Pelakor

Angin malam menerpa kulitku selama di perjalanan. Hingga akhirnya aku sampai di depan sebuah rumah bernuansa putih. 'Inikah rumah Alya?' bisikku dalam hati.

Aku memperhatikannya dari jauh. Pagar rumahnya menjulang tinggi dan tertutup rapat. Namun, dari sela-sela besi pagar rumahnya kutangkap gambaran sebuah mobil.

'Astaghfirullah!' Itu mobil Mas Darwin. Nomor platnya pun sama. Itu benar-benar mobil Mas Darwin. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku karena hampir tidak bisa mempercayai pemandangan yang kulihat saat ini.

Mas Darwin berada di rumah Alya saat ini. 'Untuk apa dia ke sini?' Dia meninggalkanku -istrinya- sendirian di rumah dan pergi menemui Alya. Aku tak bisa terima. Aku ingin melabraknya.

Aku berjalan mendekati pagar itu. Namun, tiba-tiba kulihat seorang ibu yang sudah tua berkursi roda keluar dari pintu rumah itu. Ia lalu memarkirkan kursi rodanya di teras untuk menghirup angin malam. 'Apakah itu orang tua Alya?' pikirku.

Ternyata Alya tidak tinggal sendirian di rumah itu. Ia tinggal bersama ibunya. 'Apa mungkin dia berselingkuh di hadapan orang tuanya? Apa mungkin ibunya membiarkan anaknya menjadi pelakor?' Pertanyaan ini membuatku ragu untuk melabrak Mas Darwin dan Alya.

Aku pun menahan langkahku meski emosiku sudah hampir tak dapat kubendung. Aku harus mencari tahu dulu kebenarannya. Aku tidak mau salah langkah. Aku tidak mau terlanjur melabrak mereka, membuat keributan. Namun, ternyata nanti kenyataannya mereka tidak berselingkuh. Mas Darwin pasti akan sangat marah padaku.

Bukan tidak mungkin Mas Darwin mampir ke sini karena ada urusan. Tapi, bukan tidak mungkin juga Mas Darwin ke rumah ini karena berselingkuh dengan Alya di belakangku. Aku harus memastikan kenyataan yang sebenarnya terjadi.

"Jangan gegabah, Rania!" gumamku berusaha menahan emosi. Aku harus mencari tahu.

Aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah dinas Mas Darwin, menunggu Mas Darwin pulang ke rumah. Aku ingin bicara dengannya. Aku ingin dia jujur apa sebenarnya yang ia sembunyikan dariku? Apakah ia memang berselingkuh dengan Alya?

Aku menunggu Mas Darwin sambil terus berusaha menenangkan pikiranku yang kacau. Entah bagaimana harus kutanyakan pada Mas Darwin nanti. Pikiranku kacau dan emosiku tidak bagus. Aku marah, ada perasaan tidak terima dengan semua kenyataan ini.

Mas Darwin suamiku, harusnya ia bersamaku. Mengapa ia menemui wanita itu dan tanpa memberitahu padaku? 'Pasti ada yang tidak beres,' pikirku. Mengapa ia harus menyembunyikan semuanya dariku?

Mas Darwin harus jujur padaku. "Harus," gumamku.

Lalu, kudengar pintu diketuk. Aku melirik jam dinding yang hampir menunjukkan pukul sepuluh malam. 'Mas Darwin pulang selarut ini,' pikirku.

"Mas aku ingin bicara," ucapku ketika ia sudah masuk ke rumah dan minum segelas air.

"Besok saja, aku capek," ucapnya.

"Mas darimana? Mas bilang tadi sore mau pulang," protesku.

"Dari rumah teman. Ada pekerjaan yang harus diurus," jawab Mas Darwin sambil berjalan ke kamar. Lalu, ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur.

Sementara itu, aku memberondongnya dengan ucapan, "Aku ingin bicara, Mas. Kamu harus jujur padaku."

"Besok saja," ucapnya dengan suara lemah.

"Aku ingin kita bicara malam ini, Mas," ucapku lagi. "Mas, Mas...."

Mas Darwin tak menjawab apapun ucapanku. Kulihat ia sudah tertidur, tak merespon perkataanku. Aku kesal. 'Apakah ia benar-benar sudah tertidur atau ia sengaja menghindariku?'

Aku menggoyang-goyangkan badannya, ingin membangunkannya. Namun, ia tetap terpejam. Ia tak mau bangun. Hal ini membuatku semakin berpikir ada yang tidak beres. Mas Darwin pulang selarut ini dari rumah wanita itu. Apa yang dikerjakannya di sana? Aku harus tahu. Aku harus menemui Alya besok. 'Ya, aku akan menemuinya.'

Esok paginya Mas Darwin bersiap pergi dengan terburu-buru. Padahal, jam masih menunjukkan pukul enam pagi kurang. Ia berkata, "Nanti kamu bisa kan berangkat dari sini ke Palembang naik travel untuk ke acara temanmu?"

"Mas, aku ingin bicara," ucapku.

"Nanti saja, aku harus pergi," ucapnya.

Aku tak tahan lagi dia terus menghindariku dan aku segera berkata, "Kamu selingkuh, Mas."

Di luar dugaanku. Ekspresi pertama yang kudapat dari Mas Darwin hanyalah sebuah senyuman kecil. Ia tersenyum lalu berkata, "Aku pergi dulu." Ia bergegas menaiki mobilnya dan meninggalkanku begitu saja.

'Sepagi ini dia pergi. Dia mau kemana?' tanyaku dalam hati. 'Mungkinkah ke rumah wanita itu?'

Kenyataannya Mas Darwin memang pergi menuju ke rumah Alya. Ia sudah berjanji akan sarapan pagi di sana sebelum berangkat ke kampus.

"Kamu sudah datang, Sayang," ucap Alya menyambut Mas Darwin. "Duduklah! Aku memasak nasi goreng kesukaanmu." Mereka berdua pun makan dengan lahap duduk bersama di meja makan, juga bersama dengan ibu Alya.

Sementara itu, aku berkemas bersiap pergi. Tapi, aku bukan bersiap untuk pergi ke Palembang. Aku sudah memutuskan untuk tidak datang ke acara lamaran Nelly. Bagiku keutuhan rumah tanggaku jauh lebih penting. Aku tidak akan membiarkan Mas Darwin terus bermain di belakangku.

Kini aku sudah siap pergi. Aku mengenakan pakaian terbaik yang ada di dalam tasku. Hari ini aku ingin menemui wanita bernama Alya Permata itu. Aku ingin bicara dengannya.

Tak berapa lama aku sudah berada di atas motor ojek yang mengarah ke rumah Alya. Di tengah perjalanan aku melihat mobil Mas Darwin melintas. Kami berpapasan dengan posisi dua arah berlawanan. Itu mobil Mas Darwin, aku begitu hapal dengan mobil itu. 'Mungkinkah memang benar dugaanku Mas Darwin baru saja dari rumah Alya?' Jalan ini menuju ke rumah Alya.

Akhirnya aku pun sampai di depan rumah Alya. Aku berusaha menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Aku menarik nafas panjang. 'Aku harus kuat,' ucapku dalam hati.

Aku memencet bel di sisi pagar. Seorang asisten rumah tangga datang menghampiriku dan membuka pagar. "Ada apa, Mbak?" tanyanya.

"Ini benar rumah Mbak Alya?" tanyaku.

"Iya, benar," jawabnya. "Tapi, kalo mau ketemu, Bu Alya sudah pergi, Mbak. Baru saja perginya sama bapak."

"Bapak?" gumamku. "Bapak siapa?" tanyaku.

"Pak Darwin," jawab ART itu apa adanya. Seketika itu juga darahku terasa mendidih. Satu per satu kecurigaanku terungkap dengan sendirinya.

"Kemana?" tanyaku segera.

"Ke kantornya," jawab ART itu.

"Bisa minta alamatnya?" pintaku.

"Oh, sebentar ya." ART itu masuk ke dalam rumah lalu tak lama kemudian keluar dengan membawa selembar kartu nama.

"Di sini ada alamatnya. Mbak bisa langsung ke kantornya kalo mau ketemu. Kantornya buka jam delapan pagi," ucapnya.

"Terima kasih," ucapku sebelum pergi meninggalkan rumah itu.

Aku melirik jam di ponselku. Sekarang hampir setengah delapan pagi. Aku pun bergegas mencari ojek untuk mengantarku ke alamat yang tertera di kartu nama itu. Aku harus ke sana sesegera mungkin. Aku tak bisa membiarkan semua ini terjadi.

Sementara itu, Mas Darwin meluncurkan mobilnya di halaman depan sebuah kantor. "Terima kasih sudah mengantar ya Sayang," ucap Alya.

Ternyata mobil Mas Darwin yang kulihat melintas saat berpapasan tadi, ada Alya di dalamnya. Ia duduk di samping Mas Darwin dan aku tak dapat melihatnya karena kaca mobil Mas Darwin yang gelap.

"Nanti pulang aku jemput," ucap Mas Darwin dan Alya pun mengangguk sambil tersenyum. Lalu, Mas Darwin mencium dahi Alya sebelum ia turun dari mobil. Ia menciumnya dengan lembut.

Terpopuler

Comments

Erni Kusumawati

Erni Kusumawati

ternyata Darwin menikahi kamu supaya kamu jadi pelayan utk ibunya.. Rania pergilah jauh.. tdk ada rumah tangga yg baik jk niat awal menikah tdk baik..

2023-04-20

1

cinta semu

cinta semu

kasian Rania begitu polos n lugu ..

2023-01-10

0

Hera

Hera

aduhhh rania kamu berjuang sendiri buat dapetin hakmu sebagai seorang istri dasar si darwin kutu kupret munak jg ga berani terus terang nih

2022-06-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!