'Apa benar aku hamil?' Pertanyaan itu terus muncul di otakku dan seakan membenarkan pertanyaan itu hatiku berkata, 'Jangan-jangan memang benar aku hamil. Aku harusnya haid 3 hari lalu.'
'Tapi, mungkin saja jadwal haidku hanya mundur beberapa hari, belum tentu aku hamil.'
Yuk Selvi lalu muncul dengan segelas teh hangat di hadapanku. "Minum dulu supaya kamu merasa lebih baik," ucapnya.
Aku mengangguk dan ia segera memberondongku dengan pertanyaan, "Sebenarnya kamu mau kemana? Bawa tas begini."
"Aku ingin ke Indralaya, Yuk... ke tempat Mas Darwin," jawabku.
"Kok mendadak sekali?" ucap Yuk Selvi dengan spontan. "Mengapa ibu tidak menelepon? Biasanya ibu menelepon minta ditemani kalo sendirian di rumah?"
Aku terdiam, bingung harus menjawab apa. Namun, akhirnya dengan jujur kukatakan, "Ibu belum tahu Yuk kalo aku pergi ke Indralaya."
"Loh, kamu pergi tanpa izin ibu?" Yuk Selvi cukup terkejut dan aku hanya mengangguk pelan. "Tapi, mengapa? Kamu ada masalah dengan ibu?" tanyanya.
"Tidak, Yuk Selvi," ucapku segera. "Aku hanya mau menemui Mas Darwin. Kemarin aku sudah minta izin sama ibu, tapi ibu tidak mengizinkan. Makanya, aku pergi diam-diam. Rencananya aku mau mengabari ibu setelah sampai di Indralaya supaya ibu tidak khawatir mencariku."
Yuk Selvi terdiam sejenak. Dahinya berkerut lalu berkata, "Mengapa ibu tidak mengizinkan? Apa alasannya?"
"Ibu bilang aku tidak sehat. Tapi, aku yakin sekali aku sehat, Yuk."
"Hmmm... Rania... Rania. Ibu pasti marah kalo tahu kamu pergi seperti ini. Apa yang dikatakan ibu itu benar. Kamu memang tidak sehat. Buktinya kamu tadi puyeng kan di jalan," ucap Yuk Selvi.
Aku hanya diam, menundukkan kepalaku karena malu dengan tindakan nekatku.
"Jangan-jangan benar kamu hamil," gumam Yuk Selvi kemudian.
"Kamu sudah tes belum?" Pertanyaan Yuk Selvi membengongkan pandanganku.
"Kamu sudah telat haid?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk pelan. Lalu, Yuk Selvi beranjak dari tempat duduknya. Ia masuk ke rumah dan tak lama kemudian keluar lagi dari rumah. Di tangannya kulihat tergenggam sebuah benda.
"Nih, Ayuk punya testpack simpanan karena sekarang lagi promil juga." Ia meletakkan testpack di atas meja. "Besok pagi-pagi bangun tidur kamu cek urine kamu! Jangan sampai lupa!"
Aku menatap testpack itu sambil terus berpikir, 'Apa benar aku hamil?'
Lalu, tak lama setelah itu Yuk Selvi mengantarku pulang ke rumah. Aku berusaha masuk ke rumah lewat pintu belakang yang tidak terkunci. Aku tidak ingin ibu tahu aku baru saja berusaha kabur dari rumah untuk pergi ke Indralaya.
Aku berjalan pelan-pelan, mengendap-endap agar ibu tak mendengar langkah kakiku. Sedikit lagi aku sampai di kamarku. Kini langkah kakiku sudah di ambang pintu kamar.
"Tidak jadi minggat?" Suara ibu begitu mengagetkanku.
Aku membalikkan badanku dan kulihat ibu memelototiku dengan kemarahan. Ia melirik tas yang kujinjing sejak tadi.
"Mau pergi, silakan! Mengapa tidak jadi pergi?" ucapnya sinis.
Aku hanya diam. Tubuhku serasa membeku. Aku tak dapat berkata-kata lagi. Ibu sudah memergokiku dan aku sama sekali tak bisa mengelak. Apalagi ucapan ibu kemarin sesuai dengan kenyataan yang aku alami hari ini. Belum sampai ke Indralaya, memang benar pertahanan tubuhku akhirnya ambruk. Ibu seakan sudah bisa memprediksi apa yang akan aku alami.
"Kali ini kamu masih bisa pulang ke rumah," ucap ibu. "Sekali lagi kamu minggat, ibu tidak akan menerima kamu balik lagi ke rumah ini." Ibu berkata dengan sangat tegas.
Aku tak bisa menolak semua kemarahan ibu. Aku tahu aku memang berbuat kesalahan. Semoga ibu tidak menceritakan semuanya pada Mas Darwin. Aku tidak ingin Mas Darwin berpikir yang tidak-tidak dan berprasangka buruk padaku.
Aku sedikit menyesali tindakan sembronoku. Namun, aku cukup kecewa karena tidak berhasil menemui Mas Darwin di Indralaya. Aku tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Mas Darwin di sana. Aku sangat ingin tahu hal yang ditutupi Mas Darwin dariku selama ini.
Aku juga sangat ingin tahu apakah sebenarnya aku benar-benar hamil atau tidak? 'Kami baru satu kali berhubungan. Apakah mungkin secepat itu langsung membuatku bisa hamil?' Banyak pasangan menikah, tapi cukup lama untuk bisa hamil. Aku galau dengan hasil kemungkinanku hamil atau tidak. Aku sudah tidak sabar menunggu datangnya pagi.
Akhirnya malam berganti fajar. Aku bangun dari tidurku dan segera pergi ke toilet. Dengan perasaan cemas aku begitu ingin tahu hasil testpackku.
Perlahan aku melihat sebuah garis memerah dengan tipis. Lalu, garis di atasnya lagi memerah dengan sangat terang. Aku memasati garis tipis itu. Itu bukan sekedar bayangan, garis itu memerah meski terlihat tipis.
"Dua garis merah," gumamku cukup terkejut. 'Aku hamil,' pikirku.
'Aku hamil anak Mas Darwin.' Sebuah perasaan dan emosi kegembiraan menyeruak di dalam dadaku seketika. Aku begitu girang hingga langsung mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Mas Darwin.
'Mas Darwin harus tahu,' pikirku. Aku mencoba meneleponnya dua kali tapi tak juga diangkat.
'Apa dia masih tidur,' pikirku sambil melirik jam di kamarku yang menunjukkan pukul empat lewat. Akhirnya, aku mengirimkan sebuah pesan saja untuknya.
'Mas aku hamil,' tulisku dengan menyertakan foto testpackku.
'Mas Darwin pasti terkejut dan senang melihat ini,' pikirku. Kami akan segera punya anak. Semoga anak ini bisa mempersatukan hati Mas Darwin denganku. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk pernikahan kami. Begitu banyak harapan yang kusematkan dengan adanya kehadiran janin dalam kandunganku ini.
'Ibu juga harus tahu," pikirku. 'Dia pasti akan sangat senang. Sudah lama dia menanti-nantikan kehadiran cucu darah daging Mas Darwin.' Aku harus memberi tahu ibu.
Namun, sebelum berhasil keluar dari kamar langkahku segera terhenti. 'Tidak, aku tidak bisa memberi tahu ibu saat ini,' pikirku. Jika ibu tahu aku hamil, ibu pasti akan semakin melarangku untuk ke Indralaya. Ia pasti akan mencemaskan kondisi kandunganku.
'Aku tidak boleh memberi tahu ibu kondisiku saat ini. Nanti saja. Aku harus menunggu waktu yang tepat.'
Aku memutuskan untuk tidak memberitahu ibu. Namun, aku sudah memberi tahu Mas Darwin. Aku tak sabar ingin tahu seperti apa reaksi Mas Darwin.
Aku bergegas kembali mengambil ponselku dan membuka pesan yang kukirim pada Mas Darwin. Mas Darwin sudah membacanya, terdapat tanda conteng dua bewarna hijau di sana. Tapi, mengapa tidak ada balasan apapun darinya? Dia sudah membacanya.
Kulihat tertulis waktu terakhir dia online. Empat menit yang lalu. Empat menit lalu dia online dan membaca pesan ini. Tapi, mengapa tidak ada ekspresi balasan apapun darinya? Mengapa?
Aku sangat kecewa dengan reaksi Mas Darwin. Dia tidak merespon apapun. Dia hanya membaca pesanku dan mengabaikannya begitu saja. Aku lalu segera meneleponnya.
Aku meneleponnya satu kali, tak dijawab. Aku coba telepon lagi, tak dijawab. Aku menelepon lagi berkali-kali hingga tujuh kali, tetap tak dijawab. Aku kecewa, benar-benar kecewa.
"Mas Darwin," gumamku lemah. Tak terasa lelehan air mata hangat mengalir begitu saja di pipiku.
-----
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Shuhairi Nafsir
Rania kamu jangan jadi wanita yang bodoh dan lemah. jangan terlalu mengharap kan cinta terhadap Darwin.
2022-06-03
0
Acheuom Rahmawatie
lanjut
2021-12-15
1
mithos
lama thor up nya...dari kemarin udah rindu....😂😂😂
benar kata dilan rindu itu berat😲😲😲
💪💪💪❤❤❤
2021-12-15
2