Setelah Marlia dinyatakan sehat oleh dokter, Marlia pun memenuhi panggilan kepolisian untuk memberi kesaksian
atas meninggalnya Rafi.
Berkali-kali Marlia harus menghapus air matanya saat memberi keterangan di hadapan polisi. Melihat kondisinya membuat polisi iba dan memberinya kesempatan untuk istirahat dan datang lagi besok. Namun Marlia menolak dan memilih melanjutkan tanya jawab dengan polisi.
“ Sebaiknya Ibu didampingi pengacara jika mau menunutut keadilan untuk Anak Ibu...,” kata anak buah Heru
bernama Ahmad.
“ Iya Pak. Saya akan berjuang mendapat keadilan untuk Rafi...,” sahut Marlia.
“ Baik. Untuk saat ini cukup, terima kasih Bu Marlia...,” kata Ahmad sambil menjabat tangan Marlia.
Marlia tersenyum lalu melangkah keluar dari kantor polisi. Namun senyum di wajah Marlia memudar saat ia berpapasan dengan Ria istri Anom. Ria datang bersama dua anak perempuan hasil pernikahannya dengan Anom yang bernama Intan dan Isha.
“ Mama, bukannya itu Tante Marlia. Kok sekarang udah keliatan sehat...?” tanya Intan.
“ Iya. Kok bisa ada di sini juga ya...,” sahut Ria.
Kemudian Ria menghentikan langkahnya untuk menyapa Marlia.
“ Apa kabar Kak...,” sapa Ria ramah.
“ Aku baik...,” sahut Marlia.
“ Kakak tinggal dimana sekarang...?” tanya Ria.
“ Aku tinggal di panti sosial...,” sahut Marlia.
“ Kenapa Kakak ga pulang aja. Biar pun Anom ditangkap atas kasus yang ga jelas, tapi Kakak ga perlu sungkan. Kakak bisa pulang ke rumah dan tinggal sama Kami. Kita kan keluarga, apalagi Kakak ini Kakaknya Anom...,” kata Ria.
“ Iya,Tante juga ga harus tinggal di gudang lagi kaya dulu. Kan sekarang Tante udah sembuh...,” kata Isha sambil tersenyum.
Marlia terkejut mendengar ucapan Ria dan anaknya. Ia tak tahu jika Anom memperkenalkan dirinya sebagai kakaknya dan bukan istrinya.
“ Ga perlu, makasih atas tawarannya. Tapi Aku nyaman tinggal di panti itu. Maaf, Aku harus pergi sekarang, pemisi...,” kata Marlia sambil tersenyum lalu bergegas pergi.
Ria dan kedua anaknya menatap kepergian Marlia dengan tatapan bingung. Sedetik kemudian mereka bertiga pun
membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam kantor polisi untuk memenuhi panggilan polisi.
\=====
Anom masih ada di klinik dalam rangka menjalani therapy untuk memulihkan otot tangan dan kakinya yang sempat
kaku dan tak bisa digerakkan itu. Setelah selesai menjalani therapy Anom pun kembali ke sel tahanan. Meski pun melakukan semua kegiatan itu dalam pengawalan ketat polisi, Anom tetap merasa nyaman.
Namun malam ini sedikit berbeda. Anom baru saja masuk ke dalam sel tahanan saat ia melihat sekelebat bayangan berlari di depan sel tahanan.
“ Siapa itu...?” tanya Anom setengah berbisik karena tak ingin mengganggu tahanan lain yang sedang tertidur.
Tak ada sahutan. Anom mencoba maju kearah jeruji besi untuk melihat siapa yang baru saja melintas. Anom
mengerutkan keningnya saat melihat para tahanan yang ada di sel lain juga tengah tertidur.
“ Aneh, masa jam segini udah pada tidur semua. Biasanya masih pada ngobrol...,” gumam Anom sambil melangkah kembali di tempatnya.
Tiba-tiba Anom merasa ada angin yang menerpa tubuhnya di bagian belakang. Anom menoleh dan mendapati sosok hantu anak kecil sedang melayang sambil menyeringai kearahnya. Anom terkejut dan mematung ‘lagi’.
“ Apa kabal Papa...,” sapa hantu Rafi.
“ Ka, Kamu Ra..., Rafi...?” tanya Anom gugup.
“ Iya Papa. Papa lupa ya sama Aku...?” tanya hantu Rafi dengan mimik sedih.
“ Papa ga pernah lupa sama Rafi. Tapi kenapa Rafi baru nemuin Papa sekarang setelah bertahun-tahun meninggal...?” tanya Anom berusaha tenang.
“ Lafi udah nyali Papa sama Mama kemana-mana, lumah Kita, lumah Opa, di tempat Papa kelja, semuanya ga ada. Makanya Lafi balu bisa datang sekalang...,” sahut hantu Rafi sambil tersenyum.
Dahulu senyum Rafi adalah senyuman termanis yang pernah dilihat Anom. Senyum Rafi adalah penghilang dahaga dan lelahnya usai bekerja seharian. Senyum itu lah yang selalu ingin dilihat Anom setiap hari. Namun saat Rafi melakukannya sekarang, justru membuat Anom merinding ketakutan. Karena senyuman itu terasa membawa hawa maut bersamanya.
“ Kenapa Papa jahat sama Mama...?” tanya hantu Rafi sambil mensejajarkan posisi tubuhnya setinggi tubuh Anom hingga bisa melihat wajah sang papa dengan jelas.
Anom tak menjawab pertanyaan hantu Rafi yang baginya bukan pertanyaan tapi hanya sebuah intermezo menuju kematian. Tubuh Anom gemetar, suaranya lenyap entah kemana. Kilasan peristiwa saat ia menyakiti Marlia pun menari-nari di kepalanya. Termasuk saat ia menyekap Marlia di gudang rumahnya dan melarang siapa pun mendekati Marlia.
“ Siapa dia...?” tanya Ria saat pertama kali melihat Anom membawa Marlia ke rumah mereka.
“ Dia Kakakku...,” sahut Anom sambil mengunci pintu gudang.
“ Tapi kenapa dikunci di gudang. Kasian kan...,” kata Ria.
“ Dia sakit Ria. Jauhi dia jika Kamu ga mau tertular penyakitnya...,” sahut Anom sambil berlalu.
“ Kalo sakit kenapa ga diobati. Bawa dia ke Rumah Sakit, biar dia dirawat di sana. Nanti kalo udah sembuh baru diajak tinggal di sini...,” saran Ria penuh perhatian.
“ Ga perlu. Dia bukan sakit medis, tapi sakit karena diguna-guna. Sudah banyak biaya yang Kukeluarkan untuk mengobatinya. Aku menguncinya di dalam supaya dia ga ngancurin semua saat dia ngamuk nanti. Ingat, jangan sekali-kali lancang membuka pintu ini dan mendekatinya walau hanya untuk memberinya makan. Biar Aku yang mengurusnya...,” sahut Anom.
Ria nampak sedikit takut mendengar penuturan Anom. Ria menuruti perintah Anom dan tak curiga sedikitpun.
Awalnya Anom memang mengurus Marlia dengan baik. Memberinya makan dan memandikannya secara rutin. Tapi saat Anom melakukan itu Marlia selalu mengamuk hingga membuat Ria yang mendengarnya pun takut dan mempercayai ucapan suaminya itu. Setelahnya Anom makin jarang mengurus Marlia dan mengabaikannya begitu saja. Jika ingat, Anom akan memberinya makanan. Namun jika lupa, maka Marlia harus menahan lapar selama berhari-hari.
Anom mengerjapkan matanya saat teringat kekejaman yang ia lakukan pada Marlia yang masih berstatus istrinya itu. Semula Anom memang hanya berniat menjadikan Marlia tameng dari kejaran warga atau polisi. Namun yang Anom lakukan kemudian justru menyiksa lahir dan batin Marlia. Anom tak mengerti mengapa ia melakukan hal itu. Ia hanya tak ingin Marlia meninggalkannya. Anom berharap jika suatu saat nanti warisan mertuanya yang kaya raya itu jatuh ke tangannya, walau itu mustahil karena Marlia sudah ‘dibuang’ oleh papinya dan tak diakui anak lagi.
“ Kenapa diam Papa...?” tanya hantu Rafi lagi mengejutkan Anom.
“ Ra..., ma..., a...,” sahut Anom terbata-bata.
Melihat kondisi Anom yang kembali ‘bisu’ membuat hantu Rafi tersenyum senang. Ia melayang mengelilingi Anom yang berdiri dengan tubuh gemetar itu.
“ Waktunya akan tiba Papa...,” bisik hantu Rafi di telinga Anom sebelum menghilang meninggalkan Anom yang mematung di tengah ruang sel tahanan itu.
Sesaat kemudian para tahanan yang ‘tertidur’ pun terbangun dan bingung melihat Anom yang berdiri mematung itu.
“ Pasti kejahatannya udah di luar takaran sampe lagi-lagi badannya kaku kaya gitu...,” kata seorang tahanan sambil menggelengkan kepalanya.
“ Emang apa sih kejahatannya...?” tanya tahanan lain.
“ Aku dengar dia membunuh Anaknya dan menyiksa Istrinya...,” sahut tahanan lain.
“ Dia layak dapatkan itu. Kita aja jadi penjahat buat ngasih makan dan bahagiain Anak Istri, eh dia malah nyakitin mereka. Dasar t**ol...,” maki tahanan lain sambil kembali tidur dan mengabaikan Anom.
\=====
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 376 Episodes
Comments
Nurjanah Tamim
itu s abang napi...bangga amat bang..ngasih makan anak bini pake yg haram haram
2022-03-02
3
Siti komalasari
semoga cepat terselesaikan...
2021-12-12
1