Hantu Rafi mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala Marlia. Ia mencoba membangunkan sang mama dengan membisikkan beberapa kalimat. Namun sayangnya Marlia menolak untuk bangun dan makin jauh masuk ke alam mimpinya. Awalnya Marlia memang pura-pura pingsan, namun akhirnya Marlia tertidur dan berkelana dalam mimpi yang tak ingin ia akhiri.
Rafi menjauhkan tangannya sambil menoleh kearah Faiq.
“ Mama ga mau bangun Om. Kata Mama, Mama mau tidul aja. Mama takut kalo bangun nanti Lafi bakal pelgi ninggalin Mama lagi...,” kata Rafi dengan mimik sedih.
“ Gitu ya. Coba Rafi bilang kalo Mama ga bangun, nanti Papa bisa datang dan mukulin Mama lagi...,” saran Faiq.
Rafi pun mencoba menuruti saran Faiq dan kembali membangunkan Marlia. Sama seperti tadi, Marlia tetap diam dan memilih terus ‘tersesat’ makin jauh di alam mimpinya yang tak berujung itu.
“ Susah Om, Mama ga mau...,” kata Rafi hampir menangis.
Faiq tersenyum lalu mendekat kearah Marlia dan Rafi. Dengan lembut ia meraih tangan hantu Rafi lalu menempelkannya di kening Marlia. Sementara itu Fatur dan Heru membantu dengan membaca ayat al Qur’an dan berdzikir dalam hati. Faiq pun berhasil masuk ke alam mimpi Marlia.
Dalam mimpi Marlia terlihat jika Marlia sedang asyik menatap Rafi yang tengah bermain bersama teman-temannya.
Marlia nampak tersenyum bahagia menyaksikan anak semata wayangnya itu tertawa bahagia. Faiq mendekati Marlia dan menyapanya.
“ Assalamualaikum Bu Marlia...,” sapa Faiq.
“ Wa alaikumsalam. Siapa Kamu, mau apa ke sini...?” tanya Marlia ketakutan.
“ Jangan takut Bu Marlia. Namaku Faiq. Aku datang untuk menemui Kamu dan Rafi...,” sahut Faiq.
“ Untuk apa. Jangan ganggu Aku dan Anakku. Pergi sana...!” usir Marlia sambil melemparkan kerikil yang berada tak jauh darinya kearah Faiq.
Melihat sang mama menyerang Faiq, Rafi pun segera melerai.
“ Jangan, Om Faiq olang baik Ma. Om Faiq yang bakal bantuin Kita...,” kata Rafi sambil memeluk pinggang Marlia
dari belakang.
“ Menolong Kita, maksud Rafi apa...?” tanya Marlia sambil menatap anaknya.
“ Kata Om Faiq, Om Polisi udah nangkap Papa. Jadi Mama halus ikut sama Om Faiq bial Papa ga mukulin Mama lagi. Mama mau kan ikut sama Om Faiq...?” tanya hantu Rafi penuh harap.
“ Kenapa Aku harus ikut Kamu...?” tanya Marlia pada Faiq.
“ Karena Kamu harus bersaksi di depan Polisi bahwa memang Anom lah yang telah melukai Rafi dulu dan menyekapmu di gudang selama ini...,” sahut Rafi.
“ Aku..., Aku ga mau. Aku takut...,” tolak Marlia sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
“ Tapi Mama halus mau. Apa Mama ga kasian sama Aku. Gala-gala Papa, Kita ga bisa ketemu lagi sekalang. Aku cuma bisa liat Mama tapi ga bisa peluk Mama kaya dulu kecuali dalam mimpi...,” kata hantu Rafi sedih.
Ucapan Rafi membuat Marlia tersadar jika saat itu ia tengah bermimpi. Marlia menoleh kearah Rafi dan menatapnya lekat. Rafi nampak tersenyum lalu perlahan wujud Rafi berubah menjadi sosok Rafi yang ada dalam ingatan Marlia terakhir kali. Tubuh yang memar, kepala yang penuh darah akibat luka terbentur batu, dan luka menganga di perut dengan usus terburainya akibat sabetan pisau Anom.
Melihat kondisi Rafi membuat Marlia menjerit histeris. Apalagi saat tubuh Rafi melayang dan menjauh sambil menatap sedih kearah Marlia.
“ Rafi...!” panggil Marlia yang terduduk di atas tempat tidur dengan wajah bersimbah air mata.
“ Alhamdulillah...,” gumam Fatur dan Heru bersamaan.
Marlia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah berusaha mengenali ruangan dimana ia berada. Tatapan Marlia terhenti pada sosok Faiq yang tengah menatap lekat kearahnya.
“ Kamu...,” ucapan Marlia terputus dengan jari telunjuk mengarah kepada Faiq.
“ Assalamualaikum Bu Marlia, apa kabar. Kita ketemu lagi ya...,” sapa Faiq sambil tersenyum.
Marlia tertegun mendengar sapaan Faiq padanya. Dan Marlia percaya jika Faiq akan membantunya.
“ Aku akan menuruti permintaan Rafi. Tolong bantu Kami...,” kata Marlia dengan suara bergetar.
“ Yang penting sekarang Bu Marlia pulih dulu dan sehat lagi. Setelah itu, insya Allah Saya, Om Saya dan Adik Saya yang Polisi itu bakal bantuin Ibu menuntut keadilan untuk almarhum Rafi...,” sahut Faiq hati-hati.
“ Jadi Rafi memang udah meninggal ya Mas...,” kata Marlia dengan mata berkaca-kaca.
“ Iya Bu, maaf...,” sahut Faiq tak enak hati.
Marlia menggelengkan kepalanya kemudian menangis. Isak tangisnya terdengar menyayat hati hingga membuat Faiq, Fatur dan Heru menjadi iba.
“ Saya tau Rafi ga mungkin bertahan karena lukanya terlalu parah saat itu. Tapi Saya ga nyangka kalo arwah Rafi masih berkeliaran dan penasaran...,” kata Marlia di sela isak tangisnya.
“ Rafi masih penasaran karena ga bisa memeluk Bu Marlia di akhir hayatnya. Sesuai permintaan Bu Marlia sebelum
diculik Pak Anom dulu, warga membawa Rafi ke Rumah Sakit. Tapi sayangnya Rafi meninggal di perjalanan. Warga ga berani ngurus jenasah Rafi karena ga mau berurusan sama Pak Anom yang terkenal arogan itu. Warga ga mau niat baik mereka disalah pahami oleh Pak Anom nanti. Makanya jenasah Rafi ditinggal di Rumah Sakit. Setelah sebulan lebih ga ada yang datang mengurus jenasah Rafi, pihak Rumah Sakit memutuskan memakamkan Rafi di pemakaman umum...,” kata Faiq panjang lebar.
“ Waktu itu Anom membawaku pergi jauh dan ninggalin Rafi begitu aja. Harusnya Aku ada bersama Rafi di saat terakhirnya walau harus mati di tangan Anom. Karena bagiku mati lebih baik daripada tinggal bersamanya. Aku menyesal karena ga bisa jadi Mama yang baik untuk Anakku...,” sahut Marlia sambil menangis.
“ Itu bukan salah Bu Marlia. Rafi tau kalo Bu Marlia menyayanginya dengan tulus kok...,” hibur Faiq.
“ Makasih Mas. Sekarang Aku mau jebloskan Anom ke penjara. Dia harus membayar perbuatan jahatnya selama
ini...,” sahut Marlia mantap.
Faiq, Fatur dan Heru pun tersenyum mendengarnya. Mereka bangga karena Marlia mau memperjuangkan keadilan untuk anaknya dan wanita lain yang menjadi korban kejahatan Anom.
\=====
Hantu Asti menatap nanar kearah Anom yang duduk melamun di sel tahanan. Asti benci saat mengingat kebodohannya dulu. Perlahan hantu Asti melayang kearah Anom yang terkejut melihat kehadirannya.
“ Ka, Kau...,” kata Anom gugup.
“ Apa kabar Anom...,” sapa hantu Asti sambil mendekat kearah Anom.
Anom berusaha tenang menghadapi Asti yang ia yakini sebagai hantu itu. Sehari setelah pernikahannya dengan Ria dulu, Anom mendapat kabar jika Asti meninggal dunia. Anom sempat sedih karena mengira Asti meninggal karena bunuh diri. Selama belasan tahun Anom hidup dengan perasaan tak tenang bersama Ria dan kedua anak mereka. Anom selalu dihantui rasa bersalah atas kematian Asti yang dikiranya bunuh diri itu. Hingga akhirnya waktu yang dikhawatirkannya itu pun datang juga. Yaitu waktu dimana semua kejahatannya terbongkar dan dia harus mempertanggung jawabkan semuanya di depan hukum.
“ Aku baik dan selalu baik saat tak bersamamu...,” sahut Anom ketus.
“ Begitu kah. Tapi yang Aku liat malah sebaliknya. Sejak tak bersamaku Kau malah tak terurus dan terlihat jauh
lebih tua dari usia seharusnya. Ada apa Anom...?” tanya hantu Asti sambil menahan senyum.
“ Yah, itu karena Aku sibuk mengurus warga yang memilihku menjadi Ketua RT. Aku hampir ga punya waktu untuk diriku sendiri. Tapi gapapa, Aku senang melihat warga bahagia dan terpenuhi hak-haknya...,” sahut Anom bangga.
“ Yakin bukan karena hal lain Anom...?” desak hantu Asti tepat di depan wajah Anom.
“ Apa maksudmu...?” tanya Anom mulai panik apalagi saat melihat wajah cantik hantu Asti dari jarak dekat.
Hantu Asti tersenyum penuh makna. Dari jarak yang sangat dekat Anom bisa melihat perubahan wujud hantu Asti hingga kedua matanya pun tak sempat berkedip. Perlahan namun pasti, wujud cantik Asti yang mengenakan kebaya putih itu berubah ke wujud terakhir saat meninggal akibat kecelakaan itu. Tubuh bagian sebelah kanan mulai dari kepala hingga kaki nampak hancur dan berlumuran darah. Tengkorak kepala dan kerangka tubuhnya nampak menyembul dengan daging yang hampir tanggal. Dua besi yang menancap di wajah dan matanya hingga tembus ke kepala bagian belakang pun membuat Anom meringis ngeri. Saking takutnya melihat penampakan hantu Asti membuat Anom mematung dengan mulut menganga. Kedua telapak tangannya pun nampak terkembang seolah menghalau hantu Asti yang bergerak mendekat kearahnya.
" Ini lah wujud terakhirku Anom. Dan Aku mau hidupmu hancur seperti hancurnya jasadku...!" kata hantu Asti sebelum menghilang meninggalkan tubuh Anom yang kaku tak bergerak.
Anom tetap dalam keadaan seperti itu selama berjam-jam hingga polisi yang akan menginterogasinya masuk dan melihatnya. Para polisi pun langsung membawa tubuh kaku Anom ke klinik untuk diobati.
\=====
Faiq dan Fatur pun mengikuti Heru yang masuk ke klinik usai mendapat laporan dari anak buahnya. Saat tiba di klinik mereka langsung menemui Anom yang tengah dirawat di sana.
Langkah Heru, Faiq dan Fatur terhenti di ambang pintu kamar tempat anom dirawat. Bagaimana tidak. Anom tengah berbaring dengan posisi yang sedikit aneh. Kedua kakinya dalam posisi menekuk dengan kedua telapak tangan yang nampak terkembang di depan wajahnya seolah siap menghalau sesuatu atau benda asing yang akan mendekat kearahnya. Kedua matanya menatap lekat kearah plafond kamar tanpa berkedip. Faiq dan Fatur yang tahu penyebab Anom bertingkah aneh pun nampak santai.
“ Apa yang terjadi dok...?” tanya Heru.
“ Keliatannya pasien ketakutan Pak...,” sahut dokter.
“ Ketakutan, masa sih dok...?” tanya Heru lagi.
“ Melihat dari ekpresi wajahnya sih begitu Pak. Tapi untuk menangani tubuhnya yang kaku, pasien bisa dibawa ke dokter ahli saraf karena terus terang ini bukan bidang Saya Pak...,” saran sang dokter.
Heru menatap kearah Faiq dan Fatur bergantian seolah meminta pendapat pada keduanya.
“ Hanya ada satu cara agar Anom bisa sembuh...,” sahut Fatur.
“ Gimana caranya Om...?” tanya Heru penasaran.
“ Pertemukan Anom dengan orangtua Asti. Suruh dia minta maaf dan penuhi apa pun yang diminta oleh orangtua Asti nanti...,” sahut Fatur.
“ Tapi dimana Kita bisa nemuin orangtua Asti Om...?” tanya Heru gusar.
“ Tanya sama Anom. Dia selalu ingat arah ke rumah orangtua Asti dibandingkan arah ke rumah orangtua Ria yang notabene adalah mertuanya itu...,” sahut Fatur santai.
“ Kok gitu Om, aneh banget...,” kata Heru sambil menggaruk kepalanya.
“ Itu faktanya Her. Harusnya Anom melakukannya sejak dulu. Sejak dia memilih menikahi Ria dan membatalkan pernikahannya dengan Asti secara sepihak. Kedua orangtua Asti terus menunggu tapi Anom tak pernah datang hingga detik ini...,” sahut Fatur.
“ Apa setelah minta maaf keadaan Anom bisa normal lagi om...?” tanya Heru.
“ Mungkin iya, atau mungkin malah ga akan sembuh sama sekali...,” sahut Fatur.
Ucapan Fatur membuat Heru mengerti jika sebuah kata maaf bisa merubah nasib seseorang termasuk Anom.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 376 Episodes
Comments
neng ade
karma Anom yg udh nyakitin Asti dan bikin malu keluarga Asti .. rasakan semua ulah buruk mu itu
2022-08-06
3
Aya Vivemyangel
iya sih , kdg org lupa , saat iya ada "diatas" n memiliki "lebih" saat sadar menyakiti prsaan org lain ,,, kata maaf pun sulit dlakukan Krn mrs dia diatas n TDK mmbtuhkn siapapun ,,, 😌
2022-06-16
2
widi aandriya
apakah benar ada arwah penasaran ? atau kah itu bentuk jin ny gaes ??
2022-06-03
1