Semua momen yang terjadi di Bali kini tinggal kenangan. Seperti tak pernah terjadi apapun kini kehidupan kembali sama seperti hari-hari biasa. Hanya satu yang berbeda, Mas Darwin memutuskan untuk tidak pulang di akhir pekan.
"Bu, hari Sabtu dan Minggu besok aku belum bisa pulang," ucap Mas Darwin melalui video call.
"Loh, mengapa?" tanya ibu.
"Teman akrabku mau menikah di sini. Hari Sabtu akad nikah, Minggu resepsinya. Aku mau datang ke acaranya, tidak enak kalo gak hadir," jawab Mas Darwin.
"Kamu tidak ajak istrimu?" tanya ibu.
"Tidak, Bu. Repot kalo harus bolak-balik Kayuagung-Indralaya. Senin aku sudah masuk kerja lagi." Itu yang kudengar dari percakapan Mas Darwin dan ibunya.
Aku menghela nafas. Aku yakin sekali bukan itu alasan sesungguhnya Mas Darwin tidak pulang. 'Mas Darwin ingin menghindariku,' batinku.
Sementara itu, setelah menutup telepon dari Mas Darwin, ibu mengocehiku. "Kamu dengar sendiri kan Darwin tidak mau mengajakmu ke acara pernikahan temannya."
Aku hanya tertunduk diam dan ibu melanjutkan ocehannya,"Mungkin dia malu mengajakmu. Kamu menjadi istri harusnya bisa mengimbangi penampilan suami. Yah, tapi mau bagaimana lagi... dari level pendidikan saja kalian sudah tidak seimbang."
"Bu...." Aku menghentikan ucapan ibu. "Sejak awal aku sudah mengatakan pada Mas Darwin tentang pendidikanku dan dia tidak mempermasalahkan itu."
"Iya, tapi kenyataannya itu membawa masalah untuk Darwin. Pendidikan kamu yang rendah itu berdampak besar pada kehidupan Darwin," oceh ibu.
Aku tak tahan lagi mendengar ocehan ibu. Aku lebih memilih meninggalkan ibu dan masuk ke kamar. Sementara itu, ibu masih terus saja mengoceh, "Kasihan Darwin punya istri gak berpendidikan. Gimana bisa mau membahagiakan suami?"
Aku menarik nafas dalam-dalam berusaha melepaskan semua beban yang aku rasakan. Aku berusaha untuk tidak mendengarkan ocehan-ocehan ibu yang hanya akan membuatku semakin tertekan. Aku berusaha keras untuk berpikir tenang.
'Mas Darwin suamiku,' pikirku. 'Aku harus mendapatkannya, aku harus mendapatkan hatinya.'
Aku lalu mengambil ponselku, mengetikkan sebuah pesan untuknya, 'Sempatkanlah pulang, Mas. Aku rindu padamu.'
Mas Darwin membuka pesan yang kukirim, ia membacanya. Tapi, ia tak merespon apapun. Ia hanya membacanya saja.
Aku mengirimkan pesan lagi untuknya, 'Aku sangat merindukanmu. Semoga kau segera pulang.'
Lagi-lagi Mas Darwin hanya membacanya saja. Aku tahu dia sedang online di depan ponselnya. Tapi, ia sengaja mengabaikanku. Aku pun memberanikan diri untuk menghubunginya. Namun, ia tak menjawabnya. Aku mencoba menghubunginya sekali lagi. Namun, di luar dugaanku Mas Darwin malah segera mengakhiri panggilanku.
Aku menitikkan air mata. Aku tahu aku sudah sangat rendah di mata suamiku. Aku seperti wanita penggoda yang sudah tidak punya harga diri lagi. Tapi, mau bagaimana lagi... aku terlanjur mencintainya dan bertekad mempertahankan rumah tangga ini apapun yang terjadi.
Aku sangat berharap bisa memiliki rumah tangga yang sesungguhnya seperti pasangan-pasangan lain. Aku berharap Mas Darwin bisa mengerti perasaanku. Aku telah terjebak dalam perasaanku sendiri, perasaan cinta pada Mas Darwin. Dan kini perasaan itu menuntut untuk tidak diabaikan. Aku berharap Mas Darwin membalas perasaanku.
Sementara itu, Mas Darwin yang membaca pesan baru dariku malah segera menghapus seluruh pesan percakapan antara aku dan dia di ponselnya. Ia tak menyisakan satu pun pesan kami. Entah mengapa dia melakukan itu. Mungkin dia tak menginginkan kehadiran pesan-pesanku itu. Ia lebih suka tak terbentuk hubungan kedekatan apapun di antara kami berdua.
Tiba-tiba ia teringat pada kejadian saat kami di Bali, saat ia hampir mencium dahiku. Ia juga teringat pada kejadian di malam aku menggodanya hingga ia tergiur untuk menyentuhku. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat momen itu. Berusaha untuk menghapus memori itu dari kepalanya. Namun, memori itu muncul dan muncul lagi membuat Mas Darwin kesal pada dirinya sendiri.
"Tak seharusnya," gumamnya.
Ia lalu berdiri, bergegas pergi menuju mobilnya. Ia mengemudikan mobilnya menuju sebuah toko bunga segar yang letaknya sangat jauh. Sulit untuk menemukan bunga segar di sini, Indralaya.
Kini Mas Darwin berjalan di antara deretan bunga. Ia memandang bunga-bunga dan terbayang senyuman seorang wanita di pikirannya. Lalu, ia memesan buket bunga mawar merah yang cukup besar di sana. Ia meminta sebuah kertas ucapan dan menuliskan 'Aku mencintaimu.'
Kemudian, ia mampir ke sebuah minimarket, membeli beberapa batang coklat dan es krim. 'Semoga tidak cepat cair,' pikirnya ketika mengemudikan mobilnya dengan cepat. Ia harus bergegas untuk cepat sampai.
Mas Darwin kemudian memperlambat laju mobilnya dan berhenti di depan sebuah rumah bernuansa putih. Itu bukan rumah dinas miliknya. Rumah itu dipenuhi dengan bunga-bunga yang bermekaran indah. Daun-daun hijau menyejukkan matanya.
Mas Darwin turun dari mobil lalu mengetuk pintu. "Tok! Tok! Tok!"
"Tok! Tok! Tok!"
Seseorang kemudian membuka pintu dan tampak terkejut. "Kamu pulang lebih cepat, Mas," ucapnya dengan senyum terkembang.
Mas Darwin mengeluarkan buket bunga dari balik badannya, membuat wanita di hadapannya itu menjadi lebih terkejut lagi. "Wuaww!" ucapnya.
Ia menerima buket itu dengan bahagia dan spontan mencium wangi bunganya. "Kamu romantis sekali," pujinya.
"Aku juga membelikan coklat dan es krim kesukaanmu." Mas Darwin menyodorkan sekantong coklat dan es krim. Lagi-lagi senyum terkembang di wajah wanita itu.
"Masih ada lagi?" tanya wanita itu menunggu kejutan lainnya. Lalu, ia memandangi tulisan tangan Mas Darwin di kartu ucapan.
Mas Darwin tersenyum kemudian ia berkata, "Sabtu-Minggu ini aku tidak pulang."
Wanita itu segera menoleh, fokus menatap Mas Darwin. "Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu," ucap Mas Darwin kemudian.
"Aku mencintaimu," ucap wanita itu lalu mengecup pipi Mas Darwin dan memeluknya dengan erat. Mas Darwin pun tersenyum dalam pelukan wanita itu. "Aku juga sangat mencintaimu," ucap Mas Darwin.
"Tetaplah bersamaku," bisiknya. "Jangan pergi dariku!"
Wanita itu menatap Mas Darwin dalam pelukannya. Ia menganggukkan kepalanya dan membuat Mas Darwin sangat bahagia.
Mas Darwin tak ingat padaku. Ia larut dalam kebahagiaannya dan tak mau memikirkanku. Sementara itu, aku terus memikirkan Mas Darwin hingga malam. 'Hari ini ia benar-benar tidak pulang,' pikirku.
Aku memandangi meja kerjanya yang kosong. Setiap pulang ke sini dia selalu menghabiskan waktunya di meja itu. Ia memilih tidur dengan tidak nyaman di kursi kerjanya untuk menghindariku.
'Bagaimana agar aku bisa dekat dengan Mas Darwin?' pikirku. 'Bagaimana agar aku bisa mendapatkan hatinya?'
'Apa yang harus aku lakukan? Aku harus tahu rahasia yang disembunyikan Mas Darwin dariku. Tapi, bagaimana caranya?'
Tiba-tiba aku merasa sangat pusing karena terlalu banyak berpikir dan menangis. Rasanya aku mau pingsan. Tubuhku melayang dan hampir roboh. Aku segera membaringkannya di kasur dan lagi-lagi air mata mengalir dari kedua mataku.
-----
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Umie Arie89
yg nulis novel ini sekota ama aku slm knl kk..dr cinta manis...
2023-12-22
1
Hera
sepertinya ada rahasia yg disembunyikan oleh darwin
2022-06-12
1
Aulia Nia
tu istrinya apa msh pacaran. pantes ga mau buka hati buat rania ohhhhhh ternyata
2022-02-13
3