Setelah mendengar cerita Shera tentang buaya jadi-jadian yang dilihat Hanako dan kedua anak kembarnya, Faiq
pun menemui Hanako di kamar yang ditempati keluarga Efliya.
“ Assalamualaikum, Hanako...,” kata Faiq sambil mengetuk pintu.
“ Wa alaikumsalam. Hanako lagi mandi Bang...,” sahut Efliya dari balik pintu.
“ Oh gitu. Ntar kalo udah suruh nemuin Abang ya El...,” kata Faiq.
“ Ada apaan Bang. Apa tentang hantu lagi...?” tanya Efliya cemas.
“ Bukan El...,” sahut Faiq berbohong sambil tersenyum.
“ Gapapa Bang, jujur aja. Kak Heru udah bilang semuanya sama Aku tadi...,” kata Efliya.
“ Ya udah, Abang jujur nih ya. Kata Mama sama Kak Shera, Anak-anak ngeliat buaya berkepala manusia tadi.
Makanya Abang mau nanyain sama Hanako. Sebenernya bisa aja Abang nanya sama si kembar, tapi sayangnya Abang ga ngerti omongan kedua batita itu...,” sahut Faiq dengan nada menyesal.
Efliya pun tertawa geli mendengar ucapan Faiq. Bahkan Efliya sampai harus memegangi perutnya karena terus
tertawa.
“ Ha ha ha. Iya juga Bang. Kebayang deh Abang ngobrol sama si kembar pake bahasa isyarat...,” kata Efliya sambil tertawa.
“ Bukan bahasa isyarat El, tapi bahasa planet. Aku nanya ini, jawabnya itu. Aku bilang A, mereka bilang C. Hadeehh kapan nemunya kalo gitu...,” sahut Faiq sambil menggelengkan kepalanya disambut tawa Efliya.
Mendengar tawa Efliya dan Faiq membuat Hanako yang baru saja keluar dari kamar mandi pun bingung. Hanako menatap Efliya dan Faiq yang berdiri di ambang pintu kamar secara bergantian.
“ Bunda sama Papa ngetawain apa sih...?” tanya Hanako yang berbalut handuk itu.
“ Eh, udah selesai ya Nak. Papa tunggu di luar ya...,” sahut Faiq sambil melambaikan tangannya.
“ Iya Pa...,” sahut Hanako sambil mengangguk.
Kemudian Efliya membantu Hanako mengenakan pakaian dan menyisir rambutnya. Sambil menyisir rambut Hanako, Efliya memberanikan diri bertanya.
“ Mmm, emang Hanako sama Iyaz dan Izar ngeliat apa tadi...?” tanya Efliya lembut.
“ Liat apa, banyak dong Bun. Kan di sini pemandangannya bagus...,” sahut Hanako lugu.
“ Kalo itu Bunda juga tau Sayang. Maksud Bunda, Hanako liat sesuatu yang ga biasa ya tadi...?” tanya Efliya hati-hati.
“ Yang ga biasa tuh apaan Bunda...?” tanya Hanako tak mengerti.
“ Sesuatu yang ga seharusnya. Misalnya pohon kelapa kok berbuah mangga atau katak kok terbang...,” sahut Efliya membuat pengandaian.
“ Oooh itu. Iya Bun, Aku liat ada penampakan hantu di pantai tadi...,” kata Hanako sambil menatap Efliya lekat melalui pantulan cermin di meja rias.
“ Hantu apa...?” tanya Efliya penasaran.
“ Hantu besar, baju sama rambutnya berantakan. Tapi mukanya serem karena matanya besar kaya bola tenis terus mulutnya juga sobek dan berdarah. Lidahnya juga panjang menjulur gitu Bun...,” sahut Hanako santai.
Efliya terkejut mendengar ucapan Hanako. Ia tak bisa membayangkan jika dirinya lah yang harus melihat sosok itu.
Efliya pun menelan salivanya dengan sulit.
“ Kamu ga takut Sayang...?” tanya Efliya hati-hati.
“ Ga Bun. Cuma kaget aja. Aku kan pernah liat yang lebih serem lagi daripada yang tadi Bun...,” sahut Hanako cepat.
Efliya nampak tersentak kaget. Ia merasa lalai menjaga Hanako karena tak pernah tahu sudah berapa banyak
penampakan hantu yang dilihat Hanako selama ini. Efliya juga merasa sedih dan hampir menangis saat menatap Hanako yang melangkah keluar dari kamar untuk menemui Faiq.
\=====
Faiq nampak sedang bermain dengan kedua anaknya di ruang tengah. Saat itu ia sedang menggendong Izar di
punggungnya, sedangkan di belakangnya Iyaz tertatih-tatih mengejarnya sambil tertawa.
Shera yang ada di sana pun ikut tertawa sambil terus memberi semangat pada Iyaz agar terus mengejar ayah dan
adik kembarnya itu.
“ Ayo Nak, jangan mau ketinggalan...,” kata Shera sambil bertepuk tangan.
“ Ayah..., Ayah...,” panggil Iyaz sambil tertawa.
“ Iya, ayo sini kejar ayah. Kalo dapat, gantian Iyaz yang Ayah gendong deh...,” sahut Faiq.
“ Aku juga mau digendong sama Papa...,” kata Hanako tiba-tiba.
Faiq sengaja menghentikan larinya agar Iyaz berhasil mendapatkannya. Setelahnya ia menoleh kearah Hanako yang nampak cemberut karena merasa iri melihat Izar berada di gendongannya. Kemudian Shera membantu menurunkan Izar dari punggung Faiq disusul Iyaz yang naik dengan cepat ke punggung Faiq.
“ Ini Ayah Aku, Cici ga oleh...,” kata Iyaz dengan suara cadelnya sambil menatap Hanako lekat.
Iyaz dan Izar memang biasa memanggil Hanako dengan sebutan Cici sesuai arahan Faiq yang merasa nama Hanako mirip nama orang Jepang atau Korea.
“ Gantian dong, Aku juga mau...,” kata Hanako tak mau kalah.
Menyadari Iyaz sudah naik ke atas punggungnya, Faiq langsung lari sambil menggendong Iyaz di punggungnya. Di
belakangnya Izar dan Hanako berlari mengejar sambil tertawa-tawa. Tak lama kemudian Hanako yang lebih besar dibandingkan Izar telah berhasil menggapai Faiq. Terdengar jeritan Iyaz saat Faiq berhenti karena ‘tertangkap’ oleh
Hanako.
“ Haa, kena kaan...!” seru Hanako senang sambil memegangi ujung kaos belakang Faiq.
“ Cici angan, Ayah Yaz...,” kata Izar sambil menepuk tangan Hanako.
Rupanya Izar ingin membantu melepaskan Iyaz dan ayahnya dari cengkraman tangan Hanako. Melihat hal itu
membuat Shera tertawa. Anggota keluarga yang lain pun ikut tertawa melihat tingkah lucu Izar yang sedang memarahi Hanako. Sedangkan Hanako terlihat enggan melepaskan Faiq.
“ Udah dulu mainnya, sekarang Iyaz sama Izar harus makan dulu yaa...,” kata Shera menengahi.
“ Yee, mamam...,” sahut Iyaz yang langsung bergerak turun dari punggung ayahnya hingga membuat Faiq sedikit
terkejut dan refleks menurunkan tubuhnya untuk mempermudah Iyaz turun.
Hanako yang masih berdiri di belakang Faiq nampak sigap membantu Iyaz turun dari punggung Faiq. Sikap Hanako
membuat semua orang dewasa yang ada di ruangan itu tersenyum kagum. Setelah turun dari punggung sang ayah dibantu Hanako, Iyaz nampak tersenyum kearah Hanako. Lalu Iyaz menggamit tangan Izar dan mengajaknya pergi menemui Shera yang sedang menyiapkan makan siang untuk mereka di dapur.
Kemudian Faiq mengajak Hanako bicara dari hati ke hati di teras samping. Faiq langsung bertanya tentang buaya
jadi-jadian yang dilihat Hanako tadi. Hanako menjawab pertanyaan Faiq dengan lugas dan cepat.
“ Apa buaya itu ngomong sesuatu sama Cici...?” tanya Faiq.
“ Dia ga ngomong sama Aku Pa, tapi sama Iyaz dan Izar...,” sahut Hanako mantap.
“ Masa...?” tanya Faiq karena merasa tak akan mudah mengorek keterangan dari dua jagoan ciliknya yang baru
belajar bicara itu.
“ Kenapa, Papa ga bakal bisa nanya ya sama Iyaz dan Izar...,” ledek Hanako sambil tertawa.
Faiq pun meraih Hanako ke dalam pelukannya sambil mencium kening Hanako dengan gemas.
“ Jadi Kamu ngerjain Papa ya...,” kata Faiq sambil mencubit pipi Hanako.
“ Emang iya kok Pa. Ntar Aku bantuin Papa nanya deh sama Iyaz dan Izar, gimana...?” tanya Hanako menawarkan
diri.
“ Boleh deh...,” sahut Faiq pasrah karena ia memang kesulitan memahami bahasa kedua anak kembarnya saat ini.
Hanako pun memanggil Iyaz dan izar yang akan duduk di ruang tengah untuk makan siang.
“ Iyaz, Izar, sini...!” panggil Hanako sambil melambaikan tangannya kearah si kembar.
Kedua anak kembar itu pun nampak melangkah sambil bergandengan tangan kearah Hanako dan sang ayah. Lalu Iyaz dan Izar duduk berdampingan di atas sofa rotan yang ada di teras itu. Kemudian terjadi dialog menggemaskan antara Hanako dan si kembar yang membuat Faiq takjub dibuatnya.
“ Iyaz, Izar tadi liat kan ada buaya di pantai sana...,” kata Hanako.
“ Iyat...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan sambil mengangguk.
“ Coba bilang sama Papa gimana bentuknya...,” pinta Hanako.
“ Aya ala olang ada tata uwa...,” sahut Izar cepat.
“ Adan ajang api awa-awa ucu...,” tambah Iyaz sambil tertawa.
Faiq makin takjub melihat interaksi Hanako dengan kedua anaknya itu. Detik itu lah Faiq mengerti mengapa kedua anaknya nyaman bermain dengan Hanako. Rupanya Hanako paham ucapan cadel si kembar. Itu terbukti saat Hanako sesekali ikut tertawa sambil menjawab ucapan si kembar. Sedangkan Shera nampak tersenyum melihat tingkah lucu tiga bocah cilik di hadapannya itu.
“ Apa katanya...?” tanya Faiq penasaran.
“ Emang ayah ga ngerti...?” tanya Shera.
“ Ga, makanya Ayah minta tolong Hanako buat jadi penerjemah. Emang Bunda ngerti...?” tanya Faiq.
“ Ngerti doonngg, Aku kan Ibunya...,” sahut Shera bangga hingga membuat Faiq tersenyum.
“ Bunda emang hebat...,” puji Faiq sambil mengacungkan jempol.
“ Aku juga hebat Pa...,” kata Hanako tak mau kalah.
“ Iya, Hanako hebat. Terus buaya itu ngomong apa sama Iyaz dan Izar...?” tanya Faiq.
“ Oh itu. Kalo kata Izar, buaya itu ngajak kenalan aja. Tapi kalo kata Iyaz, buaya itu ngajak mereka main ke rumahnya...,” sahut Hanako sambil menatap lekat kearah dua sepupunya yang sedang makan itu.
“ Ke rumahnya, dimana...?” tanya Faiq lagi.
“ Ga tau. Kan Iyaz ga mau ikut sama dia...,” sahut Hanako.
Faiq dan Shera saling menatap sejenak. Ada kecemasan di wajah Shera dan Faiq langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban bahwa ia tak akan membiarkan kedua anak mereka dibawa pergi oleh makhluk halus berwujud buaya itu. Shera pun mengangguk lalu kembali menyuapi si kembar.
Tak lama kemudian Hanako nampak berlari menghampiri kedua orangtuanya meninggalkan keluarga kecil Faiq di teras samping.
\=====
Malam itu Faiq sengaja berdiri di depan villa sambil menatap ke pantai seolah sedang menunggu seseorang atau
sesuatu. Faiq memang berharap bisa ‘bicara’ dengan makhluk berwujud buaya berkepala manusia yang telah menemui Hanako dan kedua anak kembarnya itu.
Setelah lama menunggu, akhirnya makhluk yang ditunggu pun datang dan menyapa Faiq.
“ Apa maumu...?” tanya Faiq to the point.
“ Ga ada. Aku hanya ingin berteman dengan mereka...,” sahut makhluk itu.
“ Katakan niatmu sebenarnya...!” kata Faiq galak.
Makhluk berwujud buaya berkepala manusia itu nampak terdiam sejenak. Ia menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Faiq.
“ Aku membutuhkan bantuan mereka. Karena hanya mereka yang bisa membantu...,” sahut makhluk itu lirih.
“ Jangan sekarang, mereka masih terlalu kecil. Beri mereka waktu. Jika waktunya tiba, insya Allah Aku yang akan
mengawal mereka untuk menemuimu nanti...,” kata Faiq.
“ Baik, Aku setuju. Terima kasih...,” kata makhluk itu yang diangguki Faiq.
Sesaat kemudian makhluk halus berwujud buaya berkepala manusia itu pun pergi dari hadapan Faiq diiringi tatapan tajam Faiq yang nampak selalu siaga itu.
Namun saat hendak melangkah kembali ke dalam villa, Faiq melihat ada 'sesuatu' yang mengamatinya dari balik pohon kelapa. Faiq berharap sesuatu yang ia yakini sebagai makhluk ghaib itu tak akan menyakiti Hanako dan kedua anaknya nanti.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 376 Episodes
Comments
Pujiati Fathir
suka ceritanya ada hantunya kali ini beda
2022-09-15
1
Sang
semestinya jangan pernah bikin perjanjian dengan jin sih 🤔🤔☕☕
2022-08-11
0
widi aandriya
untung ga bingung Si kembar panggil bapaknya dn sebutan Ayah dan Si Cici panggil Papa ky anak2 aku panggil kk ku dan suami ny Mama Papap
2022-06-03
1