"Mas Darwin mau pergi kemana?" tanyaku. "Aku boleh ikut?"
"Kamu di sini saja, jangan kemana-mana!" ucap mas Darwin. Lalu, ia pergi begitu saja menuju sebuah perahu di pinggir danau.
Aku hanya terpaku melihat dari kejauhan. Mas Darwin melangkahkan kakinya ke dalam perahu dan mulai menjalankan perahunya tanpa sekalipun lagi menoleh padaku. Ia meninggalkanku begitu saja.
Tiba-tiba, aku terbangun dari mimpiku. 'Astaga!' Karena terlalu lelah, ternyata aku tertidur pulas begitu saja di atas tempat tidur.
Aku mengusap mataku kemudian melihat sisi kasur di sebelahku. Tidak ada mas Darwin di sana. "Apa dia belum tidur?" pikirku. Tapi, lampu kamar sudah dimatikan.
Aku lalu menghidupkan lampu kamar dan kulihat mas Darwin tidur di kursi kerjanya. Tubuhnya ditutupi selimut. Laptopnya sudah dimatikan dan ditutup. Dia sudah tidak mengerjakan tugasnya lagi. 'Itu berarti dia bukan tidak sengaja ketiduran, tapi memang sengaja tidur di sana,' pikirku.
'Mengapa dia tidak tidur di kasur, di sebelahku?' pikirku lagi. Tapi, ia sudah tidur terlalu pulas. Aku tak tega membangunkannya.
'Kasihan sekali. Sepertinya dia sangat lelah. Di hari pernikahan saja dia masih harus menyelesaikan tugas kantor. Mengapa dia tidak mengambil cuti?' pikirku.
Aku melirik kalender di atas meja kerjanya. Salah satu tanggal dilingkari spidol merah bertuliskan 'Ujian Semester'.
'Oh, mungkin karena jadwal ujian hanya tinggal satu minggu lagi dari sekarang, makanya dia tidak mengambil cuti,' pikirku lagi.
'Apa karena hidupnya seperti ini, dia jadi terus melajang selama ini?' batinku. 'Dia sibuk dan gila kerja,' pikirku.
Aku berusaha menghubung-hubungkan kondisinya saat ini dengan alasan mengapa dia terus melajang. Sejujurnya aku sangat penasaran, penasaran sekali mengapa dia tak menikah hingga akhirnya usianya sedewasa ini. Tapi, aku tak sempat menanyakannya pada mas Darwin. Tante Ros hanya bilang mas Darwin tipikal orang pemilih. Jadi, dia susah mendapatkan pasangan yang cocok dengannya.
'Tapi, mengapa saat bertemu denganku... dia langsung setuju menikahiku tanpa banyak pilih-pilih?' Hatiku terus bertanya-tanya. 'Apa yang membuat dia begitu yakin dan mantap untuk menikahiku? Padahal, kami baru bertemu, belum mengenal satu sama lain. Di hari pertama bertemu dia langsung memutuskan untuk menikahiku. Hal ini agak sedikit aneh bagiku.' Pikiranku terus berkecamuk hingga aku tertidur kembali.
Pukul empat pagi. Aku keluar dari kamarku menuju kamar mandi. Aku sudah terbiasa bangun sepagi ini setiap hari. Jadi, spontan saja alarm tubuhku membuatku ingin buang air kecil.
Saat aku ke kamar mandi betapa terkejutnya aku. Ada sedikit bercak darah, aku menstruasi. Aku tercengang.
'Mas Darwin pasti akan kecewa,' pikirku. Semalam berlalu begitu saja tanpa ia sempat melakukan apapun padaku. Hari ini hingga satu minggu ke depan aku takkan bisa memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri. 'Semoga dia bisa memakluminya,' ucapku dalam hati.
Lalu, aku bergegas kembali ke kamar untuk segera menggunakan pembalut.
"Mau tidur lagi?" Suara seseorang membuatku terhenti sejenak untuk membuka pintu kamar.
Aku menoleh ke belakang. "Ibu," ucapku. "Ibu sudah bangun."
Ibu mas Darwin menatapku dengan wajah masam. "Menantu zaman sekarang maunya molor sampai siang," ocehnya. "Menantu zaman dulu, mertua belum bangun... menantu sudah masak di dapur."
'Astaghfirullah.' Aku terdiam. 'Mengapa Ibu berkata seperti ini padaku?' ucapku dalam hati.
Lalu, ia berlalu begitu saja dari hadapanku. Tapi, pandangan matanya benar-benar tak mengenakkan hatiku.
'Aku harus bangun lebih pagi besok, sebelum Ibu bangun,' pikirku. Lalu, aku bergegas melanjutkan langkahku.
Pukul enam pagi, aku sudah menghidangkan teh dan sarapan di meja makan. Mas Darwin dan ibunya menarik kursi lalu duduk mengitari meja makan sambil mengobrol.
Aku menuangkan teh di gelas untuk ibu dan mas Darwin .
"Kamu itu Rania pagi-pagi seperti ini harusnya sudah mandi. Dandan yang cantik, wangi," ucap Ibu. "Ibu dari muda dulu pagi-pagi sekali sudah mandi. Jadi, sebelum berangkat kerja, suami senang lihat istrinya segar. Tidak kusut, bau iler, bau asap."
Mas Darwin hanya tersenyum-senyum saja mendengar ocehan ibunya. Sementara itu, aku merasa sedikit tertusuk di dalam hati. Namun, aku coba untuk tetap tersenyum.
Ibu lalu menyeruput tehnya. Lalu, "Hmmhh, alangkah manisnya." Ia berkata dengan nada tidak senang.
Padahal, aku membuatkan teh dengan rasa manis yang sedang, tidak terlalu manis. Tapi, ibu tidak menyukainya.
"Begini nih kalo dapat menantu gak punya basic pendidikan tinggi," ucapnya kemudian. "Gak ngerti kalo orang tua itu rentan terkena diabetes, gak boleh minum yang manis-manis. Minim informasi, pengetahuannya gak sampe ke sana."
"Bu...." Mas Darwin berusaha menyudahi ocehan ibunya. Tapi, ibu tetap melanjutkan ucapannya. "Lain kali kalo buat teh, manis jambu saja!"
"Manis jambu?" Tanpa kusadari bibirku spontan bertanya.
"Manis jambu juga gak ngerti," ucap ibunya dengan nada meremehkanku.
"Kamu pernah makan jambu air kan? Apa rasanya?"
Aku hanya terdiam.
"Manis kan, tapi manisnya tidak banyak, rasa manisnya tipis. Ngerti?" Nada ucapan ibunya begitu keras.
Aku nyaris menitikkan air mataku dan kulihat mas Darwin hanya terdiam menatap kosong. Tak kusangka ibu mertuaku secerewet dan sekasar ini. 'Apa karena ini juga mas Darwin susah mendapatkan pasangan?' pikirku.
"Masak nasi terlalu lembek," lanjut ibunya kemudian sambil memasukkan secentong nasi ke dalam piringnya.
"Maaf, Bu. Aku terbiasa masak nasi begitu kalo di rumah. Aku gak tahu kalo ibu tidak suka. Lain kali...." Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, ibu segera berkata, "Kebiasaan kamu sehari-hari di rumah jangan dibawa ke sini! Beras di rumah ini beras kualitas bagus, lembut. Jadi, masaknya gak perlu banyak air. Jangan samakan dengan beras kamu di rumah! Beras murah, keras."
'Astaghfirullah.' Aku merasa terhina sekali dengan perkataan ibu mertuaku.
"Pepatah zaman dulu bunyinya 'Dimana tanah dipijak, di situ langit dijunjung'. Kamu paham tidak maksudnya?"
Aku mengangguk pelan. Aku tak mengerti mengapa ibu begitu kasar kepadaku dan mas Darwin hanya diam saja, seolah membiarkan.
"Rania, kamu harus sabar," ucap mas Darwin saat ibu sudah meninggalkan meja makan. "Ibu memang begitu. Dia keras dan cerewet. Tapi, sebenarnya dia sangat baik. Kamu harus sabar, nanti kamu akan terbiasa."
'Terbiasa,' pikirku. Mas Darwin menganggap perlakuan ibunya padaku seperti tadi itu adalah hal biasa. Mas Darwin seolah memberi izin pada ibunya untuk terus memperlakukanku tidak menyenangkan seperti tadi. Dia tidak membelaku, tidak juga memberikan perlindungan kepadaku.
'Apakah aku harus memaklumi sikap ibu? Apakah aku bisa beradaptasi dengan keadaan ini?' batinku.
'Aku harus keluar dari rumah ini. Kami harus tinggal di rumah yang berbeda.' Tiba-tiba pemikiran itu muncul begitu saja di otakku.
'Aku tidak akan bisa membiarkan ibu mertuaku menginjak-injak harga diriku setiap hari. Aku harus keluar dari rumah ini.'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Erni Kusumawati
Entah mengapa terkadang duri dalam rumah tangga seorang anak adalah mertua.. mertua terlalu ikut campur masalah rumah tangga anak mereka lupa kalo anaknya sdh dewasa dan bs mengambil sikap sendiri.. jikalau pun anaknya salah cukup diingatkan dan diberikan nasihat..
2023-04-20
0
cinta semu
mertua oh mertua
2022-11-29
0
Angel Tamara
hadeuh mertuaaaaa.... itu mantu bukan babu , jgn seenaknya memperlakukan menantu...
2022-07-02
2