"Matahari sudah tinggi, belum juga bangun," ocehan ibu di luar kamar membangunkanku dari tidur. Aku menatap jam, sudah hampir pukul tujuh. 'Aku kesiangan,' pikirku. Tapi, aku malah menarik selimutku hingga menutupi seluruh badanku.
"Krekk!" Tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar. Aku tak menguncinya semalam.
"Kamu mau molor sampai jam berapa?" ucap ibu di ambang pintu.
Aku hanya diam, menatap ibu dengan pandangan lesu. "Suami tidak pulang, bukan berarti bisa bermalas-malasan," ocehnya dan aku tetap terdiam, berusaha memejamkan mataku.
Kemudian, ibu berjalan ke arah tempat tidurku. Ia berdiri memperhatikanku dari ujung kaki hingga ke ujung kepala dengan tatapan tak menyenangkan. Lalu, ia meraba kepalaku. "Kamu demam," ucapnya dengan nada intonasi tinggi.
"Merepotkan saja," gerutunya lalu bergegas keluar dari kamar.
Aku meletakkan telapak tanganku ke dahi, berusaha merasakan hangatnya suhu badanku. 'Aku memang demam,' pikirku. Aku tidak enak badan sejak semalam.
Otakku terlalu pusing dan hatiku terlalu perih untuk menghadapi semua kenyataan yang kujalani ini.
Suamiku tidak mencintaiku, ia seperti orang lain dan mengabaikanku. Aku terjebak di sini tanpa bisa tahu apa yang sebenarnya Mas Darwin rahasiakan padaku selama ini. 'Kepada siapa aku harus bertanya tentang hal yang ditutupi Mas Darwin? Apakah kepada ibu?'
Tanpa kusadari tiba-tiba ibu sudah di kamarku lagi. Ia membawakan sepiring nasi dan segelas air putih. "Bangun!" ucapnya dengan kasar. "Kamu harus makan supaya bisa minum obat."
Aku pun kemudian bangun dan berusaha duduk di tempat tidurku. "Bu," panggilku. "Ibu dulu pernah bilang Mas Darwin pernah sangat mencintai seorang wanita. Apakah hubungan mereka sudah berakhir? Ataukah ada wanita lain yang disukai Mas Darwin sebelum menikah denganku?"
"Tidak ada," jawab ibu dengan santai. "Setahu ibu Darwin hanya mencintai Alya. Belum ada wanita lain yang disukainya." Jawaban ibu cukup membuat hatiku terasa sedikit nyeri.
"Jadi namanya Alya," ucapku.
"Iya. Memangnya mengapa?" tanya ibu. Aku hanya diam.
"Itu cerita lama, masa lalu Darwin. Tak perlu kamu hiraukan!"
"Bagaimana jika Mas Darwin masih mencintainya, Bu?" tanyaku.
Ibu tampak tertegun kemudian dia berkata, "Karena berpikir yang tidak-tidak seperti ini, makanya kamu sakit."
"Cepatlah makan nasi dan minum obatmu ini!" Ibu memberikan sebuah obat yang masih dibungkus ke tanganku.
Aku menatap obat dalam genggamanku cukup lama dan ibu menyadari hal itu. Ibu lalu berkata, "Itu cuma paracetamol. Kamu tidak usah takut, tidak sekejam itu mau memberimu racun."
Aku tersenyum kecil. Ibu mengira aku berpikir dia mau meracuniku. Padahal, yang aku pikirkan adalah hanya ibu saat ini yang peduli padaku. Meskipun dia selalu memarahiku setiap hari, tak menyukaiku. Tapi, tak dapat kupungkiri hanya dia saat ini yang peduli padaku. Aku terharu dengan sikapnya pagi ini.
Ia berjalan ke arah meja kerja Mas Darwin dan membuka jendela yang berada di dekatnya. "Pagi-pagi jendela itu harusnya dibuka supaya udara segar masuk. Jadi, sirkulasi udara kamar sehat, tidak pengap," ocehnya.
"Hari sudah terang, lampu kamar harusnya sudah dimatikan. Biaya listrik mahal," ocehnya lagi sambil mematikan lampu.
"Bu...." Aku memanggil membuatnya menoleh. "Terima kasih," ucapku. Tanpa sadar aku menitikkan air mata. Entah mengapa hatiku begitu pilu dan cukup terharu karena ternyata masih ada orang lain yang peduli padaku di rumah ini.
"Mengapa kamu pakai tangis-tangisan? Pagi-pagi sudah menangis, merusak mood," ucapnya cukup tidak senang.
"Kamu punya masalah kan dengan Darwin?" Ibu langsung menembakkan pertanyaan seperti itu padaku. "Makanya, kamu nangis-nangis."
Aku hanya diam dan ibu kembali berkata, "Kamu tutupi juga ibu sudah tahu. Darwin itu tidak suka wanita lemah, cengeng seperti kamu."
"Wanita seperti apa Bu yang disukai Darwin?" Aku langsung memburu ibu dengan pertanyaanku.
"Ya, seperti Alya," ucap ibu.
"Alya...." gumamku. Aku begitu penasaran seperti apa wanita yang bernama Alya itu.
"Alya itu wanita berpendidikan, teman kuliah Darwin dulu di kampus. Dia itu sempurna. Mungkin Darwin sudah punya keluarga yang sangat bahagia sekarang jika dulu ibu merestui mereka," ucap ibu blak-blakan.
"Lalu, mengapa Ibu menghalangi mereka menikah, Bu? Mengapa Ibu lebih memilih aku menjadi istri Mas Darwin?" tanyaku begitu emosional.
"Darwin tidak boleh menikah dengan Alya. Sampai kapanpun ibu tak akan pernah setuju," tegas Ibu. "Dan, hal yang perlu kamu garis bawahi... Ibu tidak pernah memilih kamu menjadi istri Darwin."
"Karena kebetulan dan keberuntunganmu saja kamu bisa menjadi istri anakku, Darwin. Tak usah ikut campur tentang Alya dan Darwin! Urusi saja posisimu sebagai istri Darwin! Sebagai istri kamu harusnya bisa membahagiakan suamimu, bukan malah mencari kambing hitam karena Darwin tak suka padamu. Alya tidak bisa dijadikan alasan penyebab rumah tanggamu seperti ini. Tidak usah berusaha mencari pembenaran atas apa yang kamu alami. Intinya, kamu sebagai istri tidak becus mengurus suami, gagal menyenangkan suami," oceh ibu. Lalu, ia bergegas keluar dari kamar, meninggalkan aku yang semakin berderai air mata setelah mendengar perkataan demi perkataan ibu.
Aku tak mengerti posisi salahku dimana. Mas Darwin tidak menyukaiku mungkin karena hatinya telah terisi oleh wanita lain. Mengapa ibu selalu menyalahkanku? Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik, berusaha mengambil hati suamiku. Mengapa ibu tak menyadari itu semua?
Ibu selalu memvonis aku yang salah. Ia tak pernah mau melihat keadaan yang sebenarnya. Kenyataannya Mas Darwin selalu menjauhiku sejak awal. Jika sejak awal dia tidak mau belajar untuk menyukaiku sebagai istrinya, mengapa dia menikahiku?
Teka-teki tentang Mas Darwin ini tidak dapat kujawab. 'Untuk apa dia menikahiku? Untuk apa?'
Aku tak dapat berpikir lagi. Aku menelepon Nelly untuk menumpahkan seluruh beban pikiran dan isi hatiku. "Nelly...." panggilku via telepon dengan deraian air mata.
Aku pun menceritakan semuanya. Aku tak berpikir panjang lagi. Seharusnya urusan rumah tanggaku ini tidak bocor ke orang lain. Tapi, aku tidak bisa terus seperti ini. Otakku tak bisa berpikir jernih lagi. Aku butuh saran.
"Rania, kamu harus segera cari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan suamimu? Jangan terlalu lama dibiarkan terus seperti ini! Jangan memberikan kesempatan untuk wanita lain masuk ke rumah tanggamu!" ucap Nelly setelah mendengar semua ceritaku.
"Tapi, bagaimana caranya Nell?" Aku sudah kehilangan akal karena tak bisa berpikir jernih.
"Kamu harus datang ke Indralaya," ucap Nelly. "Datang dan lihat sendiri keadaan suamimu di sana!"
Aku terdiam. Nelly melanjutkan perkataannya, "Suamimu bisa menyimpan rahasia darimu itu karena kamu tidak di sampingnya. Kalian di kota yang berbeda. Kamu tidak bisa mengontrol apa yang dilakukan suamimu di sana."
"Pergilah, lihat bagaimana kondisi suamimu di sana! Mungkin wanita itu setiap hari berada di samping suamimu," ucap Nelly.
Hatiku bergemuruh. 'Apa benar yang diucapkan Nelly?' Kemudian, aku berkata, "Maksud kamu Mas Darwin selingkuh?"
"Bukan tidak mungkin, Rania. Suamimu itu laki-laki normal. Kamu sudah membuktikannya sendiri kan?"
Aku hanya terdiam, tak bisa berkata-kata lagi. Tak bisa kubayangkan jika ternyata Mas Darwin benar-benar berselingkuh di belakangku, bukan hanya sekedar menyukai wanita lain. 'Apakah benar yang diucapkan Nelly?'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
mithos
Lanjut thor....
semangaaaaat💪💪💪💪
2021-12-06
3