Mas Darwin melihat tubuhku gontai dan segera menangkapnya sebelum tubuhku membentur lantai. Aku pingsan di pangkuannya. Ia menggendong tubuhku dan membaringkannya di tempat tidur.
"Dingin sekali," gumamnya saat menyentuh tubuhku.
Aku memang sudah berkeringat dingin sejak tadi. Dan, sekarang aku terkapar tak berdaya. Mas Darwin segera mencari minyak angin dan mengusapkannya di leherku, hidungku, tanganku, kakiku. Namun, tak ada reaksi sedikitpun dariku.
Ia lalu menepuk-nepuk pipiku, mengguncang-guncang tubuhku. Tapi, tetap tak terjadi apapun. Mas Darwin sangat berusaha menyadarkanku, namun sepuluh menit lebih telah berlalu tanpa hasil apapun. Aku tetap tak bergerak. Wajahku memucat dan makin dingin.
Mas Darwin bertambah panik dan segera menggendong tubuhku ke mobilnya. Ia membawaku ke rumah sakit terdekat. Ia menggendongku dan meletakkanku pada bed dorong lalu perawat mendorongku memasuki Unit Gawat Darurat (UGD).
Mas Darwin tampak stres dengan kejadian ini. Ia tak lepas memandangku sejak tadi. Muncul rasa bersalah di hatinya dan sedikit penyesalan.
Ia yang telah menjerumuskan aku ke dalam pernikahan ini. Ia tahu aku hanya gadis bodoh yang begitu berharap ia akan mencintaiku. Ia menaburkan harapan kosong dan impian palsu padaku. Ia sadar tindakannya salah, namun ia terlanjur melakukan pernikahan denganku.
Cukup lama dokter memeriksaku dan memberikan pertolongan padaku. Mas Darwin hanya bisa menunggu dan akhirnya dokter memanggilnya. "Pak, Anda keluarganya?" tanya dokter.
"Saya suaminya," jawab Mas Darwin.
Dokter itu tersenyum. "Pak, kami telah memeriksa kondisi istri Bapak. Kami juga berusaha mencari tahu penyebab istri Bapak pingsan."
Mas Darwin hanya diam, menyimak ucapan dokter itu.
"Sepertinya istri Bapak sedang hamil."
"Hahh!" ucap Mas Darwin spontan. Ucapan dokter membuat Mas Darwin terbengong seketika. Hatinya terguncang.
"Namun, untuk pastinya kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kita juga harus observasi dulu kesehatan istri Bapak. Jadi, hari ini istri Bapak kita rawat inap dulu," lanjut dokter itu. Namun, Mas Darwin tak terlalu mendengarkan ucapan dokter itu. Pikirannya sudah tak bisa jernih karena syok mendengar aku hamil.
"Rania hamil," gumamnya.
Pikirannya pun mengembara pada malam pertama ia menyentuhku di Bali. Saat itu ia terkejut aku muncul di hadapannya dengan pakaian yang sangat seksi. Tiba-tiba saja gairahnya menggelora dan hawa nafsunya memuncak. Sehingga, kejadian itu tak terhindarkan.
Padahal, ia sudah berjanji pada Alya... ia berjanji tidak akan menyentuhku. Ia berjanji tubuhnya hanya akan jadi milik Alya. Namun, malam itu ia mengingkari janjinya. Semuanya tak tertahankan dan terjadi begitu saja.
'Rania ... kamu ternyata sangat cantik,' pikir Mas Darwin saat pertama kali melihatku malam itu. Biasanya ia selalu menemukanku berbusana lengkap dan pakaianku tak pernah ketat. Kali ini ia melihat diriku yang berbeda. Ia tak bisa menolak, gairahnya menggebu.
Namun, setelah itu ia menyesal. Mas Darwin menyesali perbuatannya menyentuhku. Ia merasa bersalah pada Alya, cinta sejatinya. Ia berusaha melupakan kejadian itu, namun tidak bisa. Bayangan tubuhku selalu menghantuinya. Ia berusaha lari dan menjauhiku. Ia ingin mempertahankan kesetiaannya pada Alya.
Tiba-tiba Mas Darwin teringat pada Alya. Mas Darwin mengirim pesan padanya. 'Sayang, maaf sekali tidak bisa menjemputmu pulang. Aku juga belum bisa pulang dulu malam ini. Tidurlah lebih awal, tak usah menungguku. Love you.'
Pesan itu pun berbalas, 'Ada apa, Sayang?'
Mas Darwin membaca pesan itu dan cukup lama terdiam berpikir. Lalu, akhirnya ia terpaksa mengetikkan pesan balasan yang merupakan jawaban jujur darinya. 'Rania pingsan, aku harus menjaganya di rumah sakit malam ini.'
Alya membuka pesan itu dan membacanya. Ia terdiam, tak berkata apa pun. Juga tak membalas apa pun pada pesan itu, namun air matanya menetes.
'Maafkan aku Alya,' bisik Mas Darwin dalam hatinya. Ia tahu tindakannya ini akan menyakiti perasaan Alya. Namun, ia tak punya pilihan. Aku tak memiliki seorang kerabat pun di sini untuk menemaniku di rumah sakit. Hanya Mas Darwin orang terdekatku saat ini di Indralaya. 'Aku tak bisa menelantarkan, Rania,' ucap Mas Darwin dalam hatinya.
Tak lama kemudian aku tidak berada di ruang UGD lagi. Aku sudah sadarkan diri. Sekarang aku sudah berbaring di dalam kamar inap. Perawat sudah menancapkan jarum infus di tanganku lalu ia pergi meninggalkan ruang kamarku. Saat ini hanya ada aku dan Mas Darwin di sini. Mas Darwin mendekatiku. Ia memandangku dan aku bertanya dengan suara lemah padanya, "Kenapa?"
"Kamu hamil," ucapnya dengan pelan.
Aku memalingkan wajahku. Aku tidak mau membicarakan tentang kehamilanku lagi padanya. Sejak awal dia juga tidak peduli dengan kehamilanku. Dia lebih peduli pada istri pertamanya.
"Kamu harus jaga kesehatanmu!" ucapnya lagi. "Jangan terlalu banyak pikiran!"
"Mas." Aku segera memotong ucapannya. "Aku mau cerai."
Mas Darwin terdiam. Ia memandangku dengan ekspresi tak menduga. Ia tampak sangat terkejut.
"Aku mau kita segera bercerai." Aku mengulangi ucapanku.
"Tidak." Mas Darwin menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan menceraikanmu."
Aku menatapnya heran. Lalu, aku berkata, "Aku tidak mau jadi istri keduamu. Aku mau cerai."
"Kamu sedang mengandung anakku. Aku tidak akan menceraikanmu," tandasnya.
"Anak yang ada dalam kandunganku ini adalah anakku. Mas tidak berhak ingin menguasainya," ucapku.
"Aku berhak. Aku adalah ayah dari anak ini. Suka tidak suka, kamu akan tetap menjadi istriku," tegasnya.
"Kamu tidak bisa egois seperti ini, Mas. Aku tidak mau jadi istri keduamu. Aku mau cerai." Lagi-lagi emosiku tersulut.
"Jika kamu memang mau cerai, aku akan menceraikanmu setelah anak ini lahir. Tapi, anak ini harus menjadi milikku karena aku ayahnya."
"Apa maksud kamu, Mas?" ucapku spontan.
Ucapan terakhir Mas Darwin sangat menyakitkan hatiku. "Kamu hanya menginginkan anak ini. Kamu ingin memisahkan aku dengan anakku," ucapku.
"Kamu boleh pilih... bercerai, tapi anak ini menjadi milikku. Atau, tidak bercerai dan anak ini tetap bisa bersamamu" ucap Mas Darwin.
Seketika itu juga air mataku semakin mengalir. Mas Darwin benar-benar tidak berperasaan. Ia memberiku pilihan yang sulit. "Aku tidak mau menjadi istri kedua," ucapku. "Aku ingin rumah tangga yang utuh. Aku tidak mau menjadi boneka dalam pernikahan ini."
"Maaf, Rania. Aku tidak akan menceraikanmu sampai anak ini lahir," tegas Mas Darwin.
'Apa yang harus aku lakukan?' pikirku. 'Apa aku harus bertahan dengan pernikahan ini? Dan, apakah aku bisa bertahan dalam pernikahan ini?' Mas Darwin tidak mencintaiku. Dia mempertahankanku menjadi istrinya hanya karena menginginkan anaknya.
Anak. Itu hal yang tak bisa didapatkannya dari Alya sampai saat ini. Teganya Mas Darwin ingin menceraikanku dan mengambil anakku. Setelah itu, mungkin dia akan hidup bahagia dengan Alya. Tapi, bagaimana denganku? Aku akan kehilangan anakku.
Di sisi lain, setelah mengetahui kenyataan sebenarnya, aku sangat ingin bercerai detik ini juga. Aku ingin secepatnya keluar dari konflik pernikahan ini. Tapi, Mas Darwin menahanku. Mas Darwin menahanku untuk bisa keluar dari penderitaan ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Erni Kusumawati
pergilah Rania.. sebelum kau di buang layaknya sampah oleh Darwin..
2023-04-20
0
Sri Wahyuni
kbur az rania jngn jd bodoh manusia tuh d ksih akal buat berfkir buat cari penghidupan jngn tkut ga afa rejki
2022-07-08
1
Shuhairi Nafsir
benci banget dengan cerita kalau perempuan yg bodoh. biarkan Darwin kapok dan menyesal kerana kehilangan anaknya. Rania keguguran. Rania menghilang Dari Darwin serta keluarga nya
2022-06-03
1