= Assalamualaikum readers tersayang, hari ini Author up 2 episode ya... Mudah-mudahan suka dan selamat membaca... =
Faiq sedang melihat kilasan peristiwa yang dialami oleh hantu anak balita bernama Rafi. Saat itu hantu Rafi duduk dengan nyaman di pangkuan Rafi.
Rafi sedang bermain ayunan di halaman rumah besar yang memiliki arsitektur klasik. Di dalam rumah tengah terjadi pertengkaran hebat antara kedua orangtua Rafi dengan kakek Rafi yang merupakan ayah dari mama Rafi.
“ Pokoknya Papi ga terima kalo Kamu mau menjual aset milik keluarga Kita ini Marlia...!” kata kakek Rafi.
“ Terus kalo ga dijual, gimana Kami harus bayar hutang Papi...,” rengek mama Rafi yang bernama Marlia.
“ Itu bukan urusanku. Toh hutang itu bukan hutangku tapi hutang Suami sia*anmu itu...,” sahut kakek Rafi ketus.
“ Tapi Saya berhutang juga untuk memenuhi kebutuhan Marlia dan Rafi Pi. Mereka kan darah daging Papi juga...,”
sahut ayah Rafi yang bernama Anom dengan nada putus asa.
“ Mereka juga adalah Anak dan Istrimu. Sudah seharusnya Kamu bertanggung jawab dan membahagiakan mereka. Bukannya dulu Kalian sesumbar akan bisa bahagia dan kaya raya jika kaw*n lari. Terus kenapa sekarang Kalian malah datang ke sini dan minta jatah warisan segala. Dasar ga tau malu...,” gerutu kakek Rafi.
“ Kami memang salah karena udah kaw*n lari dulu. Tapi Kami lakukan itu karena Kami saling mencintai Pi. Kami kira setelah Rafi lahir, Papi akan memaafkan Kami dan membuka hati untuk Kami. Ternyata Kami salah sangka. Hati Papi tetap sama kerasnya seperti dulu...,” kata Anom dengan mimik wajah sedih.
Kakek Rafi nampak cuek dan menulikan telinganya. Ia tak menggubris ucapan Marlia dan suaminya. Rupanya kakek Rafi tahu jika Anom memiliki niat buruk dengan menikahi Marlia yaitu ingin menguasai harta keluarga mereka. Karena tak berhasil meluluhkan hati mertuanya, akhirnya Anom menyerah lalu mengajak Marlia dan Rafi untuk pergi dari rumah besar itu.
“ Kita mau kemana Pa. Kata Papa Kita bakal nginap di di lumah besal itu. Kok, ga jadi...?” tanya Rafi dengan wajah kecewa.
“ Maafin Papa ya Sayang. Papa sama Mama salah perhitungan. Ternyata Kakekmu masih marah dan ga ngijinin Kita tinggal di rumahnya...,” sahut Anom sambil mengusap kepala Rafi dengan lembut.
“ Gapapa, yang penting bisa tinggal sama Papa sama Mama, Aku senang kok...,” kata Rafi sambil tersenyum.
Anom mengangguk lalu membawa anak dan istrinya pergi dari rumah orangtua Marlia. Dalam hati ia kesal karena tak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sejak saat itu sikap Anom langsung berubah drastis. Anom yang semula sangat menyayangi anak dan istrinya itu mulai bersikap kasar dan menunjukkan sifat aslinya. Bahkan Anom tak segan menyakiti Marlia juga Rafi.
“ Kenapa sekarang Kamu jadi kasar dan sering mukulin Aku sama Rafi Bang...?” tanya Marlia di sela tangisnya.
“ Aku bosan berpura-pura baik di depanmu. Karena ternyata semua sia-sia...,” sahut Anom ketus.
“ Sia-sia, apa maksudmu Bang...?” tanya Marlia sambil menatap nanar kearah Anom.
“ Heh Marlia\, apa Kamu kira Aku cinta sama Kamu dan mau hidup susah sama Kamu. Aku sengaja ngajak Kamu kaw*n lari karena Bapakmu kaya. Kalo Kamu hanya Anak kampung miskin untuk apa Aku kaw*ni Kamu. Aku berharap bisa hidup enak dengan harta yang bakal diwariskan Bapakmu itu. Tapi sampe Rafi lahir\, Bapakmu ga juga luluh. Jangankan ngasih hartanya ke Kamu\, nerima Kita tinggal di sana aja dia ga mau...!” sahut Anom sinis.
“ Jadi Kamu nikahin Aku karena harta Papiku Bang...?” tanya Marlia tak percaya.
“ Iya. Kamu pikir secantik apa dirimu hingga Aku mau menghabiskan sisa hidupku sama perempuan jelek kaya Kamu. Di luar sana masih banyak perempuan lain yang jauh lebih cantik dan lebih se** daripada Kamu. Bahkan pacarku aja lebih segalanya dibanding Kamu...,” sahut Anom sambil mencibir.
Hati Marlia hancur mendengar pengakuan Anom. Ia menangis mengingat betapa gigihnya ia membela Anom dulu. Namun pria yang ia perjuangkan ternyata telah melukai hati dan tubuhnya. Setelah puas memaki Marlia, Anom pun pergi meninggalkan rumah untuk menemui pacarnya. Sedangkan Marlia memilih kabur dengan membawa Rafi bersamanya.
Anom kembali keesokan harinya dalam keadaan mabuk. Saat tak menjumpai anak dan istrinya di rumah, Anom pun
marah dan mulai menghancurkan semua benda yang ada di dekatnya. Setelah lelah mengamuk Anom pun membaringkan tubuhnya di lantai sambil menatap langit-langit rumah. Saat itu hanya ada satu ingatan di kepalanya yaitu rumah orangtua Marlia. Anom mengira jika Marlia pulang ke rumah Papinya.
Dengan tubuh sempoyongan Anom langsung pergi ke rumah mertuanya setelah sebelumnya ia ke dapur untuk mengambil pisau dapur yang biasa digunakan Marlia untuk memotong sayuran.
Tiba di rumah papi Marlia ternyata rumah dalam keadaan kosong. Papi Marlia tak lagi tinggal di sana dan pergi entah kemana. Anom yang marah mulai berteriak-teriak memanggil nama Marlia dan Rafi. Di saat yang sama Marlia juga baru saja tiba di rumah sang papi. Marlia pulang ke rumah sang papi karena tak tahu harus pergi kemana. Semalaman ia menggelandang di jalan tanpa istirahat dan makan karena Marlia pergi tanpa membawa uang sepeser pun.
Saat melihat Marlia, amarah Anom kian memuncak. Ia langsung mendekati Marlia sambil mengacungkan pisau yang dibawanya. Melihat sang mama dalam bahaya, Rafi berusaha membantu. Rafi maju ke depan untuk menghadang pisau yang disabetkan sang papa dengan tubuhnya sendiri hingga pisau itu berhasil melukai perut Rafi. Marlia menjerit melihat Rafi terkapar bersimbah darah.
Melihat anaknya terluka akibat perbuatannya, Anom tambah kalap. Ia mencoba merebut tubuh Rafi dari pelukan Marlia. Karena takut, Marlia lari sambil menggendong tubuh Rafi yang berlumuran darah itu. Langkah Marlia terhenti saat ia tersungkur karena kakinya tersandung batu besar hingga tubuh Rafi pun terlepas dari pelukannya dan menggelinding jatuh di tanah yang berbatu. Akibatnya tubuh Rafi pun lebam dan luka di sana sini. Kepala Rafi yang membentur bebatuan pun terluka parah hingga mengeluarkan banyak darah.
Menyaksikan anaknya jatuh dan terluka membuat Marlia menjerit sekeras-kerasnya hingga memancing perhatian warga. Melihat warga yang berdatangan, Anom pun panik.Ia memaksa Marlia berdiri untuk dijadikan tameng.
“ Diam di sana atau dia juga mati...!” ancam Anom sambil meletakkan pisau di leher Marlia.
Warga pun tak berani mendekat. Sedangkan Marlia hanya bisa menangis sambil menatap tubuh Rafi yang tegeletak diam di tanah. Anom menyeret Marlia pergi dan meninggalkan tubuh Rafi begitu saja. Tak dihiraukannya jeritan Marlia yang memohon agar diberi kesempatan memeluk Rafi.
“ Tolong Anakku, tolong selamatkan dia...!” jerit Marlia sebelum Anom memukul tengkuknya hingga pingsan.
Warga yang mendengar permintaan Marlia pun bergegas menolong Rafi dan membawanya ke Rumah Sakit. Namun sayang, karena lukanya terlalu parah Rafi meninggal dalam perjalanan.
Tak ada warga yang berani mengurus pemakamannya karena tak mau berurusan dengan Anom. Kemudian tubuh Rafi disimpan di kamar jenasah dan menunggu keluarganya datang menjemput. Setelah hampir sebulan tak ada seorang pun yang bersedia mengurus jenasah Rafi, pihak Rumah Sakit pun menguburkan jasadnya di pemakaman umum. Tak ada pihak keluarga yang hadir, apalagi orangtuanya. Rafi pergi dengan membawa rasa penasaran karena tak bisa memeluk sang mama di akhir hayatnya.
Faiq mengusap wajahnya sambil menahan haru. Ia mengerti mengapa Rafi masih berkeliaran setelah belasan tahun berlalu.
Awalnya Rafi datang untuk menemui Faiq karena tak sengaja melihat Faiq dan Anom di pemakaman seorang warga yang dimakamkan di tempat yang sama dengannya. Namun saat melihat Iyaz dan Izar, Rafi memilih berinteraksi dengan mereka karena merasa mereka adalah anak-anak yang menyenangkan.
\=====
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 376 Episodes
Comments
Oi Min
Kasihan kmu nak...... Rafi pnya bapak luck nut
2022-08-29
1
Irma Tjondroharto
kadang bingung ya.. gmn membedakan org yg tulus mencintai dg yg dibuat2... kasian anak yg jd korban... hiks
2022-07-18
0
Aya Vivemyangel
buapakne bejat 😡
2022-06-16
1