Setelah diinterogasi polisi selama hampir lima jam, polisi pun menetapkan Nadia sebagai tersangka utama penyebab meninggalnya Adi. Nadia dianggap lalai menjaga Adi dan menghalangi penyelidikan polisi. Nadia juga dianggap menyembunyikan informasi penting tentang keberadaan Adi.
Arya hanya mematung saat melihat istrinya histeris karena ditetapkan sebagai tersangka. Nadia menolak ditahan dan mengatakan banyak hal untuk membela diri.
“ Arya dengerin Aku. Aku ga bermaksud bikin Adi mati. Aku hanya mau ngasih pelajaran sama Adi supaya ga nakal lagi. Aku ga punya niat membunuhnya. Arya tolong Aku...!” kata Nadia sambil menangis.
" Jangan banyak alasan Nadia. Anakku ga nakal, Kamu aja yang sengaja membuat dia terkesan nakal dan selalu musuhin dia...!" sahut Arya tak terima.
" Tapi Kamu juga tau kan kalo Aku ga suka Anak-anak. Aku ga bisa dekat sama Adi karena tiap kali dekat sama Adi Aku teringat Andini. Aku benci Andini karena udah bikin Kita pisah Arya...!" kata Nadia menghiba.
“ Cukup Nadia. Aku menyesal udah mengabaikan peringatan Mamaku dulu. Ternyata Kamu memang bukan orang baik. Aku benci Kau Nadia. Mulai detik ini Kita cerai...!” sahut Arya lantang.
Mendengar ucapan suaminya membuat Nadia makin histeris. Ia berusaha mendekati Arya namun dihalangi oleh polisi. Kemudian polisi membawanya masuk ke dalam sel tahanan walau harus diwarnai adegan penolakan yang dramatis. Setelah drama panjang penangkapan Nadia, Arya pun diantar ke Rumah Sakit untuk menjemput jenasah Adi.
Tiba di Rumah Sakit Arya langsung diarahkan menuju ke tempat jasad Adi disimpan. Langkah kaki Arya terasa berat karena harus ke tempat yang paling tak ia inginkan yaitu kamar jenasah. Arya mencoba menguatkan hati dan berusaha tak menangis saat petugas kamar jenasah mendorong brankar dengan sosok mayat di atasnya. Perlahan Arya mendekati sosok yang ditutupi kain putih dari ujung kepala hingga ujung kaki itu. Dengan tangan gemetar Arya menyibak kain putih di bagian wajah sang mayat. Kedua mata Arya membulat saat mengenali wajah jenasah di hadapannya itu.
“ Adi..., ini emang Kamu Sayang. Maafin Papa ya Nak, ayo bangun Sayang...,” panggil Arya lirih sambil menangis.
Di samping Arya nampak sosok arwah Adi tengah berdiri sambil menatapnya dengan tatapan iba sekaligus rindu. Adi mencoba menyentuh sang papa namun gagal. Adi pun menangis karena tak bisa lagi memeluk sang papa apalagi Arya juga tak mendengar panggilannya.
\=====
Tangisan Adi membuat Iyaz gelisah. Iyaz yang saat itu sedang ada dalam perjalanan pulang dari sekolah pun menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mencari asal suara tangis yang memilukan itu.
“ Kenapa Nak, Iyaz cari apa...?” tanya Shera dengan lembut.
“ Kaya ada suara orang nangis Bun, Aku lagi nyari dimana yang nangis itu...,” sahut Iyaz.
Shera tersentak karena merasa yakin jika yang didengar Iyaz bukan lah tangisan manusia tapi tangisan makhluk halus. Shera mengeratkan genggaman tangannya yang saat itu sedang menggandeng Iyaz dan Izar di kedua tangannya.
“ Itu suara Adi, Yaz...,” kata Izar tiba-tiba.
“ Iya Zar. Tapi dimana ya...?” tanya Iyaz.
“ Tuh...,” sahut Izar sambil menunjuk kearah sebrang jalan hingga membuat Iyaz menoleh.
Di sebrang jalan terlihat arwah Adi tengah menangis. Iyaz dan Izar minta Shera mengantar mereka ke sebrang
jalan. Shera mengangguk lalu membawa kedua anaknya menyebrangi jalan. Tiba di sebrang jalan mereka langsung menghampiri Adi.
“ Kenapa Kamu nangis di sini Adi...?” tanya Iyaz.
“ Aku sedih. Aku ga bisa ngobrol dan peluk Papa lagi...,” sahut arwah Adi di sela isak tangisnya.
“ Kan Kamu udah meninggal, jadi ga bakal bisa peluk Papa Kamu lagi lah...,” sahut Izar.
“ Ssstt Izar, jangan ngomong kaya gitu dong. Kasian kan Adi...,” kata Iyaz sambil membulatkan matanya kearah Izar.
“ Maaf, abisnya Adi cengeng banget sih. Kan kata Ayah Anak cowok ga boleh cengeng...,” sahut Izar dengan nada menyesal.
Mendengar ucapan Izar membuat Adi meghentikan tangisnya lalu menatap Izar.
“ Emangnya Ayah Kamu bilang gitu. Kok Papaku ga pernah ngomong kaya gitu...,” kata arwah Adi sambil menghapus air matanya.
“ Itu karena Papamu sibuk sama kerjaannya dan jarang main sama Kamu. Jadi Papa Kamu ga tau kalo Kamu sedih
atau sakit. Apalagi Mama Kamu kan galak banget, dia juga selalu marah dan ngelarang Kamu deket sama Papa Kamu, iya kan...?” tanya Izar dengan mimik lucu.
“ Sok tau Kamu Zar...,” kata Iyaz sambil tertawa hingga membuat Adi ikut tertawa.
Shera yang berdiri tepat di samping Izar pun nampak tertawa mendengar ucapan Izar.
“ Izar bener. Tapi dia bukan Mamaku. Mamaku udah meninggal...,” sahut arwah Adi sedih.
“ Oh pantesan dia keliatan ga sayang sama Kamu...,” kata Izar sambil mencibir dan diangguki Adi.
“ Udah, jangan sedih lagi. Kita main aja yuk...,” kata Iyaz.
“ Ga bisa, Aku harus pergi sekarang...,” sahut arwah Adi.
“ Pergi kemana...?” tanya Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Ke atas sana, ke tempat Mama Aku. Iyaz, Izar makasih ya udah mau jadi temanku. Sayangnya Kita terlambat
ketemu. Tapi gapapa, Aku senang kok. Sekarang Aku pergi ya, jangan nangis lho. Kan Kita laki-laki...,” kata arwah Adi sambil tersenyum.
Mendengar jawaban arwah Adi membuat Iyaz dan Izar sedih. Gantian mata Izar yang berkaca-kaca saat melihat
tubuh Adi melayang makin tinggi. Arwah Adi juga nampak melambaikan tangannya seiring cahaya putih yang menjemputnya. Iyaz dan Izar membalas lambaian tangan Adi dan ikut melambaikan tangan sambil menatap ke langit. Sesaat kemudian arwah Adi pun lenyap bersama angin sejuk yang berhembus menerpa wajah Iyaz dan Izar.
Iyaz menoleh kearah Izar yang masih menatap ke atas lalu menyentuh pundaknya.
“ Adi udah pergi, ga usah diliatin terus...,” kata Iyaz tapi Izar nampak mulai menangis.
Shera yang melihat Izar menangis pun mendekati Izar dan memeluknya.
“ Kenapa nangis Nak...?” tanya Shera lembut.
Bukannya menjawab, Izar malah makin keras menangis. Iyaz pun nampak menepuk dahinya melihat kembarannya
menangis.
“ Katanya tadi Anak cowok ga boleh cengeng. Lah ini apa...?” sindir Iyaz sambil mencibir.
Tangis Izar makin keras dan membuat Iyaz menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya. Shera pun
meraih Izar dan langsung menggendongnya. Sambil menggandeng tangan Iyaz, Shera mengajak kedua anaknya pulang ke rumah. Diam-diam Shera merasa kagum dengan persahabatan Iyaz, Izar dan arwah Adi. Kekagumannya bertambah saat mengetahui arwah Adi sengaja menemui Iyaz dan Izar untuk ‘pamit’ pada kedua jagoan ciliknya tadi.
“ Udah dong nangisnya, lama banget sih. Udah sampe rumah nih...,” protes Iyaz.
“ Iya, Iyaz betul. Masa jagoan nangisnya lama banget...,” sahut Shera sambil menurunkan Izar dari gendongannya.
Izar pun menghentikan tangisnya saat Shera membasuh wajahnya dengan air. Setelahnya Shera mengambil pakaian ganti untuk Iyaz dan Izar. Shera memang selalu mewudhukan dan mengganti pakaian si kembar tiap kali mereka usai berinteraksi dengan makhluk ghaib.
“ Iyaz jangan lupa wudhu ya...,” kata Shera sambil meletakkan puding mangga kesukaan si kembar di atas meja.
“ Aku udah wudhu Bun...,” sahut Iyaz sambil meraih robot dan mobil-mobilan dari rak mainan.
“ Anak pintar. Bunda punya puding mangga nih, siapa yang mau...?” tanya Shera sambil tersenyum.
“ Aku...!” sahut Iyaz dan Izar bersamaan sambil mengacungkan jari telunjuknya masing-masing.
“ Ok, sini kalo mau. Jangan lupa baca doa mau makan dulu ya...,” kata Shera sambil mengusap kepala si kembar dengan sayang.
“ Ok Bunda...,” sahut si kembar antusias.
Kemudian Iyaz dan Izar membaca doa sebelum makan sambil menadahkan kedua tangannya. Setelahnya mereka menyantap puding mangga buatan sang bunda dengan lahap. Shera nampak tersenyum melihat tingkah kedua anaknya, apalagi Izar telah berhasil melupakan kesedihannya karena perpisahan dengan arwah Adi tadi.
\=====
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 376 Episodes
Comments
Guntar Nugraha
Aamiin Yaa Robbaall Aallaamiin
2024-05-03
2
neng ade
selamat jalan Adi .. sekarang km dan mama mu bertemu disana.. berbahagialah ..
2022-08-06
3
💎hart👑
rasain nadia... apa yg kau tabur itu yg kau tuai
2021-12-19
1