Dendam

Mas Darwin sejak tadi berjaga dan menemaniku di ruang rawat inap. Sementara itu, aku sejak tadi menutup mulutku, tak mau bicara dengan Mas Darwin.

Mas Darwin kemudian duduk merapat ke ranjangku. Ia mengangkat sendok makanan yang telah disediakan perawat. Ia ingin menyuapiku makanan. Tapi, aku mengarahkan kepalaku ke arah lain, aku membuang muka.

"Sejak tadi kamu belum makan, Rania. Kamu harus makan," ucapnya.

Aku diam, tidak mau membuka mulutku dan suaraku. Dia kembali menyodorkan sendok berisi makanan ke arahku, berusaha menyuapiku makan. Namun, aku tidak peduli. Aku tak mengharapkan perhatian darinya lagi.

"Kamu harus makan. Anak dalam kandunganmu butuh asupan gizi."

'Sudah sangat kuduga Mas Darwin perhatian padaku hanya karena mengkhawatirkan anaknya,' batinku. Selama ini ia tak pernah peduli apakah aku sudah makan atau belum. Ia tak pernah peduli pada kesehatanku.

"Kamu harus makan agar badan kamu sehat." Lagi-lagi Mas Darwin menyodorkan sendok. Kali ini ia menyodorkannya hingga ujung sendok itu menyentuh bibirku.

Aku menghalau sendok itu dari bibirku lalu berkata, "Aku bisa makan sendiri." Sehingga, Mas Darwin pun akhirnya meletakkan sendok itu kembali ke posisinya di atas meja. Ia lalu menyentuh dahiku, berusaha merasakan hangatnya tubuhku. Namun, aku segera melepaskan sentuhan tangannya dengan kasar. 'Aku tidak demam ' ucapku.

"Pulanglah! Tak usah pedulikan aku," Aku masih sangat marah pada Mas Darwin.

"Aku menginap di sini malam ini," ucapnya. "Aku ingin menemanimu."

Entah mengapa ucapan Mas Darwin sama sekali tak membuatku bahagia. Dulu biasanya hatiku akan sangat berbunga-bunga ketika mendapatkan perhatian dari Mas Darwin. Namun, saat ini hatiku seakan mati rasa. Aku tak bisa menghargai semua bentuk perhatiannya itu. Aku terlalu marah. Aku hanya mendiamkannya saja.

Aku tak berbicara padanya hingga berjam-jam. Lalu, akhirnya dia berkata, "Aku mau ke kantin, mencari makan." Sejak tadi hingga malam ini memang Mas Darwin belum makan dan aku tidak peduli.

"Ada yang mau kamu titip?" tanyanya. Aku hanya diam saja. Hingga akhirnya ia pergi meninggalkan kamar.

Hanya aku sendirian saat ini di kamar. Sunyi, sepi. Pikiranku fokus untuk minta bercerai dari Mas Darwin. Lalu, tiba-tiba deringan ponsel sedikit mengejutkanku. Aku meraih ponselku yang berada di atas meja nakas di sebelah tempat tidurku.

"Ayah Mas Darwin," gumamku. Lalu, aku menjawab panggilan itu, "Assalamualaikum, Ayah!"

"Wa alaikum salam, Rania!" jawabnya. "Tadi siang kamu menelepon, tapi tidak terjawab. Maaf baru menelepon balik sekarang. Ada apa, Rania?"

Aku diam. Bibirku kelu. Aku sudah dapat jawaban dari pertanyaanku tadi siang. Kini aku sudah tahu Mas Darwin sudah menikahi Alya tujuh tahun lalu dan aku hanya istri kedua. Lalu, apa yang akan kukatakan pada ayah Mas Darwin saat ini? Haruskah aku mengatakan aku ingin minta cerai dari anaknya?

"Mengapa diam saja?" tanya ayah Mas Darwin.

Aku pun kemudian membuka suara. "Ayah, mengapa Ayah merahasiakan pernikahan pertama Mas Darwin dariku?"

"Hmmhh...." Suaranya terdengar berat. "Jadi, kamu sudah tahu."

"Jadi, benar jika Ayah sudah tahu pernikahan Mas Darwin dan Ayah menutupinya dariku?" ucapku.

"Tidak, Ayah tidak bermaksud menutupinya. Ayah datang ketika kalian sudah menikah. Kalian sudah sah menjadi suami istri. Mana mungkin Ayah menceritakan semuanya dan merusak kebahagiaanmu saat itu. Ayah pikir lebih baik kamu tidak mengetahuinya. Tidak ada yang bisa Ayah lakukan saat itu selain memberikan restu padamu."

"Aku jauh lebih bahagia jika Ayah saat itu mengatakannya dengan terus terang padaku," ucapku.

"Ayah tidak mau mengecewakanmu saat itu, Rania."

"Sekarang aku lebih kecewa, Ayah. Pernikahanku ini dilandasi dengan kebohongan. Aku ingin bercerai dengan Mas Darwin." Aku mengatakannya dengan terang pada Ayah Mas Darwin.

"Pikirkanlah lagi, Rania!" ucapnya. "Apakah selama pernikahan kamu pernah mencintai Darwin?" tanya Ayah.

Aku diam tak menjawab pertanyaannya. Kemudian, Ayah berkata, "Kamu diam. Itu artinya kamu mencintai Darwin."

"Jika kamu mencintainya, maka pertahankan! Pertahankan suamimu, rumah tanggamu! Apapun yang terjadi pertahankan suamimu!" ucap Ayah menyakinkanku.

"Aku tidak bisa, Ayah. Aku tak mau menjadi orang ketiga," tandasku.

"Kamu mendapatkan restuku dan restu dari ibu Darwin, restu yang tak pernah didapatkan Alya dan mungkin tak akan pernah didapatkannya. Jadi, bertahanlah! Darwin akan menjadi milikmu." Ayah Mas Darwin terkesan menyemangatiku.

"Mengapa ibu tidak mau memberikan restunya untuk Alya? Aku lihat ia wanita yang hebat, baik, berpendidikan. Aku bahkan tak sebanding seujung kukupun dengannya?" tanyaku menggebu.

"Itu karena alasan yang sangat pribadi," ucap ayah Mas Darwin dan aku tak mengerti maksudnya.

"Dulu Amarhum ayah Alya adalah seorang preman besar di daerah Komering. Mantan mertuaku memiliki tanah perkebunan yang cukup luas di sana. Karena, masalah sengketa tanah kebun itu adik Marina dan ayah Alya terlibat cekcok. Pertikaian itu akhirnya memuncak dan berakhir dengan terbunuhnya adik Marina di tangan ayah Alya."

Aku cukup terkejut mendengar cerita ini. Ibu tak pernah memberitahukan alasan yang sebenarnya kepadaku. Ternyata, ada perasaan dendam di balik penolakannya terhadap Alya.

"Aku tahu betul sifat Marina. Ia sangat pendendam. Sampai mati ia tak akan pernah merestui Alya menjadi menantunya," ucap ayah Mas Darwin.

"Bertahanlah selagi kau bisa! Darwin akan menjadi milikmu," ucapnya lagi.

Aku terdiam. Otakku berpikir, 'Mas Darwin hanya mencintai Alya. Aku tak akan mendapatkan cintanya. Aku hanya akan mendapatkan status pernikahan dan restu ibu. Tapi, untuk apa semua itu? Restu ibu tanpa cinta dari Mas Darwin tidak akan ada gunanya. Seperti saat ini aku hanya jadi boneka.'

'Aku tetap akan bercerai,' tekadku dalam hati.

Esoknya aku sudah boleh keluar dari rumah sakit. Setelah menyelesaikan semua administrasi rumah sakit, Mas Darwin ingin memapahku ke mobil yang telah ia siapkan di parkiran depan pintu rumah sakit. Tapi, aku menolaknya. Aku berjalan sendiri menuju mobil.

'Aku tak butuh perhatian darinya lagi. Ia hanya memberikan harapan palsu. Hatinya bukan milikku, tapi milik wanita lain. Aku tak ingin kecewa lebih dalam lagi. Aku harus benar-benar menghapus semua perasaanku pada Mas Darwin.'

"Aku akan mengantarmu pulang ke Kayuagung," ucap Mas Darwin saat di perjalanan pulang dari rumah sakit.

'Aku tak mau pulang ke sana. Untuk apa lagi aku ke sana?' Terjebak di sana, sementara Mas Darwin akan bisa bebas di sini memadu cinta dengan Alya.

"Aku tidak mau ke Kayuagung. Aku mau cerai," ucapku membalas perkataan Mas Darwin.

"100 kali pun kamu minta cerai, aku tidak akan menceraikanmu, Rania." Ucapan Mas Darwin terdengar begitu bulat dan aku malas berdebat dengannya. Ia begitu keras kepala dan egois.

Aku diam di sepanjang perjalanan, memendam semua rasa kekesalanku. Lalu, Mas Darwin mengarahkan mobilnya ke sebuah pom bensin. "Kita mampir sholat sebentar dulu di sini," ucap Mas Darwin.

Aku pun ikut turun. Aku tak lupa membawa dompetku karena nanti setelah buang air kecil akan mengisi kotak iuran kebersihan di depan toilet.

Mas Darwin berjalan menuju toilet pria dan aku ke toilet wanita. Saat di toilet aku mendengar dua wanita berceloteh, "Jam berapa nanti kira-kira sampai di Palembang?"

Wanita lainnya menjawab, "Belum tahu. Tergantung sopir travelnya. Soalnya kadang macet. Kalo sopirnya pintar ambil sela, cepat sampai. Kalo tidak, lamaaaa."

Aku menyimak pembicaraan itu. Dua wanita itu lalu keluar dari toilet dan aku bergegas mengikutinya. Mereka naik ke mobil minibus yang terparkir tak jauh dari toilet. Aku segera bertanya pada sopir minibus itu, "Travel ke Palembang ya?"

Sopir itu mengangguk dan aku kembali bertanya, "Masih bisa tambah satu penumpang tidak? Aku mau ke Palembang."

"Bisa," jawab sopir itu dengan ramah. "Naiklah! Sudah mau berangkat."

Aku pun segera naik. Tanpa banyak berpikir, aku memutuskan untuk ke Palembang. Lalu, mobil travel itu mulai mundur dari parkiran dan melaju meninggalkan pom bensin.

Terpopuler

Comments

Erni Kusumawati

Erni Kusumawati

semoga rencana kabur Rania berhasil

2023-04-20

0

Fahmi Fathul

Fahmi Fathul

goood rania......

2022-02-09

2

Uswatul Sekar

Uswatul Sekar

moga aj upny gak lama kayak novel baru yg sebelah. moga aj rania gak di temuin sampai anakny besar dan dia jd orang sukses dan berpenampilan modis.

2022-01-10

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!