Apa yang harus kulakukan saat ini? Hingga siang ini aku membuka kembali pesan yang kukirim pada Mas Darwin dan masih tetap tak ada pesan balasan apapun di sana. Ia mengabaikan pesanku begitu saja. Hal ini membuat tekadku untuk ke Indralaya semakin kuat. 'Aku harus ke sana dan segera menemui Mas Darwin.'
Sementara itu, di Indralaya seorang wanita memandang kosong ke luar jendela. Ia mematung karena pikirannya melayang jauh pada ingatannya tadi pagi. Suara deringan ponsel telah membangunkannya dari tidur. Suara itu datang dari ponsel laki-laki yang masih terlelap tidur di sampingnya. Ia tidur dengan pulas setelah memuaskan hasrat kejantanannya semalam.
'Rania.' Wanita itu membaca tulisan di ponsel itu. Sesaat kemudian deringan ponsel itu menghilang. Kemudian, masuk satu pesan ke ponsel itu di waktu sefajar ini. Karena cukup penasaran ia membuka pesan itu.
'Mas aku hamil.' Kalimat itu tertulis jelas di ponsel dalam genggamannya. Foto testpack dengan dua garis merah pun terpampang dengan begitu nyata. Seketika tubuhnya begetar hebat menyadari kenyataan itu.
'Rania hamil,' pikirnya. 'Tidak mungkin.'
Ia segera membersihkan semua isi chat dari Rania. 'Mas Darwin sebaiknya tidak tahu,' pikirnya. 'Aku harus memiliki Mas Darwin seutuhnya.'
Ia memandang Mas Darwin di sampingnya dengan penuh kekhawatiran. Pria itu bertelanjang dada. Setengah dari tubuh kekarnya masih terbalut selimut tebal. Lalu, tiba-tiba ponsel itu kembali berbunyi. Panggilan masuk dari Rania. Ia cepat-cepat mensilentkan ponsel itu sebelum Mas Darwin terbangun.
'Apa yang harus aku lakukan saat ini?' Pikiran wanita itu berkecamuk mengingat kejadian itu tadi pagi. Dengan pandangan kosongnya ke luar jendela, hatinya membara dan juga sangat sulit untuk menerima kenyataan bahwa Rania hamil. 'Rania tidak boleh hamil,' batinnya.
Lalu, mendadak saja dua buah tangan melingkari pinggulnya. Seseorang memeluknya dari belakang dan berbisik, "Kamu sedang melamun?"
Suara yang begitu dikenalinya. "Mas Darwin," ucapnya. Ia membalikkan badannya dan berkata, "Kamu pulang cepat?"
Mas Darwin menggeleng. "Aku ingin makan siang denganmu hari ini, Sayang. Setelah itu aku akan kembali ke kampus," ucapnya.
"Aku membelikan nasi pindang kesukaanmu. Aku lihat kamu tidak sehat tadi pagi. Kamu tidak selera saat sarapan. Pasti kamu juga belum makan siang ini. Jadi, aku bawakan makanan kesukaanmu," jelas Mas Darwin.
"Terima kasih, Sayang," ucap wanita itu lalu memeluk Mas Darwin dengan erat. "Kamu begitu perhatian. Tetaplah seperti ini! Jangan pernah berubah!"
"Mengapa kamu berkata seperti itu, Sayang? Aku akan selalu mencintai kamu," ucap Mas Darwin.
"Aku takut suatu hari kehilanganmu." Wanita itu menitikkan air mata.
Mas Darwin melepas pelukannya, menatap wanita di hadapannya. Ia mengusap air mata di kedua pipi wanita itu dan berkata, "Tidak akan, Sayang. Tidak akan. Aku akan selalu ada untukmu. Aku tidak akan meninggalkanmu." Lalu, ia mencium dahi wanita itu dengan lembut dan penuh kehangatan.
Sementara itu, aku memutuskan untuk menelepon Mas Darwin kembali. Aku mencoba menghubunginya berkali-kali. Namun, tetap tidak dijawab karena ponselnya masih berada dalam mode silent.
Aku memutuskan untuk kembali mengiriminya pesan. 'Mas mengapa kamu diam saja? Kamu tidak mau menjawab teleponku.'
Aku kemudian kembali mengetikkan pesan, 'Mas, hari Jumat ini temanku lamaran. Kalo kamu tidak sibuk, temani aku Mas ke acaranya di Palembang.'
Lalu, sekitar setengah jam kemudian sebuah pesan dari Mas Darwin masuk ke ponselku. 'Maaf panggilanmu tidak terjawab, Rania. Aku sedang sibuk. Dan untuk hari Jumat maaf sekali aku tidak bisa karena harus kerja. Kamu bisa pergi sendiri dulu kan ke acara itu,' bunyi pesan itu.
"Astaghfirullah," gumamku seketika setelah membaca pesan itu. Mas Darwin begitu tega dan tidak peduli pada kondisi kehamilanku. Ia membiarkanku untuk pergi sendiri ke Palembang. Meskipun, Palembang adalah kota tempatku berasal, namun perjalanan dari Kayuagung-Palembang cukup jauh dan aku sekarang sedang mengandung anaknya. Ia sama sekali tak mengkhawatirkanku dan janin yang ada dalam kandunganku. Aku benar-benar kecewa. Aku tak membalas pesan itu.
Aku sangat kecewa dengan sikap Mas Darwin. Dia tidak merespon apapun saat aku bilang aku hamil. Dan, sekarang ia merespon permintaanku untuk ditemani dengan begitu dingin. Aku kecewa. Ia tak peduli padaku, benar-benar tidak peduli.
Tapi, apapun yang terjadi aku harus tetap menemuinya di Indralaya. Aku akan mampir ke Indralaya satu hari sebelum pergi ke Palembang. Esok hari Kamis, aku akan berangkat. Aku akan minta izin ibu.
"Bu, besok pagi aku mau ke Indralaya menemui Mas Darwin. Setelah itu, aku akan ke Palembang untuk menghadiri acara lamaran temanku di hari Jumat. Pulang dari Palembang aku akan mampir ke Indralaya dan pulang ke sini di hari Sabtu bersama Mas Darwin," ucapku.
"Apa Ibu mengizinkan?" tanyaku dengan sangat hati-hati.
"Ya, kalo kamu sudah sehat... terserah kamu mau pergi. Ke ujung dunia juga silakan!" Ibu menjawab dengan cukup ketus. Namun, bagiku itu sudah cukup. Yang penting ibu mengizinkan. Aku sudah sangat bersyukur.
Besoknya aku pun berangkat naik travel ke Indralaya. 'Mas, aku dalam perjalanan ke Indralaya. Sekitar satu jam lagi sampai. Aku harus menemui Mas dimana? Aku tidak tahu alamat rumah dinas Mas Darwin.' Sebuah pesan kukirimkan pada Mas Darwin.
Namun, pesan itu tak kunjung dibaca. Aku meneleponnya dan seperti biasa panggilan teleponku tidak dijawab. Hingga tiba di Indralaya aku tetap tak mendapat pesan balasan dari Mas Darwin. Dan, aku juga tak dapat menghubunginya. Aku bingung harus berhenti dan turun dari travel dimana.
Akhirnya, kuputuskan untuk turun di depan gerbang universitas tempat Mas Darwin bekerja. Aku menunggu di sana dan kembali mengirimkan pesan. 'Mas aku sudah sampai di Indralaya. Aku menunggu di depan gerbang universitas.'
Aku memandangi halaman universitas yang terbentang luas. Aku tak pernah menginjakkan kakiku di tempat ini sebelumnya. 'Seperti ini kampus,' pikirku.
Hatiku sedikit pilu karena mengingat pendidikanku yang bahkan tak tamat SMA. Harusnya aku berkuliah saat ini. Sebagian teman-temanku semasa sekolah mungkin sedang berkuliah di universitas ini sekarang. Sedangkan, aku tak pernah merasakan bangku kuliah. Pendidikanku harus terputus karena himpitan ekonomi.
"Hai!" Tanpa kusadari seorang pria muda seusiaku sudah berada di sampingku. Aku meliriknya. Ia duduk di atas motornya yang masih menyala. Tas ransel berada di punggungnya. Sepertinya ia salah satu mahasiswa di universitas ini.
"Anak baru ya?" tanyanya. "Mau cari kostan?" Ia bertanya seperti itu saat melihat tas jinjing berisi pakaian di tanganku.
"Mau aku antar? Ada kostan putri tidak jauh dari sini," ucapnya. Namun, aku hanya diam.
"Tidak usah takut! Aku orang baik kok. Namaku Alan." Ia menyodorkan tangannya mengajak bersalaman.
Namun, tiba-tiba dari belakang seseorang menarik tanganku. Aku sangat terkejut dan menoleh. "Mas Darwin," gumamku. Kulihat tatapannya seperti tidak senang.
"Ikut aku!" ucapnya. Ia segera mengambil tas di tanganku dan menggeretku masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di jalan. Sementara itu, pria muda bernama Alan itu terdiam dan hanya melihat dari kejauhan.
------
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Um Rah
terlalu bodoh klo maucari tau y harus sembunyi-sembunyi
2022-02-27
2
Ati Wanti
Yuh wes myesek
2021-12-16
1
Acheuom Rahmawatie
hmmm
2021-12-15
1