Akhirnya kami sampai di Bali. Aku sangat senang karena tak kusangka dalam seumur hidupku aku akan ke pulau ini. Senyuman dari wajah tak dapat kusembunyikan. Sementara itu, wajah Mas Darwin kulihat datar saja, biasa-biasa saja. Tak bisa kurangkum dengan kata-kata apakah ia senang atau tidak karena ekspresinya biasa saja.
Dengan memesan taksi online akhirnya kami tiba di hotel. Aku sibuk memperhatikan dekorasi hotel yang begitu indah, membuatku begitu kagum. Kemudian, kami menuju ke kamar dan saat pintu kamar terbuka aku lebih kagum lagi. Kamar itu memiliki jendela kaca besar dengan pemandangan yang langsung mengarah ke pantai. "Indah sekali," gumamku.
Namun, kemudian aku baru tersadar melihat kejanggalan di kamar ini. Ranjang di kamar ini ada dua, terpisah. Aku melongo dan mulai memburu Mas Darwin untuk bertanya.
"Mas, mengapa kamar ini ranjangnya terpisah?" tanyaku begitu Mas Darwin keluar dari kamar mandi.
"Yang tersisa cuma kamar ini. Karena, banyak peserta seminar dari luar kota dan harus menginap di sini, hotel ini penuh. Aku tak bisa mendapatkan kamar double room karena bookingnya tidak dari jauh-jauh hari. Waktu itu kan mendadak saja ibu menyuruh kamu ikut. Jadi, ya yang tersisa hanya kamar ini, twin room."
'Semoga saja memang begitu kenyataannya,' pikirku. Karena, aku sempat mengira Mas Darwin sengaja memesan kamar seperti ini agar tak berdekatan denganku. Aku tak begitu yakin apa alasannya, namun kemungkinan karena ia sebenarnya penyuka sesama jenis.
Karena itu, sebelum berangkat ke sini aku sudah bertekad untuk mencari tahu hal apa yang sebenarnya dirahasiakan Mas Darwin dariku? Apakah ia benar-benar lelaki normal atau bukan? Dari luar ia tampak seperti pria pada umumnya, dia maskulin dan gagah. Tidak lembek dan gemulai seperti wanita.
Dia seperti lelaki sejati, tapi tidak mau menikah hingga sedewasa ini. Setelah menikah pun, dia sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda ketertarikan padaku, wanita yang sudah halal dan sah menjadi miliknya. Sementara itu, ibunya terus mendesak agar dia punya anak secepatnya seperti ada kekhawatiran dalam diri ibu yang tak bisa kumengerti. Aku benar-benar penasaran sebenarnya Mas Darwin lelaki normal atau bukan? Aku harus mengujinya sendiri.
Tapi, bagaimana? Ia begitu dingin kepadaku. Baru di bandara dan pesawat tadi saja aku bisa merasakan perhatian darinya. Setelah itu, hubungan kembali kaku, tak ada kedekatan.
Aku memandang pantai yang begitu indah di hadapanku melalui kaca. "Mas, ayo kita ke pantai itu!" ajakku. Aku mencoba untuk membangun kedekatan dengan Mas Darwin.
"Tidak, Rania. Aku harus mempersiapkan presentasi untuk besok dengan matang," ucap Mas Darwin sambil mengeluarkan laptopnya.
Aku diam dan memandang Mas Darwin cukup lama. Lalu, ia berkata, "Kalo kamu mau ke pantai, silakan Rania! Kamu bisa kan ke pantai sendirian. Kamu tinggal jalan ke sana, pantainya di halaman belakang hotel ini."
"Aku mau ke pantai bersama kamu, Mas," ucapku.
"Tidak bisa, Rania. Aku sibuk."
Entah apa yang membuat Mas Darwin begitu tak ingin dekat denganku, bahkan hanya untuk sekedar ke pantai bersama. Semuanya masih samar.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke pantai sendirian. Sayang bagiku untuk hanya sekedar menghabiskan waktu di dalam kamar dan melewatkan momen menikmati pemandangan indah ini.
Aku berjalan menyusuri pasir pantai sendirian. Menghirup udara dan aroma ombak yang berlarian. Menatap langit yang terbentang luas. Lalu, aku melihat orang-orang di sekitarku. Mereka berjalan bersama pasangan. Ada yang tertawa bersama anak-anak mereka, berfoto bersama teman. Mereka semua sangat gembira. Mungkin hanya aku di pantai ini yang merasa kesepian sendiri.
Semua orang bergembira bersama orang-orang terdekat mereka, kecuali aku. Ada perasaan sedih menyelimuti hatiku. Karena, aku merasa diabaikan, tak dicintai suamiku sendiri. Ia bahkan sama sekali tak mengkhawatirkanku di sini sendirian, di tempat asing yang belum pernah sama sekali kukunjungi sebelumnya.
Langkahku kemudian terhenti di dekat sebuah istana pasir yang telah ditinggalkan. Entah siapa yang sudah membangun istana itu, mungkin anak-anak. Aku memandangi istana itu seolah merasa nasibku sama dengan istana itu. Kemudian, aku duduk di dekatnya.
Cukup lama aku duduk di pasir pantai memperhatikan ombak yang bergulung-gulung. Hingga kulihat matahari mulai akan terbenam. Namun, aku tetap tak beranjak dari tempat dudukku. Aku tak berniat kembali, aku merasa sedih karena tak dipedulikan.
Hingga akhirnya matahari terbenam sempurna. Hari sudah gelap, berganti malam. Aku memutuskan untuk berdiri dari tempat dudukku. Lalu, dari kejauhan kulihat seorang pria berlari dengan tergesa ke pantai. Ia berteriak, "Rania! Rania!"
Jelas sekali bagiku itu adalah Mas Darwin. "Rania!" teriaknya lagi membuat orang-orang di sekitar pantai segera mengalihkan pandangan padanya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, berusaha menemukanku.
"Mas Darwin," panggilku kemudian. Ia segera menoleh kepadaku.
"Rania," ucapnya dengan terengah-engah.
"Ada apa?" tanyaku datar.
"Aku mengkhawatirkanmu," jawabnya segera. Entah mengapa kalimat itu terdengar begitu indah di telingaku dan berhasil melunturkan semua kesedihan dan kekesalanku padanya.
"Apa?" ucapku kemudian seakan tak percaya dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan.
"Mengapa kamu tidak bergegas pulang sebelum gelap?" tanyanya dengan sedikit kesal. "Aku takut terjadi hal tidak baik padamu."
Aku terdiam, berusaha mencerna kalimat demi kalimat yang dilontarkannya. 'Mengapa ia tiba-tiba mengkhawatirkanku?'
"Kau membuatku cemas," ucapnya lagi. "Kamu tak juga pulang-pulang. Aku pikir kamu tersesat atau terjadi sesuatu hal buruk padamu. Aku berusaha menghubungimu, tapi tidak bisa."
"Baterai ponselku habis," ucapku.
"Mengapa tidak segera kembali ke kamar?" tanyanya.
"Aku baru saja ingin pulang. Tadi aku terlena menikmati sunset," jawabku berusaha menutupi kesedihan yang sebenarnya aku rasakan tadi.
Entah mengapa semua perasaan sedihku tadi telah hilang dalam hitungan detik ketika melihatnya berlari mencariku dan mencemaskanku. Ada perasaan bahagia terselip di hatiku. Kemudian, aku mengambil tangannya. Tanpa sempat ia menolak aku segera menarik tangannya, memaksa tubuhnya berjalan mengikutiku.
"Mau kemana?" tanyanya.
Aku menunjuk sebuah cafe di pinggir pantai. "Aku haus dan lapar," ucapku. Aku melepaskan tangannya.
"Baiklah, ayo kita beli makanan!" ucapnya kemudian sambil berjalan menuju cafe.
Akhirnya aku bisa makan malam berdua dengan Mas Darwin. Ini pertama kalinya, di meja itu hanya ada kami berdua. Ini waktu yang benar-benar berharga bagiku. Aku merasa sangat bahagia dan terus tersenyum. Sementara itu, Mas Darwin tampak begitu fokus dengan makanannya. Mungkin dia tak begitu menyadari kebahagiaan yang aku rasakan.
Setelah puas makan Mas Darwin segera mengajakku kembali ke kamar. Padahal, aku masih ingin terus menikmati malam romantis ini bersamanya. Aku ingin memandang bintang bersamanya, mendengarkam deru ombak di pantai. Tapi, semua itu harus kumusnahkan dari anganku. Karena, dia berkata, "Aku lelah, mau istirahat. Besok harus bangun pagi-pagi. Seminar akan dimulai pagi hari."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
cinta semu
berkali-kali baca novel ini ...tapi memang q suka ....jadi baper
2023-01-10
0
Valentina Boe
lanjutkan
2022-01-22
3
mithos
masih penasaran......
2021-12-06
2