Matahari bersinar begitu cerah pagi ini. Seperti biasa aku sudah sibuk sejak fajar. Memasak, mencuci, membereskan rumah, membersihkan halaman jadi rutinitasku setiap hari.
"Rania, kamu kalo siram suplir jangan cuma satu gayung! Satu pot suplir itu minimal airnya setengah ember." Ibu masih saja komplain dengan kerja kerasku setiap hari.
"Lihat suplir Ibu jadi kering seperti ini!" Ibu menatap deretan pot suplirnya yang jumlahnya sudah lebih dari selusin. "Biasanya ini karena nyiraminnya gak rata," cerocos ibu dengan kesal.
"Itu mungkin karena kena hujan panas, Bu," ucapku.
"Sok tahu kamu. Kalo kamu gak tahu, gak usah sok-sok tahu! Makin kelihatan bodohnya. Kamu gak punya pendidikan tinggi, mana ngerti masalah bunga. Ilmunya gak sampe ke situ." Lagi-lagi ibu mengejekku, melukai perasaanku.
Aku tak tahu hingga kapan bisa bertahan di sini. Hanya karena memiliki kewajiban menghormati ibu, aku memilih diam tak menanggapi ucapannya. Jika tidak, sudah lama aku berontak untuk mempertahankan harga diriku agar tak diinjak-injak.
Aku merasa tak dihargai di rumah ini. Aku ingin pergi dari sini, aku tidak betah. Rasanya aku ingin meninggalkan rumah ini walau sejenak saja.
Lalu, tiba-tiba setelah aku selesai membereskan rumah Mas Darwin menelepon Yuk Selvi dan memintanya datang ke rumah untuk menemani ibu. Mas Darwin ingin mengajakku pergi ke suatu tempat.
"Bersiap-siaplah! Aku ingin mengajakmu pergi," ucapan Mas Darwin membuat hatiku begitu bahagia. Aku benar-benar sudah bosan di rumah ini. Ajakan Mas Darwin seperti angin sejuk di padang pasir bagiku.
Aku bergegas bersiap, mengenakan pakaian terbaikku. Ini pertama kalinya Mas Darwin mengajakku pergi. Bagiku ini seperti berkencan karena dulu kami menikah tanpa pacaran. Kami tak pernah pergi berjalan berdua, baru kali ini saja.
"Kita mau pergi kemana, Mas?" tanyaku ketika berada di dalam mobil.
"Kamu nanti akan tahu." Itu saja ucapan yang kudengar dari bibir Mas Darwin. Selebihnya ia memilih diam di sepanjang perjalanan.
Aku mencoba untuk mengajaknya bicara, tapi ia selalu hanya membalasnya dengan senyuman kecil. Ia tak mengeluarkan kata apapun untuk menanggapi ucapanku. Akhirnya aku mengantuk dan tertidur.
"Rania, kita sudah sampai." Mas Darwin membangunkanku.
Aku turun dari mobil dan tersadar bahwa kami berada di halaman parkir sebuah hotel. "Ini hotel." gumamku.
"Ya," ucap Mas Darwin. "Ayo kita masuk!"
Aku berjalan membuntuti Mas Darwin masuk ke hotel. Ia tidak menuju resepsionis, ia langsung menaiki tangga menuju kamar di lantai 2.
'Apa Mas Darwin sudah memesan kamar di hotel ini?' pikirku.
Kemudian, terlintas lagi pertanyaan dalam pikiranku, 'Apakah ia merencanakan ingin berbulan madu denganku di hotel ini?' Lalu, tiba-tiba saja perasaan gugup menyelimutiku.
Aku terus mengikutinya hingga langkah kakinya terhenti di depan sebuah pintu. Ia menatapku dan aku langsung menundukkan pandanganku karena gugup. Ia mengetuk pintu itu.
"Tok! Tok! Tok!"
'Ia mengetuk pintu,' batinku agak sedikit terkejut. 'Berarti ada orang di dalam kamar itu.'
Tak lama kemudian muncul seorang lelaki yang masih sangat muda, mungkin seusiaku atau bahkan lebih muda. Ia yang membuka pintu kamar itu. 'Sebenarnya siapa orang ini?' pikirku.
Keherananku pun semakin menjadi-jadi ketika kulihat ada lelaki tua di dalam kamar itu. Mas Darwin mengajakku memasuki kamar. Aku masih ragu untuk masuk, tapi Mas Darwin mengajakku berkali-kali.
Akhirnya kami berdua melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar. Mas Darwin mendekati laki-laki itu dan berkata, "Apa kabar Ayah?"
"Ayah?" Tanpa kusadari kata itu tercetus begitu saja dari bibirku.
Mas Darwin menoleh. Ia memandangku dan berkata, "Rania, ini ayahku. Beri salam padanya!"
Aku memperhatikan lelaki itu. Dia lelaki tua yang tampan, mirip dengan Mas Darwin. Aku pun menyalami tangannya, meski dalam hati aku masih merasa bingung.
"Mas...." Aku membuka suara. "Ibu bilang ayah sudah meninggal. Waktu pernikahan kita ayah juga tidak hadir. Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Ini ayahku, Rania. Dia masih hidup," jawab Mas Darwin.
"Marina, mantan istriku itu menganggapku sudah mati sejak dulu," ucap lelaki tua itu.
"Mengapa?" Aku spontan bertanya.
"Karena, aku mengkhianatinya. Ia membenciku, tak ingin melihatku lagi, dan menganggap aku sudah mati," jawab ayah Mas Darwin.
"Ini anak lelaki tertuaku, dari istri kedua. Ia adikmu Darwin, namanya Reza." Ayah Darwin menunjuk lelaki muda yang membukakan pintu untuk kami tadi.
Aku terdiam mendengar ucapan ayah Mas Darwin. Benar-benar tak kusangka ayahnya masih hidup. Semua tertutup rapi tanpa celah, seolah-olah ibu mertuaku adalah janda yang ditinggal mati. Ternyata tidak, dia janda karena suaminya menikah lagi.
"Aku datang kembali ke kota ini karena kudengar kau menikah, Darwin. Meskipun tak diundang, sebagai ayah aku ingin memberikan restu untuk anakku. Karena itu, aku datang ke sini," ucap ayah Mas Darwin.
"Siapa namamu, Nak?" tanyanya padaku.
"Rania," jawabku.
"Kau gadis yang manis," ucapnya. "Apapun yang terjadi kau harus mempertahankan suamimu!" Ia memandangku dalam.
"Mungkin kau bisa sedikit belajar dari rumah tanggaku. Berpuluh-puluh tahun yang lalu aku sangat jatuh cinta pada Marina, aku menikahinya. Saat itu aku merasa menjadi pria paling beruntung di dunia. Dia wanita yang sempurna. Dia cerdas multi talenta, dia cantik, pintar memasak, hebat mengurus anak, pintar merawat diri, terampil mengurus rumah, dia mandiri, karirnya bagus, dia hampir bisa segalanya."
Aku mengerutkan dahi. "Lalu, mengapa Ayah menikahi wanita lain?" tanyaku.
Dia tersenyum. "Kenyamanan," jawabnya.
"Lelaki itu membutuhkan kenyamanan. Itu yang tak bisa aku dapatkan dari Marina. Sepanjang menikah dengannya aku selalu merasa tertekan. Karena, dia terlalu sempurna... dia selalu merasa dirinyalah yang paling bagus segala-galanya. Sulit baginya untuk bisa menghargai orang lain."
Aku terdiam. Ibu memang tidak bisa menghargaiku, sama seperti yang dikatakan ayah. Dia memang selalu menganggap hasil pekerjaannya lah yang paling bagus, paling baik.
"Setiap hari aku hidup dengan tertekan. Lalu, aku bertemu dengan Nadia, ibunya Reza. Dia hanya seorang penjahit biasa. Saat itu usianya tidak terlalu muda lagi, dia seorang janda tanpa anak. Dia kalah jauh jika dibandingkan dengan Marina. Dia bukan apa-apa, pendidikannya saja hanya tamat SD. Dia tidak cantik, tapi cukup manis jika dipandang. Marina dan Nadia berada di level yang sangat jauh. Tapi, entah mengapa aku merasakan kenyamanan dari Nadia. Dia begitu sabar. Aku menjadi tergila-gila padanya dan menikahinya sebagai istri kedua."
"Aku sadari saat itu aku memang lelaki egois yang tidak bersyukur. Aku sudah memiliki keluarga yang utuh. Aku memiliki tiga orang anak, istri yang sempurna, kehidupan yang sempurna. Tapi, batinku tertekan. Itu yang membuat aku menikah lagi diam-diam di belakang Marina."
"Hingga pada akhirnya semua terbongkar. Marina tahu aku menduakannya. Saat itu aku bekerja sebagai PNS di kota ini. Marina membuat laporan bahwa aku menikah lagi sehingga aku dipecat. Ia menceraikanku. Aku yang tak punya pekerjaan di sini, memutuskan pulang ke kampung halaman Nadia di Lampung. Kami merintis usaha di sana dan hingga kini tinggal di sana."
-----
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Erni Kusumawati
weleh ternyata ada silsilah poligami turunan ceritanya gtu..
2023-04-20
0
cinta semu
ayah Darwin aja punya cerita poligami ...lalu bagaimana dgn darwin ya...kira2 setia g ya
2022-12-01
0
atin p
wow....
2022-01-26
1