"Kamu yang harus lebih agresif, Rania." Ucapan Nelly saat aku bercerita di telepon beberapa hari lalu terngiang di telingaku.
"Dandan yang cantik, pakai wangi-wangian, pakai baju yang seksi! Dekati dan goda suamimu! Jika dia memang tidak normal, reaksinya pasti akan biasa saja. Tapi, jika ternyata dia normal, lelaki mana sih yang tidak mau menikmati wanita?" Kalimat demi kalimat Nelly terpatri di otakku.
Entah mengapa aku merasa sepertinya hanya itu satu-satunya cara untuk mengetahui kenormalan Mas Darwin. Aku harus benar-benar tahu sesungguhnya lelaki seperti apa yang aku nikahi. Apakah dia tidak suka padaku karena dirinya penyuka sesama jenis? Ataukah, dia sengaja menjauhiku karena ada hal lain yang ditutupinya?
Pagi ini di meja makan Mas Darwin berkata pada ibu, "Bu, minggu depan aku ingin menghadiri seminar internasional di Bali untuk beberapa hari. Jadi, minggu depan aku tak bisa pulang ke sini."
"Bawa istrimu!" ucap Ibu membuat aku dan Mas Darwin tercengang.
Mas Darwin menghentikan makannya. Ia meletakkan sendok yang ada di tangannya. Lalu, ia berkata, "Tidak bisa, Bu. Aku ke sana bukan untuk liburan atau jalan-jalan. Aku pergi ke sana untuk presentasi dan publikasi hasil penelitian. Ini bagian dari tugas seorang dosen."
"Lalu, apa bedanya jika Rania ikut? Ibu rasa dia tidak akan mengganggu acaramu," ucap ibu.
"Aku tidak bisa, Bu. Acara seminarnya seharian. Rania pasti akan bosan menungguku seharian sendirian di hotel. Lebih baik dia di sini menemani ibu." Mas Darwin benar-benar tak ingin mengajakku.
"Acaranya kan tidak mungkin sampai tengah malam. Kau bisa menghabiskan malam bersama istrimu di sana. Anggap saja kalian berbulan madu!" Ibu bersikeras memaksa agar aku ikut.
"Tidak bisa, Bu. Ini urusan pekerjaan. Aku harus profesional."
"Apa yang membuatmu menjadi tidak profesional jika Rania ikut?" tanya ibu.
Mas Darwin terdiam. Kemudian, ibu kembali berkata, "Kau punya janji untuk memberikan ibu cucu."
Mas Darwin mengusap wajahnya. Ekspresinya benar-benar kusut.
"Kau mau ibu sakit sekarat dulu, baru kau berpikir untuk punya anak?" Pertanyaan ibu terdengar menekan.
"Bukan begitu, Bu," ucap Mas Darwin.
"Kalo begitu, bawa istrimu! Ibu juga tidak mau istrimu di sini terus merepotkan ibu," ucap ibu.
Mas Darwin berdiri dari tempat duduknya. "Mas," panggilku untuk menahannya pergi. Namun, ia tak peduli. Ia pergi meninggalkan meja makan tanpa minum terlebih dahulu.
"Rania," suara ibu membuatku menatap ibu. "Jika kamu mau terus menjadi istri Darwin, kamu harus melahirkan banyak cucu untukku. Jika tidak, aku akan mencari wanita lain yang lebih pantas untuk menjadi istri Darwin."
Aku terdiam. Sementara itu, ibu melanjutkan makannya dengan santai. Aku tak mengerti jalan pikiran ibu. Ia tak menyukaiku sebagai menantu, tapi ia mendesakku untuk segera melahirkan cucu untuknya. Ia menginginkan anak dariku.
Aku bingung. Bagaimana bisa aku melahirkan anak untuk Mas Darwin jika dia sekalipun tidak pernah menyentuhku? Jika ini terus berlanjut, ibu pasti akan menyalahkanku dan memberikan cap wanita mandul kepadaku. Aku bingung apakah aku harus bertahan dalam pernikahan ini ataukah sebaiknya aku mundur dan memilih menjadi janda?
Lalu, akhirnya minggu depan pun tiba. Mas Darwin akhirnya mau mengajakku serta ke Bali. Aku masih galau dengan perasaanku yang bingung untuk bertahan menjadi istrinya atau pergi dari kehidupannya. Namun, aku berusaha untuk mengikuti alur kehidupan yang terjadi dan berusaha untuk menikmatinya.
Kini kami telah sampai di bandara Sultan Mahmud Badaruddin, Palembang. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di bandara. Sebelumnya aku tak pernah pergi ke luar provinsi mana pun di Indonesia ini. Aku menghabiskan 19 tahun hidupku di Kota Palembang dan beberapa bulan terakhir di Kayuagung. Selebihnya aku tak pernah pergi kemana-mana.
Makanya, aku sedikit terperangah dengan pemandangan bandara di hadapanku saat ini. Semua orang kulihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku termenung menatap pintu utama bandara, aku tak tahu harus apa dan berjalan ke mana.
"Ayo!" ucap Mas Darwin setelah selesai menurunkan tas kami dari mobil taksi yang disewanya untuk mengantar kami.
Aku pun segera meraih tas jinjingku yang cukup besar. Lalu, tiba-tiba, "Biarkan aku saja yang bawa!"
Aku menatap Mas Darwin. Ucapannya terasa begitu hangat di hatiku. 'Dia perhatian padaku,' batinku.
Lalu, aku mengikutinya dari belakang. Ia menggeret kopernya dan menjinjing tasku. Kami memasukkan pakaian kami masing-masing di dua tas yang berbeda. Ibu sempat komplain tadi di rumah ketika melihatku membawa tas jinjing itu.
"Apa-apaan ini Rania? Jangan mempermalukan suamimu! Mana kopermu? Mengapa membawa tas butut seperti itu? Suamimu ini seorang profesional, penampilan istri mempengaruhi wibawa suami," oceh Ibu pagi tadi.
"Aku cuma punya tas ini, Bu," ucapku.
Ibu geleng-geleng kepala. "Mengapa tidak bilang dari jauh-jauh hari? Suamimu ini masih sanggup belikan kamu 10 koper baru. Jangan suka mempermalukan suami! Sudah siap mau berangkat seperti ini baru bilang gak punya koper." Tiada hentinya ibu mengocehiku tadi hingga kami pergi.
Lalu, tiba-tiba, "Ayo, Rania!" Ucapan Mas Darwin membuyarkan ingatanku. Ternyata kami sudah di dalam bandara, aku sudah jauh tertinggal dari Mas Darwin. Ia cukup jauh di depanku. Lalu, ia berbalik langkah, berjalan menuju ke arahku.
"Kita harus cepat jika tidak ingin ketinggalan pesawat," ucapnya. Lalu, sentuhan hangat tangan Mas Darwin menggenggam pergelangan tanganku. Lalu, genggaman tangannya itu turun ke tanganku. Ia menggenggam tanganku sambil terus berjalan.
'Ini pertama kalinya,' pikirku. Pertama kalinya Mas Darwin menggenggam tanganku. Genggamannya begitu erat membuat muncul rasa aneh di hatiku. Denyut jantungku pun berloncatan. Aku menatap wajah Mas Darwin dari samping. 'Apakah ia tak sadar sedang menggenggam tanganku?' pikirku. 'Ataukah, hal ini biasa saja baginya. Tidak ada perasaan khusus untukku di hatinya.'
Entahlah. Tapi, yang pasti ada perasaan berbunga-bunga di hatiku saat ini. Aku merasa nyaman dan bahagia berada di samping Mas Darwin. Meskipun, aku tahu tidak ada perasaan spesial di hatinya untukku.
Kini kami sudah bersiap untuk penerbangan. Pramugari memberikan pengarahan di dalam pesawat. Mas Darwin kemudian memasangkan sabuk pengaman untukku karena sejak tadi ternyata aku tidak memasang sabuk pengamanku. Lagi-lagi aku berpikir dia perhatian padaku.
Lalu, penerbangan pun dimulai. Pesawat sedikit bergetar ketika akan mulai menanjak naik, membuatku cukup takut. Lalu, tanpa kusadari aku berpegangan pada lengan Mas Darwin yang duduk di sampingku.
Dia menoleh dan berkata, "Kamu takut?"
Aku tersadar telah berpegangan begitu erat di lengannya yang kokoh. "Maaf, Mas," ucapku sambil melepaskan peganganku. "Aku baru kali ini naik pesawat."
"Ini hanya sedikit lonjakan untuk membuat pesawatnya terbang tinggi," ucap Mas Darwin. "Coba kamu lihat jendela!"
Aku menatap ke luar jendela di sampingku. Ternyata pesawat kami sudah tinggi mengudara, meninggalkan daratan Kota Palembang yang semakin lama tampak semakin mengecil.
-----
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments