Setelah mengetahui penyebab kematian Rafi, Faiq pun menghela nafas panjang. Ia menoleh kearah Fatur yang juga tengah menatapnya.
“ Gimana...?” tanya Fatur.
“ Aku kenal siapa orang yang harus bertanggung jawab atas kematian Rafi Om...,” sahut Faiq mantap.
“ Itu bagus. Seperti biasa, jangan lupa libatkan Polisi jika ini memang kasus kriminal...,” kata Fatur.
“ Siap Om...,” sahut Faiq cepat.
“ Apa Om bakal nyali Papa sama Mama Aku...?” tanya Rafi sambil menatap Faiq dan Fatur bergantian.
“ Insya Allah. Rafi mau kan ketemu sama Mama dan Papanya Rafi...?” tanya Fatur.
“ Aku cuma mau ketemu sama Mama aja. Aku ga mau ketemu Papa. Papa jahat, Aku benci dia...,” sahut Rafi tegas.
Faiq dan Fatur saling menatap lalu mengangguk. Melihat hal itu Shera memberanikan diri bertanya.
“ Apa Anak-anak harus ikut juga Yah...?” tanya Shera hati-hati.
“ Ga perlu Bun. Cukup Aku sama Om Fatur aja yang ke sana...,” sahut Faiq.
“ Alhamdulillah, Aku lega dengarnya...,” kata Shera sambil mengusap wajahnya.
“ Apa Kalian mau pergi sekarang...?” tanya Erik.
“ Iya Pa. Lebih cepat lebih baik. Aku juga udah minta Heru datang buat ngurus semuanya nanti...,” sahut Faiq.
“ Kalo Papa boleh tau, siapa orang yang Kalian maksud itu...?” tanya Erik penasaran.
“ Papa pasti ga percaya kalo Aku bilang siapa orangnya...,” sahut Faiq sambil menatap Erik lekat.
“ Emangnya siapa...?” tanya Erik lagi.
“ Pak Anom Ketua RT 011 itu Pa...,” sahut Faiq.
“ Ya Allah, yang bener Bang...?” tanya Erik.
“ Iya Pa. Hantu Rafi yang deketin Iyaz sama Izar itu anaknya Pak Anom dari Istri pertamanya yang namanya Marlia.
Pak Anom nikah lagi sama Bu Ria dan punya Anak dua. Tapi ga ada yang tau dimana Pak Anom nyekap istrinya selama ini...,” sahut Faiq.
“ Kok bisa gitu ya. Papa ga nyangka orang sebaik Pak Anom punya masa lalu yang kelam juga...,” kata Erik sambil menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian Heru menelephon Faiq dan mengabarkan jika ia sudah ada di tempat yang dimaksud.
“ Heru udah di rumahnya Pak Anom Pa. Tolong temenin Shera sama Anak-anak ya Pa. Aku sama Om ke sana dulu...,” kata Faiq.
“ Iya, hati-hati...,” sahut Erik sambil tersenyum lalu menggendong Iyaz ke ruang tengah agar tak menangis saat melihat kepergian Faiq nanti.
Kemudian Shera meraih Izar dari gendongan Fatur lalu mengikuti jejak Erik yang pergi ke ruang tengah.
\=====
Anom yang kini menjabat sebagai ketua RT itu nampak terkejut saat melihat polisi berseragam datang ke rumahnya. Saat Heru menyampaikan maksud kedatangannya ke rumah itu, wajah Anom nampak memucat. Ia tak menyangka jika kebusukannya belasan tahun lalu harus terungkap di saat ia sudah tak lagi muda dan sedang menikmati masa kejayaannya.
“ Bapak pasti salah orang, itu bukan Saya Pak. Nama Anom di Indonesia ini kan banyak...,” kata Anom mencoba berkelit.
“ Bapak betul. Tapi Anom yang berasal dari kota W dan jari kelingkingnya hilang satu kan cuma Anda...,” sahut Heru santai.
“ Tapi...,” ucapan Anom teputus saat dua polisi beseragam langsung berdiri di sampingnya dan bersiap membawanya ke mobil patroli polisi.
“ Anda bisa jelaskan di kantor nanti...,” kata salah seorang polisi itu.
Anom tepaksa ikut ke kantor polisi. Ia tak mau warga yang selama ini menghormatinya akan berbalik membencinya jika tau apa yang telah ia lakukan belasan tahun lalu pada anak dan istri pertamanya.
Saat melintas di depan Faiq dan Fatur, Anom nampak menundukkan wajahnya karena malu. Hantu Rafi yang berdiri di samping Faiq pun nampak kesal lalu menjegal langkah Anom hingga ia tersungkur jatuh dengan wajah mencium tanah. Anom nampak kebingungan dan mencoba bangkit.
“ Kok bisa jatuh ya, kaya ada yang jegal kaki Gue. Tapi siapa, kan ga ada siapa-siapa di sini...,” gumam Anom sambil berusaha bangkit.
Saat Anom hendak bangkit, ada sebuah tangan yang terulur kearahnya. Anom mengira jika itu tangan salah seorang polisi. Anom meraih tangan itu dan menggenggamnya erat. Namun Anom tersentak saat merasa jika tangan yang ia genggam berukuran sangat kecil seperti tangan anak-anak. Anom menoleh untuk memastikan siapa pemilik tangan itu.
Alangkah terkejutnya Anom saat melihat seraut wajah anak balita terpampang jelas di depan matanya. Wajah pucat, bibir menghitam, kedua sorot mata yang kosong dialiri darah yang terus menetes dari kepala. Balita itu
juga nampak memegangi ususnya yang terburai keluar dari rongga perutnya dengan satu tangan seolah sedang memegang seutas tali. Sedangkan tangan lainnya menggandeng Anom hingga membuat Anom ketakutan. Apalagi saat balita itu menyapanya dengan suara yang hampir behasil ia lupakan.
“ Apa kabal Papa...,” sapa anak balita yang ia kenali sebagai Rafi itu sambil menyeringai.
Anom terkejut lalu jatuh pingsan. Beberapa polisi yang melihat Anom terjatuh pun sigap membantu membawanya ke dalam mobil.
“ Baru disapa aja udah pingsan. Apalagi diajak nostalgia sama Rafi...,” kata Faiq kesal.
“ Dia pingsan karena terlalu shock Iq. Karena setelah ini bakal banyak kebusukannya yang terungkap ke permukaan. Dan itu artinya dia akan kehilangan semua yang ia perjuangkan selama ini...,” sahut Fatur.
“ Iya Om. Akhirnya orang-orang bakal tau kalo semua yang dia punya bukan hasil perjuangan tapi hasil nipu sana sini. Dia harus ngabisin sisa hidupnya di penjara karena ulahnya itu...,” kata Faiq sambil tersenyum sinis.
“ Telus Mama Aku mana Om...?” tanya hantu Rafi sambil mengguncang tangan Faiq.
Faiq dan Fatur menoleh kearah Rafi sambil tersenyum bertepatan dengan polisi yang juga tengah menggotong tubuh seorang wanita dari rumah Anom.
“ Itu di sana. Mama Kamu baru aja diselamatkan sama Polisi dari sekapan Papa Kamu...,” sahut Faiq sambil menunjuk kearah wanita yang dimasukkan ke dalam ambulans itu.
“ Mama...,” kata Rafi lirih lalu melesat cepat menemui sang mama yang terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya.
Rafi sedih melihat sang mama yang tak terawat. Tubuh Marlia kurus dan bau, rambutnya yang panjang nampak
berantakan dan mulai memutih, kulitnya pun kusam seperti jarang tersentuh air. Rafi mendekatkan wajahnya kearah wajah Marlia yang sedang terpejam itu. Lalu Rafi mencium pipi Marlia sambil membisikkan kalimat yang menenangkan jiwa hingga membuat Marlia menangis di dalam tidurnya.
“ Apa kabal Mama. Jangan sedih lagi ya. Sekalang Lafi bakal jagain Mama dan ga akan bialin Papa nyakitin Mama
lagi. Cepat sembuh ya Ma, Lafi sayang Mama...,” bisik Rafi di telinga Marlia.
Interaksi Rafi dan Marlia membuat Faiq dan Fatur terharu. Sesaat kemudian ambulans pergi meninggalkan halaman rumah Anom dengan Rafi yang turut serta di dalamnya.
Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar jeritan Ria, istri Anom yang sejak tadi sembunyi di kamar karena takut melihat polisi. Ria berbaring di lantai ruang tamu sambil membelalakkan matanya karena hampir kehabisan nafas. Kedua tangannya nampak mencekik lehernya sendiri.
Dari tempatnya berdiri Faiq melihat jika ada sosok makhluk halus berwujud wanita berkebaya putih tengah menduduki tubuh Ria sambil mencekik lehernya. Dan tangan hantu wanita itu lah yang sedang dipegang oleh Ria. Faiq dan Fatur bisa merasakan aura kemarahan dan balas dendam dari hantu berkebaya putih itu.
“ Ada apa lagi ini...,” gumam Faiq sambil menggelengkan kepalanya karena merasa akan banyak rahasia yang harus ia ungkap kali ini.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 376 Episodes
Comments
Nayla Syberia
Aq lebih suka karakter Hanako♥️♥️
2022-06-10
2
author setia
Heru ngomong nya jangan terlalu kebablasan
2022-05-17
1
Nurjanah Tamim
kaya nya s ria ma s anom muja kli ya..
itu mungkin setan yg dia bersekutu
2022-03-02
1