Hanako memang terlihat santai setelah melihat penampakan hantu di rumah makan itu, tapi tidak dengan Efliya.
Dia terlihat cemas meski pun berusaha menutupinya dengan senyuman. Dan Heru tahu itu. Setelah tiba di rumah Hanako bergegas turun.
“ Hati-hati Nak, ga usah buru-buru...,” kata Efliya mengingatkan.
“ Aku kebelet pup Bunda...,” sahut Hanako sambil berlari ke dalam rumah.
Efliya dan Heru pun tertawa mendengar ucapan Hanako. Saat Efliya hendak melangkah masuk ke dalam rumah, Heru mencekal tangan istrinya dengan lembut hingga membuat Efliya menoleh.
“ Kenapa Yah...?” tanya Efliya.
“ Apa yang Kamu pikirin Bun...?” tanya Heru.
“ Aku ga mikir apa-apa kok...,” sahut Efliya sambil mengalihkan tatapannya.
“ Sayang...,” panggil Heru penuh penekanan hingga membuat Efliya mengalah dan balik menatap Heru.
“ Aku khawatir hantu yang diliat Hanako tadi bakal mengganggunya dan ikut ke rumah Kita Yah...,” sahut Efliya gusar.
“ Tapi kan Hanako ngeliatnya hanya sekilas, rumah makan itu pun jauh dari rumah . Masa hantunya ikut ke sini...?” tanya Heru tak mengerti.
“ Kamu ga tau sih Yah. Bang Faiq dulu tuh kaya gitu. Tiap kali abis liat penampakan hantu dimana-mana, pasti hantunya ngikut ke rumah. Dan dia jadi aneh tiba-tiba...,” sahut Efliya.
“ Aneh gimana Bun...?” tanya Heru.
“ Abang tuh bisa tiba-tiba jadi galak, marah-marah ga jelas, terus ga mau main sama Aku atau ngobrol sama Aku.
Alasannya selalu aja sama, kalo Aku ada di dekatnya bikin hantu-hantu bakal gangguin Aku. Makanya Aku deh yang diusir dan dimusuhin...,” sahut Efliya sambil mengerucutkan bibirnya hingga membuat Heru tertawa.
“ Itu karena Abang sayang sama Kamu Bun, makanya dia kaya gitu. Pasti juga berat buat Abang musuhin dan jauhin Kamu. Tapi apa boleh buat, daripada Kamu yang terluka lebih baik dia deh yang marahin Kamu. Kan hanya Abang yang bisa liat apa yang dilakuin hantu itu ke Kamu...,” kata Heru memberi pengertian sambil meraih Efliya ke dalam pelukannya.
Efliya nampak tertegun sejenak. Ia pernah dengar kedua orangtuanya mengatakan hal yang sama saat ia protes dengan perubahan sikap Faiq dulu. Efliya kira itu hanya usaha kedua orangtuanya membenarkan sikap Faiq padanya. Namun saat mendengar kalimat yang sama dari suaminya membuat Efliya sadar betapa Faiq sangat menyayanginya dan tak ingin hal yang buruk terjadi padanya.
Efliya pun membenamkan diri dalam pelukan suaminya sejenak. Namun keromantisan mereka terusik saat mendengar Hanako memanggil namanya.
“ Bunda, pupnya udah...!” kata Hanako.
“ Siap Bos...!” sahut Efliya sambil mengurai pelukannya dengan Heru.
Heru tersenyum mendengar jawaban Efliya lalu mengikuti istrinya masuk ke dalam rumah.
\=====
Malam itu Hanako sedang berbaring di atas sofa sambil menonton film kartun kesukaannya. Hanako berbaring sambil memeluk boneka kesayangannya. Tiba-tiba Hanako terduduk lalu bicara sambil menatap kearah jam dinding yang terpampang di atas televisi.
“ Kok ke sini sih. Jangan ke sini dong, ntar Bunda Aku takut liat Kamu...,” kata Hanako setengah berbisik.
Efliya yang kebetulan melintas pun mendengar ucapan Hanako. Efliya segera sembunyi lalu memperhatikan Hanako dengan seksama dari balik gorden di pintu kamarnya. Dari tempatnya berdiri Efliya bisa melihat bagaimana Hanako berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata itu.
“ Ngapain Bun...?” tanya Heru yang hendak keluar kamar tapi langkahnya terhalang oleh Efliya.
“ Ssstt, sini Yah...,” sahut Efliya sambil menunjuk kearah Hanako.
Heru menatap kearah Hanako dan melihat Hanako sedang bicara sambil menatap ke atas. Heru pun berniat menghampiri Hanako.
“ Ayah mau ngapain...?” tanya Efliya.
“ Mau nyadarin Hanako Bun. Nanti dia kebiasaan kaya gitu di luar. Bisa-bisa orang takut dan ga ada yang mau temenan sama dia nanti...,” sahut Heru.
“ Jangan Yah. Tunggu aja sebentar lagi. Mungkin makhluk halus itu lagi ngomong penting sama Hanako...,” cegah
Efliya.
“ Ga boleh. Hanako harus hidup normal dan ga perlu berinteraksi sama makhluk ghaib. Cukup Om Fatur, Abang, Iyaz dan Izar aja...,” kata Heru sambil berusaha menepis tangan Efliya.
Namun langkah Heru terhenti karena Hanako juga sudah ada di hadapannya. Hanako menatap kedua orangtuanya
bergantian dengan wajah lugunya itu.
“ Ayah sama Bunda lagi ngapain di sini, main petak umpet ya...?” tanya Hanako.
“ Oh itu, mmm..., iya Nak. Tapi Bunda curang jaganya...,” sahut Heru gugup.
“ Kok ga ngajak Aku...?” tanya Hanako.
“ Udah selesai kok mainnya, sekarang Ayah mau keluar cari angin...,” sahut Heru sambil melangkah menuju teras depan.
“ Ayah kenapa sih Bun...?” tanya Hanako.
“ Gapapa Nak. Ayah lagi kaget aja ngeliat Hanako ngomong sendiri tadi. Selama ini Ayah kan ga pernah liat Hanako
kaya gitu...,” sahut Efliya sambil mengusap kepala Hanako.
“ Bunda sama Ayah ngintip ya...?” tanya Hanako sambil tersenyum.
“ Bukan ngintip, tapi ga sengaja ngeliat. Kami khawatir Hanako sakit kalo ngomong sendiri...,” sahut Efliya menjelaskan.
“ Aku gapapa kok Bun. Tadi Aku lagi ngomong sama hantu yang ada di rumah makan itu...,” kata Hanako.
“ Han.., hantu yang di rumah makan...?” tanya Efliya tak percaya karena apa yang ia khawatirkan terjadi juga.
“ Iya Bun...,” sahut Hanako santai.
“ Kalo Bunda boleh tau, seperti apa wujudnya...?” tanya Efliya dengan suara tercekat.
“ Mmm, sama kaya orang biasa Bun. Cuma mukanya pucat. Kakak itu cantik, pake gaun panjang, rambutnya warna emas, matanya juga biru. Pokoknya mirip boneka Barbie deh Bun...,” sahut Hanako.
“ Oh ya. Emang dia mau apa nemuin Hanako di sini...?” tanya Efliya memberanikan diri.
Efliya ingat, seperti itu lah sang mama dulu jika bertanya pada Faiq. Walau Farah takut akan jawaban Faiq nanti, tapi rasa penasaran dan cintanya pada sang anak membuat Farah harus siap mendengar jawaban putra sulungnya itu. Dan perasaan itu lah yang kini menghinggapi Efliya.
“ Dia itu lagi nyari temannya Bun. Katanya temannya hilang di sekitar rumah makan itu...,” sahut Hanako.
“ Terus...?” tanya Efliya.
“ Dia minta tolong sama Aku buat bantu nyariin temannya yang hilang itu...,” sahut Hanako.
“ Kenapa harus sama Kamu sih Nak...?” tanya Efliya gusar.
“ Ga tau Bun...,” sahut Hanako sambil menggedikkan bahunya.
Heru yang tak sengaja mendengar perbincangan anak dan istrinya itu pun segera bertindak cepat. Ia segera menghubungi Faiq dan menceritakan semuanya.
“ Gue harus gimana Bang, Gue ga mau Hanako sakit...,” kata Heru cemas.
“ Insya Allah ntar Gue mampir ke rumah Lo Her...,” sahut Faiq dari seberang telephon.
“ Ok, Gue tunggu ya Bang. Makasih...,” kata Heru di akhir pembicaraannya dengan Faiq via telephon itu.
Heru memejamkan matanya sejenak. Ia merasa tak nyaman dan khawatir pada keselamatan Hanako.
“ Ya Allah. Bukan Hamba menolak anugrah yang Engkau titipkan pada Anak Hamba. Tapi Hamba ga bisa melihat Hanako menderita karena kelebihannya itu. Tolong beri Hamba petunjuk bagaimana menyikapinya ya Allah...,” gumam Heru.
“ Lo hanya harus mensuport Hanako Her. Jangan tunjukkan rasa khawatir yang berlebihan. Yakinkan Hanako kalo semua akan baik-baik aja biar dia nyaman menjalani takdirnya...,” kata Faiq.
Heru membuka matanya dan melihat Faiq sudah duduk di hadapannya. Ia mengusap wajahnya sambil menoleh ke ruang tengah dan melihat Efliya sedang berbincang dengan Shera.
“ Udah lama Bang...?” tanya Heru yang nampaknya tak menyadari kedatangan Faiq.
“ Ga kok, baru aja nyampe. Tapi Gue denger apa yang Lo bilang barusan...,” sahut Faiq.
“ Ternyata sulit buat nerima kenyataan kalo Anak Kita punya indra keenam Bang. Gue khawatir Hanako ga bisa hidup normal kaya Anak-anak seusianya. Kan banyak tuh kejadian Anak indigo ga punya teman di dunia nyata karena mereka asyik main sama teman-temannya dari dunia ghaib...,” kata Heru dengan suara berat.
“ Itu karena si Anak ga dapat dukungan dari lingkungannya. Tapi kalo dia didukung dan dimengerti sama orang
terdekat apalagi orangtuanya, dia bisa hidup normal. Contohnya Gue dan Om Fatur. Kita bisa tetap enjoy menjalani hidup Kita, main, sekolah, berkarir, berkeluarga, semua aman-aman aja. Karena sejak awal orangtua Kami sadar akan kelebihan Kami. Mereka mengarahkan Kami dan menitipkan Kami pada orang yang paham cara memanfaatkan kelebihan Kami. Dulu Gue diarahin masuk pesantren sama Kyai Syakir, Papa Mama juga setuju. Padahal saat itu nilai akademis Gue memungkinkan Gue masuk SMP favorit. Tapi Papa sama Mama berpikir jauh ke depan. Pendidikan umum ga akan cukup buat memback up kelebihan Gue. Makanya Papa sama
Mama masukin Gue ke sekolah yang punya kurikulum mata pelajaran umum sekaligus agama sebagai mata pelajaran utama. Nah, di sana Gue belajar tentang banyak hal. Setelah tau kalo posisi makhluk halus atau jin itu ada di bawah manusia dan mereka takut dengan bacaan ayat Al Qur’an, maka Gue makin giat belajar. Gue asah kemampuan Gue sekaligus bikin benteng yang kokoh supaya ga bisa ditembus sama mereka. Alhamdulillah Gue dan banyak orang udah ngerasain manfaatnya...,” kata Faiq panjang lebar.
Heru tertegun mendengar penuturan Faiq. Sesaat kemudian Heru pun tersenyum. Kini kekhawatiran di hatinya lenyap. Kemudian Heru menatap anak perempuannya dan bertekad menjadi orang yang berdiri paling depan untuk Hanako.
“ Gimana...?” tanya Faiq.
“ Insya Allah Gue siap Bang. Makasih ya udah ngasih pencerahan buat Gue...,” sahut Heru.
“ Sama-sama. Sekarang ajak Hanako ngobrol biar jelas apa maunya hantu itu...,” pinta Faiq.
“ Ok Bang...,” sahut Heru lalu bergegas menjemput Hanako yang tengah asyik bermain di ruang tengah dan membawanya menemui Faiq.
" Assalamualaikum Cici Hanako...," sapa Faiq ramah.
" Wa alaikumsalam, eh ada Papa juga. Kirain Mama Shera datang sendiri ke sini...," sahut Hanako sambil menghambur ke pelukan Faiq.
" Papa sama Mama abis belanja keperluan rumah, ga sengaja lewat terus mampir deh. Gimana kabar Cici sekarang, ada cerita baru ga buat Papa...?" tanya Faiq sambil mencium kening Hanako dengan sayang.
" Ada Pa. Aku abis ngobrol sama hantu Kakak cantik yang di rumah makan itu Pa. Katanya dia lagi nyari temannya yang hilang gitu. Terus Kakak cantik minta tolong sama Aku bantuin nyari...," sahut Hanako jujur.
" Oh ya. Papa boleh ketemu dan ngobrol sama dia ga...?" tanya Faiq.
" Boleh Pa. Sebentar deh Pa, tadi Kakak itu ada di sini kok...," sahut Hanako sambil menoleh ke kanan dan ke kiri berusaha mencari keberadaan hantu remaja wanita itu.
" Aku di sini...," kata hantu wanita yang dipanggil kakak cantik oleh Hanako dari sudut ruang tamu di belakang Faiq.
Faiq dan Hanako menoleh lalu tersenyum. Kini Faiq bisa melihat jelas sosok hantu yang mendatangi Hanako dan meminta bantuannya. Hantu itu berwujud wanita cantik berusia remaja. Dari warna kulit, rambut dan potur tubuhnya bisa diyakini jika Hantu wanita itu adalah hantu orang asing yang telah berusia lebih dari seratus tahun.
Faiq menatap lekat hantu remaja di depannya seolah mencoba melihat kehidupan remaja itu di masa lalu sebelum kematiannya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 376 Episodes
Comments
Nurjanah Tamim
mungkin itu hantu none belanda kli tor
2022-03-02
2
YA17
kurang banyak mi
2021-12-13
0
💎hart👑
kurang ummiqu
2021-12-13
0