sahut Nadia hampir menangis.
“ Apa...?!” tanya ketua RW dan panitya lainnya.
“ Tenang dulu Bu Nadia, coba Kita cari pelan-pelan ya. Pak Dasrul tolong hubungi pengurus pulau dan tanyakan ada Adi ga di sana...,” kata ketua RW.
“ Baik Pak...,” sahut Dasrul lalu menghubungi salah seorang pengurus pulau.
Pengurus pulau yang dihubungi pun meminta waktu untuk mengecek pulau. Dua jam kemudian mereka mengabarkan jika tak ada siapa pun yang tertinggal di pulau itu. Nadia pun pulang ke rumah dan berniat mencari Adi besok. Nadia sengaja menon aktifkan ponselnya karena tak ingin Arya tahu apa yang terjadi.
Keesokan harinya Nadia mulai mencari Adi ke berbagai tempat. Ia menanyai semua warga yang ada di lingkungan
rumahnya. Saat itu Nadia terlihat tenang seolah sudah tahu dimana Adi. Hingga tak sengaja Nadia bertemu dengan temannya yang mengundang Nadia menghadiri pesta ulang tahunnya di apartemen miliknya sore ini. Nadia nampak menyambut undangan teman wanitanya itu.
Sore itu Nadia pun pergi menghadiri undangan pesta sang teman. Hani nampak mengerutkan keningnya saat melihat Nadia pergi.
“ Bilangnya mau nyari Adi, tapi kok pake bajunya kaya orang mau ngedugem gitu...,” gumam Hani tak suka sambil
menutup pintu.
Saat itu lah tak sengaja Hani melihat Adi tengah berdiri di depan pintu pagar sambil menatap kearahnya. Mengira Adi pulang, Hani pun langsung berlari kearah pintu pagar hingga tak sengaja menabrak Nadia yang sedang menunggu Taxi di depan rumah.
“ Apa-apaan sih pake lari-lari segala...?!” kata Nadia marah.
“ Maaf Bu, Saya liat Adi di sini tadi Bu...,” sahut Hani.
“ Adi, Adi. Ga ada Adi di sini. Jangan halu Kamu...!” bentak Nadia.
“ Tapi Saya liat Adi berdiri di sini tadi Bu. Dia pake kemeja yang terakhir Saya pekein itu lho Bu...,” sahut Hani bersikeras.
“ Ngeyel banget sih Kamu. Udah masuk sana, Saya pergi nyari Adi sekarang...!” kata Nadia sambil masuk ke dalam
Taxi.
“ Baik Bu...,” sahut Hani sambil mengunci pintu pagar.
Hani masih berdiri mengamati jalan di depan rumah majikannya itu berharap melihat Adi di sana. Namun setelah beberapa saat tak juga menemukan Adi, Hani pun memutuskan masuk ke dalam rumah.
“ Masa Aku salah orang sih. Yakin deh itu tadi emang Adi. Tapi kok Ibu ga ngeliat ya, apa jangan-jangan Aku yang salah liat...,” gumam Hani sambil mengunci pintu rumah.
\=====
Setelah mengetahui identitas Adi, polisi pun mendatangi kediaman Arya dimana Adi tinggal selama ini. Saat itu
bersamaan dengan Arya yang baru saja turun dari Taxi tepat di depan rumahnya. Melihat ada dua orang polisi di depan pintu rumahnya membuat Arya terkejut dan bergegas menyapa mereka. Nadia yang melihat kedatangan Arya pun nampak tersenyum.
“ Itu Suami Saya Pak...,” kata Nadia sambil menunjuk kearah Adi.
“ Assalamualaikum, ada apa Nad...?” tanya Arya hingga membuat kedua polisi itu menoleh kearahnya.
“ Wa alaikumsalam. Ga tau Ar, Bapak Polisi baru sampe juga...,” sahut Nadia sambil mencium punggung tangan Arya.
“ Selamat siang Pak, Kami ke sini untuk menjemput Bapak Arya dan Istri...,” kata salah satu polisi.
“ Selamat siang, Saya Arya. Maaf, tapi ada apa ya Pak...?” tanya Arya mulai panik.
Kedua polisi itu saling menatap sejenak seolah ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.
“ Jenasah Anak Anda yang bernama Adrian Pramana ada di Rumah Sakit dan Kami minta Bapak dan Ibu ikut Kami ke kantor sekarang...,” kata salah seorang polisi dengan tegas.
“ Je, jenasah...?” tanya Arya dengan suara bergetar.
“ Iya Pak, silakan...,” sahut polisi sambil menunjuk kearah mobil patroli polisi yang terparkir di depan rumah.
“ Tu, tunggu. Jenasah Adrian Pramana, maksudnya apa ya Pak. Nad, ada apa ini. Kemana Adi...?” tanya Arya gugup.
Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Nadia malah menangis sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. Tentu saja hal itu membuat Arya makin panik. Ia sibuk menenangkan Nadia sedangkan dua polisi di hadapan mereka nampak tenang dan tak terusik dengan akting Nadia.
“ Sebaiknya Bapak dan Ibu ikut Kami sekarang...,” kata salah seorang polisi lagi sambil menatap lekat kearah
Arya dan Nadia.
“ Bisa minta waktu sebentar kan Pak. Saya baru aja pulang dan ga tau apa-apa. Ini ada apa sebenarnya...?” tanya
Arya dengan nada marah.
“ Semua akan dijelaskan nanti di kantor Polisi. Silakan...,” sahut kedua polisi itu sambil memegang lengan Arya
dan Nadia.
Dengan terpaksa Arya mengikuti polisi itu. Setelah meletakkan koper di dalam rumah, Arya dan Nadia pun masuk
ke dalam mobil patroli polisi. Diiringi tatapan bingung para tetangga, mobil patroli polisi itu melaju dengan kecepatan sedang lalu meninggalkan kerumunan warga di depan rumah Arya.
Tak ada pembicaraan apa pun di dalam mobil karena Arya masih sibuk menenangkan Nadia yang menangis. Hingga mobil tiba di kantor polisi, Arya dan Nadia dibawa masuk ke dalam ruangan. Di sana Arya dan Nadia mendengar langsung alasan pemanggilan mereka.
Arya terkejut saat mendengar anaknya ditemukan meninggal di dalam perahu di salah satu pulau yang ada di
Kepulauan Seribu.
“ Saya ga yakin itu Anak Saya Pak. Nadia, bilang sama Polisi kalo Adi ada di rumah sekarang dan Adi baik-baik
aja...,” kata Arya sambil mengguncang tangan Nadia.
“ Maafin Aku Ar. Adi ga ada di rumah, dia ga pulang ke rumah sejak seminggu yang lalu...,” sahut Nadia sambil
menundukkan kepalanya.
“ Maksud Kamu Adi hilang...?” tanya Arya tak percaya.
“ Iya...,” sahut Nadia sambil menganggukkan kepalanya.
“ Kok Kamu ga bilang sama Aku...?” tanya Arya lagi.
“ Aku ga mau bikin Kamu cemas Ar. Tapi Aku udah lapor ke Polisi kalo Adi hilang...,” sahut Nadia sambil menangis.
Arya menggebrak meja dan hampir memukul Nadia jika polisi tak sigap menghalangi niatnya. Arya menjerit memanggil nama anaknya. Ia tak menyangka jika mimpi buruknya merupakan pertanda jika ia akan kehilangan putra semata wayangnya itu untuk selamanya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 376 Episodes
Comments
Oi Min
Kapok...... Salahmu dewe Ar......luwih milih kebutuhan manuk mu timbang anak bojomu.mata mu ketutupan napsu setan Nadia. Saiki rasakno dewe hasile....... Anakmu mati goro2 setan wadon siluman ular rubah betina pilihanmu BASTARD....... 😠😠😠😠😠😠👿👿👿👿👿👿😤😤😤😤😤
2022-08-30
3
neng ade
Nadia hrs mempertanggung jawabkan perbuatan nya .. Arya sadarlah selama ini Nadia itu memang selalu memperlakukan Adi dngn sangat buruk ..
2022-08-06
0
Ghiets'Enay
mimpi didalam mimpi 🤷🏻♀️🤷🏻♀️
itu kayaaaakk nyata bgt,tau ga sih?????
2022-01-30
0