Hari ini adalah hari Minggu, tapi mas Darwin sejak tadi masih saja sibuk berkutat di depan laptopnya. Sementara itu, aku sejak tadi menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengannya.
"Mas, seterusnya nanti kita tinggal menetap dimana?" Aku memberanikan diriku untuk bertanya.
Mas Darwin mengernyitkan dahi tanpa menatapku.
"Maksudku... Mas kan setiap hari bekerja di Indralaya. Sekarang kan kita tinggal di Kayuagung. Jarak dari sini ke Indralaya kan tidak dekat, belum lagi sering macet setiap hari. Apa tidak sebaiknya kita tinggal di Indralaya saja, Mas?" Aku berusaha menjelaskan dengan sebaik mungkin agar tidak menyinggung perasaannya.
"Kamu tersinggung dengan sikap ibu tadi pagi ya." Mas Darwin langsung berkata seperti itu padaku seolah bisa membaca isi pikiranku.
"Kamu harus betah tinggal di sini bersama ibu," ucapnya lagi.
"Bukan begitu, Mas."
Mas Darwin menatapku seolah menunggu lanjutan perkataan dari bibirku.
"Aku takut tidak bisa menjadi menantu yang baik untuk ibu," ucapku kemudian.
"Kamu hanya belum terbiasa." Mas Darwin berkata dengan begitu tegas. "Kamu belum memahami ibu. Kita baru menikah kemarin. Kamu masih shock menghadapi sikap ibu. Nanti lama-lama kamu akan betah tinggal di sini. Anggap saja ini rumahmu sendiri."
"Ucapan ibu tidak perlu terlalu kamu masukkan dalam hati. Ibu memang begitu. Sikapnya keras."
"Tapi, alangkah baiknya kalo kita tinggal di Indralaya saja, Mas. Lebih dekat dengan tempatmu bekerja. Kayuagung dan Indralaya kan beda kota." Aku masih berusaha membujuk mas Darwin.
"Kamu tetap tinggal di sini, Rania. Aku akan tetap tinggal di rumah dinasku di Indralaya seperti sebelum menikah," ucap mas Darwin segera.
Mataku membola. Aku tercengang mendengar ucapan mas Darwin.
"Kamu akan tinggal di sini menemani ibu. Sabtu dan Minggu aku akan pulang ke sini, tidur di rumah ini. Tapi, di hari aktif kerja -Senin sampai dengan Jumat- aku akan menginap di Indralaya karena jarak dari sini kan jauh."
Aku terhenyak mendengar penjelasan mas Darwin. "Kita berdua tidak tinggal serumah," ucapku.
"Ya, tinggal satu rumah. Sabtu dan Minggu kan aku di sini. Hanya hari aktif kerja saja aku menginap di Indralaya," ucapnya.
"Mengapa aku tidak tinggal bersama kamu, Mas?" tanyaku.
"Nanti siapa yang menemani ibu? Ibu sudah tua, lemah. Harus ada orang yang menjaganya. Kasihan kalo ibu sendirian," jawab mas Darwin.
"Tapi, kata Mas tadi... sebelum menikah kan Mas tinggal di Indralaya. Itu artinya ibu sudah biasa tinggal sendiri kan," ucapku.
"Tidak, Rania. Dulu Yuk Selvi, suami, dan anak-anaknya tinggal di sini. Sekarang karena sudah punya rumah sendiri mereka pindah. Ibu jadi sendirian. Makanya, ibu memintaku segera menikah agar dia tidak kesepian."
Aku mengingat Yuk Selvi adalah kakak perempuan mas Darwin. Dia tinggal tidak terlalu jauh dari rumah yang kami tempati saat ini.
"Yuk Selvi tinggal di dekat sini, Mas. Dia bisa menemani ibu," ucapku.
"Dia kan sudah berumah tangga. Dia punya kehidupan sendiri. Tidak bisa menemani ibu seharian. Sekali-kali saja dia ke sini." Mas Darwin terus berusaha membuatku mengerti.
"Aku ini anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini, Rania."
Aku menatap mas Darwin dengan tatapan kesedihan.
"Ibu maunya tinggal denganku, bukan dengan Yuk Selvi ataupun dengan Yuk Nia."
Aku hanya terdiam.
"Sudah kewajibanku sebagai anak laki-laki untuk mengurus dan berbakti pada ibu di masa tuanya," tambah mas Darwin.
"Jadi, kamu harus membiasakan diri. Lama-lama kamu akan akrab dengan ibu."
Aku menitikkan air mata. Perkataan demi perkataan mas Darwin membuat harapanku tentang kebahagiaan setelah pernikahan layu dalam sekejap.
"Kamu harus belajar dekat dengan ibu," ucap mas Darwin menyemangatiku.
Dia lalu menutup laptopnya dan membereskan kertas-kertas di mejanya. "Sudah hampir jam 3," ucapnya.
"Aku harus siap-siap pulang," lanjutnya.
"Pulang?" Aku tak mengerti dengan ucapannya.
"Ya, aku harus segera pulang ke Indralaya sebelum jalan macet. Sore dan malam biasanya jalan macet. Jadi, aku harus pulang sebelum sore," jelasnya.
"Ini kan masih hari Minggu, Mas. Mengapa tidak besok pagi saja kamu berangkat dari sini?" tanyaku.
"Senin pagi-pagi sekali aku harus sudah berada di kampus. Lagipula, banyak yang harus aku siapkan. Tidak akan terkejar kalo aku berangkat besok pagi dari sini," jawabnya sambil mengeluarkan tas dari dalam lemari dan mengisinya dengan sejumlah pakaian.
'Pernikahan apa ini?' pikirku. 'Mas Darwin akan meninggalkanku begitu saja di sini. Artinya, dalam setiap minggu aku hanya akan bertemu dengan mas Darwin kurang dari 48 jam.'
"Sampai kapan akan seperti ini, Mas?" tanyaku.
"Yaa, kita jalani saja dulu. Nanti kita pikirkan lagi pilihan yang terbaik," ucapnya dengan ringan.
Ternyata apa yang aku mimpikan semalam kini menjadi kenyataan. Mas Darwin pergi meninggalkanku begitu saja. Aku terperangkap di sini, pelosok Kayuagung yang jaraknya satu jam perjalanan ke pusat Kota Kayuagung. Aku sebatang kara, tak ada yang kukenal selain keluarga suamiku di sini.
Sering aku berpikir, 'Pernikahan apa yang aku jalani?' Situasi membuatku tidak layak disebut istri, aku lebih pantas disebut pelayan ibu.
Hari-hari kujalani dengan cacian ibu karena di matanya semua yang kulakukan salah, tidak sempurna. Aku tidak tahu bisa bertahan hingga kapan. Satu-satunya yang kuharapkan saat ini adalah pertemuan dengan mas Darwin. Aku menunggunya berhari-hari, hingga akhirnya hari Sabtu tiba.
"Suami mau pulang, kamu tidak beres-beres kamar. Bagaimana suami mau betah?" Ibu mencibirku siang ini.
Aku menghela nafas panjang. Kupandangi kamar kami, semuanya tampak bersih, rapi.
"Lemari pakaian berdebu, lap pakai kain! Pakai cairan pembersih kayu supaya kinclong, suami pulang jadi senang." Ibu masih saja mengoceh dari luar kamar.
Aku pun lalu mengambil lap dan cairan pembersih. Aku mengelap permukaan lemari jati di kamar kami. Setelah itu, aku pun mengelap meja kerja mas Darwin. Aku membuka laci mejanya, merapikan isi di dalamnya dan aku menemukan kotak cincin.
Aku iseng membukanya. Kulihat sebuah cincin yang sama dengan cincin di jariku berada di sana, di dalam kotak itu.
'Astaga, ternyata mas Darwin tidak memakai cincin pernikahan kami,' ucapku dalam hati. 'Mengapa?'
'Mengapa cincin ini masih tersimpan rapi di kotaknya?'
"Aku lupa memakainya." Suara mas Darwin mengagetkanku. Ternyata ia sudah pulang.
"Kamu pasti berpikir mengapa cincin itu tidak aku pakai," ucapnya.
Aku segera meletakkan cincin itu kembali di kotaknya. "Iya," ucapku.
"Nanti aku pakai," ucapnya singkat. Lalu, ia merebahkan badannya di atas kasur.
Ini pertama kalinya aku melihat dia menggulingkan badannya di kasur. Sepertinya dia lelah sekali. Kulirik jam saat ini sudah hampir jam 2 siang. Lalu, aku pun bertanya, "Mau makan siang, Mas?"
"Sudah tadi. Aku sudah makan." Jawabannya membuatku sedikit kecewa karena aku sudah masak banyak untuk mas Darwin. Tapi, ya sudahlah... sekarang memang sudah lewat jam makan siang.
"Mau minum yang panas atau dingin? Nanti aku buatkan." Aku sangat berusaha untuk menyenangkan hatinya.
"Nanti saja. Aku mau tidur dulu." Ia lalu memejamkan matanya begitu saja. Padahal, aku berharap sangat banyak pada pertemuan kami ini. Banyak yang ingin aku bicarakan padanya. Tapi, ia tampak begitu lelah. Aku pun membiarkannya terlelap hingga Ashar.
Adzan Ashar berkumandang. Mas Darwin segera mengambil wudhu lalu bersiap sholat. Dia kemudian bertanya padaku, "Kamu tidak sholat?"
"Oh, aku sedang haid, Mas. Ini hari terakhir," jawabku dengan malu. Wajahku rasanya memerah saat mengatakan itu kepada laki-laki, aku belum terbiasa dengan suamiku sendiri.
Seusai mas Darwin sholat, aku mendekatinya dan memberanikan diri untuk mengatakan, "Mas, maaf... aku belum bisa... melayani... hmm... sebagai istri. Tapi, besok haidku sudah bersih, aku baru bisa...." Aku begitu terbata-bata mengatakannya.
Tapi, dengan entengnya mas Darwin segera berkata, "Tidak masalah."
Aku tercengang dan dalam hati berkata, 'Uuuuhhhh... Betapa bodohnya aku. Memalukan.'
Mas Darwin sepertinya tak begitu mengharapkan akan terjadi sesuatu antara kami berdua. Sedangkan, aku berpikir takut mengecewakannya. Aku sudah berpikir terlalu jauh. Aku benar-benar malu. Aku tak sanggup untuk menatapnya lagi.
Aku pikir mas Darwin seperti pria pada umumnya, menginginkan bulan madu dan pelayanan dari seorang istri. Pria yang baru saja menikah biasanya sangat menggebu-gebu ingin menyentuh istrinya, tapi tidak dengan mas Darwin. Hingga detik ini saja dia tak pernah menyentuh tanganku, kecuali saat bersalaman.
Aku malu sekali, malu sekali. Karena, sudah berpikir terlalu jauh. Hingga malam tiba aku masih merasa sangat malu dengan kebodohanku. Sementara itu, dia dengan santainya menghabiskan malam ini dengan asyik menonton bola. 'Apa dia tidak tertarik denganku?' pikirku.
Tapi, pada akhirnya aku berpikir, 'Mungkin dia terlalu sibuk dan terlalu lelah di kantor. Mungkin dia ingin menikmati hari liburnya dengan beristirahat.'
-----
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Erni Kusumawati
pernikahan yg janggal
2023-04-20
1
cinta semu
kasian usia ny masih muda dpt lelaki dewasa ..cuman di manfaatin buat jaga mertua cerewet
2022-12-01
1
Hera
cerewet nya ibu mertua rania kasian jg rania udah ketemu suami ga lama waktunya malah ditemani ibu mertua setiap saat
2022-06-12
1