Begitu kembali ke kamar, Mas Darwin langsung bersiap untuk tidur. Dia tidur di kasurnya dan terlelap begitu saja tanpa bicara apapun padaku. Sementara itu, aku sulit untuk memejamkan mataku.
'Apa yang harus aku lakukan untuk bisa membuat Mas Darwin tertarik padaku?' pikirku. Aku tak pintar menggoda pria.
Aku memperhatikan wajahku di cermin. Aku rasa aku tidak terlalu jelek untuk jadi seorang wanita. Aku cukup manis, bahkan bisa dikatakan wajahku lebih ayu dari teman-temanku. Apa yang harus aku perbaiki atau tambahkan agar Mas Darwin mau melihatku?
'Mungkinkah dia sudah bosan dengan wanita cantik karena setiap hari bertemu dengan mahasiswi yang cantik-cantik? Atau, jika memang dulu dia sempat mencintai wanita seperti yang diucapkan ibu, mungkinkah dia tidak bisa move on dari kecantikan wanita itu? Atau, mungkinkah dia memang tidak menyukai wanita sama sekali?'
Pertanyaan demi pertanyaan terus berkecamuk di hatiku. Dan, aku tetap tak bisa menemukan jawabannya meski aku bersikeras berpikir. 'Sebenarnya apa yang disembunyikan Mas Darwin?'
Malam akhirnya berganti fajar. Setelah sholat subuh Mas Darwin mengeluarkan pakaian yang akan dikenakannya dari dalam koper. Lalu, ia pergi mandi.
Aku sejak tadi diam-diam memperhatikan tingkah laku Mas Darwin. Aku kemudian mengeluarkan sebuah setrika uap mini dari dalam tasku. Setrika ini sengaja aku bawa dari rumah untuk berjaga-jaga mungkin saja baju Mas Darwin kusut.
Aku mengambil kemeja, celana, jas, dan dasinya. Aku menggosoknya satu per satu dan meletakkannya kembali di atas tempat tidur Mas Darwin dengan posisi tidak dilipat. Mas Darwin kemudian muncul dari kamar mandi dan melihat pakaiannya sudah lebih rapi.
Tak ada komentar apapun terucap dari bibirnya. Tanpa membuang banyak waktu ia bergegas mengenakan pakaian itu. Ia seperti terburu-buru. Lalu, ia mengambil minyak rambut, meratakannya, dan menyisir rambutnya dengan cepat.
Aku mengambil dasinya dan berinisiatif membantunya memasang dasi. Lalu, aku mengambil jas dan membantunya memakai jas. Kemudian, tanpa kuduga sama sekali ia menyentuh pundakku, mendekatkan kepalanya ke dahiku.
Jantungku tiba-tiba langsung berdebar kencang, darahku berdesir menerima perlakuan tak biasa darinya.
"Deg, deg! Deg, deg!" Jantungku masih berdebar. Namun, ternyata ... tidak terjadi apapun.
Ia segera mundur beberapa langkah dariku. "Maaf, aku hilang kendali," ucapnya segera.
Aku mengernyitkan alisku, tak mengerti dengan perkataan dan sikapnya. Ia mengusap wajahnya kemudian bergegas mengambil tas laptop dan menyiapkan berkasnya.
"Aku harus segera pergi," ucapnya sambil mengeluarkan setumpuk uang dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja.
"Hari ini aku akan ikut seminar seharian. Lalu, aku ada sedikit urusan dengan rekan-rekanku. Aku baru akan kembali jam 8 malam. Tak usah menungguku di kamar karena kamu akan bosan. Juga tak perlu menungguku untuk makan, aku akan makan di luar."
Ia menatapku kemudian melanjutkan ucapannya lagi. "Jika kamu mau makan, kamu bisa pesan atau beli apapun yang kamu suka. Ini uang untukmu, belilah tas koper agar ibu tak komplain lagi! Toko-toko di dekat sini banyak yang menjual tas koper. Jika kamu butuh transportasi, kamu bisa memesan ojek online. Jika tidak tahu jalan, kamu bisa menggunakan gmap."
Kemudian Mas Darwin berjalan mendekati pintu, membalikkan badan sejenak. "Aku pergi dulu," ucapnya lalu menghilang di balik pintu.
"Heftttthh...." Aku menarik nafas dalam. Tanpa aku sempat berkata apapun, Mas Darwin sudah pergi meninggalkanku sendirian. "Sepagi ini dia pergi," gumamku.
'Apakah acara seminarnya akan dimulai sepagi ini?' pikirku. 'Atau, dia menghindariku?'
Dia seperti salah tingkah setelah kejadian tadi. Aku sempat merasa gerakan tubuhnya seolah ingin mengecup dahiku tadi. Tapi, semua tiba-tiba terhenti dan dia berkata dia hilang kendali. 'Apa maksud ucapannya?'
"Hilang kendali," gumamku. 'Apakah itu artinya selama ini Mas Darwin selalu berusaha mengontrol emosi dan tubuhnya untuk tidak mendekatiku?' tanyaku dalam hati. 'Tapi, mengapa?'
Aku semakin penasaran dan itu membuatku semakin kukuh untuk membuktikan kenormalan Mas Darwin. 'Hari ini aku harus membuktikannya sendiri,' ucapku dalam hati.
Lalu, aku mandi dan bersiap meninggalkan kamar hotel. Setelah sarapan aku pergi ke luar hotel. Aku memilih berjalan kaki karena ingin menikmati pemandangan di jalanan. Kulihat beberapa bule berjalan dan lalu lalang melintas.
'Astaghfirullah, seksi sekali,' ucapku dalam hati ketika melihat para bule dengan santainya berjalan di keramaian, hanya menggunakan tanktop ketat dan hotpants yang begitu pendek.
Aku bahkan masih merasa malu jika harus tampil seperti itu di hadapan Mas Darwin, suamiku sendiri. Aku selalu menggunakan pakaian lengkap di hadapan Mas Darwin, hanya jilbab saja yang kadang tak kupakai jika di rumah dan di kamar hotel. Aku bahkan tak pernah ke luar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk saat di rumah mertuaku. Karena kamar mandinya tidak berada di dalam kamar, aku merasa malu dan tidak sopan jika harus keluar hanya mengenakan handuk. Aku selalu berpakaian di kamar mandi dan keluar dengan pakaian lengkap.
'Haruskah aku berpakaian seksi seperti itu untuk membangkitkan gairah dan ketertarikan Mas Darwin?' pikirku.
'Tidak, tidak, tidak!' Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. 'Mas Darwin akan menganggapku menggodanya dan aku tampak seperti wanita murahan,' pikirku.
Aku pun melanjutkan perjalananku. Pukul lima sore setelah puas menjelajah, akhirnya aku kembali ke hotel dengan menyewa taksi online. 'Dia pasti belum kembali,' pikirku. Aku membuka ponselku untuk mengecek apakah dia mengirim pesan atau tidak.
Seperti dugaanku ... seperti hari-hari biasa Mas Darwin tidak mengirimkan satu pun pesan jika aku tidak mengirimkan pesan terlebih dulu. 'Mas Darwin benar-benar tidak peduli padaku,' pikirku cukup sedih. Mas Darwin tidak khawatir apakah aku tersesat atau tidak. Bahkan, tadi pagi tak kudengar sekali pun kalimat 'Hubungi aku segera kalo terjadi apa-apa!' muncul dari bibirnya.
Ia melepaskanku berkelana sendirian sesuka hatiku begitu saja. Tak ada perasaan takut jika terjadi sesuatu hal buruk padaku. 'Itu sudah cukup membuktikan bahwa Mas Darwin tidak mencintaiku,' pikirku. Aku menitikkan air mata kekecewaan.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk mengomentari foto status yang ku upload kemarin siang.
'Rania kamu lagi di pantai? Honeymoon yaaa?' Itu pesan dari Nelly.
'Tidak Nelly. Mas Darwin sedang ada pekerjaan di sini. Aku hanya ikut menemani,' balasku.
'Jangan bilang hubungan kalian masih renggang!' balas Nelly.
Aku ingin mengetik balasan, namun aku batalkan. 'Tak seharusnya orang lain banyak tahu dan ikut campur urusan rumah tanggaku,' pikirku.
'Kamu harus lebih agresif, Rania! Pastikan betul apakah suami kamu itu tidak normal seperti dugaan kamu atau ada hal lain yang disembunyikannya.' Muncul pesan lagi dari Nelly.
'Jangan sampai nanti kamu menyesal! Sebelum semuanya terlambat.' Lagi-lagi pesan dari Nelly muncul membuatku semakin tertekan.
'Di luar sana aku yakin banyak wanita yang mengincar suamimu.'
-----
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
cinta semu
Rania gadis yg polos ...di manfaatin sm suami buat menutupi pernikahan ny dgn wanita lain
2023-01-10
1