'Suamiku berselingkuh di belakangku. Bukan sekedar menyukai atau memendam rasa terhadap wanita lain. Tapi, lebih dalam dari itu... ada wanita lain yang mengisi hari-harinya. Mungkin itu Alya atau bisa juga ternyata wanita lain, bukan Alya.' Otakku terus berputar-putar memikirkan hal yang sama dalam waktu seharian ini.
"Tapi, jika begitu kenyataannya... untuk apa Mas Darwin menikahiku? Mengapa dia tidak menikahi wanita itu?" gumamku. Aku masih tak mengerti dengan keadaan yang berputar di sekitarku.
'Aku harus ke Indralaya secepatnya,' batinku. 'Besok begitu aku sehat aku akan minta izin ibu untuk pergi menemui Mas Darwin.'
"Bu, aku ingin minta izin menemui Mas Darwin di Indralaya," ucapku pagi ini.
Ibu melongo ke arahku dengan pandangan setengah melotot. "Kamu kan baru sehat. Mau pergi ke Indralaya sendirian, apa sudah kuat?" ucap Ibu.
"Sudah, Bu," jawabku dengan begitu mantap.
"Tidak bisa. Kamu nanti sakit di jalan membuat orang semakin repot." Ibu menolak mentah-mentah.
"Tapi, aku harus menemui segera Mas Darwin, Bu. Aku sehat, aku kuat." Aku ingin sekali ibu memberiku izin.
"Badan kamu pucat begitu, kamu bilang sehat," oceh ibu. "Tidak usah membohongi ibu. Kamu pasti gak tidur semalaman. Kelihatan dari badan kamu itu lemas, pucat. Ujung-ujungnya belum sampe ke Indralaya sudah puyeng, menyusahkan orang," ucap ibu dengan sinis.
"Memangnya mengapa harus segera menemui Darwin? Kamu kan bisa video call, teleponan kalo ada yang mau dibicarakan," ucap ibu. "Ada hal penting apa?"
Mertuaku ini begitu ingin tahu urusan rumah tangga anaknya. Dan, aku tidak mungkin terus terang pergi ke Indralaya untuk mengecek kondisi Mas Darwin di sana. Apakah ia berselingkuh atau tidak? Apa yang sebenarnya ditutupinya dariku selama ini?
Aku tidak mungkin berterus terang karena ibu pasti memvonis aku yang salah. Ibu pasti membela Mas Darwin dan mengatakan tidak mungkin ia selingkuh. Lagipula, jika ternyata Mas Darwin memang benar tidak selingkuh, maka ibu pasti akan mengocehiku karena tidak percaya pada suami dan sudah berprasangka buruk pada suami.
Tidak, aku tidak bisa memberitahukan ibu segalanya sebelum semuanya terbukti. Tapi, jauh di dalam hatiku yang terdalam aku masih sangat berharap apa yang kupikirkan tentang Mas Darwin itu hanyalah prasangkaku saja. Aku berharap Mas Darwin tidak benar-benar punya wanita lain di belakangku.
Aku ingin ke Indralaya untuk memastikan bahwa kecurigaanku itu nyata atau tidak. Aku berharap kecurigaan itu semua hanya imajinasiku saja. Aku ingin Mas Darwin menjadi suamiku seutuhnya, bukan hanya status.
"Mengapa kamu mau segera bertemu Darwin?" Pertanyaan ibu membuyarkan semua pikiran kacauku.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya ingin mengajak Mas Darwin pergi ke acara lamaran temanku di Palembang." Aku berusaha menutupi alasanku.
"Kapan acaranya?" tanya ibu dengan begitu datar.
"Jumat nanti, Bu," jawabku.
"Tidak bisa. Darwin sibuk. Kamu kan tahu Jumat Darwin kerja. Kamu berharap dia bolos?" Ibu menggeleng-gelengkan kepala. "Istri harusnya mendukung karir suami," omel ibu. "Lagipula, mengapa kamu mau harus hari ini ke Indralaya? Acaranya saja masih hari Jumat."
"Aku hanya ingin secepatnya bertemu Mas Darwin, Bu. Aku ingin menginap di Indralaya, menemani Mas Darwin. Bolehkan, Bu?" Aku sedikit memaksa.
"Tidak boleh," ucap ibu segera. "Nanti saja. Ibu tahu ada yang kamu sembunyikan. Sebenarnya apa yang kamu rencanakan? Kalo kamu mau menemani Darwin di Indralaya, kamu bisa berangkat dari sini bersama Darwin nanti. Darwin akan pulang Sabtu ini."
"Haaaafhh...." Aku menarik nafas panjang, sepertinya percuma berbicara dengan ibu. Dia tidak akan mengizinkanku. Begitu sulitnya untuk keluar dari rumah ini, hanya sekedar untuk menemui suamiku.
'Aku harus pergi ke Indralaya secepatnya, dengan atau tanpa restu izin dari ibu,' tekadku dalam hati.
Oleh karena itu, malam harinya aku mulai memasukkan baju-bajuku ke dalam tas. Aku berkemas, aku bersiap untuk berangkat ke Indralaya besok pagi.
Esoknya selasa pagi, setelah selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah aku bersiap untuk pergi. 'Aku harus pergi dengan mengendap-endap agar ibu tidak tahu,' pikirku. Jika tidak, dia pasti akan melarangku.
Aku bergegas menuju pintu rumah dan menutupnya dengan sangat hati-hati. 'Semoga ibu tidak tahu,' batinku. Aku akan mengabarinya setelah sampai di Indralaya agar dia tidak cemas mencariku.
Langkahku begitu tergopoh-gopoh. Aku harus segera keluar dari jalan kampung untuk sampai di pinggir jalan lintas, dimana di sana aku bisa mendapatkan mobil travel nanti. Namun, belum sampai keluar dari jalan kampung, di tengah perjalanan aku merasa sesuatu hal aneh pada tubuhku.
Mendadak saja aku merasa pandanganku berkunang-kunang. Aku memperlambat langkahku. Sesuatu yang tidak beres menyerang pertahanan tubuhku. Aku serasa ingin pingsan. Aku melepaskan tas yang kujinjing sejak tadi begitu saja untuk bisa menyentuh pohon randu besar di pinggir jalan, tak jauh dariku.
Seketika aku terduduk, bersandar pada pohon itu. Pandanganku berbayang dan sedikit gelap. Aku sangat pusing. Badanku tiba-tiba berkeringat dingin dan serasa melayang-layang hilang keseimbangan. Aku merasa tubuhku akan roboh. Aku tak bisa berpikir apapun lagi.
Beberapa orang bermotor melintas di jalan yang ada di hadapanku. Tapi, mereka tak mempedulikanku. Sementara itu, aku begitu pusing, tak berdaya untuk bisa meminta pertolongan. Aku hanya bisa mengatur nafasku dan menunggu keadaanku membaik.
Lalu, tiba-tiba, "Rania!" Seseorang memanggilku dengan nada terkejut. Orang itu segera menghentikan motornya dan menghampiriku. Aku melihatnya dan ternyata itu Yuk Selvi, kakak perempuan Mas Darwin.
"Mengapa kamu duduk di sini?" tanyanya dengan wajah heran. Ia melirik tas jinjing yang cukup besar di dekatku lalu kembali bertanya, "Kamu mau kemana?"
Aku tak mampu menjawab. Aku terlalu pusing.
"Kamu pucat sekali." Yuk Selvi menyentuh tanganku. "Kamu berkeringat dingin."
Ia lalu membantuku berdiri. Ia bergegas mendekatkan motornya ke arahku, mengambil tasku dan menggantungkannya di motor. Lalu, ia memapahku untuk naik ke motornya. Dalam sekejap aku sudah dibonceng Yuk Selvi di atas motornya.
"Aku antar pulang ya," ucap Yuk Selvi sambil mengendarai motornya.
"Jangan, Yuk," ucapku segera walau lemah dan Yuk Selvi spontan berkata "Mengapa?"
Aku hanya diam, tak mampu menjelaskan apapun. Lalu, kulihat Yuk Selvi mengarahkan motornya memasuki sebuah halaman rumah, tapi itu bukan rumah Mas Darwin. Itu rumah Yuk Selvi dan suaminya.
Ia menghentikan motornya di sana dan berkata, "Kamu istirahat dulu saja di sini ya." Ia membantuku turun dari motor dan memapahku untuk duduk di kursi teras rumahnya.
Lalu, ia masuk ke dalam rumah dan segera kembali dengan membawa sebuah botol minyak angin. Ia mengusapkan minyak itu di tubuhku sambil berkata, "Apa kamu pusing karena belum makan? Kamu mau makan?"
"Tidak, Yuk. Tadi aku sudah makan," jawabku.
"Kamu sakit?" tanya Yuk Selvi dan aku menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Aku hanya merasa mau pingsan," jawabku.
"Jangan-jangan kamu hamil." Ucapan Yuk Selvi membelalakkan mataku. Kulihat Yuk Selvi tersenyum menatapku. Sedangkan, aku tercengang memikirkan ucapan Yuk Selvi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
munasih
semangat berkarya thor
saling dukung ya Salam dari
KETULUSAN CINTA ISTRI PERTAMA
2021-12-12
2
mithos
Ayo thor banyakin lagi babnya
biar smangat bcanya😀😀😀
2021-12-11
3
mithos
istri cuma buat pembantu mertua... ksihan bner nsibmu...😢😢😢😢
lanjut thor💪💪💪💪
2021-12-11
2