Lula yang beberapa hari ini merasa di abaikan oleh Tuan Anas dirinya merasa geram. Tidak biasanya Tuan Anas seperti ini terhadap dirinya. Tuan Anas akhir-akhir ini lebih banyak menghabiskan waktu bersama Syuhada ketimbang harus pergi ke bar ataupun menemui Lula.
"Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku melepaskan begitu saja orang seperti Tuan Anas itu" Ucap Lula sembari duduk di kursi meja riasnya dengan mengotak-atik ponsel miliknya
Lula mencoba kembali untuk menelepon Tuan Anas. Namun lagi-lagi Tuan Anas mengabaikan telponnya.
"Hai Dirly. Apa kau dengan Tuan Anas?" Tanya Lula yang menelepon Dirly
"Hm" Jawabannya dengan singkat
"Bisakah aku berbicara dengan Tuan mu?" Tanya Lula
"Maaf. Tuan Anas saat ini sedang melakukan rapat dan tidak bisa di ganggu" Jawab Dirly menjelaskannya
"Apa kalian ada di kantor? Aku akan pergi ke sana" Ucap Lula
"Kau jangan kesini dan jangan pernah temui Tuan Anas lagi. Tuan mengatakan kalau dirinya tidak ingin memiliki hubungan dengan mu lagi" Jawab Dirly memberitahunya
"Hei... Kenapa seperti itu? Bukankah hubungan Tuan Anas dengan ku selama ini baik-baik saja. Kau jangan mengada-ngada Dirly, aku tidak suka kau bercanda seperti itu dan mengatakan hal-hal lucu kepada ku" Ucap Lula tertawa
"Astaga Lula kapan aku pernah becanda dengan mu. Aku mengatakan apa yang di perintahkan oleh Tuan Anas" Jawab Dirly mengakhiri teleponnya
Deg
Seketika wajah Lula menjadi murung.
Saat itu juga Lula pergi ke kantor Tuan Anas. Lula ingin mendengarkan penjelasan langsung dari Tuan Anas. Dirinya beranggapan bahwa selama ini Tuan Anas mencintainya. Ternyata itu semua hanyalah salah paham baginya.
"Hei... Biarkan aku masuk ke dalam, Pak" Bentak Lula yang sudah sampai di kantor Mikail Grup dan di hadang oleh Scurity
"Nona. Nona sebaiknya pergi saja dari sini" Perintah Scurity tersebut
"Astaga, Pak. Apa Bapak lupa kalau aku ini pacarnya Tuan Anas" Ucap Lula dengan tertawa
"Maaf. Sebelumnya aku pernah melihat Nona bersama Tuan Anas. Tapi sekarang ini Tuan Anas memerintahkan ku agar Nona tidak masuk ke dalam kantor ini lagi" Jawab Scurity
"Ah... Sudahlah kalian minggir saja atau aku akan melaporkan kalian semua kepada Tuan Anas" Ancam Lula segera menerobos untuk masuk ke dalam namun tidak bisa
"Laporkan saja kita tidak takut" Jawab Scurity menantang
"Eh... Kalian nantang. Nih, aku telpon Tuan Anas sekarang juga" Ucap Lula segera mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam tas miliknya dan segera menelepon Tuan Anas
Lula menelepon Tuan Anas berulang kali namun tidak ada jawabannya.
"Astaga Tuan. Ayolah angkat telepon dari ku" Ucap Lula lirih
"Bagaimana? Apa bisa Tuan Anas di hubungi?" Tanya Scurity dengan tersenyum sinis
"Oh... Sebentar lagi dia akan mengangkat telepon ku" Jawab Lula terbata-bata
"Sudahlah sebaiknya Nona pergi saja dari kantor ini dan jangan mempermalukan diri anda sendiri" Perintah Scurity
"Apa kata mu" Ucap Lula dengan memelototkan kedua bola matanya dan segera pergi
"Huhuhu" Suara sorak dari Scurity tersebut melihat kepergian Lula
Setelah dari kantor Tuan Anas, Lula pergi ke apartemen milik Tuan Anas. Di mana dirinya bebas keluar masuk di dalam apartemen tersebut.
"Brakkk" Seseorang sedang membanting pintu depan sangat keras
"Siapa itu? Apa itu Tuan Anas? Tidak seperti biasanya Tuan Anas akan pulang dari kantor miliknya jam segini" Ucap batin Syuhada yang masih menangis dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur milik Tuan Anas
Lula membuang tas yang dirinya kenakan ke kursi ruang tamu begitu saja. Dirinya duduk di kursi tersebut dengan perasaan marah kepada Tuan Anas. Setelah beberapa menit kemudian dirinya mendengarkan suara isak tangis seorang perempuan.
"Siapa itu" Ucap Lula segera berdiri melihat keadaan sekitarnya
"Siapa itu" Ucap Lula mengulanginya kembali namun tidak ada jawabannya
"Apa di apartemen ini ada setannya" Ucap Lula lirih dan ketakutan
Suara tangisan itu semakin kencang hingga terdengar di telinga Lula. Lula mencari asal suara tersebut dan betapa terkejutnya saat dirinya masuk ke dalam kamar Tuan Anas. Dirinya melihat seorang perempuan sedang meringkuk dan menangis.
"Kau siapa dan kenapa kau bisa berada di dalam kamar Tuan Anas" Ucap Lula berdiri tepat di depan Syuhada yang sedang baring di atas tempat tidur
"Kau juga siapa? dan kenapa kau bisa masuk ke dalam apartemen ini?" Tanya Syuhada yang tidak kalah terkejut
"Ah... Bangunlah dan jangan tidur di tempat ini" Perintah Lula dengan menyeret Syuhada hingga terjatuh dari tempat tidur
"Aw... Sakit" Pekiknya
"Aku tau kau pasti wanita murahan yang sudah menggoda Tuan Anas. Kau wanita ja*lang*! Asal kau tau aku ini pacar Tuan Anas dan jangan pernah menganggu pacarku lagi" Ucap Lula menyeret Syuhada keluar dari apartemen tersebut dan tidak ada perlawanan sama sekali dari Syuhada
"Dasar tidak berguna" Umpat Lula saat masuk ke dalam apartemen tersebut dan menguncinya kembali
"Akhirnya aku bisa keluar juga dari apartemen itu" Ucap Syuhada segera berlari sejauh mungkin
Syuhada yang tidak memiliki uang memilih jalan satu-satunya sampai di rumahnya dengan berjalan kaki. Syuhada meninggalkan ponsel miliknya di rumahnya dengan begitu Syuhada tidak bisa meminta bantuan dari orang lain. Syuhada sampai di rumah miliknya dengan keadaan selamat. Dirinya segera masuk ke dalam dan mengunci pintu rumah tersebut.
Lula yang berhasil mengusir Syuhada kini dirinya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur milik Tuan Anas. Lula menggerayangi tempat tidur yang berada di sampingnya. Lula sangat merindukan Tuan Anas dengan begitu dirinya memeluk bantal guling yang berada di sampingnya dan akhirnya tidur terlelap.
"Sayang aku pulang" Ucap Tuan Anas yang baru pulang dari kantor dan tidak mengetahui kalau yang sedang tidur adalah Lula.
"Sayang aku merindukanmu" Ucap Tuan Anas berbisik di telinga Lula dan memeluk Lula dari belakang
Tuan Anas mulai mencium telinga Lula bagian belakang dan mulai menggerayangi tubuh Lula.
"Sayang kau sudah pulang" Ucap Lula membalikkan tubuh miliknya dan mencium bibir Tuan Anas
"Kau" Bentak Tuan Anas segera bangun dari tempat tidur miliknya
"Sayang..." Panggil Lula dengan melingkarkan kedua tangan miliknya di leher Tuan Anas
"Lepaskan" Perintah Tuan Anas dengan menjauhkan dirinya dari Lula
"Ada apa dengan mu Sayang? Kau tidak seperti biasanya?" Tanya Lula yang tidak mengerti
"Di mana wanita ku?" Tanya Tuan Anas balik
"Aku wanita mu" Jawab Lula tersenyum
"Bukan kau Lula. Tapi di mana wanita itu?" Tanya Tuan Anas dengan marah
"Oh... Perempuan itu sudah aku usir" Jawab Lula berkacak pinggang
"Kau siapa berani sekali mengusirnya" Ucap Tuan Anas dengan mencengkeram lengan Lula dengan sangat kuat
"Aku kekasihmu, pujaan hati mu" Jawab Lula yang ingin memeluk Tuan Anas
"Tetaplah berdiri di tempat mu dan jangan maju ke depan" Bentak Tuan Anas marah
"Sayang kau kenapa? Kenapa kau membentak ku seperti itu?" Tanya Lula
"Asal kau tahu dan kau harus ingat. Kau itu bukan siapa-siapaku! Kau hanya seorang wanita ja*lang yang hanya ingin uangku saja" Jawab Tuan Anas dengan menunjuk wajah Lula
Deg
"Apa katamu" Ucap Lula menangis
"Pergilah dari apartemen miliku ini dan jangan pernah temui aku lagi. Aku tidak ingin memiliki hubungan dengan seorang wanita ja*lang" Perintah Tuan Anas segera menyeret Lula keluar dari apartemen miliknya
"Kau tidak bisa memperlakukan ku seperti ini Tuan Anas" Teriak Lula
"Tuan..." Panggil Dirly lirih yang masih berdiri di depan apartemen milik Tuan Anas
"Bawa wanita ja*lang ini dari hadapan ku sekarang juga dan berikan pelajaran untuknya" Perintah Tuan Anas dengan mendorong tubuh Lula hingga terjatuh
"Ayo, Ikut" Bentak Anak buah Dirly dengan mencengkeram tangan milik Lula dan pergi
"Tuan... Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Dirly yang tidak mengerti
"Kau jangan banyak bertanya kepada ku. Cepat ambil mobil mu dan kita pergi mencari Syuhada" Perintah Tuan Anas
"Sekarang Tuan?" Tanya Dirly
"Iya sekarang" Bentak Tuan Anas kesal
Bersambung... ✍️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Santi Rizal
makanya nikahin...biar syuhada gak kabur
2024-12-27
0
@ £I£I$ Mυɳҽҽყ☪️
lanjut kak ISNA
semangat
2021-12-10
3
𝕾𝖆𝖒𝖟𝖆𝖍𝖎𝖗
Like mampir
2021-12-10
1