Aku sudah berpikir keras dan membulatkan tekad. Aku tak akan menyia-nyiakan malam ini, malam terakhir kami di Bali. 'Dia suamiku, aku harus tahu segala hal tentangnya,' batinku.
'Aku harus membuktikannya sendiri. Semua keraguanku selama ini harus terjawab.'
Aku menyemprotkan parfum di tubuhku, memakai lipstik pink peach di bibirku, dan mengikat baju tidur berbentuk kimono panjang yang aku beli tadi.
'Sebentar lagi Mas Darwin pulang,' pikirku saat melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Aku lelah dia terus menjauhiku. Aku hanya ingin tahu kenyataan yang sebenarnya. Meskipun, tak kupungkiri aku begitu gugup. Apa yang harus kulakukan jika ternyata kecurigaanku benar? Jangan-jangan dia benar-benar tidak menyukai wanita.
Aku begitu gugup hingga lupa untuk membereskan sejumlah pakaianku yang bertebaran di atas kasur. Lalu, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Aku menarik nafasku dengan dalam, lalu berjalan mendekati pintu.
"Krekk!" Aku membukakan pintu. Mas Darwin tepat di depan pintu, masih sibuk menatap layar ponselnya. Ia masuk tanpa menoleh ke arahku sedikit pun. Lalu, saat aroma parfum menusuk hidungnya, ia spontan berkata, "Wangi sekali."
Ia menoleh kepadaku yang membelakanginya. Aku masih sibuk mengunci pintu kamar. Lalu, ia berjalan dan pandangannya terarah pada pakaian di atas kasurku.
"Kamu belanja baju renang," ucapnya.
"Ya," jawabku singkat karena menahan malu.
"Kamu kan sehari-hari pakai jilbab. Mengapa tidak membeli baju renang muslim?" tanya Mas Darwin. "Untuk apa membeli bikini seperti ini?" Ia memandangi bikini yang lupa kubereskan tadi.
"Untuk berenang bersamamu." Jawabanku membuat matanya melongo ke arahku.
Aku berjalan mendekatinya. Lalu, menarik tali kimonoku hingga terbuka. Aku mengenakan mikro bikini di dalam kimonoku sehingga perhiasan tubuhku begitu jelas terlihat.
Mas Darwin terdiam menyaksikan perbuatanku. Ia tampak syok dan terkejut. Sementara itu, aku terus berjalan mendekatinya meskipun detak jantungku tak henti berloncatan.
Aku berhenti tepat di hadapannya, satu langkah jarakku darinya. Aku berkata dengan sedikit berbisik, "Berhentilah menjauhiku!"
Agak lama ia terdiam memandangku, namun kurasakan nafasnya memburu. Aku menunggu reaksinya. Aku hanya ingin tahu dia lelaki normal atau bukan?
*****
Aku terbangun dari tidurku. Mas Darwin masih terlelap di kasurnya. Aku memandanginya, pria tampan yang menjadi suamiku.
'Dia sempurna,' pikirku. Dugaanku keliru, dia sangat normal. Dia lelaki tangguh, dia telah menghancurkan keperawananku dengan kekuatannya.
Tadi malam aku tersadar ternyata apa yang kukira selama ini salah. Dia menjauhiku bukan karena tak menyukai wanita. Pasti ada hal lain yang disembunyikannya. Tapi, apa? Mungkinkah hatinya telah terisi penuh oleh wanita lain, bukan aku istrinya.
Siapapun wanita itu, aku akan berusaha memiliki suamiku sepenuhnya. Aku bertekad akan mempertahankan suamiku apapun yang terjadi. Aku mencintainya meski ia tak mencintaiku. Entah sejak kapan cinta itu tumbuh. Semuanya terjadi begitu saja tanpa kusadari.
"Aku ingin menua bersamamu," gumamku.
Saat subuh menjelang Mas Darwin mulai terbangun. Dia duduk di kasurnya, mengusap wajahnya beberapa kali dengan kasar. Seperti ada kekesalan dalam dirinya, tapi aku tak tahu itu apa.
"Kamu kenapa, Mas?" tanyaku.
Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu, ia berdiri, berjalan ke arah jendela. Ia membuka tirai jendela dan menatap pantai yang luas membentang di hadapannya. Ia membuka salah satu kaca jendela itu sehingga angin dingin dari luar masuk memenuhi kamar kami.
'Sebenarnya ada apa dengan Mas Darwin?' pikirku. Ia tampak tak bahagia.
'Apakah ia menyesal telah menyentuhku semalam?' pikirku. 'Tapi, mengapa?'
"Apakah aku salah, Mas?" tanyaku kemudian. Dia hanya diam lalu aku lanjut berkata, "Bukankah memang kewajiban istri melayani suami." Namun, ia tetap terdiam. Entah apa yang dipikirkannya. Aku tak mengerti.
Tapi, yang kutangkap dari cara dan ekspresinya adalah sebuah penyesalan. Ia menyesal seperti telah melakukan sebuah dosa besar, padahal aku adalah istri halalnya. 'Apa yang membuatnya merasa seperti itu?' Aku tak habis pikir.
Padahal, seorang suami harusnya merasa senang ketika gairahnya terpuaskan, tapi tidak dengan Mas Darwin. Di dalam hati aku merasa kecewa sekali. Mas Darwin seakan tak menghargai kesucian yang telah kuserahkan kepadanya. Padahal, bagiku itu sangat berharga. Suamiku tak menyukaiku.
Dalam perjalanan pulang, Mas Darwin tak membuka suara. Ia menghindari percakapan denganku. Ia hanya diam, tak sedikitpun mau berbagi apa yang dialaminya.
Kini aku menggeret tas koperku sendiri. Kami menggeret koper kami masing-masing. Ia tak peduli lagi padaku. Kesan hangat yang kudapat saat akan berangkat ke Bali tak kudapatkan lagi kini. Aku pun hanya bisa terdiam saja di sepanjang perjalanan karena tak kunjung mendapat respon darinya.
Sesampainya di Palembang kami melanjutkan perjalanan pulang dengan menaiki mobil travel. Lalu, hal yang mengejutkanku terjadi. Ia memilih untuk turun di Indralaya, tidak meneruskan perjalanan pulang ke Kayuagung.
"Aku punya urusan mendesak. Maaf tidak bisa menemanimu pulang sampai ke Kayuagung. Aku akan turun di sini. Kamu lanjutkan saja perjalananmu. Sopir travel akan mengantarmu sampai ke rumah. Nanti tak perlu bayar lagi. Aku sudah membayarnya," ucap Mas Darwin dan ia meninggalkanku begitu saja.
Entah mengapa aku merasa seperti dicampakkan. 'Mengapa suamiku setega itu padaku?' Perasaan kalut, sedih, kecewa, kemarahan bercampur aduk di hatiku.
Sampai di rumah ibu bertanya padaku, "Loh, mana Darwin? Kamu kok pulang sendiri?"
Aku tak bisa menjawab apapun. Tangisku tak terbendung lagi. Aku berlari ke kamar, mengunci diri di dalamnya.
Ibu Mas Darwin yang merasa bingung segera menelepon Mas Darwin. "Darwin, kamu kemana? Kok belum pulang? Istrimu sudah pulang."
"Aku langsung masuk kerja lagi Bu besok. Ada pekerjaan sangat penting yang harus segera diurus. Jadi, aku tadi turun di Indralaya, tidak bisa pulang ke Kayuagung bersama Rania," jawab Mas Darwin berusaha menyembunyikan kenyataan sebenarnya.
Aku yakin sekali yang sebenarnya terjadi adalah Mas Darwin ingin menghindariku. Mengapa ia begitu ingin menjauhiku? Pertanyaan ini sangat menyakitkan hatiku. Apakah aku memang tak pantas untuk menjadi istrinya? Apakah ada wanita lain di luar sana yang ia harapkan menjadi istrinya? Tapi, mengapa ia menikahiku?
Aku menangis hingga mataku membengkak di dalam kamar. Mas Darwin benar-benar mematahkan hatiku. Ia sama sekali tak mencintaiku. Sedangkan, aku berharap sangat banyak darinya. Aku terlalu naif dan konyol.
Dia bahkan ingin menganggap aku tak ada. "Kamu benar-benar tega, Mas," gumamku.
Tak kusangka akan sesakit ini rasanya setelah aku mengetahui kenormalannya yang sesungguhnya. Kini aku tahu dia bukan tak menyukai wanita, bukan tak bisa mencintai wanita. Ternyata dia bersikap seperti itu selama ini alasannya hanya satu... karena ia tak mau mencintaiku. Ia menikahiku, tapi tak mau mencintaiku.
-----
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Hera
nyesek banget rania pulang sendiri kayak ga punya suami aja
2022-06-12
1