Malam hari
Malam semakin larut Syuhada yang sudah selesai mengantarkan pesanan makanan para langganannya langsung berpamitan pulang kepada Bu Anna.
"Tok... Tok... Tok..." Suara pintu di ketua dari luar
"Masuk" Jawab Bu Anna yang masih berada di ruangan miliknya
"Maaf Bu. Aku pamit pulang dulu" Ucap Syuhada dengan menundukkan kepalanya
"Oh... Kemarilah sebentar, Syu" Perintah Bu Anna
"Ada apa Bu?" Tanya Syuhada yang berdiri di depan Bu Anna
"Ini untuk mu" Jawab Bu Anna tersenyum dengan memberikan amplop untuk Syuhada
"Apa ini, Bu?" Bukankah kemarin Bu Anna sudah memberikan gaji ku plus bonus kepada ku" Ucap Syuhada menolak amplop tersebut dan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal
"Ayo, ambilah Syu" Perintah Bu Anna
"Maaf Bu. Uang Syuhada yang kemarin masih cukup untuk kebutuhan ku selama satu bulan ke depan" Ucap Syuhada dengan tersenyum
"Ambillah. Ibu tau kau pasti membutuhkannya, kau sudah bekerja keras hari ini. Kau itu gadis yang kuat" Puji Bu Anna kepada Syuhada yang membuat Syuhada menundukkan kepalanya
"Astaga. Syuhada rasa Bu Anna terlalu berlebihan kepada ku. Baiklah Bu aku pamit pulang dulu" Ucap Syuhada berpamitan kembali kepada Bu Anna
"Apa kau pulang naik ojek?" Tanya Bu Anna
"Iya Bu. Kenapa?" Tanya Syuhada balik
"Bawalah saja motor yang setiap hari kau pakai itu. Kau tidak perlu meninggalkan motor itu di restoran ini" Jawab Bu Anna segera bangkit dari tempat duduknya
"Tidak usah repot-repot, Bu" Ucap Syuhada segera pergi keluar dari ruangan Bu Anna
"Syu... Tidak papa. Biarkan Ibu menolong mu" Jawab Bu Anna
"Baiklah Bu. Jika Bu Anna memaksanya, maka aku akan membawa motor itu. Tapi..." Ucap Syuhada yang cemas
"Sudah tidak usah memikirkan yang lainnya. Jika motor itu rusak, maka Ibu yang akan membawanya ke bengkel dan membayar biayanya" Jawab Bu Anna
"Sekali lagi terimakasih, Bu" Ucap Syuhada menundukkan kepalanya dan keluar dari ruangan Bu Anna
"Hm... Gadis itu selalu saja menolak apa yang aku berikan kepadanya" Ucap batin Bu Anna
Bu Anna segera pulang ke rumahnya dan berpamitan kepada Lukman. Lukman merupakan orang kepercayaan Bu Anna yang menjaga restoran Ranum selama ini dengan baik
"Lukman" Panggil Bu Anna saat berpapasan di depan restoran yang sedang menyusun kursi
"Iya Bu" Ucap Lukman segera menghampiri Bu Anna
"Pastikan semua terkunci dengan rapat" Perintah Bu Anna
"Baik Bu" Jawabannya
"Aku pulang dulu" Pamit Bu Anna segera pergi
"Baik Bu" Jawab Lukman dengan menundukkan kepalanya
"Aduh-aduh anak kesayangan Big Bos" Ucap Edwin dari belakang
"Edwin apa yang kau ucapkan" Bentak Lukman
"Apa?" Tanya Edwin dengan santai
"Bagaimana kalau Bu Anna mendengarkan ucapan mu?" Tanya Lukman balik kepada Edwin
"Astaga Lukman Ibumu itu sudah jalan dan pergi jauh. Mana mungkin dia mendengarkan ucapan ku" Jawab Edwin tertawa
"Kau itu. Dia Bu Bos mu Edwin" Ucap Lukman penuh dengan penekanan
"Dan dia itu Ibu Big Bos mu, Lukman" Jawab Edwin kembali tertawa terbahak-bahak
"Sudah-sudah jangan di besar-besarkan. Aku akan ke sana membereskan semua kursinya" Ucap Lukman segera pergi
"Hm" Jawabannya
"Apa kau tidak ingin membantu ku?" Tanya Lukman membalikkan tubuhnya
"Tidak" Jawab Edwin
"Kenapa?" Tanya Lukman
"Aku harus pergi ke dapur membantu Ritika" Jawab Edwin segera pergi ke dapur
"Dasar buaya buntung" Umpat Lukman
"Apa kau sudah mengatai ku" Teriak Edwin yang mendengarkan umpat Lukman dan masih terus berjalan menuju ke dalam restoran
"Tidak" Ucap Lukman segera pergi
.
.
"Syu... Syuhada" Panggil Pak Adam
"Dimana Syuhada ini? Apa dia belum pulang dari tempat kerjanya?" Tanya Pak Adam berjalan dengan sempoyongan
"Syu... Syuhada" Teriak Pak Adam semakin keras. Namun tidak ada jawabannya
"Ah... Lebih baik aku pergi saja dan kembali besok" Ucap Pak Adam segera pergi dari rumah Syuhada dan berjalan dengan sempoyongan
Syuhada pulang ke rumahnya dengan keadaan selamat.
"Akhirnya sampai juga dengan selamat" Ucap Syuhada memarkirkan motornya di depan rumahnya
Syuhada membuka pintu rumah miliknya dan mulai memasukkan motor tersebut. Syuhada yang merasa lapar pergi ke dapur untuk mencari makanan. Namun di meja makan tidak ada makanan yang tersisa dari sarapan pagi. Syuhada kembali memeriksa lemari di mana Ia menyimpan makanan. Lagi-lagi tidak menemukan makanan, perut Syuhada yang sudah berbunyi sedari tadi hanya bisa pasrah dengan keadaan.
Dengan lemas Syuhada duduk di kursi dan menuangkan air putih ke dalam gelas untuk Ia minum. Syuhada meminum air putih tersebut berulang kali. Hingga pada akhirnya perutnya yang terasa lapar tidak bisa di ajak kompromi.
"Sebaiknya aku tidur saja dengan begitu rasa lapar ini akan hilang dengan sendirinya" Ucap Syuhada pergi menuju ke kamar miliknya dan segera tidur
Pagi hari
Seperti biasa Syuhada bangun lebih awal untuk membuat sarapan pagi dengan memasak mie goreng instan kesukaannya.
"Syu... Syuhada" Panggil Pak Adam
"Seperti ada yang memanggil namaku" Ucap Syuhada dengan lirih
"Syu. Buka pintunya" Ucap Pak Adam
Syuhada yang mendengarkan suara Bapaknya. Ia segera pergi ke depan dan membukakan pintu.
"Bapak" Ucap Syuhada yang melihat wajah Pak Adam babak belur
"Dimana kau menyimpan semua uangmu?" Tanya Pak Adam segera masuk ke dalam rumah Syuhada
"Apa maksud Bapak?" Tanya Syuhada yang tidak mengerti
"Aku butuh uang. Mana uangmu" Jawab Pak Adam membentak Syuhada
"Aku tidak memiliki uang, Pak" Ucap Syuhada berbohong
"Kau jangan menipuku Syuhada. Bukankah kemarin Ibumu meninggal, pasti banyak orang yang bersedekah dengan memberikan uang kepada mu" Jawab Pak Adam masuk ke dalam kamar Syuhada dan mulai mengobrak-abrik kamar Syuhada untuk mencari uang tersebut
"Berhenti Pak. Syuhada tidak memiliki uang, uang itu sudah Syuhada belikan kain kafan untuk Ibu dan proses pemakaman Ibu" Ucap Syuhada menjelaskannya. Namun tidak di dengarkan oleh Pak Adam
"Kau berbohong, Syuhada..." Teriak Pak Adam dengan menampar pipi Syuhada
"Kenapa Bapak tidak ada di samping Ibu selama Ibu sakit. Kenapa Bapak tidak ada di pemakaman Ibu saat Ibu meninggalkan kita selamanya?" Tanya Syuhada menangis tersedu-sedu dengan memegang pipinya yang sakit terkena tamparan keras dari Pak Adam
"Diamlah. Aku sudah menemukan uangnya" Jawab Pak Adam tertawa terbahak-bahak dan segera pergi
"Jangan ambil semua uangnya, Pak. Di situ ada uang ku juga! Aku menyisihkan sebagian gajiku untuk biaya kuliah ku nanti" Ucap Syuhada memohon dan bertekuk lutut di hadapan Pak Adam
"Ah... Minggirlah" Teriak Pak Adam menendang Syuhada hingga terpental
"Bapak..." Teriak Syuhada mengejar Bapaknya hingga keluar rumah
"Motor siapa itu? Apa kau membeli motor?" Tanya Pak Adam kepada Syuhada
"Itu motor Bos ku, Pak" Jawab Syuhada masih menangis dan mulai menghapus air matanya
"Motor bagus nih. Kalau di jual kira-kira laku berapa iya" Ucap Pak Adam berkhayal dan segera mengambil kunci motor yang tergeletak di atas meja ruang tamu
"Jangan, Pak. Itu motor milik Bos aku. Bapak mau bawa ke mana motor itu" Ucap Syuhada mencegah Pak Adam untuk membawa pergi motor milik Bosnya
"Bapak mau jual motor ini. Lumayan ini kalau di jual bisa buat modal judi ku sebentar malam" Jawab Pak Adam tertawa
"Jangan Pak. Ku mohon jangan" Ucap Syuhada menangis tersedu-sedu
"Ah... bilang saja kepada Bos mu itu, kalau motornya hilang" Jawab Pak Adam segera mensetarter motor tersebut dan pergi
"Bapak" Teriak Syuhada
"Kenapa Bapak tega sekali melakukan ini semua kepada ku" Ucap Syuhada menangis dengan sesenggukan
Bersambung... ✍️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Sri Wahyuni
knp ga d tabunhin duit nya dsar oon
2023-01-22
1
pensi
kuberikan boom like untukmu 🌹✨
2022-03-02
0
ꭱⷽᴀᷡꭲᷡⲙⷽ ͽ֟֯͜᷍ꮴ🔰π¹¹™
udah ku favorit, nanti lagi ya..mau nangkep kotak dulu haha
2022-01-04
4