Mobil yang dikendarai Faiq baru saja masuk ke halaman rumah. Namun Faiq langsung disambut suara tangisan si
kembar yang terdengar ‘tak biasa’ ditingkahi suara Shera yang berusaha membujuk keduanya. Faiq pun teringat jika hanya ada Shera yang menghandle si kembar di rumah karena Farah harus dinas di Rumah Sakit Firdausi siang itu.
Faiq bergegas turun dari mobil lalu melangkah cepat menuju ke pintu yang memang tak terkunci itu.
“ Assalamualaikum Bunda...!” panggil Faiq.
“ Wa alaikumsalam, di sini Yah...!” sahut Shera dari teras samping.
Faiq mendatangi Shera dan kedua anaknya yang masih menangis itu. Lalu dengan sigap Faiq langsung meraih kedua anaknya ke dalam pelukannya. Sesaat kemudian tangis keduanya mereda.
“ Cup, cup, kenapa jagoan Ayah nangis sih...?” tanya Faiq sambil menatap wajah Iyaz dan Izar bergantian.
“ Nda akal Ayah...,” sahut Izar di sela isak tangisnya yang tersisa.
“ Kok Bunda dibilang nakal, Bunda kan sayang sama Izar dan Iyaz. Emangnya Kalian minta apa sampe dilarang sama Bunda...?” tanya Faiq sambil menahan tawa mendengar jawaban Izar.
Setelah kembali dari liburan bersama keluarga besarnya minggu lalu Faiq memang langsung mengikuti ‘kursus kilat’ untuk memahami bahasa si kembar pada istrinya. Dan Faiq merasakan manfaatnya sekarang, karena ia bisa langsung berkomunikasi dengan kedua anaknya tanpa bantuan Shera lagi. Faiq merasa banyak hal yang harus ia bicarakan dengan Iyaz dan Izar tentang apa yang mereka rasakan dan mereka lihat. Dan Faiq tahu, Shera merasa tak nyaman saat menjadi penerjemah kedua anaknya itu.
“ Ga oleh ain ama Nda Yah...,” kata Iyaz sambil menunjuk kearah kamar mereka.
Faiq menoleh kearah kamar dan mengerti apa penyebab tangis kedua anaknya itu. Kemudian Faiq pun melangkah ke dalam kamar sambil menggendong Iyaz dan Izar.
Sedangkan Shera yang kelelahan membujuk si kembar nampak duduk sambil mengatur nafasnya yang memburu. Dari tempatnya duduk Shera bisa melihat suami dan kedua anaknya yang menghilang di balik pintu kamar mereka. Lalu Shera menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan matanya seakan menunggu suara jeritan kedua anak kembarnya itu. Namun sayangnya apa yang dinanti Shera tak juga terjadi.
Karena penasaran, Shera menyusul suami dan anaknya ke kamar. Dan langkah Shera terhenti di ambang pintu saat melihat ketiga orang yang ia cintai itu nampak sedang ‘asyik’ bicara dengan sesuatu yang tak kasat mata di jendela kamar. Mengerti jika Faiq dan kedua anak mereka sedang berkomunikasi dengan makhluk ghaib, Shera mengurungkan niatnya mendekati suami dan anaknya itu. Shera melangkahkan kakinya menuju ruang tengah
dan membaringkan tubuhnya di atas sofa untuk menenangkan diri. Kemudian Shera pun berdzikir sambil memejamkan matanya untuk menetralisir keterkejutannya.
Di dalam kamar terlihat Faiq sedang mengawal Iyaz dan Izar yang asyik berbincang dengan teman tak kasat
matanya itu. Walau Faiq tahu penyebab kematian balita itu, namun Faiq sengaja memberi kesempatan pada Iyaz dan Izar untuk bertanya langsung pada hantu balita yang sengaja menemui mereka. Kemudian terjadi lah percakapan yang seru antara Iyaz, Izar dan hantu balita itu.
“ Ini atit...?” tanya Izar sambil menunjuk perut hantu balita itu yang nampak terkoyak dan berdarah.
“ Iya...,” sahut hantu balita itu sambil menahan tangis.
“ Ayah Nda na ana...?” tanya Iyaz pada hantu balita bernama Rafi itu.
“ Aku ga tau. Aku juga lagi nyali meleka. Bantuin Aku nyali Mama sama Papa Aku ya...,” pinta hantu Rafi sambil
menatap penuh harap kearah Iyaz dan Izar.
Iyaz dan Izar saling menatap sejenak lalu keduanya menoleh kearah Faiq seolah menunggu persetujuan sang
ayah.
“ Insya Allah Kita bantuin nanti ya...,” sahut Faiq sambil tersenyum.
“ Yeey.., makasih Om...,” sahut hantu Rafi gembira.
“ Sama-sama, sekarang Rafi balik dulu ke sana. Iyaz sama Izar mau bobo siang dulu biar nanti bisa bantuin Rafi...,” kata Faiq lembut.
“ Tapi Aku mau di sini aja Om. Aku mau deket sama Iyaz sama Izal...,” sahut hantu Rafi sedih.
“ Ga bisa. Kalo Rafi di sini, Iyaz sama Izar ga bisa istirahat. Kalo kurang istirahat, nanti Iyaz sama Izar jadi lemah dan ga bisa bantuin Rafi nyari Papa sama Mamanya Rafi...,” sahut Faiq tegas walau disampaikan dengan suara yang lembut.
Hantu Rafi tampak berpikir sejenak lalu mengangguk. Sesaat kemudian ia lenyap dan menyisakan kebingungan
untuk Iyaz dan Izar.
“ Api, Api...!” panggil Iyaz dan Izar bersamaan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan hantu Rafi.
“ Rafinya pulang sebentar, dia juga mau bobo siang dulu sama kaya Iyaz dan Izar...,” sahut Faiq.
“ Bobo iyang...?” tanya Iyaz mengulang ucapan Faiq.
“ Iya. Yuk Kita wudhu dulu terus bobo siang ya...,” sahut Faiq sambil menggendong Iyaz dan Izar ke kamar mandi.
Setelah mewudhukan kedua anak kembarnya itu Faiq meletakkan keduanya di atas tempat tidur. Lalu Faiq meraih
pakaian ganti untuk Iyaz dan Izar dari dalam lemari pakaian. Saat Faiq mengenakan pakaian pada Iyaz, keduanya terlihat mulai mengantuk. Dan itu mempermudah pekerjaan Faiq menggantikan pakaian Iyaz dan Izar secara
bergantian. Tak lama kemudian Iyaz dan Izar pun tertidur di atas tempat tidur.
Faiq menghela nafas panjang sambil menatap dua anaknya. Senyum nampak tersungging di bibirnya saat mengingat cara Iyaz dan Izar bertanya pada hantu Rafi tadi. Faiq seolah mendapat kekuatan baru dan siap mengawal mereka setelah melihat interaksi ketiganya tadi. Ternyata apa yang Faiq khawatirkan tak terjadi. Iyaz dan Izar baik-baik saja dan nampak tak terpengaruh setelah ‘ngobrol’ dengan makhluk ghaib.
“ Pantesan sepi, ga taunya udah pada bobo ya...,” kata Shera sambil memeluk Faiq dari belakang.
“ Iya Bun. Abis ngobrol sama hantu Anak kecil yang namanya Rafi, mereka kecapean terus tidur deh...,” sahut Faiq sambil mengusap lengan Shera yang melingkari pingganngnya.
“ Apa ga bahaya buat Anak-anaknYah...?” tanya Shera cemas.
“ Insya Allah ga Sayang...,” sahut Faiq sambil membalikkan tubuhnya untuk memeluk Shera.
“ Alhamdulillah, terus Ayah yang gantiin baju mereka juga...?” tanya Shera sambil mendongakkan wajahnya untuk
menatap Faiq.
“ Iya Bun. Jadi ke depannya, kalo Anak-anak abis berinteraksi sama makhluk ghaib usahain mandiin dan wudhuin
mereka. Terus ganti juga bajunya. Insya Allah dengan gitu aura buruk makhluk halus itu ga akan mengikuti mereka. Itu juga yang dilakuin Mama sama Aku dulu. Papa yang dampingin Aku saat ketemu sama makhluk ghaib dan Mama yang ngurusin Aku setelahnya...,” kata Faiq menceritakan kehebatan kedua orangtuanya.
“ Oh gitu. Insya Allah Aku bakal lakuin itu Yah...,” sahut Shera cepat.
“ Bagus...,” puji Faiq sambil mengecup kening Shera dengan sayang.
“ Terus Papa mana Yah. Kok Aku belum liat Papa daritadi...?” tanya Shera.
“ Astaghfirullah aladziim. Ya Allah, Aku lupa Bun.Saking buru-burunya Papa Aku tinggalin di rumah Opa tadi. Duh, abis deh diganyang sama Papa nanti...,” sahut Faiq panik hingga membuat Shera tertawa.
“ Telephon dong Yah, tanyain mau dijemput sekarang atau nanti...,” usul Shera sambil tertawa.
Faiq mengikuti saran istrinya. Ia meraih ponsel dari saku jaketnya kemudian menghubungi Erik. Sesaat kemudian
terdengar suara ponsel plus deheman Erik yang sudah berdiri di depan kamar Faiq. Shera dan Faiq melihat Erik yang tengah berdiri sambil menggelengkan kepalanya. Faiq tersenyum lalu menghampiri sang Papa. Tak lupa ia meraih telapak tangan Erik lalu mencium punggung tangannya sebagai permintaan maaf.
“ Maaf ya Pa, Abang khilaf tadi. Saking paniknya sama keadaan si kembar sampe lupa kalo pergi bareng Papa tadi...,” kata Faiq salah tingkah.
“ Iya, iya Papa ngerti. Untungnya tadi Papa ditinggal di rumah Opa. Papa ga bisa bayangin kalo Papa ditinggalin di tengah jalan atau di tengah hutan tadi...,” sahut Erik pura-pura kesal.
“ Sekali lagi maafin Abang ya Pa...,” kata Faiq tak enak hati.
“ Hmmm...,” sahut Erik sambil berlalu.
“ Terus Papa balik ke sini naik apa...?” tanya Faiq sambil mengekori Erik yang berjalan ke ruang tamu.
“ Oh kalo itu Kamu tenang aja. Papa Kamu kan orang baik, jadi Allah kirim orang yang bersedia nganterin Papa sampe rumah, gratis ga pake bayar...,” sahut Erik santai.
“ Alhamdulillah, siapa Pa. Om Fatur kan...?” tebak Faiq sambil menoleh kearah kursi tamu dimana Fatur duduk.
“ Ya iya lah, masa Opa Kamu yang nganterin Papa...,” sahut Erik sambil menepuk punggung Faiq gemas hingga membuat Fatur dan Faiq tertawa.
“ Makasih ya Om...,” kata Faiq tulus.
“ Sama-sama, ga masalah kok. Lagian Om juga mau liat langsung keadaan si kembar...,” sahut Faiq.
“ Mereka baru aja tidur. Yang Om bilang tadi ternyata bener Om. Pas Aku sampe, Iyaz sama Izar lagi nangis karena ga diijinin Shera ngobrol sama hantu Rafi...,” kata Faiq.
“ Siapa hantu Rafi...?” tanya Erik dan Fatur bersamaan.
“ Itu hantu balita yang nemuin si kembar di jendela ruang tengah selama beberapa hari ini Om...,” sahut Faiq sambil membantu Shera meletakkan suguhan di atas meja. Setelahnya Shera menghampiri Fatur.
“ Apa kabar Om...?” sapa Shera sambil mencium punggung tangan Fatur.
“ Alhamdulillah baik Nak...,” sahut Fatur sambil mengusap kepala Shera dengan lembut.
“ Jadi siapa sebenarnya Rafi itu Bang...?” tanya Erik penasaran.
Kemudian Faiq menceritakan siapa hantu Rafi itu. Faiq juga menceritakan bagaimana kedua anak kembarnya berkomunikasi dengan makhluk halus yang penampilannya tak biasa itu.
“ Jadi mereka ga takut sama sekali Yah...?” tanya Shera takjub.
“ Iya Bun. Malahan si Izar tuh nyentuh luka di perutnya Rafi dengan santai dan ga ada rasa jijik apalagi takut...,” sahut Faiq sambil tersenyum.
“ Ternyata keberanian Kamu menurun sama si kembar ya Bang...,” puji Erik dengan mata berkaca-kaca.
“ Iya Pa. Aku jadi lebih tenang karena bisa ngeliat langsung reaksi mereka saat bertemu hantu Rafi itu. Insya Allah ke depannya mereka akan terbiasa dan sama beraninya menghadapi makhluk halus lainnya yang bakal punya beraneka bentuk dan rupa itu...,” sahut Faiq.
“ Kita bisa bantu Rafi secepatnya Nak. Biar dia bisa segera bebas dan ga gangguin si kembar lagi...,” kata Fatur.
“ Saya siap Om...,” sahut Faiq cepat.
Tiba-tiba terdengar tangisan si kembar dari dalam kamar. Shera segera menghampiri keduanya lalu membawanya
menemui Fatur.
Saat melihat kedua bayi kembar itu Faiq sedikit mengerutkan keningnya karena melihat hantu Rafi yang selalu
mengikuti Iyaz dan Izar. Hantu Rafi nampak menatap iri kearah Iyaz dan Izar yang ada dalam gendongan Shera. Apalagi saat melihat Erik meraih Iyaz dan Fatur meraih Izar dari gendongan Shera.
Melihat hal itu Faiq menepuk pahanya sambil menatap hantu Rafi seolah menawarkan diri untuk memangkunya.
Hantu Rafi tersenyum lalu melayang kearah Faiq dan duduk di atas pangkuannya. Saat itu lah Faiq bisa melihat kilasan peristiwa buruk yang dialami Rafi.
Faiq mengepalkan tangannya karena berusaha menahan amarah. Nampaknya telah terjadi peristiwa tragis yang dialami oleh Rafi sebelum ia meninggal dunia.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 376 Episodes
Comments
Oi Min
Knp Rafi bsa meninggal?? Siapa yg sdah bunuh dedek Rafi??? 😭😭😭😭😭
2022-08-29
1
Arif Syaifulloh
giman nasib hanako, ortunya orang biasa..?😭😭
2022-07-06
1
Aya Vivemyangel
ya ampun ,,, sumpah mau a' Faiq donk Thor , kenal aja deh 😂😂😂
2022-06-16
1