Setelah selesai mewawancarai manager rumah makan yang bernama Ira itu, Faiq dan Hendro pun keluar dari sana
dengan lesu.
“ Kirain Kakeknya Bu Ira itu yang namanya Damian, ga taunya bukan...,” keluh Hendro.
“ Iya, Gue udah seneng aja. Siapa tadi nama Kakeknya Bu Ira...?” tanya Faiq.
“ Kakek Bayan...,” sahut Hendro cepat.
“ Oh iya, lupa Gue. Tapi gapapa, Theresia pasti ngerti kok gimana sulitnya nyari Damian di masa sekarang...,” sahut Faiq.
Tiba-tiba dari dalam rumah makan seorang pelayan bernama Desi berlari kearah Faiq dan Hendro.
“ Maaf Mas, ini ada yang ketinggalan di ruangan Bu Ira...,” kata Desi sambil menyerahkan head set milik Hendro yang terjatuh.
“ Oh iya, itu punya Saya Mbak. Makasih ya...,” sahut Hendro senang.
“ Sama-sama Mas...,” kata Desi sambil bersiap berlalu.
“ Sebentar Mbak, apa benar hampir semua karyawan di sini bersaudara...?” tanya Faiq.
“ Betul Mas, pasti Bu Ira yang bilang gitu kan...?” tanya Desi.
“ Iya. Apa Mbak Desi juga termasuk salah satu dari mereka...?” tanya Faiq sambil melirik nametag milik Desi.
“ Panggil Desi aja Mas, kan Saya jauh lebih muda dari Mas berdua. Kalo Saya mah termasuk yang 20% itu Mas. Saya kerja di sini karena Kakeknya Bu Ira sama Kakek Saya sahabatan. Saya direkomendasiin sama Kakeknya Bu Ira untuk kerja di sini. Dan waktu ketemu Bu Ira langsung diterima tanpa test. Bu Ira emang the best deh...,” sahut Desi bangga.
“ Oh gitu, emang Kakeknya Desi siapa namanya...?” tanya Hendro basa basi.
“ Nama Kakek Saya Drajat...,” sahut Desi sambil menoleh karena namanya dipanggil oleh karyawan lain.
“ Drajat, berarti Kakek Kamu pemilik asli tanah ini dulu sebelum dijual ke Kakeknya Bu Ira...?” tanya Faiq.
“ Iya, maaf Mas Saya harus lanjutin pekerjaan Saya. Permisi...,” sahut Desi sambil berlari kecil menuju rumah makan meninggalkan Faiq dan Hendro yang saling menatap dengan senyum mengembang.
\=====
Kini Faiq dan Hendro sedang ada di depan rumah Desi untuk bertemu dengan kakeknya. Mereka berharap jika kakek Desi kenal dengan orang yang mereka cari. Saat itu Faiq juga mengajak hantu Theresia bersamanya.
“ Sebentar ya Mas...,” kata Desi sambil membuka pintu rumah yang diangguki Faiq dan Hendro.
Desi adalah gadis yatim piatu. Ia tinggal bersama sang kakek atas permintaan kakaknya yang tak mungkin lagi mengurus sang kakek karena harus mengikuti suaminya bertugas di kota lain.
“ Kayanya Gue ragu kalo Kakeknya Desi itu kenal orang yang Kita cari Iq...,” kata Hendro.
“ Ga ada salahnya dicoba Hen. Apalagi Kakek Bayan membeli tanah itu dari Kakeknya Desi. Mungkin masih ada hubungannya sama Damian yang Kita cari...,” sahut Faiq.
Tak lama kemudian Desi mempersilakan Faiq dan Hendro masuk ke dalam rumah. Saat itu sang kakek sudah ada di kursi sambil menatap lekat kearah tamunya.
“ Silakan masuk Mas. Nah ini Kakek Saya. Karena udah sepuh jadi pendengarannya agak berkurang. Kalo ngomong harus sedikit teriak ya Mas...,” kata Desi sambil tersenyum malu dan diangguki Faiq.
Hantu Theresia yang berdiri di samping Faiq pun melayang mendekati Drajat. Ia nampak mengamati kakek Desi itu
dari dekat dengan seksama. Tiba-tiba ia tersenyum sambil menitikkan air mata. Faiq yang melihat hantu Theresia menangis pun berharap jika kakek Desi adalah orang yang bisa menuntun mereka menemui Damian.
“ Kenapa Kamu menangis...?” tanya Faiq.
“ Dia, dia Damian. Ternyata dia masih hidup ya Tuhaann...,” sahut hantu Theresia sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.
“ Alhamdulillah, syukurlah Aku ikut senang dengarnya...,” kata Faiq sambil tersenyum.
Kakek Desi yang merasa jika tingkah Faiq sedikit aneh karena bicara sendiri itu pun mulai tak nyaman lalu melirik kearah Desi seolah meminta penjelasan. Namun Faiq memberi kode agar Desi tak usah menjelaskan apa pun karena dia yang akan menjelaskan semuanya.
“ Maaf Kek,kenalkan Saya Faiq dan itu teman Saya Hendro. Kami datang ke sini karena ingin membantu seorang gadis bernama Theresia yang sedang mencari temannya. Kata Theresia temannya itu bernama Damian. Apa Kakek kenal sama Theresia dan Damian...?” tanya Faiq hati-hati.
Drajat nampak tersentak kaget mendengar ucapan Faiq. ia menatap lekat kearah Faiq dengan mata berkaca-kaca.
“ Theresia..., Theresia..., dimana dia sekarang...?” tanya Drajat dengan mata berkaca-kaca.
“ Maaf, tapi apa Kakek kenal sama Theresia dan Damian...?” tanya Faiq lagi.
“ Iya, iya, Aku kenal. Aku lah Damian itu. Dimana There...?” tanya Drajat sambil mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.
“ Dia ada di sini Kek. Coba Kakek sentuh dan kenali dia...,” sahut Faiq sambil menganggukkan kepalanya kearah Desi.
" Apa maksudmu...?" tanya Drajat tak mengerti.
" Kakek akan tau setelah ini...," sahut Faiq.
Desi maju ke hadapan Drajat. Keduanya saling menatap sejenak. Tiba-tiba arwah hantu Theresia masuk ke dalam
raga Desi. Sebelumnya Faiq telah minta ijin akan meminjam raga Desi untuk mempertemukan hantu Theresia dengan kakeknya. Desi pun tak keberatan dan mempersilakan Faiq menggunakan raganya.
“ Damian...,” panggil Desi yang kini telah kerasukan arwah Theresia.
Mendengar suara Desi yang berbeda dari biasanya dan lebih mirip dengan suara sahabatnya di masa lalu, Drajat pun nampak terharu. Kedua matanya berkaca-kaca pertanda ia sangat sedih.
“ There, Kamu kah itu...?” tanya Drajat dengan suara serak.
“ Iya ini Aku. Kenapa Kamu jadi setua ini Damian. Memangnya berapa tahun Kita ga ketemu...?” tanya hantu Theresia.
“ Sudah lama. Lama sekali There. Kamu, dimana Kamu sekarang...?” tanya Drajat dengan suara bergetar.
“ Aku masih di sana, di bekas rumahmu dulu. Aku mencarimu kemana-mana tapi ga pernah ketemu. Aku liat semua
berubah. Aku bingung, kenapa tiap kali membuka mata Aku selalu kembali ke sana. Apa yang sebenarnya terjadi Damian...?” tanya hantu Theresia sambil mengguncang tangan Drajat.
“ Terakhir kali Kita diikat oleh para penjarah itu di dekat tangga, apakah Kamu ingat There...?” tanya Drajat dengan suara bergetar.
“ Iya, Aku ingat. Dan saat Aku membuka mata ternyata Aku hanya sendirian di sana. Kamu pun ga ada. Aku bingung karena selalu balik ke sana lagi dan lagi...,” sahut hantu Theresia.
Drajat pun menangis pilu. Tubuhnya berguncang dengan kedua telapak tangannya nampak menutupi wajahnya yang berlinang air mata itu. Lalu mengalirlah cerita dari mulut Drajat.
“ Setelah Kita diikat, rumahku dibakar oleh penjarah itu There. Kita terkepung api. Aku sadar dan berusaha membangunkanmu, tapi gagal. Aku panik There, apalagi Aku tak bisa melepaskan ikatanmu. Tiba-tiba atap rumah runtuh menimpa Kita bertiga, Aku, Kamu dan Papa. Tapi Aku masih berusaha keluar dan berhasil. Saat tiba di luar rumah Aku minta tolong pada warga tapi ga ada yang berani menolong karena sebelumnya diancam oleh para
penjarah itu. Aku liat sebagian rumahku sudah habis terbakar. Dan Aku ga bisa menolong Kamu dan Papa. Di saat kritis itu ada seseorang yang menerobos masuk dan berhasil membawamu keluar, tapi terlambat. Kamu telah meninggal There. Kamu dan Papaku meninggal dalam kebakaran itu...,” kata Drajat sambil menangis pilu.
“ Aku meninggal. Apa itu artinya Aku sekarang hanya hantu...?” tanya hantu Theresia ragu.
“ Iya There, Kamu hanya arwah penasaran yang terus berkeliaran mencari sahabat sejatimu Damian. Dan rupanya
Damian pun sama terpukulnya saat melihatmu meninggal di depan matanya...,” sahut Faiq yang diangguki Drajat.
“ Lalu kenapa Kamu mengganti namamu Damian...?” tanya hantu Theresia.
“ Saat Aku siuman Aku ada di sebuah rumah yang hangat. Sebuah keluarga Jawa mengadopsiku dan mengganti namaku menjadi Drajat. Aku setuju karena tak ingin mengingat peristiwa kelam itu jika masih menggunakan nama Damian. Selama bertahun-tahun Aku hidup dalam ketakutan. Aku takut para penjarah itu mengenaliku sebagai Damian. Lalu kedua orangtua angkatku memboyongku ke Jogja dan menyekolahkanku di sana. Setelah dewasa Aku kembali ke sini dan mengurus harta peninggalan Papa yang hanya tinggal tanah kosong tak berpenghuni. Aku menjualnya pada temanku yang bernama Bayan. Lalu Bayan membangun rumah makan di atas tanah itu yang diwariskan kepada Anak dan Cucunya secara turun temurun. Karena Cucuku belum punya pekerjaan, Aku minta
tolong sama Bayan agar mengijinkan Cucuku bekerja di sana. Ternyata Cucu Bayan yang bernama Ira itu sangat baik dan memberi kesempatan Cucuku kerja di rumah makan itu sampe sekarang...,” kata Drajat panjang lebar.
Kemudian keheningan menyelimuti ruangan itu. Hendro yang mengamati interaksi Faiq dengan hantu Theresia dan
Drajat pun lagi-lagi dibuat kagum.
“ Aku bahagia melihatmu baik-baik saja Damian. Tak mengapa jika Aku telah mati. Yang penting Kamu selamat...,” kata hantu Theresia sambil tersenyum.
“ Maafkan Aku karena gagal menyelamatkanmu There. Aku selalu mimpi buruk di sisa umurku karena penyesalanku yang ga bisa menyelamatkanmu waktu itu...,” sahut Drajat sambil menangis.
“ Jangan salahkan dirimu Damian. Takdirku memang hanya sampai di situ. Aku memaafkanmu atas ketak sengajaanmu itu...,” kata hantu Theresia sambil tersenyum.
“ Terima kasih Theresia, Aku menyayangimu. Andai waktu itu Kita masih bersama, mungkin Aku akan menikahmu dan menjadikanmu Istriku...,” kata Drajat alias Damian sungguh-sungguh.
“ Kamu selalu bilang begitu sejak dulu dan Aku ga percaya. Tapi saat Kamu bilang itu sekarang, Aku percaya Damian...,” sahut hantu Theresia sambil menahan tangis.
Kemudian Drajat memeluk Desi yang dirasuki arwah Theresia dengan erat untuk menyalurkan rasa sayang dan rindunya yang telah lama terpendam. Faiq dan Hendro pun ikut terharu mendengar ungkapan perasaan Damian dan Theresia.
“ Apa yang terjadi sama Papi dan Mamiku Damian...?” tanya hantu Theresia.
“ Aku dengar orangtuamu kembali ke Portugal setelah tahu Kamu meninggal terbakar di rumah Papaku...,” sahut
Damian.
“ Syukur lah mereka selamat. Dan sekarang Aku harus pergi Damian karena tak ada lagi yang menghambat langkahku...,” kata hantu Theresia.
“ Iya, iya pergilah Theresia. Semoga Kau bahagia di sana...,” sahut Drajat sambil menganggukkan kepalanya dengan air mata yang menderas di wajahnya.
Theresia tersenyum manis sebelum keluar dari raga Desi. Sesaat kemudian tubuh Desi pun merosot jatuh ke lantai.
Beruntung Hendro sigap meletakkan bantalan sofa di lantai hingga tubuh Desi tak membentur lantai. Sesaat kemudian Desi pun siuman dan melihat sang kakek menangis.
“ Kakek, Kakek kenapa...?” tanya Desi sambil menatap Faiq dan Hendro bergantian.
“ Kakekmu gapapa, Kakek baru aja ketemu sama sahabat kecilnya itu...,” sahut Faiq.
“ Jadi Kakek Drajat adalah Damian yang dicari sama hantu Theresia itu Mas...?” tanya Desi takjub.
“ Iya...,” sahut Faiq cepat lalu
menceritakan semuanya kepada Desi.
Kedua mata Desi nampak berkaca-kaca mengetahui kisah pilu sang kakek. Kemudian Desi memeluk tubuh sang kakek untuk menenangkannya. Di dekat pintu arwah Theresia masih berdiri menatap Damian yang menangis. Ada rasa berat untuk berpisah dengan pria yang telah lama menghuni hatinya itu. Namun takdirnya telah tiba dan Theresia harus pergi.
“ Dia akan baik-baik aja, pergi lah...,” kata Faiq lirih.
“ Baik. Sampaikan salamku untuk Hanako, Desi dan temanmu itu. Terima kasih telah membantuku bertemu dengan Damian ya Faiq...,” sahut Theresia sambil tersenyum.
“ Sama-sama, insya Allah Aku sampaikan salammu untuk mereka nanti...,” kata Faiq.
Hantu Theresia mengangguk lalu membalikkan tubuhnya kearah pintu. Hembusan angin sejuk menerpa tubuhnya hingga rambut pirangnya nampak melambai tertiup angin. Kemudian seberkas cahaya putih datang menjemput Theresia dan membawa tubuhnya melayang ke atas lalu lenyap begitu saja.
Faiq mengusap wajahnya sambil mengucap hamdalah. Setelahnya Faiq dan Hendro pun pamit. Drajat alias dan Damian mengucapkan terima kasih sebelum Faiq masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian mobil yang dikemudikan Hendro itu melaju meninggalkan rumah itu diiringi tatapan Desi dan kakeknya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 376 Episodes
Comments
Hariyanti Katu
🥺🥺sahabat sejati
2024-07-03
1
dimas nugroho
😭😭😭😭😭😭😭😭
2024-01-12
0
kiki
mengsedih😭
2022-06-20
1