Kamar Berdebu

Mas Darwin mengemudikan mobilnya dan ekspresi wajahnya benar-benar tidak menyenangkan. Aku hanya diam sambil memandangi wajahnya yang sepertinya penuh emosi. 'Apa Mas Darwin tidak senang dengan kehadiranku?' pikirku.

"Mas, maaf aku mendadak ke sini." Akhirnya aku membuka suara. "Tadi aku mencoba menghubungi Mas lewat ponsel, tapi tidak dijawab."

"Tadi aku sedang rapat," ucapnya singkat. Lalu, kami kembali saling diam.

"Siapa laki-laki tadi?" tanyanya kemudian.

"Oh, katanya namanya Alan. Aku juga tidak kenal, dia hanya sok akrab," jawabku.

"Kamu senang ya meladeni pria seperti itu." Ucapan yang keluar dari bibir Mas Darwin terdengar begitu tidak menyenangkan dan aku segera berkata, "Aku tidak meladeninya, Mas. Dia sendiri yang tiba-tiba sudah datang di sampingku, mengajak mengobrol."

"Dan, kamu memberi respon kan pada bocah tengik itu." Baru kali ini kudengar Mas Darwin menyebut orang lain dengan hinaan, sepertinya ia begitu emosi.

"Aku tidak memberikan respon apapun, Mas," ucapku. "Mengapa Mas Darwin begitu marah? Ia bukan siapa-siapa, aku tidak mengenalnya. Kami tidak punya hubungan apapun," tegasku.

"Kamu harus tahu posisi kamu saat ini. Kamu itu istriku. Harus punya batasan, menjaga jarak dengan pria lain," ucapnya. "Aku tidak suka kamu berduaan dengan laki-laki lain seperti tadi."

"Mas Darwin cemburu?" tanyaku. Namun, Mas Darwin tak menjawab apapun. Ia hanya diam dan terus diam hingga mobil yang kami kendarai berhenti di depan pagar sebuah rumah.

"Turunlah! Ini rumah dinasku," ucap Mas Darwin. Kemudian, ia membukakan pintu rumah dengan kunci yang ada dalam genggamannya.

"Kamu bisa istirahat dulu di sini," ucapnya kemudian. "Aku harus kembali lagi ke kampus. Sebentar lagi aku ada jam mengajar. Aku tinggal dulu. Nanti sore aku kembali."

Mas Darwin lalu segera kembali ke mobilnya dan menghilang dari hadapanku dalam sekejap. Aku pun lalu memasuki rumah dan menutup pintu dari dalam.

Aku memperhatikan seisi rumah. "Jadi ini rumah yang ditempati Mas Darwin sehari-hari di Indralaya," gumamku.

Aku melangkahkan kakiku dan merasakan tebalnya debu dari lantai yang menempel di kakiku. Rumah ini seperti tak ditempati selama berminggu-minggu. Aku membuka pintu kamar, melihat perabotan di dalamnya. Sprei, selimut, bantal ... semuanya berdebu, seperti tak pernah terjamah tangan manusia.

Aku membuka lemari pakaian di kamar itu. Hanya ada dua kemeja tergantung di dalamnya dan beberapa lembar pakaian yang tak terlipat dengan rapi. Aku jadi sangat ragu dengan kenyataan di hadapanku. 'Inikah rumah yang biasa Mas Darwin tempati? Mengapa hanya ada sedikit sekali pakaian di lemari ini? Dimana Mas Darwin meletakkan semua pakaiannya?'

'Ataukah mungkin pakaiannya sedang dilaundry?' Aku berusaha berpikir positif. 'Mungkinkah rumah ini berdebu karena Mas Darwin selalu sibuk, tak sempat membersihkannya?'

Entahlah. Aku cukup ragu dengan pemikiranku. Namun, aku sangat berusaha berpikir positif. Aku lalu mengambil sapu dan membersihkan seisi rumah yang ukurannya tidak terlalu luas. Aku mengepel lantainya, mengelap tumpukan debu pada perabotan.

Aku membuka laci meja yang ada di kamar untuk memasukkan pena yang tergeletak di atasnya. Lalu, langkah tanganku mendadak terhenti. Aku melihat sebuah kotak cincin di dalamnya. Kotak cincin yang sama seperti yang aku temukan di kamar dulu.

Jantungku sedikit berdebar. Aku membukanya. "Hahh!" Aku cukup terkejut. Ternyata masih ada cincin di dalamnya. Aku mengambilnya, ini cincin milik Mas Darwin, bertuliskan namaku di baliknya.

Aku mengingat saat ia menyetir tadi, aku melihat ada cincin melingkari jari manis di tangan kirinya. Ia memakai cincin. Aku tidak salah lihat dan tidak salah ingat. Mas Darwin benar-benar memakai cincin. Cincin yang sama dengan yang kupegang saat ini.

Untuk memastikannya aku mencoba melakukan panggilan video padanya. Seperti biasa ia begitu sulit untuk dihubungi. Namun, rasa penasaranku yang memuncak membuatku terus berusaha meneleponnya.

"Ada apa?" ucapnya saat menjawab panggilan videoku.

"Apa kamu sedang mengajar, Mas?" tanyaku.

"Baru selesai. Baru keluar kelas. Ada apa?"

"Coba pegang hidung kamu, Mas!" pintaku.

"Untuk apa? Aku tidak punya waktu untuk main-main. Aku sibuk," ucapnya.

"Kumohon, Mas! Satu kali saja setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi," pintaku.

Lalu, Mas Darwin pun memegang hidungnya. "Sudah," ucapnya.

"Bukan pakai tangan kanan, Mas. Tapi, tangan kiri," ucapku.

"Tangan kiri." Mas Darwin mengerutkan keningnya. "Mengapa harus tangan kiri? Memangnya ada apa dengan tangan kiriku?" tanyanya sedikit curiga.

"Tidak ada apa-apa, Mas. Aku cuma minta kamu pegang hidung kamu," ucapku. Lalu, Mas Darwin pun memegang hidung dengan tangan kirinya.

Tak ada cincin kulihat di jarinya. Cincin itu tidak ada, tapi tadi sepertinya aku melihat dia menggunakan cincin sewaktu menyetir. Apa ingatanku keliru? Aku cukup bingung dan memutuskan untuk menutup panggilan video.

Sementara itu, di kantornya Mas Darwin kemudian bergumam, "Hmm, terlalu lugu."

Ia memandangi cincin di atas mejanya. Saat aku tadi memintanya menyentuh hidung harus dengan tangan kiri, ia melirik tangan kirinya dan berpikir mengapa harus tangan kiri? Sekejap ia langsung menerka pasti aku sudah menemukan cincin di laci meja kamar. Karena itu, tanpa aku tahu ia langsung melepas cincinnya sebelum menyentuh hidung dengan tangan kiri. Aku pun tak curiga sama sekali.

Hari beranjak malam Mas Darwin belum juga pulang. Tadi ia bilang sore akan pulang, tapi sekarang sudah hampir jam tujuh malam ia masih juga belum kembali. Perutku sudah berbunyi karena lapar, tidak ada yang bisa kumasak di rumah ini. Hanya ada beberapa bungkus mie. Sehingga, aku pun memasak mie untuk makan malamku.

Aku memasukkan mie ke dalam rebusan air lalu membuang bungkusnya ke tong sampah di dapur. Lalu, tak sengaja kulihat ada kotak kardus yang dibalut plastik hitam di samping tong sampah. Mungkin Mas Darwin melempar kotak itu ke tong sampah, tapi meleset. Sehingga, kotak itu berada di lantai di samping tong sampah. Aku pun mengambilnya dan ingin memasukkannya ke tong sampah.

Namun, mataku tiba-tiba terperangah ketika tak sengaja terbaca olehku tulisan 'Alya Permata'. Sepertinya kotak itu adalah bungkusan paket. Pada plastik hitam yang membalutnya tertempel alamat tujuan paket. Nama penerimanya adalah Alya Permata, terdapat alamat dan nomor ponselnya.

Jantungku mendadak berdegup kencang. 'Apa artinya ini? Mengapa paket untuk Alya berada di rumah ini?'

'Apakah Alya yang dimaksud di paket ini adalah Alya yang dikatakan ibu padaku? Apakah mereka adalah orang yang sama? Apa itu artinya sampai saat ini Mas Darwin masih terus berhubungan dengan Alya? Ini paket yang ditujukan ke rumah Alya, mengapa bisa ada di sini? Apakah Mas Darwin yang membawanya?' Bertubi-tubi pertanyaan demi pertanyaan mendera otakku.

Aku tak bisa mengetahui kejadian yang sebenarnya. Namun, otakku menalar bahwa kemungkinan Mas Darwin memang benar-benar masih memiliki hubungan dengan Alya. Persis seperti yang dikatakan ibu, Mas Darwin sampai saat ini tidak pernah mencintai wanita lain. Hanya Alya yang ia cintai.

Tanpa pikir panjang aku bergegas pergi ke luar rumah. Aku mencari ojek dan memintanya mengantarku ke alamat Alya seperti yang tertera di paket.

Terpopuler

Comments

cinta semu

cinta semu

bikin penasaran

2022-12-01

0

Mifrochul Chumaidah

Mifrochul Chumaidah

God job👍

2022-10-18

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!