Setelah mengetahui cara ‘mengobati’ kaku tubuh yang dialami Anom, Heru memerintahkan beberapa anak buahnya mencari alamat rumah orang tua Asti.
Awalnya agak sulit karena hantu Asti menolak memberitahu dimana rumah kedua orangtuanya. Namun Faiq dan Fatur gigih membujuk hantu Asti dengan mengatakan beberapa alasan hingga akhirnya hantu Asti mau menunjukkan dimana alamat kedua orangtuanya.
“ Tanya aja sama dia langsung...,” kata hantu Asti pada awalnya saat Faiq bertanya dimana rumah orangtuanya.
“ Tapi Anom ga bisa ngomong, dia cuma bisa menatap plafond dengan mulut terbuka dan badan kaku. Ayo lah Asti,
bantu pekerjaan Kami biar lebih mudah...,” pinta Faiq.
“ Kenapa Aku harus membantu orang breng**k itu. Biarkan dia tersiksa dan mati pelan-pelan karena ga bisa
ngapa-ngapain...,” kata hantu Asti ketus.
“ Kamu salah Asti. Kamu bukan membantunya, tapi Kamu membantu orangtuamu dan dirimu sendiri...,” sahut Fatur
tenang.
“ Mana mungkin begitu...,” bantah hantu Asti.
“ Kamu pasti tau kalo sampe saat ini Ibumu masih terbaring lumpuh di tempat tidur kan Asti. Itu terjadi setelah dia tau Kamu batal menikah dan setelah mendengar kematianmu yang tragis. Apa Kamu ga kasian melihat Ibumu yang masih penasaran kenapa Anom membatalkan pernikahan Kalian dan lebih memilih wanita lain untuk dinikahi...?” tanya Faiq hati-hati.
“ Aku tau, kasian Ibuku...,” sahut hantu Asti lirih.
“ Ibumu hanya butuh penjelasan langsung dari Anom bukan dari orang lain. Karena sesungguhnya Ibumu sangat
menyayangi Anom dan berharap Anom jadi menantunya. Makanya ia sulit menerima kenyataan Anom membatalkan pernikahan secara sepihak, tanpa kata-kata dan tanpa permintaan maaf. Sampe detik ini Ibumu masih menunggu kedatangan Anom untuk minta maaf padanya...,” kata Faiq lagi.
“ Jangan siksa Ibumu dengan rasa penasaran hingga akhir hayatnya Asti. Beri dia kesempatan mendengar pengakuan Anom agar dia bisa meninggal dengan tenang...,” kata Fatur.
“ Meninggal, apa Ibuku juga akan meninggal...?” tanya hantu Asti sedih.
“ Semua manusia yang hidup di dunia ini akan meninggal Asti, termasuk Ibumu. Ga ada yang abadi. Apalagi usia
Ibumu juga cukup sepuh untuk bertahan hidup di dunia ini. Dia telah lama kehilangan harapan dan semangat untuk hidup sejak Kamu meninggal dunia. Daripada menyusahkan orang lain karena kondisinya itu, alangkah baiknya jika
Kamu mempermudah sakaratul mautnya agar Ibumu tak terlalu lama menderita. Tentang kapan Allah menakdirkan kematiannya ga ada yang tau. Setidaknya dia ga harus penasaran di akhir hayatnya seperti Kamu...,” kata Fatur panjang lebar yang diangguki Faiq.
Hantu Asti nampak menitikkan air mata. Lalu ia mengangguk dan mengiyakan permintaan Fatur dan Faiq. Setelah
memberitahukan alamat rumah orangtuanya hantu Asti pun pergi.
\=====
Faiq, Fatur dan Heru datang ke rumah orangtua Asti. Mereka membawa serta Anom yang masih dalam kondisi kaku tak bergerak.
“ Om baru tau kalo Polisi kaya Kamu juga bisa ngurusin hal sepele kaya gini Her...,” kata Fatur.
“ Om bisa aja. Sebenarnya polisi juga kerap menghadapi kasus di luar nalar kaya gini Om. Kadang rekan seprofesi
Saya juga menggunakan jasa orang yang memiliki kemampuan supranatural atau indigo untuk membantu Polisi mengungkap misteri kejahatan dan menangkap penjahat sesungguhnya...,” sahut Heru santai.
“ Apa Kamu juga...?” tanya Fatur.
“ Iya Om. Saya sering minta tolong sama Bang Faiq buat nyari tau siapa penjahat sebenarnya. Atau kadang malah
dapat info dari Abang kalo ada kejahatan yang belum terungkap selama beberapa tahun. Contohnya kaya kasus kematian Rafi ini...,” sahut Heru.
“ Kita sampe Pak...,” kata anak buah Heru yang bernama Erwin dari balik kemudi.
“ Baik, Kamu bantu keluarin Pak Anom dari mobil...,” sahut Heru.
“ Siap Pak...,” sahut Erwin.
Warga yang merupakan tetangga Asti nampak menatap curiga kearah mobil polisi yang parkir di depan rumah Asti.
Salah seorang warga memberanikan diri bertanya.
“ Kami mau bertamu ke rumahnya Asti. Benar kan kalo ini rumahnya Asti...?” tanya Heru sambil menunjuk rumah
orangtua Asti hingga membuat warga terkejut.
“ Tapi Astinya udah lama meninggal Pak. yang tinggal di sini hanya orangtua Asti aja...,” sahut warga.
“ Iya Kami tau. Kami ada perlu sedikit sama orangtuanya Asti...,” kata Heru lagi.
Tiba-tiba ketua RT di lingkungan keluarga Asti tinggal tampak melangkah cepat kearah rombongan polisi itu dan
menyapa Heru dengan ramah.
“ Maaf Pak Saya telat, Saya baru aja pulang dari kantor...,” sapa ketua RT.
“ Gapapa Pak, Kami juga baru datang kok...,” sahut Heru sambil menjabat tangan ketua RT itu.
“ Bisa Kita masuk sekarang Her...?” bisik Fatur yang juga didengar oleh sang ketua RT.
“ Bisa Pak. Mari Saya antar...,” sahut ketua RT dengan ramah lalu mengetuk pintu rumah Asti.
Ketua RT menyampaikan niat Heru dan rombongannya kepada ayah Asti yang berdiri di ambang pintu.
“ Saya ga ngerti Pak RT...,” kata ayah Asti sambil menatap tamunya satu persatu.
“ Kalo gitu bisa Kita ngobrol di dalam kan Pak. Ga enak kalo ngobrol di luar...,” saran ketua RT.
“ Oh iya, mari silakan masuk...,” sahut ayah Asti sambil membuka pintu lebar-lebar.
Heru, Faiq, Fatur dan ketua RT masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi tamu. Kemudian Heru mulai menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan mereka. Ayah Asti nampak menyimak ucapan Heru. Ada kesedihan di wajahnya saat Heru kembali mengingatkannya pada almarhumah Asti.
“ Saya sudah berusaha melupakan kejadian itu Pak. Jadi tolong jangan ungkit masalah itu lagi...,” pinta ayah Asti.
“ Saya mengerti Pak. Mungkin Bapak telah berhasil melupakan kejadian itu, tapi bagaimana dengan Ibunya Asti.
Bukannya Istri Bapak masih belum bisa menerima kepergian Asti...?” tanya Faiq hati-hati.
“ Darimana Mas tau kalo Istri Saya masih ga bisa nerima kepergian Asti, padahal kan Kita ga kenal dan baru kali ini ketemu...?” tanya ayah Asti sambil menatap Fatur dan Faiq bergantian.
Kemudian Heru menjelaskan semuanya. Tentang siapa Fatur dan Faiq juga siapa yang mereka bawa saat itu. Mendengar hal itu membuat ayah Asti marah. Ia menolak jika istrinya akan dipertemukan dengan Anom. Namun penuturan Faiq membuat ayah Asti mengerti dan mengijinkan Anom masuk ke dalam rumahnya.
Semua warga yang masih berkumpul di depan di rumah Asti pun terkejut saat polisi mengeluarkan Anom dari dalam
mobil. Kondisi Anom yang seperti orang cacat itu membuat warga sedikit iba.
“ Itu bukannya si Anom, calon Suaminya Asti yang kabur pas akad nikah mau digelar...?” bisik seorang warga.
“ Iya betul. Tapi kok keadaannya kaya gitu ya...,” sahut warga lainnya.
Sementara itu di dalam rumah ibu Asti terlihat tak nyaman melihat banyak orang asing di kamarnya. Apalagi kondisinya yang lumpuh membuatnya malu ditemui banyak orang.
“ Ada apa Yah, siapa mereka...?” tanya ibu Asti lirih.
“ Ini Pak Polisi mau jenguk Ibu. Sekalian bawa Anom untuk minta maaf sama Kita...,” sahut ayah Asti.
“ Anom. Mana dia Yah, mana...?!” tanya ibu Asti setengah menjerit.
“ Itu dia Bu, itu Anom...,” sahut ayah Asti sambil menujuk Anom yang terduduk di kursi roda.
Ibu Asti menatap Anom dengan tatapan tak percaya. Anom yang dulu gagah dan tampan kini terlihat mengenaskan.
“ Dia bukan Anom Yah...,” kata ibu Asti sambil mengalihkan tatapannya kearah lain.
Melihat hal itu Faiq dan Fatur bergerak cepat. Faiq memanggil arwah Asti, sedangkan Fatur berusaha menyadarkan
Anom dengan cara menepuk pundaknya.
Anom nampak menatap ke sekelilingnya seolah berusaha mengenali tempat itu. Tatapannya berhenti pada foto Asti yang berukuran besar yang terpampang di dinding kamar.
“ A.., As...,Asti...,” kata Anom gugup.
Semua orang menatap kearah Anom saat mendengarnya memanggil nama Asti. Walau suaranya kembali pulih, namun kondisi tubuhnya tetap kaku tak bergerak dengan kedua kaki dan tangan yang menekuk.
Hantu Asti yang juga telah hadir di ruangan itu nampak membisu saat mendengar Anom memanggil namanya tadi.
“ Sekarang Kamu ada di rumah orangtua Asti. Katakan apa yang harusnya Kamu katakan jika Kamu mau sembuh seperti semula...,” kata Fatur sambil menatap lekat kearah Anom.
Anom nampak gugup saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan kedua orangtua Asti. Tiba-tiba Anom merasa
sangat malu. Ia pernah bersumpah di hadapan orangtua Asti bahwa ia akan menikahi dan membahagiakan Asti. Tapi nyatanya ia malah mengkhianati Asti dan menikahi wanita lain di hari yang sama dengan hari pernikahannya dengan Asti.
“ Ibu..., Bapak..., maafkan Saya...,” kata Anom dengan suara lirih.
“ Kenapa Anom. Kenapa Kamu bohongin Kami, kenapa Kamu khianati Asti. Apa salahnya sama Kamu...?” tanya ibu
Asti sambil berurai air mata.
“ Ibu maafin Saya. Saya gabermaksud mengkhianati Asti. Saya sangat mencintai Asti, tapi Ria ngancam mau penjarain Saya kalo Saya ga nikahin dia waktu itu...,” sahut Anom.
“ Penjara. Emangnya apa yang udah Kamu lakuin sampe Kamu takut dipenjara. Jangan bilang Kamu merampok Anom...!” kata ibu Asti lantang.
“ Dia memang merampok Bu. Merampok kepe*aw*nan Ria dan beberapa wanita lainnya...\,” sahut ayah Asti ketus.
Semua terkejut mendengar ucapan ayah Asti. Ibu Asti menutup mulutnya dengan tangan, sedangkan Anom memejamkan matanya karena tak kuasa menahan malu. Sedangkan arwah Asti nampak menyeringai marah sambil menatap tajam kearah anom.
“ Apa, kurang ajar. Dasar baji**an. Beruntung Asti ga jadi nikah sama Kamu dulu...,” kata ibu Asti sambil menatap penuh kebencian kearah Anom.
“ Kenapa baru datang sekarang. Apa karena Kamu cacat, baru Kamu datang ke sini...?” tanya ayah Asti tak suka.
“ Dulu Saya mau ke sini jelasin semuanya Pak. Tapi Ria selalu ngelarang Saya dan jadikan kehamilannya untuk menahan Saya. Akhirnya Saya tau kalo Ria ga hamil. Dan saat Saya datang untuk menemui Asti, Saya dengar kalo dia udah meninggal karena kecelakaan...,” sahut Anom sambil menangis.
Suasana di dalam kamar pun menjadi hening. Hanya ada suara tangis Anom dan ibu Asti.
“ Tapi Kamu juga bohong soal Istri pertamamu...,” kata ayah Asti memecah keheningan.
“ Saya ga bohong Pak. Asti tau kalo Saya udah menikah dan dia bersedia jadi Istri kedua Saya. Tapi...,” ucapan Anom terputus.
“ Tapi Kamu juga bermain api dengan wanita lain di luar sana...!” kata ayah Asti lantang.
“ Maafkan Saya Pak, Bu. Saya menyesal telah mengkhianati Asti. Saya memang bukan orang baik. Dan sekarang Saya harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan Saya di depan hukum. Tapi Saya ingin menjalani hukuman Saya dengan tenang tanpa dibayangi rasa bersalah pada keluarga ini...,” kata Anom sambil menitikkan air mata.
Keheningan kembali menyeruak. Ibu Asti menghentikan tangisnya lalu menatap Anom.
“ Aku dan Suamiku memaafkan kesalahanmu. Urusanmu dengan hukum bukan lah urusan Kami. Pergi lah...,” kata ibu Asti yang diangguki ayah Asti hingga membuat Anom menangis bahagia.
Tiba-tiba Fatur dan Faiq melihat arwah Asti yang bercahaya. Wujudnya yang menyeramkan pun berganti dengan wujud terbaiknya seperti saat menjelang pernikahannya dulu. Masih mengenakan kebaya pengantin yang sama dengan wajah dan tubuh yang kembali utuh. Arwah Asti pun tersenyum menatap kedua orangtuanya. Sebelum menghilang arwah Asti mengucapkan terima kasih dengan suara lirih pada Faiq dan Fatur.
“ Terima kasih...,” bisik hantu Asti.
“ Sama-sama...,” gumam Faiq dan Fatur bersamaan.
Setelah mendapatkan maaf dari orangtua Asti, Anom kembali dibawa ke kantor polisi. Anom terlihat lebih tenang dan bahagia karena bisa menggerakkan tangan dan kakinya lagi secara perlahan.
Faiq dan Fatur ikut bahagia karena bisa membantu mengantarkan arwah Asti ke tempat seharusnya. Kini mereka kembali untuk membantu hantu Rafi mendapat keadilan.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 376 Episodes
Comments
dimas nugroho
typo kah?? /Shy/
2024-01-11
1
Nurjanah Tamim
kamu mmng manusia yg terbejad d Dunia anooooom...
2022-03-02
2
Ciki Ciwul
" maaf " berjuta makna , terkadang mudah d ucapkan . terkadang susah d ungkapkan 😐
2021-12-11
3