Tanpa terasa sudah satu bulan lebih Mas Darwin menikahiku. Namun, hari-hari pertemuan kami berlalu begitu saja. Aku dan Mas Darwin bagaikan orang asing yang tak punya ikatan. Sementara itu, ibu semakin mengatur dan mencampuri urusan hidupku.
Ia mendesakku untuk segera hamil, mengandung cucunya. "Tak ada yang bisa aku banggakan darimu sebagai menantuku," ucap ibu siang itu. "Aku hanya berharap kau bisa segera melahirkan cucu untukku." Perkataan itu terus terngiang di telingaku.
Bagaimana bisa aku mengatakan padanya bahwa anaknya belum pernah sekalipun menyentuhku. Kami bahkan tidak pernah sekalipun tidur dalam satu ranjang. Setiap malam ketika menginap di rumah dia lebih senang menghabiskan waktunya di depan laptop, di depan ponsel, di depan televisi, atau dia selalu tidur lebih awal. Dia seperti sama sekali tak tertarik denganku. Dia selalu menghindariku. Walau tidak nampak secara langsung, tapi aku tahu dia sengaja menyibukkan dirinya untuk menjauhiku.
Bahkan, akhir-akhir ini muncul pertanyaan di otakku. 'Apakah Mas Darwin normal? Jangan-jangan dia dulu melajang tak kunjung menikah karena memang dia tidak menyukai wanita?'
'Apakah dia penyuka sesama jenis?' Bagaimana aku bisa mengungkapkan kegundahan hatiku ini pada mertuaku yang pasti akan membela anaknya.
Namun, siang ini kuberanikan diri untuk bertanya pada Ibu. "Bu, apakah Mas Darwin pernah suka pada wanita? Apakah Mas Darwin pernah punya pacar?"
"Mengapa kamu bertanya seperti itu?" ucap ibu dengan wajah masam.
Aku ragu untuk menjawab, namun kemudian pelan aku katakan, "Aku merasa Mas Darwin sama sekali tak tertarik padaku, Bu."
"Hehhh!" Ibu mendenguskan nafasnya sambil menyeringai dengan pandangan remeh ke arahku. Ia memandangiku dari ujung kaki sampai kepala. "Jelas saja dia tidak tertarik denganmu. Ibu saja heran mengapa ia bisa memilih menikahi wanita sepertimu?"
'Astaghfirullah.' Aku tertusuk begitu dalam mendengar ucapan ibu.
Jawaban dari ibu sama sekali tidak menjawab kebingunganku. Namun, perkataan dan pandangan matanya begitu menyakitkanku. 'Sehina dan seburuk itukah aku dalam pandangannya?'
Aku tak bisa menahan air mataku dan bergegas masuk ke kamar. Aku memperhatikan diriku di depan cermin. 'Apa yang salah dariku? Mengapa ibu memandangku begitu rendah dari ujung kaki hingga ke ujung kepalaku?'
'Apakah aku begitu jelek? Apakah aku kucel? Apakah aku norak atau kampungan? Apakah aku tidak modis?' Aku tak bisa menjawab pertanyaanku sendiri. Aku hanya bisa menangis karena merasa begitu direndahkan.
Aku tak tahu apa yang salah dari diriku. Lalu, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku menghapus semua air mataku, tak menyisakannya sedikit pun. Aku tak ingin orang lain tahu masalah rumah tangga yang sedang kuhadapi.
"Assalamualaikum, Nelly..." sapaku ketika menjawab telepon.
"Wa alaikum salam, apa kabar Rania?" tanyanya.
"Baik," jawabku singkat.
"Aku menelepon karena ingin mengundangmu. Aku mau lamaran tiga minggu lagi. Kau harus datang," ucapnya.
"Oh, ya? Selamat ya Nelly. Semoga dilancarkan semua urusannya menuju pernikahan," ucapku dengan suara yang agak berbeda dari biasanya.
"Kamu habis nangis ya?" tanya Nelly kemudian. Aku terdiam.
"Mengapa?" tanya Nelly lagi. "Ada apa? Kamu kan bisa cerita."
Entah mengapa hati ini tergoda begitu saja untuk bercerita pada Nelly. Masalah rumah tangga yang tak seharusnya aku ceritakan pada siapapun, terbongkar sudah. Aku tak bisa membendungnya lagi. Aku sudah sangat tertekan. Aku butuh tempat untuk mencurahkan isi hatiku.
Esoknya adalah jadwal Mas Darwin pulang ke rumah. Aku memasak makanan yang cukup banyak, berharap bisa menyenangkan hatinya. Lalu, tiba-tiba saja ibu datang menghampiriku.
"Kamu kemarin bertanya apakah Darwin pernah punya pacar?" ucap Ibu membuatku spontan menoleh.
"Dulu ada seorang wanita yang sangat dicintai Darwin. Dia pernah membawa wanita itu ke sini untuk mengenalkannya padaku. Dia sangat cantik dan anggun, tidak seperti kamu. Darwin ingin menikahinya." Entah mengapa ibu tiba-tiba saja menceritakan hal ini padaku.
"Lalu?" tanyaku. Aku menunggu kelanjutan ucapan ibu.
"Aku tidak merestui mereka," jawab ibu dengan santai.
"Mengapa?" tanyaku segera. Aku begitu ingin tahu.
"Kelihatannya dia wanita yang senang bergaya. Tangannya saja sangat halus. Pasti dia jarang mengerjakan pekerjaan rumah. Aku tidak suka. Dia tidak akan bisa menjadi istri yang baik untuk Darwin." Ibu berkata seperti tanpa ada beban sedikit pun.
"Hanya karena itu?" Aku tak yakin dengan ucapan ibu. Bagiku jawaban ibu seperti mengada-ada. Hanya karena alasan kekanakan seperti itu, ia menolak mentah-mentah wanita itu. 'Apa benar yang dikatakan ibu?' pikirku.
"Lalu, mengapa Ibu merestui Mas Darwin menikah denganku?"
"Ya, karena aku ingin segera punya banyak cucu dari Darwin." Ucapan ibu membuat mataku membola.
"Karena, kamu masih muda, masih belasan tahun... masih sangat subur. Kalo Darwin menikah dengan gadis dewasa seusianya, bisa-bisa Darwin akan sulit mendapat anak. Wanita yang terlampau matang itu biasanya tidak terlalu subur dan beresiko tinggi jika hamil." Ibu terus mengoceh tanpa memperhatikan ekspresi kegalauan di wajahku.
'Benarkah Mas Darwin pernah mencintai seorang wanita?' pikirku. 'Atau, itu hanya alibi ibu untuk menutupi kekurangan Mas Darwin?'
'Apakah Mas Darwin pria normal?' Aku terus bertanya dalam hatiku.
Hingga kini ketika Mas Darwin sudah berada di hadapanku, pertanyaan itu masih menggema dalam pikiranku. Aku memandang Mas Darwin, memperhatikan gerak-geriknya. Ia cukup asyik menonton televisi di ruang keluarga.
Aku ingin menanyakannya langsung pada Mas Darwin, tapi nanti pasti dia akan tersinggung. Akhirnya, aku masuk ke kamar. Aku memutuskan untuk tidak menanyakannya langsung pada Mas Darwin.
Ibu datang menghampiri dan duduk di sebelah Mas Darwin. "Kamu ini nonton bola saja terus," omelnya.
"Kamu kan jarang di rumah, jarang bersama dengan istrimu. Waktu pulang kerjaannya malah nonton bola sampai tengah malam. Kalo kamu begini terus, kapan ibu akan punya cucu dari kamu?" gerutu Ibu.
Mas Darwin tersenyum. "Mengapa Ibu bilang begitu?"
"Kamu itu sudah sebulan lebih menikah. Ibu perhatikan kamu dan istrimu gak ada mesra-mesranya. Renggang," celoteh ibu. "Ibu tidak protes kamu menikah dengan Rania. Karena, Rania itu istri pilihan kamu. Ibu pikir kamu akan senang dengan pilihanmu sendiri daripada pilihan ibu. Ternyata, kamu dan Rania seperti orang asing."
"Jadi, Darwin harus bagaimana?" tanya Mas Darwin. "Ibu minta Darwin menikah, Darwin sekarang sudah menikah."
"Tapi, kamu tidak bahagia," tandas Ibu. "Kamu terpaksa kan menikah dengan Rania?"
Mas Darwin mengusap kepalanya. Tak bisa menjawab apapun.
"Ibu ingin kamu benar-benar menikah, punya anak, menjalani hidup seperti orang lain," ucap Ibu.
"Aku kan sudah menikah, Bu. Pernikahanku dan Rania kan baru saja terjadi," ucap Mas Darwin.
"Kalo begitu, kamu harus segera punya anak," tegas Ibu.
Mas Darwin cukup lama terdiam kemudian dia berkata, "Iya, Bu. Nanti Darwin akan memberikan cucu untuk Ibu."
"Bagaimana Ibu mau dapat cucu, Darwin... kalo kamu setiap pulang ke rumah ini nonton bola terus?" sambar Ibu dengan cepat. Lalu, ibu mengambil remote televisi. Tanpa seizin Darwin, ia langsung mematikan televisi.
"Masuk ke kamarmu!" ucap ibu.
Aku yang sejak tadi diam-diam mendengarkan pembicaraan Mas Darwin dan ibunya, mendengar suara langkah kaki Mas Darwin mendekat. "Krekk!" Ia membuka pintu kamar.
Aku menatapnya, tapi ia mengabaikanku begitu saja. Ia memilih untuk duduk di kursi meja kerjanya dan mulai membuka laptop.
'Astaghfirullah,' desahku dalam hati. Nampak betul bagiku Mas Darwin berusaha menghindariku. Ia berusaha menyibukkan dirinya agar malam ini berlalu tanpa terjadi kedekatan apapun di antara kami berdua.
-----
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Aulia Nia
darwin nikahin rania cuma buat di jadiin pembantu ibunya. makanya ga di sentuh sama sekali. kasihan amat sih rania
2022-02-13
1
Mogu
udh nikah lagi darwin nya
dia nikahin rania cm buat jagain i punya doang biar ga sewa pembantu
dasar BAMBANG lo darwin
2022-01-22
2
mithos
masih teka teki.....
2021-12-06
1